LOGIN
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan.
Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu setelah kita berpisah nanti," ucapnya datar. Wajah Aura seketika pucat pasi. Dunianya seolah runtuh mendengar kalimat singkat itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya agar tetap terlihat tegar di hadapan suaminya. "Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, Gavin," ucap Aura dengan suara yang nyaris tak terdengar, serak karena menahan tangis. "Tidakkah kau bisa menunda pembicaraan ini sebentar saja? Aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu. Bisakah kita menghabiskannya untuk yang terakhir kali?" Aura berdiri di sana dengan aroma bumbu dapur dan asap masakan yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya hanya diikat sederhana, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah lelahnya. Hari ini seharusnya menjadi momen spesial bagi mereka. Aura sudah menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menyiapkan jamuan makan malam romantis dengan harapan bisa mencairkan hati Gavin yang sedingin es. Namun, alih-alih mendapatkan ucapan selamat atau pelukan hangat, ia justru disuguhi dengan berita perceraian. Gavin mencibir, matanya menatap Aura dengan tatapan asing dan jauh. "Bahkan jika kita makan malam seribu kali pun, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku tidak pernah mencintaimu, Aura. Terlebih lagi, Melany sudah kembali. Dia adalah wanita yang terhormat dan berkelas, dia tidak akan sudi melihatmu masih menginjakkan kaki di rumah ini." Raut wajah Gavin melembut saat menyebut nama Melany, ekspresi penuh kasih terbit di sorot matanya, ekspresi yang tidak pernah sekali pun dia berikan pada Aura selama tiga tahun pernikahan mereka. Aura sudah mengorbankan segalanya. Dia rela melepaskan impiannya demi bisa merawat orang tua Gavin, dan menjadi istri yang selalu mengalah. Namun, semua pengabdian itu tidak pernah dianggap berarti. Bagi Gavin, Aura hanyalah "pajangan" yang tidak diinginkan. Melany adalah masa lalu sekaligus masa depan bagi Gavin. Wanita itu pergi ke luar negeri tiga tahun lalu dan memutuskan pernikahan mereka secara sepihak. Tapi sekarang, hanya dengan satu kepulangan, Gavin dengan senang hati membuang Aura seperti sampah yang tidak berharga. Aura mencengkeram pinggiran meja makan sehingga buku-buku jarinya memutih. "Apakah kakekmu sudah tahu soal keputusan ini?" tanyanya getir. Gavin tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan. "Jangan pernah berpikir untuk berlindung di balik nama Kakekku lagi. Beliau sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit, dan tentu saja aku tidak akan membebaninya dengan drama rumah tangga ini. Orang tuaku sudah memberikan restu untuk perceraian ini. Dan asal kau tahu, malam ini Melany sedang makan malam bersama orang tuaku." Hati Aura terasa seperti diremas; rasa dingin yang mematikan merambat melalui nadinya. Di balik sosok istri sederhana yang selama ini ia lakoni, ada rahasia besar yang dia sembunyikan. Aura adalah seorang peracik parfum yang karya-karyanya dihargai miliaran rupiah. Tidak hanya itu, dia juga merupakan seorang peretas tingkat tinggi, perancang sistem keamanan militer yang disegani, dan juga seorang mafia yang di juluki sebagai iblis sekaligus malah. Tiga tahun lamanya Aura menyembunyikan identitasnya demi bisa menjadi istri yang baik di rumah Gavin. Tapi semua pengorbanannya tidak pernah di hargai? Baru-baru ini, Aura bahkan menggunakan koneksi rahasianya di Cobweb, jaringan intelijen paling eksklusif di dunia untuk mengamankan kontrak bisnis raksasa bagi perusahaan keluarga Gavin. Kesepakatan yang Aura dapatkan bisa membuat kekayaan keluarga Gavin berlipat ganda. Tapi apa? Semua pengorbanannya itu terasa seperti sebuah ironi yang memuakkan. "Jadi, sementara aku menunggumu di sini dengan meja yang penuh makanan, kalian semua justru merayakan kepulangan Melany?" tanya Aura, suaranya mulai bergetar karena amarah yang terselubung. "Tentu saja," jawab Gavin tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Melany sangat pengertian, dia selalu tahu cara menghidupkan suasana. Dia juga sangat rukun dengan ibuku. Dia adalah menantu impian yang seharusnya aku nikahi sejak dulu," tambah Gavin. "Pengertian? Menantu impian?" Aura bergumam dengan tawa getir. "Kalian membiarkanku menunggu dalam kegelapan seperti orang bodoh, sementara kalian semua sudah merencanakan ini di belakangku?" lirihnya. "Sudahlah, jangan berakting seolah-olah kau adalah korban yang paling menderita," bentak Gavin. Dia menatap Aura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. Aura memang cantik alami, kulitnya putih bersih dan matanya jernih seperti telaga. Namun bagi Gavin, Aura sangat membosankan. Terlalu penurut, terlalu baik, dan terlalu sederhana. Hidup dengan Aura membuatnya merasa tercekik dalam kebosanan yang tak berujung. "Terima atau tidak, kau harus angkat kaki dari rumahku malam ini juga," tegas Gavin. "Aku sudah memindahkan kepemilikan Villa yang ada di pinggiran kota atas namamu. Ambillah villa itu, anggap saja sebagai hadiah perpisahan dariku, hadiah yang sangat mewah untuk wanita dari latar belakang sepertimu." Gavin merasa dirinya sangat dermawan karena sudah memberikan sebuah villa sebagai hadiah perpisahan. Yang dia tahu Aura berasal dari desa terpencil dan tidak memiliki pendidikan tinggi. Tanpa bantuan kakeknya, Aura tidak akan pernah bisa masuk ke lingkungan kelas atas. Namun, Aura tidak tampak terkesan dengan hadiah pemberiannya. Wanita itu justru memberikan senyuman tipis yang terasa asing dan dingin bagi Gavin. "Jadi, kau mengusirku dari rumah ini di tengah malam, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita?" tanya Aura. "Kamar atas adalah tempat favorit Melany. Dia butuh kamar itu untuk beristirahat setelah perjalanan jauh. Kalau kau tetap di sini, itu hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman," sahut Gavin dingin. "Jangan egois, Aura. Kau harus tahu kapan waktunya untuk melepaskan. Sudah cukup waktumu untuk menikmati semua kemewahan ini," tambah Gavin. "Gugatan cerai sudah diproses. Beberapa hari lagi pengacara akan menghubungimu. Saranku, segera cari pengacara yang murah atau gunakan uang pemberianku untuk menyewa yang terbaik," ucapnya lagi. "Aku tidak butuh uangmu, dan aku tidak butuh pengacaramu," potong Aura dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi tegas dan penuh otoritas. Pikiran Aura melayang ke belasan tahun silam. Saat ia kehilangan penglihatannya dalam sebuah kecelakaan, seorang anak laki-laki menggendongnya menyusuri hutan selama tiga hari penuh tanpa menyerah untuk menyelamatkannya. Pria itu mengaku bernama Gavin. Karena itulah Aura bersedia melakukan apa saja untuk Gavin selama tiga tahun ini, sebagai balas budi atas nyawanya. Tapi sekarang, pahlawan dalam ingatannya itu sudah mati. Yang ada di hadapannya hanyalah seorang pria asing yang berhati kejam. "Aku akan pergi sekarang, sesuai keinginanmu," ucap Aura. Ia berdiri tegak, membuang celemek yang ia kenakan ke atas meja. Tatapannya kini setajam silet. "Tapi ingat satu hal, Gavin Theodore. Mulai detik ini, kita tidak saling berhutang apa pun. Jangan pernah menyesali keputusan yang kau buat." Gavin mendengus, merasa lega karena proses perceraian itu lebih mudah dari yang ia bayangkan. "Aku tidak akan pernah menyesal," jawabnya mantap. Tiba-tiba, Karin, pembantu rumah tangga yang selalu bersikap manis di depan Gavin namun kasar terhadap Aura, muncul dari lantai atas sambil menyeret sebuah koper berukuran besar. "Tuan, orang tua Anda berpesan agar Nyonya Aura segera pergi dari rumah ini. Jadi, aku sudah mengemasi semua barang-barangnya tanpa sisa... Eh, ya ampun!" Dengan gerakan yang sangat jelas dibuat-buat, Karin berpura-pura terpeleset sehingga koper milik Aura yang ada di genggamannya meluncur jatuh dari tangga, menghantam lantai dengan keras hingga terbuka. Pakaian lama dan barang-barang pribadi Aura berhamburan tepat di bawah kaki Gavin, seolah-olah itu adalah sampah yang sedang dibuang. Bersambung...Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter
Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,
Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku dengan membantu persiapannya." Karin mengenal Melany selama bertahun-tahun, jadi dia hafal dengan detail selera wanita itu hingga hal terkecil. Hal inilah yang membuatnya merasa masih memiliki nilai di mata Gavin. Gavin mengerutkan kening. Melany memang kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya, sementara persiapan pesta belum sepenuhnya matang. "Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untukmu," gumam Gavin sambil melirik jam tangan mewahnya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. "Kalau kau mengacaukan persiapan ini, tamat lah riwayatmu. Kau tidak hanya akan diusir dari keluarga Theodore, tapi hal berikutnya yang akan kau hadapi adalah panggilan dari pengadilan," teg
"Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di balik senyum manisnya yang memuakkan. Karin selalu memandang rendah Aura. Baginya, Aura tidak lebih dari sekadar gadis desa miskin yang tidak tahu malu karena sudah memanfaatkan kebaikan keluarga Theodore demi bisa mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi Gavin. Gavin mengerutkan kening, rasa frustrasinya semakin memuncak. "Kau ceroboh sekali!" bentaknya saat melihat pakaian Aura berserakan di lantai. Gavin memperhatikan isi koper itu. Hanya ada sedikit pakaian dan tidak ada perhiasan mewah. Aura memang tidak pernah menyentuh uang yang ia berikan selama tiga tahun terakhir. Istrinya itu sangat sederhana dan hemat; sebuah cerminan bahwa Aura tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai bagia
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan. Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu setelah kita berpisah nanti," ucapnya datar. Wajah Aura seketika pucat pasi. Dunianya seolah runtuh mendengar kalimat singkat itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya agar tetap terlihat tegar di hadapan suaminya. "Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, Gavin," ucap Aura dengan suara yang nyaris tak terdengar, serak karena menahan tangis. "Tidakkah kau bisa menunda pembicaraan ini sebentar saja? Aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu. Bisakah kita menghabiskannya untuk yang terakhir kali?" Aura berdiri di sana dengan aroma bumbu dapur dan asap ma







