MasukSemua orang seketika terdiam. Max yang baru saja hendak melangkah maju langsung berhenti. Tatapannya jatuh pada pistol yang diarahkan tepat ke perut Athena, lalu berpindah kepada wanita yang berdiri kaku di hadapan Rosetta.Athena.Dan di balik perut itu ada anak mereka. Max mengepalkan tangan. Dia tidak berani mengambil risiko sedikit pun. Satu gerakan yang salah bisa membuat Rosetta menarik pelatuk.Rosetta tersenyum melihat Max akhirnya berhenti. “Kenapa diam saja?” serunya mengejek. “Tembak saja, bukankah kau benci pengkhianat?”Max menatap Rosetta dengan sorot mata dingin, tetapi tidak bergerak.Athena justru menatap Rosetta dengan kemarahan yang sulit disembunyikan. “Kau melanggar perjanjian kita!” serunya.Rosetta tertawa. “Dan kau pikir aku bodoh melepaskanmu begitu saja?”Dia menggelengkan kepala. “Tidak.”Athena mengepalkan tangannya. Rosetta tidak pernah benar-benar berniat menepati janjinya.Dia memang sudah menduga kemungkinan itu, tetapi tetap saja kenyataan ter
Max tidak menjawab. Rosetta berjalan perlahan mendekat, seolah ingin memastikan setiap perkataannya benar-benar sampai kepada Max.“Wanita yang selama ini kau lindungi ternyata memilihku.”Tatapan Rosetta penuh kemenangan. “Dia memberikan apa yang kubutuhkan. Dia membawa informasi tentang keluargamu. Dia bahkan mengambil sesuatu yang sangat penting dari Gregory untukku.”Rosetta terkekeh. “Dan sekarang dia ada di sini.”Max tetap diam, namun tangannya semakin mengepal. Rosetta memperhatikan itu dan tersenyum puas.“Dia memang pantas ditinggalkan.”Kalimat itu membuat sorot mata Max berubah.Perlahan, Max mengangkat wajahnya. “Apa katamu?”Rosetta tidak gentar. “Athena,” ulangnya. “Kau memang pantas ditinggalkan.”Rosetta tertawa kecil.“Bukankah itu kenyataannya? Dia mengkhianatimu. Dia memilih pergi bersamaku. Bahkan ketika kau masih berusaha mempertahankannya, dia sudah merencanakan untuk meninggalkanmu.”Max menatap Rosetta tanpa berkedip. Untuk beberapa saat, tidak ada
Ledakan keras terdengar dari luar. Tubuh Athena tersentak, tangannya refleks berpegangan pada sisi pintu. Getaran kecil menjalar melalui lantai, disusul suara kepanikan dari kejauhan.Athena menatap pintu dengan wajah tegang. “Rosetta...”Ia mulai menyadari ada sesuatu yang salah.Seharusnya ia sudah berada dalam perjalanan bersama Hans. Seharusnya mereka sedang bersiap meninggalkan kota dan memulai kehidupan baru. Namun kini ia justru berada di tempat yang menjadi pusat konflik keluarga Gregory.“Aku harus keluar dari sini.”Athena kembali mencoba membuka pintu. Ia tidak tahu siapa yang membawanya kemari, tetapi satu hal yang pasti... ia tidak boleh terus berada di gedung ini.Di sisi lain, Peony masih belum menemukan keberadaan Athena.Ia telah mencari ke berbagai tempat, menghubungi orang-orang yang mungkin mengetahui keberadaannya, bahkan memeriksa beberapa lokasi yang menurutnya masuk akal. Namun semuanya berakhir buntu.Peony berhenti sejenak di depan layar monitor perus
Di tengah kepanikan yang disebabkan oleh ledakan di gedung Gregory, keduanya masih berdiri berhadapan. Tidak ada yang benar-benar mundur. Rosetta masih mempertahankan keyakinannya bahwa kali ini dialah yang memegang kendali, sementara Max justru terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya telah berbalik melawannya.Rosetta menyipitkan mata ketika Max tiba-tiba tersenyum tipis. “Bukankah lucu?” ujar Max.Rosetta tidak menjawab. Max justru melangkah sedikit ke depan. Tatapannya tajam, tetapi senyum di wajahnya seolah menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan.“Kau yang bersalah,” lanjut Max tenang. “Tapi kau malah melampiaskan semuanya kepada orang lain.”Tawa Max terdengar di tengah suasana tegang itu. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang seolah sengaja mengulur waktu. “Lucu sekali.”Wajah Rosetta langsung mengeras. “Kau akan menyesal karena itu!” serunya tegas.Max hanya mengangkat alis.Rosetta kem
Max masih berdiri tegak di tengah aula, posturnya sama sekali tidak menunjukkan tanda terdesak. Tatapannya justru tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Sorot mata itu membuat beberapa pemegang saham tanpa sadar menelan ludah.“Apa kau yakin stempel dan berkas itu asli?” tanya Max santai, seolah mereka sedang membicarakan kontrak kecil, bukan kepemilikan seluruh keluarga Gregory.Rosetta mendengus, dagunya terangkat penuh percaya diri. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu membawa barang palsu ke hadapan semua orang.”Max terkekeh pelan. Suara tawanya pendek, namun sarat ejekan.“Kau memang licik,” ucapnya, lalu menatap Rosetta lurus-lurus, “tapi rupanya licik tidak selalu sejalan dengan cerdas.”Suasana aula langsung menegang. Beberapa orang saling berpandangan, bingung dengan perubahan arah percakapan ini.“Bermain dengan orang sepertimu,” lanjut Max dengan senyum miring, “tentu aku harus lebih licik lagi. Kau benar-benar berpikir aku akan menyimpan barang sepenting itu di rumah,
Langkah Max menggema begitu ia memasuki aula utama perusahaan Gregory. Suasana yang semula riuh mendadak menegang. Beberapa orang spontan menoleh, sebagian menahan napas, sebagian lain saling bertukar pandang. Di sisi lain ruangan, Rosetta berdiri dengan tenang, diapit beberapa pria berpakaian hitam—pengawalnya. Tak jauh darinya, beberapa pemegang saham senior terlihat berdiri di belakang Rosetta, jelas menunjukkan keberpihakan mereka.“Kau cepat sekali datang, Max,” sapa Rosetta, nada suaranya ringan, nyaris mengejek.Max melangkah maju tanpa tergesa. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh, amarah dan kecemasan berkelindan, namun ia memaksa semuanya tetap tersembunyi.“Aku sudah tahu permainan licik yang kau mainkan,” ucapnya dingin. “Sekarang katakan di mana Athena.”Rosetta tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon. “Wah, di saat seperti ini kau malah lebih mementingkan wanita itu.” Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Hebat juga pengaruhny
Suasana makan malam di sebuah restoran private yang di pesan Hudson pun terasa canggung, tampak Hudson sendiri tengah sibuk berbincang dengan Max. Celine sendiri terus menempel pada Max, sedangkan Athena tampak diam tapi sebenarnya mengamati.“Kenapa kau masih di sini?” tanya Athena melirik Peony
“Kau dapat dari mana ini?” tanya Max tetap curiga, pasalnya ini proyek yang sedang dikerjakan oleh Hudson dan tentu saja ia memantau langsung.“Aku tidak tahu, ada di ruanganku setelah Hudson pergi,” jawab Athena sedikit mengarang cerita saja.Sejujurnya Athena mendapatkan ini dari Athala, ia men
“Coba kau selidiki langsung siapa dalangnya! Aku ingin tahu siapa orang yang berani mengusikku!” perintah Hudson geram, selama ini tak pernah ada yang berani menyinggungnya.“Baik, Tuan,” jawab Betrand menunduk, ia kemudian memberikan sebuah kotak di atas meja Hudson.“Ini dari siapa?” Hudson men
Celine mulai gelisah, Max biasanya tak pernah menanyakan apa pun tentang apa yang ia lakukan. Tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda saja, seolah Max tengah curiga padanya.“Tentu saja aku di Kamar, Sayang. Memang mau ke mana lagi coba? Lihatlah wajahku seperti ini, mana mungkin aku berani berk







