LOGIN"Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!"
Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di balik senyum manisnya yang memuakkan. Karin selalu memandang rendah Aura. Baginya, Aura tidak lebih dari sekadar gadis desa miskin yang tidak tahu malu karena sudah memanfaatkan kebaikan keluarga Theodore demi bisa mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi Gavin. Gavin mengerutkan kening, rasa frustrasinya semakin memuncak. "Kau ceroboh sekali!" bentaknya saat melihat pakaian Aura berserakan di lantai. Gavin memperhatikan isi koper itu. Hanya ada sedikit pakaian dan tidak ada perhiasan mewah. Aura memang tidak pernah menyentuh uang yang ia berikan selama tiga tahun terakhir. Istrinya itu sangat sederhana dan hemat; sebuah cerminan bahwa Aura tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai bagian dari keluarga Theodore. Namun, bagi Gavin, cinta tidak bisa dipaksakan apalagi dipalsukan hanya karena rasa kasihan. "Masukkan saja baju-baju Aura ke dalam plastik kresek," ucap Gavin dengan nada acuh tak acuh sembari melirik koper yang sudah robek itu. "Besok aku akan menyuruh Karin membelikan koper baru sebagai gantinya," tambah Gavin. Aura menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. "Koper itu adalah koper yang dulu berhasil ku curi dari para penculik saat kita melarikan diri ke tempat yang aman, Gavin. Kalau bukan karena koper itu, kita mungkin sudah tenggelam di sungai," bisik Aura. Selama bertahun-tahun, Aura merawat koper tua itu dengan sepenuh hati, sama seperti ia merawat pernikahan mereka. Dan sekarang, persis seperti hubungan mereka, koper itu juga ikut hancur. Gavin tertawa dingin, seolah mendengar lelucon konyol. "Cerita heroik itu mungkin bisa membodohi Kakek, tapi jangan harap trik itu berhasil padaku." Ingatan masa kecil saat mereka diculik terlalu kabur di benak Gavin, dan dia selalu meragukan bahwa Aura-lah wanita yang bersamanya saat kejadian traumatis tersebut. "Cepat! Bereskan semua barang-barangnya, masukkan kedalam plastik kresek!" Gavin meninggikan suaranya saat memerintahkan agar Karin membereskan semua kekacauan itu. "Baik, Tuan." Karin dengan semangat empat lima mulai memunguti pakaian Aura, namun dengan sengaja ia menginjak beberapa helai baju tersebut hingga kotor. Dengan nada manis yang dibuat-buat, Karin mencibir, "Nyonya Aura, Tuan Gavin. Nyonya Besar Theodore selalu bilang bahwa manusia itu ibarat pakaian. Begitu seseorang sudah ternoda, tidak peduli seberapa bersih kita mencucinya, noda itu tidak akan pernah benar-benar hilang." Sebenarnya, Aura selalu bersikap baik kepada Karin walaupun dia tidak tidak perlu melakukannya. Biar bagaimanapun, Karin masih memiliki hubungan kerabat jauh dengan nenek Gavin. Beberapa tahun lalu, saat Karin melakukan kesalahan fatal yang hampir mengadu domba keluarga Theodore dengan keluarga konglomerat lain, Aura-lah yang turun tangan untuk membereskan semuanya. Saat itu, Aura menengahi kesepakatan dengan putra sulung keluarga konglomerat yang lumpuh, sehingga berhasil mengamankan lahan penting untuk bisnis keluarga Theodore . Kala itu, Karin sangat bersyukur, bahkan hampir bersujud memohon ampun. Namun sekarang, melihat posisi Aura yang berada diujung tanduk, Karin berlagak seolah dia tidak pernah berhutang budi. "Pakaian yang sudah terkena noda memang tidak akan pernah bisa di bersihkan seperti semula." Aura mengangkat bahu dengan ekspresi yang mematikan, tatapannya tertuju pada Gavin dan Karin secara bergantian. "Jadi, kurasa aku tidak membutuhkan semua pakaian itu lagi," tambahnya dengan nada tenang. Aura memang tidak pernah menyukai pakaian-pakaian jelek itu, dia bersedia memakainya karena ingin menjaga citra istri rumah tangga yang sederhana. Pakaian itu tidak pernah cocok dengan jiwanya yang berapi-api. "Tapi ingat," lanjut Aura, suaranya terdengar dingin dan asing bagi pendengaran Gavin. "Saat seseorang melakukan kesalahan dan berkhianat, mereka harus siap menghadapi konsekuensinya." Udara di dalam ruangan seketika berubah mencekam. Untuk pertama kalinya, Gavin menatap Aura dengan tatapan yang berbeda. Kelembutan yang biasanya ada di mata istrinya itu, kini digantikan oleh ketajaman yang mengancam. Bahkan Karin pun bisa merasakan perubahan atmosfer itu, namun ia segera memasang topeng polosnya. "Aku hanya di tugaskan untuk melayani keluarga Theodore, Nyonya Aura," ucap Karin dengan suara manis. "Dan karena Anda sudah bercerai..." PLAK! Karin tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Telapak tangan Aura sudah menghantam pipi kirinya dengan sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. Mata Karin membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Beraninya kau memukulku?!" teriak Karin histeris. "Aku memukulmu karena aku ingin melakukannya. Ada masalah?" jawab Aura dingin. "Kalau Nyonya Besar tahu soal ini, kau pasti..." PLAK! Satu tamparan lagi mendarat, kali ini jauh lebih keras hingga membuat Karin terhuyung ke belakang. Kedua pipinya memerah, bahkan sedikit membengkak. Pukulan kedua itu membuat Karin kehilangan keseimbangan, tubuhnya jatuh ke lantai, pergelangan kakinya terkilir dengan bunyi yang mengerikan. "Aakh! Sakit!" Karin berteriak kesakitan, raut wajahnya dipenuhi amarah dan rasa malu. "Tuan Gavin, lihat dia! Aura sudah bertindak terlalu jauh!" isaknya dengan air mata berlinang. Namun, sebelum Karin bisa mengadu lebih jauh, Aura kembali mendekat. Tangannya mencengkeram tenggorokan Karin dengan kuat sembari merobek kerah baju wanita itu. "Ini pembalasan untuk koper dan pakaianku yang kau injak," bisik Aura tepat di telinganya. Wajah Karin memerah hebat, deru napasnya megap-megap saat cengkeraman Aura semakin erat di lehernya. "Dan sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu." Aura menarik sebuah kalung dari leher Karin. Kalung dengan liontin zamrud sederhana yang dikelilingi berlian kecil. Nilai materinya mungkin tidak seberapa bagi Aura, tapi ukiran di bagian belakang liontin itu memperjelas identitas pemilik aslinya. Itu bukan milik Karin, melainkan miliknya. "Kau... kau melakukan penganiayaan!" rintih Karin dengan suara serak, terengah-engah menghirup udara segar. Dalam kepanikannya, Karin bahkan tidak menyadari kalau dirinya sudah mengompol di tempat karena ketakutan yang luar biasa. Cengkeraman Aura di lehernya seolah bisa mencabut nyawanya saat itu juga. Dan ya, Aura tidak hanya menyakitinya, tapi wanita itu bisa membunuhnya tanpa ragu kalau dia mau. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Aura memutuskan rantai kalung itu dan beranjak pergi begitu saja, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti apa-apa. Karin mencoba berdiri dengan tubuh gemetar, menoleh ke arah Gavin dengan tatapan memohon. "Tuan, ini semua salah paham, tolong aku..." "Keluar!" Kesabaran Gavin habis. Sepatu boot-nya menghantam sisi tubuh Karin, membuat wanita itu tersungkur lagi. Bau urine yang menyengat mulai memenuhi indra penciuman Gavin, membuat amarahnya kembali mendidih. "Keluarga Theodore tidak butuh pembantu bertangan panjang yang suka mencuri barang majikan!" ucapnya sinis. Sementara itu, Aura sudah berada di luar rumah Gavin. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang sudah lama tidak ia hubungi. Saat panggilan tersambung, suaranya berubah menjadi tenang, bahkan terasa ringan. "Rebecca, aku sudah resmi bercerai dengan Gavin dan aku sudah keluar dari penjara mewah itu. Rumah dan mobilku masih aman, kan? Apa aku boleh menginap di rumahmu malam ini?" Di ujung telepon, wanita bernama Rebecca sempat terdiam sebelum akhirnya berteriak kegirangan. "Demi apa pun! Akhirnya kau bercerai dengan pria brengsek itu! Lupakan tentang tempat tinggal, malam ini kita akan berpesta! Pesta lajang untuk merayakan kebebasanmu!" Bahkan tanpa melihatnya, Aura bisa membayangkan tawa Rebecca yang meledak-ledak di seberang sana. "Asal kau tahu saja, kalau orang-orang di Cobweb tahu pendiri mereka sudah kembali ke dunia nyata, aku yakin server pusat kita akan meledak saat ini juga!" tambah Rebecca. Bersambung...Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter
Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,
Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku dengan membantu persiapannya." Karin mengenal Melany selama bertahun-tahun, jadi dia hafal dengan detail selera wanita itu hingga hal terkecil. Hal inilah yang membuatnya merasa masih memiliki nilai di mata Gavin. Gavin mengerutkan kening. Melany memang kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya, sementara persiapan pesta belum sepenuhnya matang. "Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untukmu," gumam Gavin sambil melirik jam tangan mewahnya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. "Kalau kau mengacaukan persiapan ini, tamat lah riwayatmu. Kau tidak hanya akan diusir dari keluarga Theodore, tapi hal berikutnya yang akan kau hadapi adalah panggilan dari pengadilan," teg
"Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di balik senyum manisnya yang memuakkan. Karin selalu memandang rendah Aura. Baginya, Aura tidak lebih dari sekadar gadis desa miskin yang tidak tahu malu karena sudah memanfaatkan kebaikan keluarga Theodore demi bisa mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi Gavin. Gavin mengerutkan kening, rasa frustrasinya semakin memuncak. "Kau ceroboh sekali!" bentaknya saat melihat pakaian Aura berserakan di lantai. Gavin memperhatikan isi koper itu. Hanya ada sedikit pakaian dan tidak ada perhiasan mewah. Aura memang tidak pernah menyentuh uang yang ia berikan selama tiga tahun terakhir. Istrinya itu sangat sederhana dan hemat; sebuah cerminan bahwa Aura tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai bagia
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan. Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu setelah kita berpisah nanti," ucapnya datar. Wajah Aura seketika pucat pasi. Dunianya seolah runtuh mendengar kalimat singkat itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya agar tetap terlihat tegar di hadapan suaminya. "Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, Gavin," ucap Aura dengan suara yang nyaris tak terdengar, serak karena menahan tangis. "Tidakkah kau bisa menunda pembicaraan ini sebentar saja? Aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu. Bisakah kita menghabiskannya untuk yang terakhir kali?" Aura berdiri di sana dengan aroma bumbu dapur dan asap ma







