LOGINRenjana yang tak pernah diizinkan hatinya untuk berlabuh pada dermaga. Yang datang hanyalah luka. Hingga ia memutuskan untuk membunuh segala rasa, dan mulai memupuk bunga di tengah retakan yang tak disengaja.
View More“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu
“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.