LOGINKemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal.
"Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara. "Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu. "Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu terlalu lama," goda Aura. "Baiklah," sahut Rebecca pada akhirnya. "Aku sudah menempatkan orang-orang untuk mengawasi pihak Charisma Corporation untukmu. Kalau mereka muncul, aku akan segera menghubungimu. Dan delapan pria tampan tadi masih ada, jangan ragu-ragu untuk memilih salah satu dari mereka setelah perjamuan selesai." "Aku tidak tertarik!" teriak Aura, membuat Rebecca yang sudah melangkah pergi hanya terkekeh pelan. Aura baru saja hendak keluar menuju area dek untuk mencari jejak sosok misterius di balik perusahaan Charisma Corporation, tapi tiba-tiba dua wajah yang sangat dikenalnya muncul menghadang langkahnya. "Nyonya Aura, halo. Aku Melany." Melany berdiri di sana dengan gaun putih yang tampak sederhana namun sangat elegan. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai, berkibar lembut diterpa angin laut. "Aku datang untuk meminta maaf. Kalau dulu aku dan Gavin tidak bertengkar hingga aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri, kau mungkin tidak akan terseret ke dalam semua kerumitan ini," ucap Melany dengan suara lembut. "Tapi, bagaimanapun juga, kami berdua masih saling mencintai," tambah Melany, tidak lupa dia menggandeng tangan Gavin dengan erat. Aura menggerakkan jarinya di dagu, menatap sepasang kekasih itu dengan tatapan datar. "Lalu?" Jawaban singkat itu seolah menampar Melany dan Gavin. Bahkan Gavin pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat ketidakpedulian Aura yang begitu dingin. Berniat memanas-manasi, Gavin menarik Melany lebih dekat ke arahnya dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. "Berhentilah memainkan drama murahan ini hanya untuk menarik perhatianku, Aura. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mendekati Rebecca atau mencari tahu keberadaanku di sini, tapi lelucon ini harus berakhir sekarang juga!" "Hahahaha!" Aura tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat itu, tawanya dipenuhi ejekan sarkas. "Permainan? Drama? Jangan lupa kalau aku sudah setuju untuk bertemu denganmu di pengadilan. Seburuk apa pun keadaanku, aku tidak akan pernah sudi merangkak kembali pada seseorang yang sudah membuangku!" Kata-kata itu sarat akan sindiran, sindiran yang meruntuhkan harga diri Gavin. Ingatan Gavin kembali tertuju pada kejadian tiga tahun lalu. Melany adalah wanita yang sudah mencampakkannya tepat di hari pernikahan mereka. Wanita yang di cintainya itu melarikan diri ke luar negeri dengan alasan dipaksa oleh orang tua. Dan, seolah melalui sebuah keajaiban, wanita itu muncul kembali tepat saat bisnis keluarga Mahendra sedang berada di puncak kesuksesan. Waktunya terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan, kan? Di sisi lain, ekspresi wajah Melany sempat goyah, namun ia segera menutupinya dengan raut wajah sedih dan mata berkaca-kaca. "Gavin, saat itu aku benar-benar terpaksa..." ucapnya lirih. Namun, fokus Gavin seolah tidak lagi di sana. Pikirannya melayang, tatapannya terus terkunci pada sosok Aura seperti ngengat yang mendekati nyala api. Mau tak mau Gavin harus mengakui, sosok Aura yang berdiri di depannya saat ini tampak sangat asing; seperti mawar berduri yang memikat namun berbahaya, dan hal itu membuatnya merasa... gelisah. "Jangan lupa datang ke pengadilan besok pagi," ucap Gavin ketus. Berusaha mencari secercah penyesalan di mata Aura, namun nihil. Cinta dan kerinduan yang dulu selalu terpancar untuknya telah berganti menjadi ketidakpedulian. "Tentu saja. Ingatlah untuk menepati janjimu sendiri, Tuan Gavin," jawab Aura sembari mengangguk mantap. "Ngomong-ngomong, Kakek akan keluar dari rumah sakit lusa. Beliau bersikeras ingin bertemu denganmu," tambah Gavin. Aura meraih segelas anggur yang berada di atas meja, ia menyesap minuman memabukkan itu dengan tenang. "Oh? Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanyanya datar. Makna di balik pertanyaan itu sudah sangat jelas: kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, ya silakan pergi. Gavin terdiam, rasa frustrasinya semakin terlihat jelas. Melany yang menyadari kejengkelan di raut wajah Gavin, memutuskan untuk berbicara dengan nada manis yang dibuat-buat. "Hanya itu saja yang ingin kami sampaikan. Aku mengerti, pasti sulit bagimu untuk melepaskan Gavin. Itulah sebabnya kau berusaha agar bisa datang ke sini. Tapi ingat, aku dan Gavin masih sangat mencintai satu sama lain, jadi aku harap kau bisa memberikan restu untuk kami. Dan... kami akan merasa sangat terhormat kalau kau bersedia hadir di pesta pernikahan kami nanti." Aura bisa melihat dengan jelas motif terselubung di balik kata-kata Melany. Tentu saja, wanita itu ingin terlihat murah hati dengan mengundang mantan istri suaminya ke pernikahan mereka. "Ada banyak ikan di laut, Nona Melany. Sepertinya kau sangat takut kehilangan yang satu ini," ucap Aura sembari tersenyum masam. "Tentang undanganmu agar aku datang ke pernikahan kalian, sebaiknya aku lewatkan saja. Aku tidak mau orang-orang bergosip bahwa mantan istri suamimu jauh lebih cantik dari pengantinnya. Itu akan sangat memalukan bagi Tuan Gavin." Aura memiringkan gelasnya setelah mengucapkan kalimat itu, membiarkan sisa minumannya tumpah ke lantai, menunjukkan simbol pembersihan. "Oh, dan semoga bahagia. Aku harap kalian langgeng selamanya," tambah Aura. Raut wajah Gavin memerah karena amarah yang tertahan. "Jangan pernah datang padaku lagi!" bentaknya sebelum berbalik pergi, diikuti oleh Melany dari belakang. Setelah kepergian kedua orang itu, Aura kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Namun, begitu ia menutup pintu ruangan yang gelap itu, sebuah pistol tiba-tiba menekan pinggangnya. "Jangan bergerak!" sebuah suara berat memerintahnya. Aura tidak bergeming sedikit pun, tapi tangan kanannya sudah dalam posisi siaga untuk melakukan perlawanan. Sudah sangat lama ia tidak merasakan ketegangan hidup atau mati seperti ini. Hari-hari yang tenang sebagai istri rumahan hampir membuatnya lupa bagaimana rasanya menjadi predator. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah ruangan itu, di susul dengan suara teriakan dari beberapa orang pria. "Cari dia! Kita sudah memberikan obat perangsang dengan dosis tinggi, jadi dia tidak akan bisa lari jauh. Cepat bergerak sebelum terlambat!" Mendengar kalimat itu, pikiran Aura bekerja dengan sangat cepat. Jadi, pria yang berdiri di belakangnya ini sedang dalam pengaruh obat perangsang tingkat tinggi? Saat suara langkah kaki di luar mulai memudar, pistol yang menempel di pinggang Aura mulai bergetar. Tangan pria itu tampak tidak stabil, cengkeramannya melemah dalam setiap detik yang berlalu. "Aku tidak terbiasa mencari masalah terhadap orang lain. Aku akan bertindak seolah-olah tidak pernah melihat apa yang terjadi malam ini," ucap Aura dengan nada tegas. "Dan kalau kau tidak mau lukamu bernanah, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit sekarang," tambahnya. Walaupun Aura tidak bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan, tapi indranya yang tajam bisa menangkap bau amis darah yang pekat, menandakan pria itu pasti terluka. “Teruslah bicara. Dan kau akan menyesal kemudian!” Kata-kata pria itu terdengar kasar, memiliki daya pikat magnetis yang berbahaya. Namun, di balik nada dingin itu, suaranya terdengar sedikit goyah, barangkali karena efek obat yang mulai merembes ke sistem sarafnya. Bibir Aura melengkung membentuk seringai tipis. “Oh, benarkah?” balasnya ringan, nyaris mengejek. Dari posisinya berdiri, pria itu hanya bisa melihat leher jenjang Aura yang tampak rapuh, seolah satu putaran sederhana saja sudah cukup untuk mematahkannya. Namun, wanita yang berdiri di hadapannya justru menunjukkan ketenangan yang tidak masuk akal, seakan dialah yang memegang kendali atas situasi. Wanita itu bahkan masih bisa tersenyum? Efek obat yang menggerogoti tubuhnya ternyata jauh lebih kuat daripada yang pria itu perkirakan. Penglihatannya mulai kabur dan kepalanya mendadak terasa berat. Tiba-tiba... KRAK! Dalam sekejap mata, Aura menghentakkan sikunya ke tulang rusuk pria itu. Tangan kanannya meluncur dengan cepat meraih pergelangan tangan lawan, merebut satu-satunya senjata yang ada. Hanya dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Sekarang, Aura lah yang memegang pistol, jarinya menari ringan di atas pelatuk. Ia mengarahkan moncong senjata itu tepat ke dada pria tersebut dengan kendali penuh. Kellan, pria yang baru saja mengancam Aura, terdiam dalam keterkejutan. Dia tidak menyangka, wanita itu bisa memutar balikkan keadaan dalam hitungan detik. "Lain kali, berpikirlah dua kali sebelum kau mengacungkan benda ini pada orang lain. Kau tidak pernah tahu kapan senjata ini meledak secara tidak sengaja," ucap Aura sembari memegang pistol dengan ketegasan profesional. Kellan harus mengakui, dia belum pernah bertemu dengan wanita seperti itu. Wanita yang terlihat berbahaya namun masih bisa menampilkan senyuman dengan ekspresi wajah tenang. Tentu saja, Kellan tidak akan menyerah begitu saja. Dia dengan cepat menepis tangan Aura sehingga pistol yang ada di genggaman tangan wanita itu terjatuh. Dengan sisa tenaganya, Kellan meraih bahu Aura dan menjepit tulang selangka wanita itu ke dinding. Aura merasakan sesak di dadanya. Tapi bukannya takut, dia justru merasakan sensasi yang berbeda, sensasi yang terasa lebih menggairahkan, sensasi yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun lamanya. Sudah berapa lama ia tidak bertarung dan membunuh? Aura bahkan tidak ingat. Yang ia tahu adalah setelah menjadi boneka di keluarga Theodore, sang "Ular Merah" masih melingkar kuat di dalam dirinya, siap menyerang kapan saja. Tanpa berpikir dua kali, Aura mengayunkan tinjunya ke arah pelipis Kellan, yang mana pria itu langsung terguncang karena keterkejutan. Kellan tahu betul, jurus pukulan dari wanita itu bukan hanya untuk menyakiti, tapi juga untuk melumpuhkan lawan secara total. Untungnya naluri Kellan masih cukup tajam sehingga ia sempat mengangkat tangan dan menepis pukulan itu. Tapi, sebelum Kellan bisa bernapas lega, Aura sudah bergerak lagi. Wanita itu menggunakan dinding sebagai tumpuan, melakukan gerakan memutar sebelum membanting tubuh Kellan dengan lemparan sempurna. Dan lagi-lagi, Kellan membalikkan keadaan. Ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan meraih tangan Aura dari sudut yang tidak terduga. Otak Aura merespons dengan cepat, tapi tubuhnya bergerak terlalu lambat. Kenyataan bahwa selama tiga tahun dirinya mengabdi sebagai istri rumahan, ternyata sudah menumpulkan ketangkasannya. Dalam jeda singkat yang terjadi itulah, Kellan berhasil memelintir kedua tangan Aura ke belakang, mengunci tubuh wanita itu ke dinding. DEG! Jantung Kellan berdetak lebih kencang saat posisi mereka terlampau dekat. Aroma parfum Aura yang tadinya menenangkan, sekarang justru memicu api liar di dalam dirinya. Sorot mata Kellan menggelap karena gairah dan pengaruh obat. Sebelum Aura sempat bereaksi untuk melepaskan diri, Kellan sudah lebih dulu mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir wanita itu dengan paksa! Bersambung...Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter
Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,
Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku dengan membantu persiapannya." Karin mengenal Melany selama bertahun-tahun, jadi dia hafal dengan detail selera wanita itu hingga hal terkecil. Hal inilah yang membuatnya merasa masih memiliki nilai di mata Gavin. Gavin mengerutkan kening. Melany memang kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya, sementara persiapan pesta belum sepenuhnya matang. "Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untukmu," gumam Gavin sambil melirik jam tangan mewahnya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. "Kalau kau mengacaukan persiapan ini, tamat lah riwayatmu. Kau tidak hanya akan diusir dari keluarga Theodore, tapi hal berikutnya yang akan kau hadapi adalah panggilan dari pengadilan," teg
"Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di balik senyum manisnya yang memuakkan. Karin selalu memandang rendah Aura. Baginya, Aura tidak lebih dari sekadar gadis desa miskin yang tidak tahu malu karena sudah memanfaatkan kebaikan keluarga Theodore demi bisa mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi Gavin. Gavin mengerutkan kening, rasa frustrasinya semakin memuncak. "Kau ceroboh sekali!" bentaknya saat melihat pakaian Aura berserakan di lantai. Gavin memperhatikan isi koper itu. Hanya ada sedikit pakaian dan tidak ada perhiasan mewah. Aura memang tidak pernah menyentuh uang yang ia berikan selama tiga tahun terakhir. Istrinya itu sangat sederhana dan hemat; sebuah cerminan bahwa Aura tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai bagia
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan. Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu setelah kita berpisah nanti," ucapnya datar. Wajah Aura seketika pucat pasi. Dunianya seolah runtuh mendengar kalimat singkat itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya agar tetap terlihat tegar di hadapan suaminya. "Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, Gavin," ucap Aura dengan suara yang nyaris tak terdengar, serak karena menahan tangis. "Tidakkah kau bisa menunda pembicaraan ini sebentar saja? Aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu. Bisakah kita menghabiskannya untuk yang terakhir kali?" Aura berdiri di sana dengan aroma bumbu dapur dan asap ma







