LOGIN“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.
“Biarkan saja,” singkat Jana.
“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.
“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.
“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.
Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.
“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.
“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu.
Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.
BRUK
Renjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.
“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.
“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.
Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.
HAIKAL
Seseorang yang ia tabrak adalah Haikal, si pemain darbuka.
“Berdarah,” Decak Haikal melihat telapak kanan Renjana mengalirkan darah di sela lecetnya.
Renjana segera beranjak dan pergi meninggalkan Haikal. Tak peduli disekeliling mereka ternyata sudah banyak pasang mata yang memperhatikan tragedi itu. Langkah kaki Jana lebih ringan menuju kelas disbanding melanjutkan perjalanan ke kantin dengan tangan yang berdarah.
“Heh Jana, kenapa kamu langsung pergi?” Protes Lilis “Kenapa tidak menjawab apapun atas permintaan maafnya?"
“Malu Lis,” Keluhnya.
“Tapi…” Kalimat Lilis terhenti saat mendengar suara lembut dari pintu.
“Assalamu’alaikum,” Ucap Haikal yang sudah berdiri di mulut pintu.
Lilis terperangah melihat siapa yang datang membawa kotak P3K ke kelas mereka.
“Jana, aku tinggal,” Lilis segera meninggalkan Renjana di ruang kelas yang kosong itu.
“Lis! Lilis,” Teriakannya tertahan.
Haikal pun mendekat, lebih mendekat, hingga keduanya saling berhadapan.
“Ada apa?” ketus Jana.
“Tanganmu terluka kan?” kata Haikal.
“Cuma sedikit saja kok, besok juga sembuh,” ketusnya lagi.
“Luka sekecil apapun, jika tidak diobati, akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh sendiri,” kalimat Haikal cukup membuat hati Renjana terenyuh. Belum pernah ada laki-laki sepuitis ini selama ini yang dekat dengannya.
Renjana hanya terdiam memperhatikan bagaimana Haikal mulai membuka kotak P3K di hadapan keduanya. Lembut dan telaten.
Untuk kemudian Haikal mulai mengusap luka di telapak tanagat Renjana dengan penuh kehati-hatian.
“Sakit yang tidak dirasa itu benar ada, tapi ia seperti bom waktu yang tiba-tiba akan meledak juga,” lanjut Haikal sambil melilitkan kasa dan menyelesaikan perawatan luka Renjana.
‘Siapa laki-laki ini sebenarnya? Mengapa seakan-akan dia sangat memahami keadaanku?’ batin Jana terheran.
Pandangan mata Jana tak berkedip menatap Haikal, hinga tak terasa Haikal sudah hilang di balik pintu.
“Jana!” teriak Lilis kegirangan.
Kali ini Jana yang terkesima oleh bagaimana perlakuan laki-laki itu padanya.
“Jana lihat! Para perempuan itu melihat kalian berdua di kelas barusan,” Lilis tergesa sekali untuk mengabarkan keadaan di sekeliling.
Jana terduduk kembali, lalu menekan jantung yang hampir terlepas.
Tiga perempuan berhambur masuk kelas Renjana, wajahnya sinis, tatapannya tajam seperti anak panah yang siap dilepas dari busurnya.
“Tadi lu yang nabrak Haikal kan?” ketusnya
Renjana menatapnya kembali, tanpa menjawab ucapan ketus tiga senior yang mengepung di hadapannya.
“Berani sekali memasang tatapan seperti itu!” ucapnya lagi.
“Haikal milik saya, semua penggemar dia juga tahu kalau saya pacarnya,”
Perempuan itu memang cantik, giginya gingsul kiri, bicaranya saja manis, apalagi senyum. Renjana segera mempercayai ucapan perempuan itu, karena memang setara secara visual.
“Jangan pernah cari perhatian lagi sama Haikal, ngerti anak baru?” larangnya.
Tatapan Renjana pun memicing menolak tuduhan yang dilemparkan untuknya.
“Maaf ya Kak, saya tidak cari perhatian pada siapapun, apalagi dengan pacar orang,”
Beberapa orang yang melihat perdebatan mereka melalui jendela dan pintu kelas pun berbisik membicarakan keberanian Renjana pada Milla, pemegang tahta tertinggi dari jalur kedekatannya dengan Haikal.
“Jana sudah,” bisik Lilis.
“Tidak Lis, itu fitnah, saya tidak akan tinggal diam atas tuduhan ini,” kekeuh Jana.
“Songong banget sih anak baru!” suara Milla meninggi, tangannya melayang menarik hijab Renjana hingga terlepas, lalu menarik ikat rambut Renjana secara paksa.
AAAAA
Teriak Renjana, semua yang melihat pun berteriak dengan perlakuan Milla.
Di sela keterkejutan, para siswi berdecak kagum melihat kilapan rambut pirang Renjana yang menggelombang sepinggang.
“Milla!” suara gagah terdengar memasuki ruangan yang hanya ada mereka.
“Cukup!” suara lembut yang pernah Jana dengar dari pria itu pun kini berubah menjadi marah.
Renjana menangis, berusaha menutupi rambutnya yang sudah terlihat oleh banyak pria di luar kelas.
Hanya tatapan nanar yang bisa Renjana lakukan saat ini. Hatinya bersumpah, tidak akan pernah ikhlas atas perlakuan ini.
“Haikal, dia caper sama kamu,” suara manja Milla tiba-tiba membuat perut mual.
“Keluar kamu,” usir Haikal pada Milla.
‘apa? Itu benar sikap Haikal? Bukankah mereka berpacaran? Tapi kenapa Haikal dengan tegas mengusir Milla?’ mungkin bukan hanya Jana yang terheran atas sikap Haikal pada kekasihnya itu, orang-orang yang sedari tadi menonton tragedi dalam kelas pun ikut terperangah.
Haikal mendorong siapapun yang berada di dalam untuk keluar dari kelas kemudian menutup pintu dan seluruh gorden jendela.
“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.
“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu
“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri
“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu
Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga







