LOGINada. Layar laptop Arif kini kembali menampilkan folder kosong.
Rasa dingin yang menjalari tulang Aisyah menguat menjadi kepastian. Itu bukan glitch sistem. Seseorang telah memantau dan menghapus pesan itu, persis saat ia membacanya. Harris. Pengkhianatan itu nyata, dan mereka tahu Aisyah telah melihatnya. Aisyah menutup laptop, jantungnya berdebar kencang. Jika Harris, pengacara terpercaya Arif, adalah kaki tangan Adrian, maka seluruh Firma Hukum Atmadja adalah musuh. Ia tidak bisa lagi mengandalkan sistem internal. Ia membutuhkan sekutu dari luar, seseorang yang tidak terikat oleh nama Atmadja. Ia menghabiskan sisa malam itu di ruang kerja, bukan mencari aset yang dibekukan, melainkan mencari nama. Ia menyaring pengacara litigasi di Jakarta yang memiliki reputasi keras, independen, dan yang paling penting, di luar lingkaran pengaruh Atmadja Group. Pagi menjelang, dan ia menemukan satu nama yang terus muncul: Laras. Laras (32), seorang pengacara litigasi yang dikenal karena keberaniannya mengambil kasus-kasus yang dianggap mustahil, terutama yang melawan konglomerat besar. Dia tidak bekerja di gedung pencakar langit kaca, melainkan di kantor kecil di kawasan bisnis lama, menjauhi hingar bingar elit. Aisyah segera menelepon. * “Saya sudah dengar tentang Anda, Nyonya Aisyah,” kata Laras, meletakkan berkas yang tebal di atas meja kayu solidnya. Kantor Laras terasa hangat, berantakan dengan tumpukan buku, jauh dari kemewahan steril Atmadja Tower. Laras mengenakan setelan celana abu-abu yang praktis. Matanya tajam, memancarkan kecerdasan yang tidak sabar. “Saya mengapresiasi Anda bersedia bertemu secepat ini, Ibu Laras,” kata Aisyah, duduk tegak di kursi kulit tua. “Setelah bertemu Harris, saya tahu saya butuh seseorang yang benar-benar independen.” Laras tersenyum tipis. “Independen adalah istilah yang bagus, Nyonya. Saya lebih suka menyebut diri saya keras kepala. Saya tidak suka diintimidasi, dan saya benci ketidakadilan.” “Kalau begitu, Anda sudah tahu intinya?” tanya Aisyah. “Tentu saja,” jawab Laras, menyilangkan tangan. “Adrian Atmadja menuntut pembatalan wasiat. Aset dibekukan. Harris—pengacara internal Anda—tiba-tiba menjadi pasif. Dan rumor beredar bahwa Anda adalah pemburu emas yang memanipulasi mendiang suami Anda di ranjang kematiannya.” “Semua itu adalah fitnah,” kata Aisyah tajam. “Saya percaya Anda,” balas Laras cepat, “tapi yang saya hadapi bukan hanya Adrian. Atmadja adalah dinasti. Kekuatan mereka bukan hanya di pengadilan, tetapi di media, di bank, dan di kursi-kursi parlemen.” Laras mengambil jeda. “Bahkan sebelum Anda sampai di sini, saya sudah menerima beberapa panggilan telepon yang sangat ‘persuasif’.” Aisyah mencondongkan tubuh. “Persuasif bagaimana?” “Seorang pengacara senior dari Firma Hukum Atmadja menelepon. Dia tidak mengancam, tetapi ia mengingatkan saya bahwa beberapa klien besar saya memiliki kontrak yang sangat sensitif dengan Atmadja Group.” Aisyah merasakan sakit hati. “Adrian mencoba menjatuhkan Anda bahkan sebelum Anda menerima kasus saya.” “Tentu saja,” Laras mengangguk, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. “Itu adalah taktik mereka. Mereka mencoba menciptakan isolasi total di sekitar Anda, membuat Anda tidak punya pilihan selain tunduk pada negosiasi Harris.” “Dan apa respons Anda, Ibu Laras?” Laras menyandarkan punggungnya. “Saya memberitahu mereka bahwa saya tidak menerima kasus berdasarkan siapa yang paling kuat, tetapi berdasarkan siapa yang benar. Dan sejujurnya, Nyonya Aisyah, saya sangat benci ketika orang mencoba mendikte pekerjaan saya.” Aisyah merasakan gelombang rasa hormat yang mendalam. “Anda mengambil risiko besar untuk saya.” “Risiko adalah bagian dari litigasi,” potong Laras. “Tapi kita harus jelas. Jika saya mengambil kasus ini, Anda harus jujur. Apakah ada celah, sekecil apa pun, dalam surat wasiat itu? Adakah yang bisa Adrian gunakan untuk mengklaim bahwa Arif tidak waras?” Aisyah menggeleng. “Tidak. Notaris Wijaya bersaksi bahwa Arif jernih. Tapi saya yakin Adrian akan memalsukan dokumen, atau mungkin menyuap saksi.” “Kami akan menghadapinya,” kata Laras. “Strategi pertama kita adalah menyerang balik. Kita tidak bisa hanya bertahan. Adrian ingin mengklaim klausa hukum. Kita akan mengklaim moralitas.” “Bagaimana?” “Kita akan mengajukan mosi darurat untuk menantang pembekuan aset,” jelas Laras, berbicara dengan cepat, seolah sudah merencanakan semuanya. “Kita akan menggunakan tuntutan Adrian tentang ketidakmampuan mental Arif untuk keuntungan kita. Kita akan meminta pengadilan meninjau semua keputusan bisnis Arif dalam enam bulan terakhir. Jika Arif tidak waras, maka semua kontrak yang dia tandatangani juga harus dipertanyakan.” Aisyah terkesiap. “Itu akan menghancurkan stabilitas Atmadja Group.” “Tepat,” Laras tersenyum kejam. “Adrian ingin perusahaan? Biarkan dia mendapatkan perusahaan yang terancam gugatan massal. Itu akan memaksanya mundur. Dia tidak ingin kekacauan. Dia ingin kontrol bersih.” Aisyah menyadari bahwa bekerja dengan Laras adalah pelajaran baru dalam kekuasaan. Ini bukan lagi tentang kesopanan atau etiket keluarga, ini adalah tentang perang kotor. “Saya setuju,” kata Aisyah. “Apa pun yang diperlukan untuk memenangkan kembali apa yang menjadi hak Arif.” “Bagus,” Laras mengambil pena dan membuka berkas. “Saya akan mulai bekerja. Kami akan segera mengajukan tuntutan balik. Tapi saya perlu semua berkas yang Anda miliki. Email, catatan, apa pun yang Arif tinggalkan.” Aisyah menceritakan tentang email yang menghilang dan pengkhianatan Harris. Laras mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah serius. “Penghapusan email itu adalah bukti yang kuat. Itu menunjukkan bahwa Harris atau Adrian punya akses ke perangkat Arif dan memantau Anda. Itu bukan hanya pertarungan wasiat, Aisyah. Ini adalah intrik.” “Saya tahu,” Aisyah mengakui. “Saya merasa ada yang disembunyikan Arif dari saya. Bukan hanya wasiat, tapi alasan mengapa dia tiba-tiba mengalihkan segalanya kepada saya, bukan kepada Adrian.” Laras mengangguk, matanya menatap tajam Aisyah. “Adrian mengklaim Anda ingin uang. Anda mengklaim Anda ingin kebenaran dan menghormati wasiat suami Anda. Tapi saya harus bertanya, Nyonya Aisyah. Mengapa Arif melakukan ini?” “Saya... saya tidak tahu,” Aisyah berbisik, merasa rentan. “Saya hanya tahu dia mencintai saya, dan dia ingin saya aman.” Laras menghela napas. Dia mendorong berkas tebal yang berisi tuntutan Adrian ke arah Aisyah. “Saya akan menerima kasus Anda, Nyonya Aisyah. Saya akan memenangkan hak Anda sebagai pewaris, dan saya akan melindungi Anda dari Adrian. Tapi Anda harus siap menghadapi kenyataan yang jauh lebih gelap.” Aisyah mengambil berkas itu. Beratnya terasa di tangannya. “Maksud Anda apa, Ibu Laras?” Laras mencondongkan tubuh, suaranya turun menjadi bisikan konspiratif, meskipun mereka hanya berdua di ruangan itu. “Kasus ini bukan hanya tentang wasiat, Aisyah,” Laras memperingatkan, matanya menembus Aisyah, “Ini tentang rahasia apa yang mereka sembunyikan. Saya telah melihat gugatan wasiat ini berkali-kali. Gugatan ini terasa seperti tirai asap. Adrian tidak hanya berjuang untuk kekuasaan; dia berjuang untuk melindungi aib keluarga Atmadja. Dan saya yakin, aib itu jauh lebih dalam dari sekadar... ...perebutan kekayaan. Kita harus mencari tahu apa yang Arif Atmadja coba tebus sebelum dia...."Rasa jijik yang mendalam menyelimutinya, lebih kuat daripada rasa hampa. Ia mematikan layar laptopnya. Pencarian ini menyakitkan, menguras tenaga, dan menjijikkan. Ia memutuskan untuk mengambil cuti satu hari penuh, fokus pada sesuatu yang lebih nyata dan tidak berpura-pura.Ia harus mengunjungi satu orang yang paling tidak terduga, satu-satunya orang yang ia rasakan pernah meliriknya tanpa ketamakan—meski hanya sekilas pandang di lantai bawah.Aisyah berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar dari kantor eksekutif, menekan tombol lift. Ia tidak menuju rumahnya. Ia menuju sebuah kafe kecil di dekat kawasan perumahan kelas menengah yang terletak beberapa kilometer dari menara Admaja. Kafe itu adalah tempat di mana ia dan mendiang suaminya, Arif, sering menghabiskan waktu sebelum semuanya menjadi terlalu rumit dengan urusan dinasti.Ia perlu meminta maaf pada Arif, secara mental, karena telah mengotori ingatan mereka dengan mencari cinta melalui lensa kekuasaan.Setengah jam
Tiga minggu berlalu sejak malam di mana Aisyah memutuskan untuk mengaktifkan kembali perburuan emosionalnya—dan secara rahasia, memantau setiap pergerakan Narendra. Keputusan untuk "membuka diri" di depan publik perusahaan terasa seperti melemparkan sepotong daging segar ke dalam kolam hiu yang selama ini ia hindari.Malam itu adalah Gala Tahunan Admaja, sebuah pertunjukan kemewahan yang biasanya ia nikmati dengan kewaspadaan seorang jenderal di medan perang. Aisyah berdiri di tengah keramaian, gaun malamnya memancarkan kilau gelap yang mengintimidasi, namun sorot matanya menampik. Pengumuman keterbukaannya telah tersebar seperti api liar."Aisyah, kau terlihat memesona. Dan kabar baiknya... aku lega kau akhirnya mau membuka diri," sebuah suara hangat namun berlebihan menyapa.Itu adalah Pria Pemanfaat A, sebut saja Adrian. Adrian adalah pengusaha properti yang wajahnya terlalu dipoles dan senyumnya terlalu lebar. Ia mendekat, tangannya bergerak halus untuk menyentuh lengan Aisyah—seb
Ia melihat waktu pada log sistem. Pukul 21.45. Sudah lewat waktu makan malam yang ia rencanakan. Ia seharusnya mengirim pesan untuk membatalkan acara sosialnya, namun mata Aisyah terpaku pada nama itu. *Narendra.* Nama yang terasa asing dan begitu dekat.Tiba-tiba, sebuah dorongan yang tidak logis melandanya. Ia membatalkan pesan yang hendak ia kirim ke asistennya. Tidak, ia tidak akan mencari kekacauan sosial sekarang. Ia akan mencari ketenangan.Ia bangkit, merasakan otot-ototnya yang tegang akibat berjam-jam duduk kaku. Ia berjalan menuju pintu ruangannya, mengabaikan rasa lelah yang memukulnya. Alih-alih menuju lift pribadi menuju apartemen mewahnya, langkah kakinya berbelok ke arah sayap timur gedung, tempat unit data dan analisis berada.Ia harus tahu. Mengapa seorang karyawan biasa masih bekerja selarut ini di hari pengukuhannya? Mungkin ia sedang berusaha mencuri data? Pikiran paranoid lima tahun terakhir masih bersemayam kuat. Atau mungkin... hanya mungkin... ia bekerja keras
Ruangan rapat di lantai puncak terasa dingin, seolah suhu di sana diatur untuk meniru kebekuan di hati Aisyah. Lima tahun. Lima tahun ia berperang dalam labirin hukum dan intrik keluarga untuk membersihkan nama dinasti Admaja, dan hari ini, perang itu usai. Cahaya pagi yang tajam menyaring melalui kaca setinggi langit-langit, memantul dari permukaan meja mahoni gelap yang kini dihiasi tumpukan kertas legal yang rapi.Aisyah, dengan blazer gelapnya yang terstruktur sempurna, memandang para direktur yang mengelilinginya. Wajah mereka memancarkan campuran kekaguman dan sedikit ketakutan—kekaguman atas kemenangannya, ketakutan atas kekuatan yang kini ia genggam tanpa cela."Kita telah memverifikasi ulang semua aset, Pak Harsono," suara Aisyah terdengar datar, dipoles oleh bertahun-tahun negosiasi yang melelahkan. "Tidak ada lagi bayang-bayang utang tersembunyi, tidak ada lagi investasi yang tidak jelas. Admaja resmi—*bersih*."Ia mengambil pena emas berat dari tempatnya. Ini adalah dokume
“Tidak bisa, Aisyah,” bisik Laras, wajahnya dipenuhi rasa horor yang sesungguhnya. “Dia sudah mulai membeli saham perusahaan Anda melalui aset tersembunyi Ayah Atmadja. Saham mayoritas Atmadja Group... sekarang milik Amelia!”Aisyah membeku, telinganya mendesis mendengar lonceng kematian dari sisi yang tak terduga: Putri Rahasia itu bukan pemburu warisan biasa, melainkan operator pasar gelap. Semua pertarungan hukumnya—memenangkan wasiat Arif, memenjarakan Adrian, menyaksikan kejatuhan Rosa—semuanya hanya memberikannya sebuah kapal karam yang kini diambil alih oleh sang algojo.“Saya menuntut penundaan keputusan aset Cikandi dan Dermaga Selatan,” seru Tuan Hadi, suaranya memantul penuh kemenangan dari meja, “Tidak boleh ada aset dijual sampai kita mengatasi tuntutan 'Crystala' ini, Nyonya Aisyah! Karena jika Anda kalah, semua aset yang Anda bersihkan justru akan jatuh ke tangan musuh Anda!”Kaki Tuan Hadi sudah hampir mencakup keanginan. Namun, pandangan Aisyah kini tidak tertuju pada
“Atmadja hanyalah takhta kotor yang seharusnya tak pernah ada. Selamat datang, BOS yang baru.”Aisyah membiarkan ponsel Baskara terjatuh di meja kaca ruang rapat darurat. Bunyi benturan pelan itu adalah satu-satunya suara di tengah hiruk pikuk berita TV yang masih menggelegar tentang eksekusi mati Baskara. Lima puluh triliun uang tunai, sisa dari perburuan seumur hidup Arif Atmadja untuk membersihkan nama ayahnya, telah berubah menjadi abu panas di puncak menara itu.“Lima puluh triliun,” bisik Laras, kini telah mendapatkan kembali kendalinya. “Hilang. Amelia Santika—atau siapapun putri rahasia itu—bukan hanya pencuri atau pewaris biasa, Aisyah. Dia adalah eliminator. Dia memberitahu dunia: Uangmu kotor, dan aku akan membakarnya. Kita tidak punya uang tunai, dan ICC sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk dia sebagai pembunuh.”Aisyah berdiri tegak, merapikan jasnya. Kelelahan terpancar jelas, tetapi ada kilatan yang sama tajamnya di matanya. Pertempuran fisik dan hukum me







