MasukSementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin.
"Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin, yang selalu sigap mencari muka, langsung menimpali. "Nona Melany, Anda mungkin tidak mengetahui hal ini, tapi setiap malam, Tuan Gavin tidak bisa tidur tanpa mencium aroma parfum yang Anda berikan padanya dulu." Suara "aww" langsung menggema di ruangan itu, membuat pipi Melany merona merah muda. Semua orang yang ada di sana tahu bahwa kesuksesan bisnis Gavin di industri wewangian sangat terkait dengan inspirasi dari Melany. Semua mata tertuju pada Gavin, menunggu pria itu memberikan pernyataan cinta. Namun, Gavin justru terdiam secara tidak biasa. Sejak ia memutuskan untuk menceraikan Aura, ada simpul kegelisahan aneh yang terus mencengkeram hatinya, meskipun ia sendiri tidak tahu mengapa. Tiba-tiba, Karin yang duduk tepat di dekat jendela melihat sosok yang dikenalnya dari kejauhan. "Tunggu... bukankah itu Aura?" serunya, suaranya yang melengking menyebarkan keterkejutan ke seluruh ruangan. Nama itu, menghantam dada Gavin seperti hembusan angin kencang. Dia langsung berdiri dan berjalan menuju pagar dek, melongok ke bawah. Di geladak bawah, tampak Aura mengenakan gaun merah ketat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Dengan sepatu hak tinggi dan segelas anggur di tangan, wanita itu terlihat sangat tenang, berwibawa, dan menawan. Gavin tertegun sejenak, pikirannya hanya bisa membisikkan satu kata: cantik. Namun, di depan Aura, berdiri sekelompok pria dengan gestur yang sangat tidak ramah. Pria terpendek di antara mereka, yang mengenakan rantai emas tebal dan memegang botol di tangannya, tampak memimpin intimidasi tersebut. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja? Kau akan tamat malam ini, dengar tidak?!" pria itu menggeram ke arah Aura. Beberapa teman Gavin ikut menyusul ke pagar dek untuk melihat apa yang terjadi. "Bung, harus kuakui, wanita itu sangat mirip dengan mantan istrinya Gavin, tapi auranya benar-benar berbeda." "Apa yang kau bicarakan? Itu memang dia!" "Wah, Gavin, mantan istrimu terlihat luar biasa! Siapa sangka di balik daster rumah tangganya ada sosok seperti itu?" "Tunggu, bukankah pria di bawah itu Danny Mason? Astagaa! Dia psikopat. Siapa pun yang berurusan dengannya akan berakhir tragis. Dia dikenal sebagai predator wanita," ucap salah satu dari teman Gavin dengan nada khawatir. "Lihat. Baru saja bercerai, dia sudah berpakaian seperti itu? Bagaimana mungkin dia bisa naik ke kapal pesiar mewah ini? Aku berani bertaruh dia menghabiskan semua tabungannya demi bisa masuk ke sini dan mencari mangsa konglomerat baru," sahut yang lain dengan nada sinis. "Ayolah teman-teman, jangan terlalu kasar. Aku tahu mungkin Aura tidak memiliki koneksi yang kuat, tapi dia mungkin sedang berusaha mencari pegangan hidup yang baru," ucap Melany, suaranya nyaris menyerupai bisikan lembut. Karin, yang langsung menangkap arah pembicaraan Melany, menimpali dengan pedas. "Tepat sekali. Aura pergi tanpa membawa apa-apa. Dan sekarang, dia tiba-tiba muncul di sini dengan pakaian semahal itu? Dia pasti sedang mencoba untuk—" "Cukup!" Gavin memotong ucapan Karin dengan tiba-tiba, suaranya dingin, sedingin es. "Kau tidak memenuhi syarat untuk ikut bicara di sini," tegasnya. Karin membeku, wajahnya mendadak pucat pasi. Ia langsung berlutut dengan tubuh bergetar. "Maafkan aku, Tuan Gavin. Aku tidak bermaksud melampaui batasku." Ruangan yang tadinya penuh tawa, seketika berubah menjadi sunyi senyap. Semua orang bertukar pandang dengan ekspresi bingung, mencoba menebak apa yang membuat suasana hati Gavin berubah drastis dalam sekejap. Bahkan Melany pun merasakan ada yang tidak beres. "Gavin, jangan marah," ucapnya lembut sembari menyentuh lengan Gavin. "Karin tidak bermaksud menjelek-jelekkan Aura. Dia sudah bekerja keras menyiapkan semua ini untukku. Mulai dari kamar, hadiah, dan semua kejutan yang ada. Biarkan dia tetap di sini, ya?" pinta Melany. Melany menundukkan kepalanya sedikit, menampakkan raut wajah penuh rasa bersalah sebelum melanjutkan ucapannya. "Tentang Aura, mungkin ini salahku. Kalau aku tidak kembali, dia tidak akan melakukan tindakan nekat seperti ini hanya untuk menarik perhatianmu." Hati Gavin terasa nyeri melihat Melany yang begitu khawatir. "Ini bukan salahmu," jawab Gavin tegas. "Apa pun permainan yang sedang Aura mainkan, aku tidak akan terjebak oleh taktiknya." Bagi Gavin, kemunculan Aura yang tiba-tiba di kapal pesiar itu tepat setelah mereka bercerai, lengkap dengan drama penganiayaan yang terjadi di depan matanya, hanyalah taktik yang Aura mainkan untuk menyiksanya atau membuatnya merasa bersalah. Tatapan Gavin mengeras saat ia kembali memandang ke bawah. "Mari kita lihat, bagaimana cara dia meloloskan diri dari kekacauan yang dia ciptakan sendiri," gumamnya dengan rahang mengeras. **** Aura tidak tahu bahwa di atas sana, beberapa orang sedang menanti kehancurannya dengan napas tertahan. Dengan gerakan cepat dan sangat terlatih, Aura kembali memelintir pergelangan tangan Danny Mason yang satunya, mematahkan tangan pria itu dengan kemudahan yang sama seperti yang pertama. "Sepertinya kau tidak memahami instruksi sederhana yang ku berikan," komentar Aura dengan nada sedingin es. Tanpa ragu sedikit pun, ia menghantamkan gelas yang ada di tangannya tepat ke kepala pria itu. PRANG! Pecahan kaca dan alkohol tumpah membasahi tubuh dan wajah Danny, bercampur dengan darah segar yang mengalir dari dahinya. Ekspresi Aura tetap datar, sekeras batu karang. "Bangun dan pergi dari hadapanku!" titah Aura. Danny berteriak kesakitan, tubuhnya tersungkur ke lantai, basah kuyup dan benar-benar terhina. Wajahnya berlumuran darah, air mata, dan ingus. Pergelangan tangannya yang hancur membuatnya semakin tidak berdaya. "Brengsek! Apa kau tahu siapa aku?!" Danny meludah dengan napas terengah-engah, sorot matanya dipenuhi oleh kebencian. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa diam saja?!" teriaknya pada anak buahnya. "Hajar dia sampai mati!" Sekelompok pria berotot itu mulai mendekati Aura, menyeringai layaknya serigala yang mengepung mangsa. "Kau benar-benar cari mati," ejek salah satu dari mereka. "Kau baru saja memancing amarah pewaris keluarga Mason. Mereka adalah orang terpandang, pemilik Cloudland Hotel. Bahkan jika kau mati di sini, mereka punya cukup uang untuk membuat namamu lenyap seperti asap!" Udara di sekitar mereka mulai berderak oleh ancaman kekerasan. Namun, sebelum ada yang sempat berkedip, Aura sudah lebih dulu merebut botol dari salah satu pria itu, menghantamkannya ke meja hingga pecah, dan dengan satu gerakan lancar, ia menekan ujung kaca yang bergerigi itu tepat ke tenggorokan Danny. "Jadi keluarga Mason punya uang untuk menutupi segalanya, ya? Katakan padaku, berapa nilai nyawamu sekarang?" Nada suaranya setenang air, namun senyum yang muncul di bibirnya tampak sedingin es. Danny, yang merasakan ujung botol itu menggores kulitnya, seketika tergagap ketakutan. "Kau pikir kau bisa... Tuhan, tidak! Tolong aku! Ampun, aku mohon, maafkan aku!" Garis tipis darah mulai mengalir di lehernya. Satu tekanan kecil lagi, maka riwayatnya akan tamat. Seketika, raut wajah Danny berubah pucat pasi seperti hantu. Wanita di depannya itu benar-benar gila. Setelah merasa puas mendengar permohonan Danny, Aura menjatuhkan botol itu dan menendangnya. Ia kemudian menatap manajer kapal pesiar yang baru saja tiba di tengah kekacauan tersebut. "Urus kekacauan ini. Dan pastikan aku tidak pernah melihat satu pun anggota keluarga Mason di atas kapal ini lagi," perintahnya dingin. Danny tersenyum saat melihat sang manajer kapal, mengira penyelamatnya sudah datang. "Kau pikir kau siapa bisa memerintah manager kapal ini? Keluargaku punya saham di jalur pelayaran ini!" bentaknya. "Heh, Manajer! Tunggu apa lagi? Tangkap dia!" Saat itu juga, keributan yang terjadi berhasil menarik perhatian banyak orang. Di atas pagar dek, Gavin mengerutkan kening dengan perasaan campur aduk, sementara Melany berbisik lembut di telinganya. "Bagaimana kalau Aura diusir dari kapal pesiar ini karena keributan yang dia cip..." Sebelum Melany menyelesaikan kalimatnya, situasi berubah secara drastis. "Ringkus mereka!" Manajer kapal itu tidak ragu sedikit pun untuk memerintahkan tim keamanan agar meringkus Danny dan anak buahnya. Kemudian, di tengah keterkejutan semua orang, manajer kapal itu membungkuk di depan Aura dengan sikap hormat yang luar biasa. "Maaf, Nyonya Aura," ucapnya patuh. Danny yang sudah dalam cengkeraman petugas keamanan berteriak histeris. "Apa kalian semua buta?! Aku ini mitra kalian!" "Nyonya Aura adalah pemegang saham utama di jalur pelayaran ini. Siapa pun yang tidak menghormati beliau adalah musuh kami," jawab manager kapal itu. Semua orang tersentak kaget. Tidak ada yang menyangka bahwa wanita cantik yang awalnya dianggap remeh itu adalah pemilik saham terbesar di kapal pesiar Royal Princess yang sangat bergengsi itu. "Ini... ini pasti salah paham!" Wajah Danny kehilangan seluruh warnanya. Detik berikutnya, ia mulai memohon dengan nada panik. "Maaf, Nyonya! Aku tidak tahu... Tolong kasihani aku! Kasihani keluargaku... kita adalah mitra bisnis..." Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tumit stiletto yang Aura kenakan sudah mendarat di jari kaki Danny dengan gerakan memutar yang lambat dan disengaja. Suara tulang yang berderak terdengar memilukan. Kemudian, Aura melemparkan sebuah kartu hitam ke lantai dengan acuh tak acuh. "Kau benar. Uang memang bisa menyelesaikan beberapa masalah. Dan untuk keluarga Mason? Royal Princess tidak akan pernah lagi berhubungan dengan kalian mulai sekarang," ucapnya dingin. Dampak dari kata-kata itu menghantam Danny bagaikan sambaran petir. Ia terpaku dalam diam, rasa sakit di jari kakinya seolah hilang, digantikan oleh ketakutan akan kehancuran bisnis kakeknya. Bahkan Gavin yang bersandar di pagar atas, hanya berdiri mematung seolah tak percaya. "Tunggu, maksudmu istri Gavin adalah pemegang saham terbesar di Royal Princess? Aku ingat dia hanya anak yatim piatu. Dari mana dia punya uang sebanyak itu? Kapal ini harganya lebih dari 200 juta dolar!" "Lihat di sana, itu Rebecca, putri tunggal keluarga Green. Apa Aura memanfaatkan Rebecca? Kerajaan properti keluarga Green memang sangat besar, investasi ini mungkin hanya recehan bagi mereka." "Kemungkinan besar begitu. Dia pasti menghisap kekayaan keluarga Green, sama seperti dia membodohi kakeknya Gavin." Melany menghela napas pelan, menatap ke bawah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku iri pada Aura karena memiliki teman yang begitu loyal. Aku tinggal di luar negeri selama tiga tahun, selain Gavin, aku tidak punya siapa-siapa," ucapnya dengan ekspresi wajah sedih. "Hah, wanita seperti Aura mana mungkin punya teman sejati. Dia pasti sedang membodohi keluarga Green. Dia memang ahli dalam urusan menipu," dengus Gavin. Rasa frustrasi menggerogoti hatinya. Ada perasaan tidak nyaman melihat Aura yang begitu bersinar malam ini, sangat kontras dengan sosok penurut yang ia kenal. "Mulai sekarang, kau tidak akan pernah sendiri. Aku akan selalu ada di sisimu," bisik Gavin saat menyadari bahwa raut wajah Melany masih terlihat sedih. Melany tersenyum lembut, namun tatapan matanya masih tertuju pada Aura. "Oh ya, Gavin, kakekmu akan keluar dari rumah sakit lusa. Beliau secara khusus meminta untuk bertemu dengan Aura. Mungkin kita harus menghampirinya sekarang untuk menyampaikan pesan itu." "Dan aku sangat ingin menyapa Aura untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Bolehkan?" tanyanya lagi. Bersambung...“Tapi, jangan senang dulu. Tempat ini pasti ada cctv, kan? Mereka pasti merekam semuanya dalam kualitas HD yang sempurna.”“Diam! Aku dan Gavin tidak bersalah!” teriak Melany histeris. Dengan air mata yang mulai berlinang, dia menoleh pada Gavin."Gavin, lihat dia! Walaupun dia merasa aku yang salah, dia tidak berhak menghancurkan hidupku seperti ini! Aku bisa menerima tamparan darinya, tapi mengancam reputasiku? Itu sudah keterlaluan!" rengeknya.Hati Gavin melunak melihat tangisan Melany. Rahangnya mengatup rapat saat menatap Aura dengan penuh kejengkelan."Aura! Kalau kau punya masalah, selesaikan denganku! Kenapa kau harus melibatkan Melany? Jujur saja, aku masih tidak tahu apa yang kau lakukan pada kakekku sampai dia begitu membelamu, tapi sekarang kau bertingkah seperti—”PLAK!Satu tamparan keras kembali bergema. Kali ini, tangan Aura mendarat di pipi Gavin. Tamparan itu sangat kuat hingga membuat Gavin terhuyung dan pipinya membengkak dalam hitungan detik.Gavin terdiam, berke
“Tentu saja, aku tidur dengan seseorang tadi malam. Tapi, kau tahu sendiri kan, itu bukan lagi urusanmu!” ucap Aura tegas, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Gavin.Aura menyunggingkan senyum provokatif sebelum melanjutkan ucapannya. "Pria itu memiliki tubuh yang sangat memikat. Dan untuk hal lainnya, yah, dia sangat tahu bagaimana cara memuaskanku di atas ranjang. Tidak heran tanda ini sampai membekas di sekujur tubuhku."“Kau...” Gavin tersedak oleh amarahnya. Kata-kata yang hendak ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokan, berubah menjadi kenyataan pahit.Nada acuh tak acuh dari Aura, ditambah dengan sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa malu, benar-benar menyulut api kemarahan di dada Gavin.“Dan aku hanya ingin kau tahu. Pria itu memang pantas mendapatkan tubuhku. Bagiku dia yang terbaik, bahkan mungkin pria terbaik yang pernah aku temui,” desis Aura pelan, ia tersenyum tipis saat melihat raut wajah Gavin yang kian memerah padam.“Tapi jangan terlalu dipiki
"Pria ini tidak hanya terampil, tapi dia juga ahli di bidangnya. Refleksnya sangat tajam, secepat kucing, dan sangat terasah. Jelas sekali bahwa dia sudah dididik sejak kecil, sama seperti diriku," gumam Aura sambil memutar gelas di genggamannya.Baginya, Kellan adalah tipe pria yang tidak hanya akan berjuang sampai akhir, tapi juga akan menyeret siapa saja masuk ke jurang bersamanya. Aura bisa melihat dari matanya, pria itu berani mengambil risiko, bahkan di saat peluangnya sangat kecil.Saat pikiran-pikiran itu berkelebat di kepalanya, tiba-tiba ponsel Aura berdering nyaring seperti sekumpulan lebah yang sedang marah. Awalnya dia mengabaikan benda pipih itu, tapi deringnya tidak kunjung berhenti. Akhirnya, Aura menggeser layar dan puluhan panggilan tak terjawab langsung memenuhi notifikasinya.Sekarang sudah pukul setengah sembilan pagi. Aura punya janji bertemu dengan Gavin guna menyelesaikan urusan perceraian.Sambil memandangi dirinya di pantulan cermin, Aura menghela napas pa
Alis Aura berkerut, giginya tanpa sadar menekan bibir Kellan sehingga rasa amis darah yang tajam membanjiri mulut mereka berdua. Meski darah sudah mengalir dari bibirnya, Kellan sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Sebaliknya, ia memeluk tubuh Aura lebih erat, sentuhannya semakin kasar dengan napas yang memburu. BUGH! Aura bergerak dengan sigap. Ia melayangkan tinjunya ke perut Kellan dan memberikan tendangan cepat ke arah lutut pria itu. Tanpa persiapan, Kellan jatuh tersungkur ke lantai. Mulutnya penuh dengan darah, seolah-olah organ dalamnya terkoyak akibat serangan mendadak itu. Sebelum berhasil bangkit dari lantai, Kellan merasakan moncong senjata yang dingin dan keras menempel tepat di dahinya. Dari atas, tampak Aura sedang menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang menghitung waktu sebelum maut menghampiri. Dengan tangannya yang bertumpu di dinding, Aura berusaha menjangkau sakelar lampu, ingin melihat wajah Kellan dengan jelas di bawah cah
Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter
Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,
Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku deng
"Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di bali
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan. Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih d







