LOGINWanita tua yang konon telah sangat berkorban untuk melahirkan dan memperjuangkan kehidupan putranya agar hidup dengan baik itu masih menangis sesenggukan.Dengan sabar Mahdi dan Ranto menunggu sampai tangis Nyonya Lin mereda.Baru kemudian mulai menginterigasi wanita tua itu.Semula beliau tak pernah mengakui apa yang dilakukan di masa mudanya, tetapi bukti-bukti di tangan dua lelaki muda di depannya telah menjelaskan dengan sangat terang.“Wa tak pelnah punya niat jahat kalau saja….” katanya di antara suara tangisnya.Mahdi sendiri sungguh tak tega sebenarnya melihat wanita tua sesenggukan di hadapannya. Entah mengapa hatinya ikut sakit mendengar penuturan sera
“Saya hanya khawatir kita malah akan dihipnotis dan kembali menjadi senjata ketika dendam nyonya belum selesai.”Ranto menatap sekilas bosnya yang terbengong memperhatikan jalanan di depan sana dengan pandangan kosong.“Saya yakin Nyonya juga mengenal Anda dengan baik. Tak mungkin melepaskan informasi tentang putranya. Kemungkinan beliau sedang mencari senjata lain ketika Rosi telah menjalankan separuh misinya.”“Kau kira ibuku akan terus berbuat jahat sampai tua?”“Bukan begitu maksudnya, Tuan Muda, tapi ….”“Sudahlah. Sebenarnya puluhan tahun adalah waktu yang sangat lama. Ibuku sepertinya tak setangguh itu apalagi sekarang sudah umur berapa?
“Benar, Tuan Muda. Memang beliau ibu Anda.Dari penelusuran yang saya lakukan, Ibu Alin Subagja memang sempat pergi ke pelosok dan hidup tenang menjadi tani di kampung halaman neneknya.”“Jadi kami berasal dari suatu daerah? Bukankah ibu tinggal di yayasan yatim piatu saat itu?”“ Benar tapi sebuah berkas lama yang terlupakan ditemukan dan membuat beliau tahu asal-usul daerahnya.”“Berkas lama?”“Benar.Berkas yang menerangkan kalau Bu Alin sebenarnya bukan yatim piatu yang ditelantarkan tetapi hanya dititipkan.Warga yang menolong saat kedua orang tuanya kecelakaa
Pertanyaan Philip sudah mulai sensitif.Setelah melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan, Karlina segera berjalan menuju sebuah bangku taman resto itu. Sepertinya pihak pengelola sangat paham bahwa ada banyak pengunjung yang tak ingin segera pergi karena suatu hal atau sekedar menghabiskan waktu setelah makan.“Ko, kita harus bicara serius tentang ini sebelum kesalah pahaman ini menjadi bom yang bisa mengacaukan semuanya,” kata Karlina dengan nada lembut saat mereka telah duduk berdampingan dengan jarak aman.“Kita memang tidak dekat untuk saling memiliki rasa romantis, tapi bukan berarti karena saya punya perasaan itu dengan yang lain.Misalnya mas Ranto.
Sepasang sejoli makan dengan diam tetapi mata mereka sesekali bertabrakan dan saling menghindar kemudian.Karlina dan Philip saat ini sedang dalam mode dingin. Pasalnya gadis yang dipuja terang-terangan mengatakan tak ada hubungan lebih. Itu menyakitkan hati Philip yang terlanjur berharap.“Jadi apa maksudnya kita tak memiliki ‘hubungan seperti itu’ di kata-katamu tadi?”“Memangnya kita punya hubungan seperti apa?” tanya Karlina dengan wajah bingung.Philip sangat gemas melihat ekspresi gadis yang sungguh disukainya itu. Harapan yang terlanjur besar serasa terhempas dan tercabut sebelum berkembang sempurna. Philip mengira perasaannya terbalaskan karena Karlina tak pernah menolak perhatian yang dia curahkan. Hanya saja pernyataan tadi sungguh diluar dugaan. Apa lagi terjadi di depan Ranto yang notabene adalah saingan dalam memperebutkan cintanya.“Aku kira kau bisa menerimaku dengan kedekatan kita selama ini,” kata Philip dengan bahu yang jatuh.“Apa saya membuat Ko Philip salah paham
“Sudah, sudah.Kenapa kalian malah berantem?”“Siapa yang berantem!?” kata Ranto dan Philip serentak.Suasana menjadi tak enak bagi Karlina tapi justru itu adalah hiburan bagi Mahdi.“Hem kisah kalian sungguh rumit. Ayo fokus. Kita tak akan selesai meski seharian di sini kalau kalian malah keluar tema terus.”Semua orang kembali fokus menatap orang yang lebih tua di antara mereka. Karlina, Ranto dan Philip memang tampak seusia hanya berbeda satu dua tahun dan Mahdi mungkin di atas mereka sekitar lima tahunan. Secara fisik tak tampak benar perbedaan itu hanya secara tindakan dan ucapan seorang Mahdi yang cakap dan tegas sebagai pemimpin membuatnya terlihat lebih matang.“Jadi apa yang kau miliki tentang Rosi dan keluarganya?” Tatapan Mahdi mengarah pada putra Tuan Hong.“Dia hidup berdua saja dengan ibunya. Data dari orang yang wa suruh selidiki, hidupnya dapat dikatakan keras sejak kecil.”“Jadi tak ada sosok ayah?”“Tidak ada. Nyonya Lin sendiri hanya pekerja serabutan. Anaknya nyari







