LOGIN"Yura! Kamu kecolongan lagi?!" Suara melengking dari Dira alias direktur Glory Entertainment memenuhi ruangannya.
Yura mengernyitkan dahinya akibat teriakan atasannya. Sedangkan Ella hanya tersenyum manis seakan-akan tidak terjadi apa-apa karena sudah terbiasa mendengar teriakan yang sama di rumah. "Maaf, Tante--" "Panggil 'Bu' kalau di kantor!" perintah Dira memotong ucapan Yura. "Eh, iya Bu. Kemarin Ella bilang hanya ingin cuti sehari karena lelah dari Paris. Saya juga tidak menyangka dia nekat membuat kontrak dengan Jelita," ucap Yura membela dirinya. Dira mengambil napas berat. Dadanya naik turun berusaha mengendalikan emosi yang meluap. "Kamu juga, Ella. Kenapa tidak berdiskusi dulu dengan saya dan menejermu?!" Sekarang giliran Ella yang diteriaki. "Yura sendiri yang bilang kalau bekerjasama dengan Jelita akan menjadi batu loncatan untuk karirku, Bu," bela Ella membuat Yura ternganga karena disudutkan. "Lho? Fitnah ya, Ell. Aku bilang kalau bertemu dengan CEO Jelita, bukan asal setuju jadi brand ambassador," ucap Yura tak terima. "Ye ... sama aja," ucap Ella melawan. "Ihh, bisa banget kamu ya! Mentang-mentang yang punya agensi tante kamu," balas Yura kesal. Dira hanya bisa menggeleng melihat kelakuan keponakan dan sahabat keponakannya yang tidak berubah sejak dulu. Jika ada yang salah, mereka akan saling menuduh dan membela diri masing-masing, tapi siapa sangka pertemanan itu awet bahkan membuat Ella dan Yura saling bekerjasama. "Sudah, diam!" bentak Dira, membuat Ella dan Yura berhenti seketika. "Baiklah, karena sudah terlanjur, tidak mungkin kita batalkan. Silakan selesaikan pengurusan kontraknya sekarang. Dan, bayaran kalian dari acara di Paris dipotong 25%," jelas Dira tegas. "Yah ... kok gitu, Bu?!" ucap Ella dan Yura serentak. "Itu hukuman biar kalian jera atau mau dinaikin potongannya?" ancam Dira. "Engga!" jawab Ella dan Yura serentak. "Kalau begitu, silakan keluar dan selesaikan kontraknya!" perintah Dira. "Siap, Bu!" Ella dan Yura pun bergegas keluar menuju parkiran. Sebisa mungkin segera menghilang dari agensi karena kemarahan Tante Dira masih akan terus berlanjut jika mereka berdua berleha-leha. "Ga lagi deh mancing-mancing marahnya Tante Dira," ucap Ella di dalam mobil menuju gedung Jelita. "Lagian kamu sih, udah tau bakal dimarahin malah aneh-aneh," respon Yura kesal. "Ya gimana? Aku butuh kerjasama bareng Kenny," jawab Ella pelan. Yura mengerutkan keningnya. Perubahan nada suara Ella membuatnya tahu bahwa sahabat sekaligus model yang dia handle sedang tidak baik-baik saja. "Kamu kenapa sih? Sejak balik apartemen Leo sampai balik Paris keliatan lesuh banget," tanya Yura curiga. "Jangan sebut nama Leo lagi, aku udah putus sama dia," jawab Ella dingin. "What?! Kok bisa? Bukannya dia adalah segalanya buat kamu?" tanya Yura tak percaya. "Dia selingkuh. Aku lihat sama mata kepala sendiri dia lagi begituan sama perempuan lain," jelas Ella. Matanya perlahan sendu, menyimpan duka yang salama ini dia tahan. "Perempuan lain? Siapa?" "Tamara," jawab Ella singkat. "Kamu becanda, kan?" tanya Yura memastikan. Ella tidak lagi menjawab, dia segera memutar bukti perselingkuhan Leo dan Tamara. Melihat video panas tersebut membuat Yura terdiam. Dia menatap sahabatnya yang sedang menahan tangis. "Sini, peluk," ucap Yura yang langsung merangkul tubuh Ella. Hitungan detik, air mata yang selama ini Ella tampung akhirnya tumpah dipelukan sahabat kecilnya. --- Sebenarnya Ella dan Yura sudah sampai parkiran gedung Jelita sejak sepuluh menit lalu. Namun, mereka berdua sedang sibuk di mobil untuk menutupi mata Ella yang bengkak. "Duh! Ga ketutup sama konsiler lagi," ucap Yura panik. "Udah ah! Pake kacamata aja, biar ga ribet," saran Ella. "Yee, mana etis tanda tangan kontrak pakai kacamata hitam, ntar dikira ga menghargai lagi," balas Yura logis. "Ya, dari pada telat, tinggal lima menit lagi loh ... mau dimarahin lagi sama Tante Dira?" tutur Ella. "Yaudah deh, pakai kacamata aja," jawab Yura pasrah. Mereka pun segera memasuki gedung Jelita. Lalu bertemu dengan Austin yang sudah menanti di depan meja resepsionis. "Mari ikut saya!" pinta Austin sopan. Ella dan Yura pun diajak ke ruangan rapat untuk menandatangani kontrak menjadi brand ambassador. Setelah tanda tangan selesai, Austin meminta Yura untuk mengikutinya membicarakan jadwal Ella sebagai brand ambassador Jelita kedepannya. "Well, sekarang hanya kita berdua," ucap Kenny santai. Ella tersenyum cerah. "Bagaimana dengan pertunanganmu?" Sekarang giliran Kenny yang tersenyum cerah. "Dibatalkan dan sangat melegakan," jawabannya santai. "Syukurlah kalau pembatalan pertunanganmu lancar. Selamat atas kebebasannya," ucap Ella membuat Kenny tertawa. "Jika ada yang mendengar ucapan selamat ini pasti akan menjadi gosip besar," ucap Kenny sembari bercanda, tetapi respon Ella tidak seceria sebelumnya. "Apa ada masalah?" tanya Kenny khawatir. "E? Gapapa," jawab Ella seadanya. "Kamu habis nangis, kan? Makanya pakai kacamata hitam dan lebih suram dari pertemuan kemarin," jelas Kenny membuat Ella cukup terkejut. "Apa bayangan mata bengkak kelihatan?" tanya Ella panik. "Tidak, aku hanya tau saja," jawab Kenny santai. "Ternyata kamu cukup peka," balas Ella hangat. "Ya, begitulah, cukup sempurna untuk dijadikan pasangan kontrak," sindir Kenny membuat Ella tertawa lepas. "Bisa ya, sindirannya," ucap Ella lebih santai. "Jadi, mari kita bicarakan aturan kontrak hubungan palsu ini!" ajak Ella. "Baiklah, aku siap mendengar," balas Kenny. "Ada beberapa poin penting dalam hubungan palsu kita. Pertama, hubungan palsu ini hanya berlangsung selama satu tahun, sedangkan untuk jadi brand ambassador bisa lebih lama," jelas Ella. "Kenapa begitu?" tanya Kenny penasaran. "Karena aku tidak mau membuang waktumu untuk hubungan palsu, bisa saja kamu bertemu dengan orang yang tepat. Sedangkan menjadi brand ambassador adalah bisnis, dan aku tidak bisa asal lepas sesuatu yang menguntungkan," jawab Ella gamblang. Kenny tertawa renyah. "Oke, silakan lanjutkan." "Kedua, hubungan ini akan kita umumkan setelah beberapa bulan aku menjadi brand ambassador. Kita harus perlihatkan romantis tipis-tipis supaya orang-orang percaya bahwa hubungan kita terjalin secara alami dan menghindari tuduhan gosip kalau aku berselingkuh," jelas Ella lagi. "Lalu?" tanya Kenny santai. "Ketiga, kita akhiri kontrak hubungan palsu ini dengan alasan sibuk supaya tidak ada yang curiga dan nama baik kita berdua tetap aman," tutur Ella, "Apa ada tambahan darimu?" lanjutnya. "Ada, hanya satu saja," jawab Kenny sedikit ragu. "Apa?" "Kita akan mengumumkan hubungan ini di acara ulang tahun Jelita dan di sana ada keluarga besarku. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Kenny. Ella menatap mata Kenny yang terlihat ragu. "Ya, tidak ada masalah, sesuai kesepakatan kita sebelumnya. Kenapa ragu begitu?" Kenny bedehem, lalu memperbaiki dasinya yang masih rapi. "Aku berjanji kepada keluarga besar akan membawa pasangan sendiri supaya tidak dijodohkan lagi. Jadi, aku sempat ragu kamu merasa keberatan karena ini di luar obrolan yang kemarin." Ella tersenyum manis. "Tenang saja, permintaanmu tidak keluar dari konteks hubungan palsu ini. Pada akhirnya kita juga terpaksa saling mengenalkan kepada keluarga masing-masing, karena satu tahun itu lumayan lama." "Hmm, kamu ada benarnya," jawab Kenny lega. "Kalau begitu aku tambah satu poin terakhir. Apapun yang terjadi selama hubungan ini, kita berdua harus saling terbuka dan tidak ada yang dirahasiakan. Jika ada masalah kita selesaikan sama-sama. Oke?" jelas Ella semangat, tangannya ikut menjulur ke arah Kenny. "Oke," jawab Kenny sembari tersenyum hangat. lalu, menerima uluran tangan Ella sebagai kesepakatan kontrak hubungan palsu mereka. Brak! Suara pintu yang dibuka secara kasar berhasil mengalihkan perhatian Ella dan Kenny. Mereka menatap heran kepada Yura yang berlari tergopoh-gopoh. "Yura, ngapain sih? Bisa rusak pintu kantor orang," ucap Ella tegas. "Ada yang lebih penting dari itu," jawab Yura ngos-ngosan. "Kamu viral Ell!" teriaknya. "Viral gimana?" tanya Ella bingung. "Semua sosmed lagi bicarain putusnya hubungan kamu dan Leo karena adanya orang ketiga," jawab Yura heboh. "Hah?!""Terimakasih atas kerjasamanya hari ini. Sampai jumpa besok," ucap Dita mengakhiri pemotretan hari pertama.Para model dan seluruh kru sedang bersiap-siap untuk pulang dari lokasi pemotretan. Termasuk Ella yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Celana jeans dipadukan dengan baju off shoulder bewarna broken white. Rambutnya diikat halfbun, memberikan kesan dandy."Ell, boleh bicara sebentar?" Suara bariton yang sudah bertahun-tahun Ella dengar berhasil menghentikan langkahnya saat akan berbelok dari ruang ganti menuju pintu lift. Dia berbalik badan, dihadapannya sudah berdiri Leo dengan raut wajah lesuh."Silakan," ucap Ella ketus. Raut wajahnya datar seperti tidak tertarik untuk mengobrol dengan lelaki dihadapannya.Leo tersenyum kecut. "Aku ga pernah nyangka bakal liat ekspresi seperti itu dari kamu, Ell," ucapnya berusaha terdengar pilu."Cuma mau bilang itu?" respon Ella sinis. "Kalau gitu aku cabut dulu, ga ada waktu buat obrolin hal-hal ga penting.
Ruangan pemotretan langsung heboh setelah Kenny menjawab pertanyaan Dita. Sedangkan Ella terlihat bingung, kedua alisnya menyatu, kepalanya sedikit bergerak sebagai kode bertanya maksud dari ucapan Kenny barusan.Sebuah kedipan mata sebelah kanan, disusul senyum manis menjadi jawaban dari kode Ella. Tangannya mengangkat cup holder yang berisi jus segar."Aku bawain kamu dan kru jus. Lagi istirahat kan? Yuk minum dulu!" ucap Kenny hangat."Wih! Asik, kita juga dapat nih!" seru kru pemotretan serentak. Ella tersenyum hangat. Kakinya melangkah ringan ke arah Kenny, mengabaikan Leo dan Tamara yang terlihat jengkel ketika pusat perhatian tidak lagi kepada mereka."Orange jus?" tanya Kenny, memastikan informasi yang dia dapat dari Yura tentang jus kesukaan Ella memang benar."Of course," jawab Ella hangat, tangannya mengambil jus yang disodorkan oleh Kenny."Kamu kenapa bisa tau jus favorit aku?" tanya Ella setelah meminum jusnya."Dikasih tau menejer kamu," jawab Kenny santai, dia juga m
"Selamat pagi! Saya Dion, produser yang memimpin proyek photoshoot dan pembuatan video iklan untuk brand GlowUp kali ini." Briefing sebelum syuting dibuka oleh seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan kemeja flanel hitam dan dalaman baju kaos krem, bawahannya celana hitam dilengkapi dengan sepatu sport bewarna campuran coklat dan krem. Dia tersenyum hangat kepada anggota tim yang hadir dan tiga orang model yang direkrut oleh tim GlowUp. "Untuk keseluruhan skedul proses syuting kita ke depan akan dijelaskan oleh asisten produser. Silakan, Dita," ucap Dion, lalu memberikan kesempatan asisten produser mengambil alih brifing. "Halo semua! Senang akhirnya kita bisa berkumpul untuk proyek kali ini, meski minus Mas Ryan yang biasanya jadi fotografer tim kita, tapi dia ga bisa karena harus ngerjain proyek lain," sapa Dita hangat. "Yah ... sayang banget, padahal Mas Ryan salah satu fotografer favorit aku," ucap salah satu model berkulit kuning langsat. "Iya lag
Sudah tiga puluh menit Ella menatap layar ponselnya. Sebuah notifikasi "Panggilan Tak Terjawab dari Leo" masih terpampang di sana. Dia mengambil napas berat untuk kesekian kalinya. Pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan, kenapa Leo menelponnya kemarin? Apakah dia akan siap jika kembali bertemu dengan laki-laki itu? Seandainya mereka benar-benar bertemu, apa yang akan Leo lakukan kepadanya? Lagi-lagi Ella kembali mengambil napas berat. "Ell?" Panggilan dari Yura mengalihkan pandangan Ella. Sorot matanya sayu dan lelah."Iya?" balas Ella dengan suara yang pelan tak bertenaga."Skedul photoshoot dan video iklan buat brand GlowUp udah keluar," jelas Yura."Oh ya? Kapan mulainya dan berapa lama?" tanya Ella dengan rasa cemas di dalam dirinya."Untuk photoshoot dimulai besok dan akan dilakukan selama tiga hari. Sedangkan video iklan minggu depan selama seminggu," jelas Yura. "Hmm, oke," balas Ella lesuh. Dia segera bersandar di sandaran sofa, lalu menutup wajahnya dengan majalah.Yur
Leo memasukkan kombinasi password di pintu apartemen milik Tamara. Namun yang berbunyi alarm penolakan bahwa kombinasi password yang dimasukkan salah. "Sial! Sejak kapan passwordnya diganti!" umpat Leo, lalu tangannya menggedor pintu apartemen dengan kasar. Tamara bergegas membukakan pintu. "Kamu kenapa sih? Sabar bentar," ucapnya sedikit terbawa emosi. Wajah Leo sudah merah padam. Dia masuk tanpa memandang Tamara, lalu berjalan ke arah sofa dan melempar tas ransel berisi perlengkapan forografi miliknya ke atas sofa. "Kamu yang kenapa?! Ga bisa nahan diri sebentar! Jelas berita tentang putusnya aku dan Ella masih hangat. Bisa-bisanya kamu buat rusuh di agensi!" bentak Leo penuh emosi. Kedua tangannya menggantung di pinggang. "Iya aku salah, tapi--" "Tapi apa?! Gara-gara video kamu yang ngaku jadi orang ketiga bikin aku dipecat hari ini!" lanjut Leo meledak-ledak.Melihat emosi Leo yang meledak-ledak membuat Tamara kehilangan akal. Dia tidak bisa membiarkan Leo ikut membencinya d
Ella keluar dari mobilnya di parkiran salah satu restoran Jepang yang terkenal di Jakarta. Dia bergegas masuk menuju seorang laki-laki yang sudah duduk menunggunya di salah satu meja."Hai! Maaf banget karena ngajak ketemuan mendadak," sapa Ella kepada Kenny yang mengenakan baju kaus bewarna hitam dengan bawahan celana abu-abu."Iya gapapa, sesuai perjanjian aku selalu siap sedia kapanpun kamu butuh," balas Kenny santai.Ella tersenyum manis mendengar jawaban Kenny. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah Ella. Perlahan kursi yang akan diduduki Ella sudah ditarik ke belakang oleh Kenny."Silakan duduk," ucap Kenny lembut."Terimakasih," balas Ella hangat. "Siapa sangka CEO yang terkenal dingin seperti kulkas dua pintu bisa melakukan hal romantis begini." Lanjutnya memuji sekaligus meledek Kenny.Suara tawa Kenny menyembur mendengar ucapan Ella. "Ya, namanya juga usaha. Biar orang-orang liat kalau model satu ini sedang diperjuangkan oleh CEO Jelita," jawabny







