首頁 / Romansa / RENJANA / Bab 6 : Pria yang tak diundang

分享

Bab 6 : Pria yang tak diundang

作者: Junatha Rome
last update publish date: 2026-08-11 11:44:53

“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.

Renjana menurut.

“Sudah?” Haikal memastikan.

“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya.

  Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.

“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.

“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.

“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.

Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.

**

“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.

“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.

“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namun, dia masih milik Milla, senyumnya pun lebih manis untuk Milla daripada untukku. Dia memberikanku sebuah harapan, seakan akulah yang ada di hatinya, tapi nyatanya, penantianku sia-sia, dia lebih menyukai perempuan yang tinggal di pesantren, yang lebih tinggi ilmu agamanya, yang lebih bersih terjaga tubuhnya, dia sungguh mencari perempuan yang seperti itu, dan kriteria itu, tidak ada dalam diriku,” Pipinya terus dihujani butir bening yang entah kapan akan berhenti.

“Kamu hebat bisa meninggalkannya Jana,” kagum Sherly.

“Aku meninggalkannya karena kami benar-benar tidak memiliki waktu untuk bersama, janji yang pernah dia buat untukku, hanyalah kebohongan yang membawaku pada kecewa. Aku pergi untuk membalas segala kekecewaan itu,”

“Apa hanya dia pria yang kamu ingat pada masa itu?”

“Tidak, pria berdatangan, namun semuanya adalah trauma bagiku,”

“Bisa jelaskan?” Sherly mengulik lebih dalam, trauma apa lagi yang Jana Rasakan.

**

Sejak saat tragedi antara Milla dan Renjana di kelas, beberapa siswa telah terhasut untuk membenci Renjana, terlebih, semua siswa mengetahui kedekatan Haikal dengan Renjana, yang mereka tahu adalah, Renjana merebut kekasih Milla.

“Jana, memangnya tidak ada laki-laki lain selain Haikal? Bukankah kamu yang bilang bahwa kita datang kesini untuk sekolah, bukan nyari idola?” cecar Lilis. “Sekarang lihat dirimu? Kamu dibenci setengah dari murid-murid di sekolah ini,” Lilis memberi peringatan.

“Aku harus bagaimana Lis? Aku baru tahu kalau dia sesempurna itu di mataku juga,” elaknya.

“Tapi dia masih kekasih Milla, Na,” tegas Lilis.

“Aku tidak merebutnya dari siapapun, aku hanya mengaguminya,” elak Jana.    

Meski kenyataannya demikian, Renjana tak percaya hati Haikal benar-benar mencintai perempuan itu.

“Kamu lihat pria itu tidak? Pemain bola nomor 7?” Lilis segera mengalihkan perbincangan saat nasehatnya sudah tidak lagi mempan untuk Renjana.

“Oh, dia juga sedang viral dikalangan cewek-cewek tuh, karena ketampanan dan berhasil membawa tim sepak bola kita menang dalam ajang lomba tingkat kabupaten,” beber Jana mengetahui berita yang beredar di sekolah.

“Is, ganteng banget Na. Ayo kita menonton lebih dekat di sana, di bawah pohon sana,” ajak Lilis sambil menarik paksa lengan Jana.

“Lis, aku tidak suka bola,” Keluh Renjana.

“Tidak akan kena kok, mereka pemain handal semua,” kata Lilis meyakinkan Jana.

Keduanya sudah berada di bawah pohon halaman sekolah, ada banyak siswa-siswi yang juga menonton permainan sepak bola antar kelas itu, sebagian besar dari mereka adalah para cewe penggemar Agil, si gesit nan tampan se-tim sepak bola sekolah.

Pada akhirnya, Renjana dan Lilis terbawa arus oleh serba-serbi yang ada di sekolahnya.

“Agiiiiiil,” teriak Lilis.

“Lis! Jangan mengikuti mereka seperti itu dong,” Tegur Jana.

“Gak bisa Na, Agil terlalu keren,” elak Lilis.

“Terus Gil!”

“Ayo Agil semangat!”

Teriak mereka.

Renjana hanya terdiam di tengah kebisingan sekitar.

DUK

Tiba-tiba bola yang di tendang Agil menerjang kepala Renjana.

“AH,” Renjana mengaduh.

“Na, kamu tidak apa-apa?” Lilis memastikan.

Agil berlari menghampiri dua perempuan di bawah pohon itu. Lalu merendahkan tubuhnya tepat di hadapan Renjana.

“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Agil memastikan lamat-lama wajah Renjana yang masih meringis.

“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Renjana dengan wajah yang menampakkan sebaliknya.

Lilis yang berada di samping Agil pun tak berkedip melihat ketampanan Agil dari dekat.

“Tidak, kamu tidak baik-baik saja, ayo ke ruang UKS,” AJAK Agil.

“Ayo Renjana, kita ke UKS saja,” ajak Lilis sambil memapah Renjana. Batin Lilis, ini adalah kesempatan bagi Lilis untuk berlama-lama dengan Agil.

“Aku tidak apa-apa Lis,” tolak Jana.

“Setidaknya kamu harus minum Paracetamol Na, pusing kan?” kata Lilis sedikit memaksa.

Renjana pun tak punya pilihan, benar apa yang dikatakan Lilis, kepalanya sedikit pusing saat ia mulai berdiri.

Tanpa sadar, Agil ikut memapah lengan Renjana. Sentuhan tangan Agil, sontak membuat Renjana menghindari Agil, agar Lilis tak cemburu melihat suasana canggung itu.

Agil mengambil bola yang tadi mengenai Renjana, lalu melemparnya ke lapangan.

“Lanjut dulu! Saya ke UKS sebentar!” teriak Agil pada tim mereka yang menyaksikan kejadian itu.

“Oke Bro,” mereka menyahut.

Di ruang UKS.

“Bisa minum obat kan?” Celetuk Agil.

“Tidak. Aku tidak suka obat pahit,” jawab Jana seadanya.

“Ini tidak akan terasa jika langsung ditelan Na,” Lilis menimpali.

Agil menyodorkan kembali obat yang berada di telapak tangannya.

Dan lagi, Renjana tidak punya pilihan selain mengikuti titah dua orang bersamanya itu.

Ada desiran hebat di hati Agil, saat jemari lentik nan putih bagai susu itu menyentuh telapak tangannya. Lalu memperhatikan bagaimana wanita di hadapannya itu bergerak.

‘Perempuan estetik,’ kata pertama yang terlontar dari batinnya untuk mendeskripsikan seorang Renjana.

UEEEK

“Tidak masuk obatnya,” Renjana membekap mulut yang masih menyimpan segelondong Paracetamol.

“Paksa telan Jana,” titah Lilis.

Agil segera meminumkan air putih untuk Renjana. Sampai akhirnya Renjana berhasil menelan obat yang baginya itu seperti segelondong kayu yang mematikan.

Agil menatap, memastikan obat itu tidak keluar lagi.

Renjana tersipu, menertawai dirinya yang tidak becus menelan obat sekecil itu.

Agil pun ikut tersenyum, rasa gemas tersulut dalam dadanya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • RENJANA   Bab 6 : Pria yang tak diundang

    “Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu

  • RENJANA   Bab 5 : Terluka lagi

    “Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad

  • RENJANA   Bab 4 : Pria Idola Sekolah

    Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge

  • RENJANA   Bab 3 : Luka Pertama

    “Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri

  • RENJANA   Bab 2 : Teman berbeda agama

    “Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu

  • RENJANA   Bab 1 : Cerita tersembunyi

    Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status