Home / Romansa / RENJANA / Bab 1 : Cerita tersembunyi

Share

RENJANA
RENJANA
Author: Junatha Rome

Bab 1 : Cerita tersembunyi

Author: Junatha Rome
last update publish date: 2026-07-17 12:26:49

Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.

“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.

“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.

“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.

“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.

“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.

“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.

“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.

Liu mendengkus kasar.

“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat dengan campuran. Itu akan mempengaruhi kualitas barang di perusahaanku Hook!” Liu segera memaki Hook bahkan sebelum mendapatkan penjelasan dari partner kerjanya itu.

Liu berlalu meninggalkan Jana dan meminta pengasuh untuk menemani putri kecilnya, karena ia harus segera mengecek perusahaan.

Tidak ada kecupan untuk Jana, sepenggal adegan saat Jana berumur lima tahun itu terputar kembali dalam memorinya, memberi jejak kehidupan bahwa perempuan harus memiliki banyak kemampuan.

“Ayah Nona tidak pernah mencium Nona?” Tanya psikiater dengan jarum suntik yang siap menembus kulit Renjana.

“Tidak Dok. Bahkan ayah memberitahuku bagian apa saja yang tidak boleh disentuh oleh orang asing padaku,” jawab Jana dengan pandangan kosong.

Sheny, psikiater senior itu segera mengangguk, lalu bertanya lebih dalam tentang kehidupan wanita yang ingin menghapus semua kenangan tentang laki-laki yang hadir dalam hidupnya itu.

**

Usia Jana kini memasuki usia sepuluh tahun, kedua orangtua Jana sangat ketat dalam hal pendidikan, sehingga Jana harus menempuh pendidikan pada dua lembaga. Pagi hari ia sekolah dasar, dan siang hari ia bersekolah di sebuah sekolah islam. Belum lagi di malam hari rutinitas wajibnya mengaji bersama ustadz lulusan Cairo yang datang ke rumah khusus mengajarkan Jana.

“wanita harus memiliki value Na,” ujar Liu pada putri kecilnya yang sudah beranjak remaja itu. “dalam agama dan pendidikanlah wanita akan bernilai dan dianggap ada,” lanjut sang ayah menunjukkan jalannya.

 “tapi Yah, apa Renjana boleh mengaji pada Ustadz Faqih bersama teman-teman?” Tanya Renjana setelah menyerap nasehat Liu.

“apa Renjana menginginkan seperti itu?” balas Liu memastikan.

“Iya Yah, please?” wajahnya menengadah pada wajah Liu.

Sikap manis putri kecilnya itu sangat mirip sekali dengan ibunya.

“baiklah Jana. Tapi janji pada Ayah satu hal?” Liu memberikan syarat agar putri kecilnya mampu membaca kehidupannya dengan teliti.

Hatinya ingin melonjak bahagia, namun tertahan oleh kalimat terakhir Liu.

“apa itu Yah?” mata sipit dengan bulu mata lurus itupun mengerjap, bagai angin yang meniup pelan, hanya sekejap, namun menyisakan kelembutan.

“Renjana tidak boleh terdistrack oleh apapun ya? Tujuan Jana hanyalah mengaji,” titah Liu.

Renjana mengernyitkan dahi, mencondongkan bibir bawahnya, tak mengerti maksud ayahnya. Liu sengaja membiasakan putrinya berbicara dengan bahasa intelektual, agar Renjana terbentuk menjadi wanita yang intelek.

“baiklah Ayah, malam ini Renjana boleh mengaji bersama teman-teman kan Yah?” Renjana memastikan.

”boleh,” jawaban singkat, namun mampu menciptakan kembang api kebahagiaan di dada Renjana.

“terimakasih Ayah,” lagi-lagi tidak ada pelukan sebagai perayaan kecil antara ayah dan putrinya. Namun Renjana sudah terbiasa dengan batasan yang dirakit keluarganya.

**

Sore pun tiba, saat sandyakala menyentuh bentala, jingganya mulai menabur janji, bahwa esok akan kembali.

“Ibu, Renjana pamit, teman-teman sudah menunggu di depan,” wajahnya sumringah sekali, seakan-akan malam ini iya akan mendapatkan bintang.

“Hati-hati ya, sudah membawa mukena?” Tanya Sanjana, Sang Ibu.

“Sudah Bu,” Renjana lekas berlari menghampiri teman-temannya.

“Hei itu Renjana!” teriak salah satu dari mereka yang menyandarkan wajah di gerbang rumah megah dengan beberapa penjaga.

“Hei teman-teman, aku sudah siap untuk mengaji bersama kalian!” seru Jana.

“Yeay!” sorak mereka.      

**

Sebuah pondok kecil yang menampung kurang lebih dua puluh anak, kini tampak bercahaya dengan kehadiran Renjana, gadis blaster China dengan Banten. Semua mata hampir tak berkedip memperhatikan gadis yang saat ini memakai hijab biru muda di tengah mereka.

Beberapa menit, datanglah seorang Ustadz dari pintu penghubung antara ruang petak tempat mengaji dengan rumahnya. Ustadz muda berwibawa, sekali duduk, anak-anak segera berhambur untuk mendapat antrian ngaji paling awal. Sementara Renjana hanya terdiam tak paham.

“Renjana, ayo sini!” teriak Lilis, teman yang paling peduli dengan Jana.

Renjana segera mengerti, lalu mengantri di paling belakang.

Satu jam sudah Renjana dalam barisan, rasa kantuk berkali-kali ia lawan.

‘Jadilah pribadi yang selalu terlihat tegap’ nasihat Liu selalu menjadi alarm bagi aktifitas Jana, hingga ia mampu bertahan tegap dalam keadaan semelelahkan apapun.

**

“Jana!” sapa seorang pria sebayanya.

“Ya,” jawab Jana antusias karena bertemu dengan teman sekelasnya di madrasah ibtidai.

“Kamu mengaji disini juga sampai seterusnya?” Tanyanya.

“Iya,” jawab Jana.

Mereka berjalan berbarengan, karena rumah pria itu satu arah dengan rumah Jana.

“Rumahmu sudah dekat Jana, sampai jumpa besok di sekolah,” mereka berpisah di gang rumah Jana.

“Ya,” jawab Jana seadanya.

Gerbang segera dibuka oleh penjaga, melihat Renjana sudah mendekat dari ujung gang.

Dalam waktu yang sama, Liu terlihat membawa mobil kerjanya keluar gerbang.

“Sayang, Ayah ada keperluan mendadak, diamlah di rumah bersama Ibu,” pesan Liu yang memberhentikan mobilnya di samping putri kecilnya.

“Iya Yah,” jawab Jana mengerti, karena ini bukan kali pertama ayahnya memiliki keperluan mendadak di malam hari.

Keduanya kembali berjalan pada arahnya masing-masing.

“Assalamu’alaikum,” ucap Jana yang sudah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga di rumah megahnya.

Jana segera menuju kamar tidur Ibunya yang berada di lantai dua, sebuah intuisi yang menarik Jana ingin segera menemui sang ibu.

“Assalamu’alaikum Ibu,” ucap Jana di sela pintu kamar orangtuanya.

“Wa’alaikumussalam, masuk Nak,” jawab sang ibu terdengar parau.

Jana membuka pintu besar yang terbuat dari kayu jati, dan daun pintunya yang terbuat dari marmer berhias besi berwarna perak dengan sedikit bertenaga.

Ia melihat ibunya terbaring dengan kain tipis membalut di tubuh, ada segelas air hangat dan beberapa potongan buah di meja samping bad ranjangnya.

“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RENJANA   Bab 6 : Pria yang tak diundang

    “Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu

  • RENJANA   Bab 5 : Terluka lagi

    “Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad

  • RENJANA   Bab 4 : Pria Idola Sekolah

    Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge

  • RENJANA   Bab 3 : Luka Pertama

    “Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri

  • RENJANA   Bab 2 : Teman berbeda agama

    “Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu

  • RENJANA   Bab 1 : Cerita tersembunyi

    Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status