LOGINBaim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.
‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.
Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.
Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.
Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.
Tatapan Jana kosong, tangannya bergetar, tubuhnya lemas tak berdaya.
“Ibu,” suara yang hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri melayang ke udara.
Beberapa menit air mata berderai diiringi suara serak karena menahan teriakan di ruangan itu. Akhirnya berusaha ia hentikan paksa, tubuh yang tak memiliki daya, ia paksa untuk tetap kokoh berdiri, langkah yang seakan terikat oleh keterkejutan, ia paksa untuk tetap melangkah pulang.
“Ibu,” untuk kedua kalinya ia memanggil wanita yang paling ia butuhkan saat ini.
Ia tahu, tragedi ini tidak boleh sampai ada yang tahu meski ia sangat ingin menceritakan pada ibunya, atau bahkan pada sang ayah. Dalam perjalanan pulang ia harus mengubur dalam- dalam, biarlah dia yang menggenggam semuanya hari ini, dan mungkin selamanya.
Ia usap perlahan air mata yang terus menjejak di pipi, menyisakan wajah sembab yang tak mungkin bisa ditutupi.
**
Di ruang terapi bersama Sherly, ia mengungkapkan segala amarahnya pada air mata, pada teriakan parau yang hampir tak terdengar.
“Jika agamaku membolehkan untuk mengakhiri hidup, mungkin aku sudah memutus nadiku saat itu,” tatapannya sunyi, lesu wajahnya menampilkan segala lara yang ia derita.
“Agamamu telah menolongmu, dirimu menjadi kuat karena lembutnya pelukan agamamu Na,” ungkap psikiater senior itu memberi harapan bahwa ada cara lain untuk menyembuhkan lukanya tanpa harus menyuntikkan cairan penghapus kenangan tentang laki-laki ke dalam tubuhnya.
“Aku lelah,” sayu matanya menjadi isyarat betapa jujurnya kata lelah yang lolos dari bibirnya.
Sherly mengangguk.
“Bertahanlah sedikit lagi, aku yakin kamu bisa. Menangislah, kamu berhak untuk menangis,” titah Sherly.
Renjana lekas menangis lebih lepas dari biasanya, deraian butir bening lebih deras dari biasanya, sisa teriakan mengaduh pilu.
Lima belas menit berlalu. Wajah sembabnya perlahan menengadah ke langit-langit ruangan, mengemis kekuatan di bawah kabut keputusasaan.
“Aku tidak bisa bahagia,” rintihnya.
Sherly menatap dalam netranya. Ada rindu yang ringkih tersimpan disana, mungkin di hatinya juga ada cinta yang tak ia biarkan untuk bebas, dan entah untuk siapa.
“Aku tidak tahu, aku dan Alan berakhir karena apa, padahal kami masih saling cinta. Yang kuingat saat itu aku mulai menggila. Aku membolos sekolah, aku berhenti dari sekolah dasar, hingga aku tidak lagi menjadi juara kelas,”
Bibir indahnya kemudian mekar dengan manis bak bunga tulip yang perlahan ceria di musim semi.
“Hingga akhirnya aku mencintai seseorang yang saat aku melihatnya, desiran hati mengoyak pertahanan dinding perasaanku, jika aku mendengar suaranya, angin yang menyapu wajah pun terkalahkan kelembutannya. Aku sangat mencintainya,” ungkapnya menyunggingkan senyum terakhirnya untuk laki-laki yang pernah singgah di palung hatinya.
**
“Tak terasa kita sudah duduk di bangku MTs ya Na?” ucap Lilis.
“Iya Lis. Tetap sama-sama ya Lis?” jawab Jana.
Hari itu adalah hari pertama mereka masuk sekolah MTs islam swasta, yang juga tidak jauh dari tempat mereka tinggal, hanya lima menit berjalan kaki.
“Perhatian pada seluruh siswa, diharapkan untuk segera berkumpul di lapangan karena demo ekskul akan segera dimulai,” Suara nyaring dari pengeras suara pun terdengar seantero sekolah, mengharuskan mereka untuk merapat ke lapangan.
Demo ekskul dimulai.
“Pramuka dan drumband bagus juga. Saya akan mengikuti keduanya Lis,” pilih Renjana dengan mantap.
“Pramuka? Nanti kamu hitam Jana,” Cegah Lilis.
“Aku tidak takut hitam Lis. Dalam pramuka, ada banyak hal yang bisa kita ambil, disiplin, rapi, bertahan hidup, dan menguatkan mental. Coba saja,” beber Jana tetap kuat pada pilihannya.
“Tapi capek Na. Aku tidak mau,” tolak Lilis.
“Justru itu, kita harus terbiasa dengan hal yang membuat kita capek,” jawab Jana bijak.
“Yasudah aku ikut,”
“Penampilan selanjutnya adalah MARAWIS! Tepuk tangan yang meriah!” panggil seorang pembawa acara dari kelas Sembilan A.
Aaaaaa…..
Benar sekali, sambutan meriah dari para siswa pun lebih menggelegar dari ekskul sebelumnya, bahkan sorakan mereka semakin riuh saat satu persatu dari tim marawis mulai memasuki panggung utama.
“HAIKAL! HAIKAL!” Teriak mereka.
“Na, yang mana Haikal?” Tanya Lilis penasaran.
“Tanya saja sama sebelahmu itu, dia membekap mulutnya sejak mereka masuk panggung utama,” Seru Renjana.
Lilis menoleh kearah perempuan yang dimaksud Renjana.
“Jana, bukan hanya dia perempuan yang membekap mulut, lihat ke belakang, mereka sambil berdecak kagum,”
Renjana menoleh kebelakang.
‘Ah. Berlebihan sekali mereka,’ batin Renjana tidak suka.
Diawali dengan suara vocal yang terdengar begitu merdu membuka penampilan mereka di depan sana. Lalu disambut oleh permainan darbuka yang begitu memukau membuat para penonton terpaku dan bersorak mengagumi kelihaian jemari pemainnya.
“HAIKAAAAAAAL!”
Teriakkan seorang siswi dari belakang dengan lantangnya.
“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu
“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri
“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu
Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga







