LOGIN“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.
“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.
Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.
“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.
“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.
“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.
“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.
“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”
“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.
“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.
**
Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.
Meski ia cukup dikenal oleh semua guru karena kecerdasannya, bahkan ia menjadi murid kesayangan, diikutkan berbagai macam perlombaan, terutama perlombaan cerdas cermat yang kerap kali mengutus Jana dan dua teman sekelasnya.
“Jana, minggu depan kita akan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Kamu, Anisa, dan Angga, akan mewakili sekolah kita,” pinta wali kelas padanya.
“Baik Bu,” jawab Jana mengerti.
Beberapa hari Jana mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi perlombaan yang akan berlangsung pecan depan.
“Jana, tolong ini saya tidak mengerti,” Angga menyodorkan secarik kertas berisi pertanyaan yang diberikan oleh guru pembimbing sebagai latihan untuk perlombaan nanti.
‘Surat Al-Insyirah terdiri dari berapa ayat, dan termasuk surat apa?’
Pantas saja Angga tidak mengerti dengan beberapa pertanyaan dalam kertas itu. Keyakinan dia tidak sama dengan Jana dan Anisa.
“Tenang saja Ga, ini bagianku dan Anisa,” hibur Jana.
“Tapi apa bisa aku ikut belajar tentang ini?” pinta Angga dengan sorot mata penasaran.
“Bisa Angga. Sini duduk,” Jana menepuk kursi kosong di sampingnya.
“Ini pertanyaan tentang isi Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, ada banyak surat, salah satunya adalah surat Al-Insyirah,” Jelas Jana perlahan disambut oleh anggukan oleh Angga.
“Lalu apa itu ayat?” lanjut Angga.
“Satu surat itu ada beberapa ayat,” Jana menghentikan penjelasannya sejenak untuk mengambil sesuatu dalam tasnya.
“Nah, ini adalah ayat,” telunjuk lentik Jana menunjukkan bentuk bulat pada setiap ayat dalam juz Amma yang ia bawa.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan,” telunjuk Angga dengan teliti menyusuri satu persatu bentuk bulat dalam surat Al-Insyirah di tangannya.
“Iya betul!” Seru Jana. “Surat Al-Insyirah ada delapan ayat,”
“Tapi apa maksud pertanyaan selanjutnya?” Angga kembali meneliti.
“Maksudnya itu, surat Al-insyirah diturunkan dimana?” jawab Jana.
“Diturunkan dimana? Maksudnya?” Angga mengerutkan dahi.
“Di Mekkah! Surat Al-Insyirah itu diturunkan di Mekkah Ga!” suaranya kini tidak sabar menjelaskan. “Kata Pak Libi, itu memang dari Mekkah! Sudahlah Ga. Otakmu nanti panas!” Jana menutup paksa juz Amma di tangan mereka.
Percakapan siang sepulang sekolah itu menjadi bukti bahwa mereka siap mengepakkan sayapnya di kancah antar kecamatan.
**
Sekolah madrasah ibtidaiyah adalah sekolah yang paling ia tunggu. Meski pagi buta ia sudah berangkat ke sekolah dasar, dan siang harus menempuh sekolah lagi, Jana menyanggupi itu, bahkan ia semangat sekali saat adzan dzuhur berkumandang.
Di tahun ini, Jana telah naik ke kelas lima, berbagai warna kehidupan mulai terlukis jelas di memori otaknya.
‘Jana, aku menyukaimu,’ secarik surat dengan kalimat sesingkat itu cukup membuat Jana termenung, rasa tak biasa mulai merekah di dalam hatinya. Jana tahu persis tulisan siapa di dalam garis berlatar coklat itu.
Seseorang yang sorot matanya bisa dipahami, bahasa tubuh yang sering kali terbaca, serta perilaku yang telah memberitahu Jana bahwa ia sedang dimabuk oleh cinta.
Jana tidak membalas.
Berulang kali teman dekat laki-laki itu membantunya untuk menyampaikan kalimat yang ia kirim untuk Jana. Jana masih tak menggubris. Hingga akhirnya, Jana menerimanya.
‘Aku mau kita bertemu sepulang mengaji di simpang tiga,’ surat itu telah sampai di tangan Jana.
Jana mengiyakan.
Malam itu tiba. Gejolak rasa tengah melanda keduanya.
Renjana bersama Lilis, begitu juga dengan Alan yang datang bersama Nanda sahabatnya.
Mereka berkumpul di samping gerbang sekolah, saling berhadapan, saling menatap, dan saling canggung.
“Jana, mengapa pakaianmu seperti itu?” tegur Alan yang memerhatikan Jana dengan pakaian serba terbukanya.
Pipi Renjana lekas memerah. Betapa pertanyaan itu sangat menelanjanginya.
“Besok tidak usah seperti itu lagi ya? Aku suka dirimu yang memakai jilbab,” pinta Alan.
Renjana hanya menunduk. Lalu mengangguk.
“Aku mau minta fotomu Na,” pinta Alan lagi. Ia cukup memegang kendali atas pertemuan pertama itu.
“Ada di gallery ponsel, tapi ponselku tidak bisa mengirim foto,” jawab Jana mengotak-atik ponselnya.
“Kalau begitu lepas saja kartu memorinya,” tukas Alan.
“Jangan Lan, fotoku jelek-jelek,” tolak Renjana.
”Kalau jelek tidak mungkin aku menyukaimu Renjana,” bantah Alan.
BLUSH
Kali ini Alan melukiskan kemerahan di pipi Renjana melalui kalimatnya.
Renjana lekas memberikan memori ponselnya pada Alan.
Pertemuan pertama telah usai. Keduanya kembali ke rumah masing-masing dengan segenap perasaan yang bercampur.
Alan, laki-laki pemilik gaya bicara yang sopan dan soft. Begitu juga dengan sikapnya yang terjaga, tidak ada tanda dirinya ingin menyentuh bagian manapun dari tubuh Renjana.
Kalimat apa yang bisa mewakili perasaan Renjana dan Alan malam itu? Sepertinya taburan bunga tengah berlangsung di taman yang semula gersang di hati masing-masing.
**
Hari ini adalah hari dimana Jana akan melangsungkan lomba cerdas cermat di sebuang sekolah yang berjarak satu jam dari sekolah dasarnya. Bersama Anisa dan Angga, ketiganya didampingi oleh wali kelas mereka, Pak Kholis, guru sepuh yang amat menyayangi Renjana seperti anaknya sendiri, hampir semua perlombaan, hampir semua kegiatan, Renjana yang dipercaya untuk memimpin.
Kali ini, hati Renjana sungguh cengeng. Saat semua sudah bersiap mengikuti perlombaan, penguji sudah menyebutkan titahnya, di tengah pendiktean kalimat, Renjana berhenti untuk menulis, pikirannya tiba-tiba kacau, mentalnya tiba-tiba jatuh, entah mengapa. Hingga akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, sampai penguji mendiktekan kalimat terakhir, air mata Renjana masih berderai tak terhentikan.
“Renjana?” Panggil ibu Renjana yang ternyata menyusulinya, ingin memastikan perlombaan kali ini berjalan dengan lancar.
Bukti batin seorang ibu selalu benar. Sanjana melihat anaknya sudah berderaian air mata di dalam sana.
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.
“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu
“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri
“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu
Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga







