ログインDi tengah kepanikan yang disebabkan oleh ledakan di gedung Gregory, keduanya masih berdiri berhadapan. Tidak ada yang benar-benar mundur. Rosetta masih mempertahankan keyakinannya bahwa kali ini dialah yang memegang kendali, sementara Max justru terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya telah berbalik melawannya.Rosetta menyipitkan mata ketika Max tiba-tiba tersenyum tipis. “Bukankah lucu?” ujar Max.Rosetta tidak menjawab. Max justru melangkah sedikit ke depan. Tatapannya tajam, tetapi senyum di wajahnya seolah menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan.“Kau yang bersalah,” lanjut Max tenang. “Tapi kau malah melampiaskan semuanya kepada orang lain.”Tawa Max terdengar di tengah suasana tegang itu. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang seolah sengaja mengulur waktu. “Lucu sekali.”Wajah Rosetta langsung mengeras. “Kau akan menyesal karena itu!” serunya tegas.Max hanya mengangkat alis.Rosetta kem
Max masih berdiri tegak di tengah aula, posturnya sama sekali tidak menunjukkan tanda terdesak. Tatapannya justru tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Sorot mata itu membuat beberapa pemegang saham tanpa sadar menelan ludah.“Apa kau yakin stempel dan berkas itu asli?” tanya Max santai, seolah mereka sedang membicarakan kontrak kecil, bukan kepemilikan seluruh keluarga Gregory.Rosetta mendengus, dagunya terangkat penuh percaya diri. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu membawa barang palsu ke hadapan semua orang.”Max terkekeh pelan. Suara tawanya pendek, namun sarat ejekan.“Kau memang licik,” ucapnya, lalu menatap Rosetta lurus-lurus, “tapi rupanya licik tidak selalu sejalan dengan cerdas.”Suasana aula langsung menegang. Beberapa orang saling berpandangan, bingung dengan perubahan arah percakapan ini.“Bermain dengan orang sepertimu,” lanjut Max dengan senyum miring, “tentu aku harus lebih licik lagi. Kau benar-benar berpikir aku akan menyimpan barang sepenting itu di rumah,
Langkah Max menggema begitu ia memasuki aula utama perusahaan Gregory. Suasana yang semula riuh mendadak menegang. Beberapa orang spontan menoleh, sebagian menahan napas, sebagian lain saling bertukar pandang. Di sisi lain ruangan, Rosetta berdiri dengan tenang, diapit beberapa pria berpakaian hitam—pengawalnya. Tak jauh darinya, beberapa pemegang saham senior terlihat berdiri di belakang Rosetta, jelas menunjukkan keberpihakan mereka.“Kau cepat sekali datang, Max,” sapa Rosetta, nada suaranya ringan, nyaris mengejek.Max melangkah maju tanpa tergesa. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh, amarah dan kecemasan berkelindan, namun ia memaksa semuanya tetap tersembunyi.“Aku sudah tahu permainan licik yang kau mainkan,” ucapnya dingin. “Sekarang katakan di mana Athena.”Rosetta tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon. “Wah, di saat seperti ini kau malah lebih mementingkan wanita itu.” Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Hebat juga pengaruhny
Athena duduk di sisi ranjang Hans, jemarinya menggenggam tangan ayahnya yang terasa lebih hangat dibanding terakhir kali ia sentuh di rumah sakit. Mereka kini berada di sebuah vila tersembunyi milik Rosetta, jauh dari kota, dikelilingi pepohonan tinggi dan penjagaan ketat. Tempat itu sunyi, terlalu sunyi, seolah dunia luar tak pernah ada.Hans masih tertidur karena efek obat penenang, napasnya teratur meski wajahnya tampak jauh lebih pucat. Athena menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan ayahnya.“Pa… akhirnya kita lepas,” bisiknya lirih, suaranya bergetar. “Kali ini Max tidak akan bisa menemukan kita.”Janji Rosetta ternyata bukan omong kosong. Hans benar-benar dibawa pergi, dijauhkan dari jangkauan Max. Dan kesadaran itu membuat dada Athena terasa sesak antara lega, bersalah, dan hancur bersamaan.Ketukan pelan terdengar di pintu.Athena menoleh. Pintu terbuka perlahan dan Athala masuk dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa.“Nyonya Rosetta menunggumu,” u
Max tiba di perusahaan Harrington dengan langkah tergesa, rahangnya mengeras sejak kaki pertama menginjak lantai lobi. Nalurinya berteriak ada sesuatu yang salah. Ia bahkan tak sempat menyapa siapa pun, langsung menuju lantai atas, ruang kerja Athena.Namun begitu pintu terbuka, ruangan itu kosong. Tidak ada Athena. Tidak ada suara ketikan. Tidak ada aroma kopi yang biasa menemani perempuan itu bekerja.Max berhenti tepat di ambang pintu.“Di mana Athena?” tanyanya dingin, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.Norah yang berdiri tak jauh darinya tampak terkejut. “Nyonya tidak ada, Tuan.”“Apa maksudmu tidak ada?” Max berbalik tajam. “Sejak kapan?”Norah menelan ludah. “Tadi siang Nyonya masih di sini. Beliau meminta saya keluar sebentar untuk membelikan minuman. Tapi saat saya kembali, kantor ini sudah kosong.”Dada Max terasa mengencang. “Kau tidak melihat dia pergi?”Norah menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Saya juga heran. Biasanya Nyonya akan memberi tahu jika hendak kelua
Ia memejamkan mata, namun bayangan itu tak mau pergi. Wajah Max yang tersenyum samar di tengah tragedi. Keheningan yang disengaja. Penantian sampai nyawa benar-benar hilang.Ia berharap, sungguh berharap bahwa kecelakaan itu hanyalah kecelakaan yang diperintahkan oleh orang lain, permainan kotor bisnis, atau tangan pihak lain. Ia masih bisa menerima itu. Masih bisa berdamai.Tapi ini. Ini adalah Max.Pria yang ia peluk semalam. Pria yang berjanji memulai segalanya dari awal. Pria yang berkata membenci pengkhianat.Athena tertawa kecil di sela isaknya, tawa pahit yang terdengar rapuh. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Bukan hanya karena kehilangan tapi karena pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.Hatinya remuk. Kepercayaannya hancur. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Athena menyadari satu hal yang membuat tubuhnya menggigil ketakutan bahwa pria yang ia cintai adalah monster yang sesungguhnya.Athena menghapus sisa air matanya denga
“Kau di didik untuk menjadi penerus keluarga Gregory, harus kuat dan tangguh. Jangan lemah hanya karena satu wanita saja.”Max hanya menaikkan sudut bibirnya saja, “Nenek meremehkanku ternyata!”“Tentu saja, karena Nenek melihat kau terlalu memanjakan musuhmu,” sahut nenek Daisy lantang.“Nenek
“Aku tidak peduli, kita bicara setelah aku bertemu Athena.”Tanpa berkata apa pun lagi, Max meninggalkan nenek Daisy yang geram atas sikap kurang ajar cucunya itu. Pria itu bergegas menuju ruang bawah tanah, penjaga langsung membuka pintu begitu perintah Max keluar.Max masuk, dan berseru, “Athen
“Kau hanya jalang peliharaan Max, jangan bermimpi merebut Max dariku. Kalau bukan karena kau mengandung, Max pasti sudah melemparmu ke anjingnya,” seru Celine meluapkan emosinya.“Kau kira aku tidak bisa membuat pria tua itu mati, ha? Kau meremehkanku! Aku jauh lebih kejam dibandingkan siapa pun d
Max tampak berpikir atas permintaan Athena, wanita itu jarang meminta sesuatu padanya. Tapi, ia teringat kalau weekend nanti akan pergi bersama Celine.“Jika kau tidak bisa, tidak masalah,” kata Athena yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Max, apalagi melihat raut wajah pria itu yang sedang b







