ログイン“Terima kasih sudah mencintaiku.”Max menggenggam tangan Athena. “Aku pun sangat mencintaimu, Athena.”Sampai di restoran, mereka memesan tempat dekat jendela sembari menikmati lampu kota yang menyala terang.Sampai di rumah.Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Lampu kamar dibuat redup, menyisakan cahaya lembut yang jatuh di wajah Max. Athena yang sejak tadi memeriksa ponselnya tiba-tiba teringat pesan dari Hans.Athena menoleh kepada Max.“Papa ingin bertemu denganmu,” ucap Athena pelan.Max tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap menghadap ke depan, tetapi Athena tahu pria itu mendengarnya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Max bertanya dengan suara rendah.“Apa keadaannya sudah membaik?”“Untuk saat ini baik,” jawab Athena. “Hanya saja masih dalam pemantauan dan terapi untuk melemaskan otot-ototnya karena terlalu lama kaku.”Max terdiam sejenak. Tidak ada perubahan besar pada ekspresinya. Dia hanya menarik napas perlahan, lalu mengangguk kecil.“Oh, baiklah.
Athena tahu penjelasannya belum tentu mampu membuat Hans menerima semuanya dalam satu hari. Luka yang sudah bertahun-tahun tentu tidak akan hilang hanya karena sebuah kebenaran akhirnya terungkap.Namun setidaknya, sekarang Hans tahu apa yang sebenarnya terjadi.Dia tidak ingin ayahnya terus membenci Max karena sesuatu yang ternyata jauh lebih rumit dari yang mereka kira. Begitu pula Athena tidak ingin Max terus membawa kebencian kepada keluarga Harrington.Setidaknya, kebenaran itu harus diketahui lebih dulu.Athena mengusap tangan Hans perlahan. “Papa tidak harus menerima semuanya sekarang.”Hans menatap putrinya dalam diam.“Aku hanya ingin Papa tahu kenyataannya.”“Athena...”“Kalau setelah ini Papa masih marah, aku mengerti. Kalau Papa belum bisa menerima Max, aku juga mengerti.”Athena tersenyum tipis. “Tapi jangan membencinya karena sesuatu yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahannya.”Hans menghela napas panjang. “Aku akan memikirkannya.”Athena mengangguk. “Itu s
“Papa, dengarkan aku dulu.” Athena sudah bisa menebak reaksi Hans.“Tidak!” Hans menggenggam tangannya semakin erat.“Papa tahu siapa Maxwell Gregory. Papa tahu apa yang terjadi pada keluarga kita.”Athena menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku juga sudah mengetahui semuanya, Pa.”Hans terdiam. Athena mengusap punggung tangan ayahnya. “Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tidak bersalah.”“Jangan membela dia.”“Aku tidak sedang membelanya.” Suara Athena terdengar lembut, tetapi tegas.“Aku hanya ingin Papa mendengar semuanya dariku.”Hans menatap putrinya. Athena menelan kesedihannya. “Karena sekarang aku sudah tidak ingin hidup dalam kebencian lagi.”Athena menarik napas panjang sebelum mulai menjelaskan semuanya. Dia tahu kebenaran ini akan sulit diterima Hans, tetapi tidak ada lagi alasan baginya untuk menyembunyikannya.“Pa, semua yang terjadi selama ini... ternyata tidak sesederhana yang kita kira.”Hans masih menggenggam tangannya. “Apa maksudmu?”“S
Max mengangguk lega. “Syukurlah.”“Aku ingin menjenguknya.”“Norah akan mengantarmu.”Athena mengangguk, tetapi kemudian memperhatikan Max yang masih berada di villa. “Kau sibuk?”“Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.” Jawaban Max terdengar biasa.Athena mengangguk kecil. “Baiklah. Kalau begitu aku pergi.”Max hanya menatapnya beberapa detik sebelum berkata. “Hati-hati.”Athena tersenyum tipis. “Kau juga.”Athena kemudian pergi bersama Norah. Namun baru beberapa langkah keluar dari villa, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Elio yang baru tiba.Athena berhenti. “Elio.”“Selamat pagi, Nyonya.”“Max hari ini ada pekerjaan apa?”Elio tampak sedikit bingung. “Setahu saya, Tuan belum mulai bekerja hingga saat ini.”Athena terdiam.Elio melanjutkan dengan nada hati-hati. “Saya juga tidak ingin mendesak beliau. Tuan masih membutuhkan waktu setelah semua yang terjadi.”Athena tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan berubah. “Begitu.”“Apakah ada sesuatu, Nyonya?
Malam semakin larut ketika Athena menemukan Max berada di kolam belakang villa.Pria itu duduk sendirian di tepi kolam, kedua kakinya direndam ke dalam air yang tenang. Tatapannya kosong mengarah ke permukaan air yang sesekali beriak karena gerakan kakinya.Entah mengapa, pemandangan itu membuat Athena terdiam. Mungkin Max sedang mengingat Peony. Athena berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman.“Aku bawakan minuman untukmu,” ucapnya pelan.Max menoleh sebentar, lalu mengangguk. Athena duduk di sampingnya dan menyerahkan salah satu gelas.“Terima kasih.”Beberapa saat mereka hanya diam. Athena memandangi permukaan kolam, sementara Max kembali menatap air.“Kakimu direndam sejak tadi?” tanya Athena akhirnya.Max mengangguk kecil. “Entah kenapa aku merasa lebih tenang di sini.”Athena tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu tempat itu mungkin mengingatkan Max pada Peony.Setelah beberapa saat, Max bertanya tanpa menoleh. “Bagaimana hasil pemeriksaan kandunganmu?”Athena
Di villa pribadi Max, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah pemakaman Peony, Max memilih membawa seluruh dokumen yang selama ini dikumpulkan dirinya dan Peony ke tempat tersebut.Elio berdiri di depan meja panjang dengan beberapa map tebal yang terbuka. Foto, laporan lama, bukti transaksi, rekaman komunikasi, hingga dokumen perusahaan tersebar di atas permukaannya.Athena duduk di sofa dengan wajah muram. “Mulai dari awal,” perintahnya singkat.Elio mengangguk. “Baik, Nyonya.”Dia mengambil satu berkas paling lama. “Semua bermula dari insiden penculikan serta kebakaran yang Nyonya alami dulu.”Athena menatap dokumen itu. “Selama ini keluarga Anda menganggap keluarga Gregory berada di balik insiden tersebut karena mereka memang terlibat. Tetapi setelah kami mencocokkan seluruh bukti...” Elio berhenti sejenak. “Ada pihak ketiga yang sengaja membuat keluarga Harrington percaya bahwa keluarga Gregory adalah dalangnya.”“Rosetta,” tebak Athena.“Benar.” Elio me
“Kau di didik untuk menjadi penerus keluarga Gregory, harus kuat dan tangguh. Jangan lemah hanya karena satu wanita saja.”Max hanya menaikkan sudut bibirnya saja, “Nenek meremehkanku ternyata!”“Tentu saja, karena Nenek melihat kau terlalu memanjakan musuhmu,” sahut nenek Daisy lantang.“Nenek
“Aku tidak peduli, kita bicara setelah aku bertemu Athena.”Tanpa berkata apa pun lagi, Max meninggalkan nenek Daisy yang geram atas sikap kurang ajar cucunya itu. Pria itu bergegas menuju ruang bawah tanah, penjaga langsung membuka pintu begitu perintah Max keluar.Max masuk, dan berseru, “Athen
“Kau dapat dari mana ini?” tanya Max tetap curiga, pasalnya ini proyek yang sedang dikerjakan oleh Hudson dan tentu saja ia memantau langsung.“Aku tidak tahu, ada di ruanganku setelah Hudson pergi,” jawab Athena sedikit mengarang cerita saja.Sejujurnya Athena mendapatkan ini dari Athala, ia men
“Coba kau selidiki langsung siapa dalangnya! Aku ingin tahu siapa orang yang berani mengusikku!” perintah Hudson geram, selama ini tak pernah ada yang berani menyinggungnya.“Baik, Tuan,” jawab Betrand menunduk, ia kemudian memberikan sebuah kotak di atas meja Hudson.“Ini dari siapa?” Hudson men







