Home / Romansa / Rahasia Istri Yang Terabaikan / 3. Bukan Wanita Biasa

Share

3. Bukan Wanita Biasa

Author: Dek_Put
last update Last Updated: 2026-01-02 06:03:33

Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku dengan membantu persiapannya."

Karin mengenal Melany selama bertahun-tahun, jadi dia hafal dengan detail selera wanita itu hingga hal terkecil. Hal inilah yang membuatnya merasa masih memiliki nilai di mata Gavin.

Gavin mengerutkan kening. Melany memang kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya, sementara persiapan pesta belum sepenuhnya matang.

"Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untukmu," gumam Gavin sambil melirik jam tangan mewahnya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. "Kalau kau mengacaukan persiapan ini, tamat lah riwayatmu. Kau tidak hanya akan diusir dari keluarga Theodore, tapi hal berikutnya yang akan kau hadapi adalah panggilan dari pengadilan," tegasnya.

Kalimat itu adalah pedang bermata dua bagi Karin, kesempatan hidup sekaligus ancaman mati. Dengan tekad yang membara, Karin bergegas pergi menjalankan tugasnya dengan kaki yang masih pincang.

Sementara Gavin, tatapannya jatuh pada meja makan yang masih dipenuhi dengan hidangan yang sudah dingin. Rasa frustrasi berkobar di dadanya, terutama saat bayangan Aura menampar Karin berputar di kepalanya.

Raut wajah Aura tetap tenang saat melakukan aksi itu, namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Tatapannya tampak lebih dingin, lebih keras, dan sangat jauh dari sosok wanita penurut yang selama ini Gavin kenal.

Tapi, Gavin menepis pikiran itu dengan cepat. Baginya, Aura akan selalu menjadi ibu rumah tangga yang membosankan. Dia yakin, tanpa perlindungan dari keluarga Theodore, Aura bukanlah siapa-siapa.

Di luar rumah Gavin, sebuah Lamborghini keluaran terbaru berhenti dengan suara raungan mesin yang gahar. Seorang wanita cantik dengan gaya modis keluar dari mobil tersebut.

"Aura, sayangku!" Rebecca bergegas mendekat dan memeluk Aura dengan hangat. "Kau tahu, kau bisa tinggal di rumahku selamanya jika kau mau."

Rebecca adalah putri tunggal pemilik Eternity Group, keluarga konglomerat yang menguasai hampir setengah cakrawala kota di itu. Baginya, menyediakan istana untuk Aura bukanlah masalah besar.

"Jadi, apa yang terjadi hari ini?" tanya Rebecca sembari mendekatkan wajahnya ke leher Aura. "Bau bawang dan asap masih menempel di tubuhmu. Jangan bilang kau memasak lagi untuk pria brengsek itu?" tanyanya dengan nada kesal.

Aura merasakan sesak di tenggorokannya. Rasa hangat dari pelukan Rebecca membuat emosinya kembali meluap setelah sekian lama memendam semuanya sendiri. "Mari kita bicara di dalam mobil," ajaknya pelan.

Begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil, Aura mulai menceritakan semua yang terjadi. Suaranya terdengar tenang, namun amarah Rebecca justru berkobar hebat seperti api yang menyambar kayu kering.

"Kau bercanda?! Dulu Gavin dicampakkan oleh Melany di hari pernikahan mereka, dan sekarang dia mencoba membalas dendam dengan menceraikanmu? Mereka benar-benar pasangan yang serasi, sama-sama gila!" teriak Rebecca marah.

"Dan orang tuanya juga!" tambah Rebecca dengan nada yang semakin meninggi. "Kau sudah merawat mereka selama tiga tahun, melakukan segalanya untuk keluarga itu, dan beginilah cara mereka berterima kasih padamu?"

Rebecca terus memaki dengan kata-kata yang tajam.

Aura menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, menatap keluar jendela saat gedung-gedung kota terlihat kabur karena kecepatan mobil. "Semua sudah selesai, Becca. Kami sudah impas sekarang," ucap Aura dengan nada final.

Selama tiga tahun, Aura memaksakan diri untuk menjadi wanita sempurna versi Gavin. Ia membuang sepatu hak tingginya, mengubah gaya rambut, bahkan memilih pakaian yang sederhana serta membosankan. Semua itu dia lakukan hanya untuk meniru bayang-bayang Melany.

Namun sekeras apa pun ia mencoba, pada akhirnya Aura sadar dirinya tidak akan pernah bisa bersaing dengan wanita yang dicintai Gavin.

"Aura, keluarga Theodore benar-benar tidak pantas mendapatkan wanita hebat sepertimu," suara Rebecca melembut, menyadari kelelahan yang mendalam di wajah sahabatnya itu.

Percakapan mereka terhenti saat tiba di sebuah salon eksklusif. Rebecca menyapa Mary, seorang penata rias internasional yang sangat tersohor. "Halo, Mary. Aku punya proyek spesial untukmu," ujarnya bersemangat.

"Jujur saja Becca, aku sangat lelah. Rasanya aku tidak sanggup duduk berjam-jam hanya untuk dirias." Aura mengeluh sambil memijit pelipisnya.

"Oh, ayolah! Kau tidak berniat untuk mempertahankan penampilan 'istri yang terabaikan' seperti ini, kan?" goda Rebecca, memperhatikan penampilan Aura yang jauh dari kata layak.

Rambut acak-acakan, mata bengkak, bibir kering, dan... Semuanya terlalu membosankan.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Duduk dan nikmati pelayanan dari Mary!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Rebecca mendorong tubuh Aura sehingga duduk di sebuah kursi.

Tiga puluh menit kemudian, transformasi yang terjadi pada Aura benar-benar mengejutkan. Hampir semua orang yang ada di salon itu terpana melihat penampilan barunya.

Kecantikan alaminya yang selama ini tertutup oleh peran "ibu rumah tangga", kini memancar sempurna.

Matanya yang tajam seperti mata kucing, di hias dengan aksen yang sempurna, memberikan kesan menawan namun berbahaya.

"Ini... ini Aura Seraphine yang ku kenal!" puji Rebecca dengan tatapan kagum.

"Sekarang, pilih gaun mana pun yang menarik hatimu. Kita akan merayakan kebebasanmu di kapal pesiar mewah malam ini!" tambah Rebecca sambil memperlihatkan deretan gaun yang sudah dia siapkan.

Aura melambaikan tangan, menolak dengan halus. "Aku sedang tidak mood untuk berurusan dengan pria mana pun saat ini."

Rebecca menatap Aura dengan tatapan penuh pengertian. Dia tahu, selama tiga tahun menikah, Gavin tidak pernah menyentuh sahabatnya itu dengan alasan menjaga perasaan Melany.

Dan nyatanya, Aura masih perawan walau pun sudah menikah selama tiga tahun.

Untuk membangkitkan semangat Aura, Rebecca mengeluarkan kartu asnya. "Kau tahu, kan, kalau akan ada pameran parfum internasional di pesta ini? Termasuk sosok misterius di balik Charisma Corporation?"

Charisma adalah merek parfum paling bergengsi di negara itu. Aura pernah berpapasan dengan CEO-nya di beberapa kompetisi internasional. Ciptaan mereka selalu mengingatkan Aura pada sosok ibunya yang sudah lama tiada.

"Baiklah, aku ikut denganmu," akhirnya Aura menyerah karena rasa penasarannya yang terusik.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Aura merasakan bahwa pembuat parfum misterius dari brand Charisma ini mungkin memiliki hubungan dengan masa lalu ibunya yang penuh rahasia.

****

Kapal pesiar mewah bernama Royal Princess itu tampak membelah lautan dengan anggun. Saat senja mulai tenggelam di balik cakrawala, para tamu undangan mulai berkumpul di sepanjang pagar dek, mengagumi hamparan laut yang berubah keemasan.

Di tengah kerumunan itu, seorang wanita muncul dan seketika menjadi pusat perhatian. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna merah menyala yang tampak seperti api cair di bawah cahaya lampu yang redup.

Potongan gaun itu melekat sempurna di lekuk tubuhnya, mempertegas pinggangnya yang ramping, sementara belahan tinggi di bagian bawah memamerkan kaki jenjangnya yang indah.

Rambutnya disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjang dan anting mutiara yang membisikkan kemewahan kelas atas. Bibirnya dipoles dengan lipstik berwarna merah terang, memberikan kesan berani sekaligus menggoda.

"Ya ampun, Aura, lihat dirimu sekarang! Sang ratu legendaris, Scarlet Snake, akhirnya kembali!" seru Rebecca dengan nada takjub.

"Bayangkan, kau berpakaian seperti pembantu selama tiga tahun. Benar-benar sebuah penghinaan terhadap kecantikanmu sendiri!" seru Rebecca lagi.

Scarlet Snake atau Si Ular Merah adalah nama samaran Aura saat menjalankan misi-misi berbahayanya di masa lalu. Dulu, ia selalu bangga dengan identitasnya yang berani. Tapi sejak menikah dengan Gavin, segalanya berubah.

Gavin menolak penampilannya, mengatakan penampilan itu terlalu mencolok dan menjengkelkan. Yang lebih parahnya lagi, Gavin menuntut agar Aura meniru penampilan Melany yang tenang dan polos.

Demi cinta, Aura menuruti semua kemauan suaminya. Ia selalu mengenakan pakaian berwarna putih sederhana, menjalankan tugas ibu rumah tangga dengan tekun, dan berusaha menjadi wanita sempurna versi keluarga Theodore. Namun, pengorbanannya sia-sia. Keluarga itu tetap membuangnya.

Senyum pahit terukir di sudut bibir Aura. "Kau benar, Becca," jawabnya pelan namun tegas. "Sudah waktunya aku menjadi diriku sendiri lagi."

Aura tidak menyadari bahwa di sisi lain pelabuhan, Gavin dan Melany baru saja tiba. Mereka disambut oleh Karin yang tampak sangat antusias menunjukkan kesetiaannya.

"Nona Melany, akhirnya Anda kembali. Anda tidak tahu betapa Tuan Gavin sangat merindukan Anda. Beliau bahkan menyiapkan kejutan spesial di kapal ini," ucap Karin dengan nada menjilat.

Melany menggelengkan kepalanya perlahan, bibirnya sedikit mengerucut. "Gavin, kau tidak perlu repot-repot sampai seperti ini. Orang-orang bisa salah sangka padamu," ucapnya.

Gavin langsung meraih tangan wanita itu, menatap wajahnya dengan lembut. "Kau tidak perlu khawatir tentang pendapat mereka. Aku sudah resmi bercerai, tidak ada lagi yang berhak menghakimi hubungan kita."

Saat para tamu mulai memenuhi kapal, Aura dan Rebecca berjalan menuju lantai tiga, tempat perjamuan utama diadakan. Kapal itu dihiasi lampu-lampu kristal yang memancarkan pesona kemewahan klasik.

Di area tengah, musik terdengar liar, mengundang banyak orang untuk bergoyang mengikuti irama.

"Nikmati malammu! Aku sudah memesankan delapan pria tampan untuk menemanimu. Semuanya bersih dan sempurna," canda Rebecca.

Aura mengangkat sebelah alisnya, merasa terhibur. "Kita datang ke sini untuk mencari tahu siapa pembuat parfum dari brand Charisma, bukan untuk bermain-main, kan?"

"Jangan khawatir. Kita punya waktu satu jam sebelum acara dimulai. Orang-orangku sudah mengawasi pergerakan pihak Charisma Corporation. Sebaiknya kau bersenang-senang dulu sambil menunggu." Rebecca kemudian melirik seorang pria tampan yang duduk di salah satu kursi. "Bicara soal kesenangan, aku akan berdansa dengan pria itu dulu," ucapnya dengan nada genit.

Aura hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. "Pergilah. Aku akan menunggumu di lorong sebelah kanan."

Aura sedang tidak berminat untuk urusan asmara. Setelah memesan segelas anggur, ia melangkah menuju bagian kapal yang lebih tenang. Angin laut yang sepoi-sepoi menerpa wajahnya, memberikan ketenangan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama saat seorang pria menghampirinya. "Hei, cantik. Minum sendirian di sini?"

Aura menoleh dan mendapati seorang pria bertubuh pendek dengan wajah yang tampak licik sedang menatapnya dengan tatapan nakal.

"Kalau kau merasa kesepian, aku dan teman-temanku bisa membantumu mencari hiburan," cibir pria itu sembari menunjuk sekelompok pria di belakangnya yang tertawa mesum.

Pria itu berjalan angkuh, rantai emas di lehernya bergoyang seiring langkah kakinya yang dibuat-buat. Dia mendekat ke arah Aura dengan napas yang tercium bau alkohol.

"Aku punya banyak uang untuk dibakar, Sayang. Bagaimana kalau kau ikut..."

KRAK!

Terdengar suara retakan tulang yang tajam. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Aura dengan mudah memutar pergelangan tangan pria itu. Gerakannya begitu mulus dan cepat, seolah-olah ia sudah melatihnya ribuan kali.

Tulang pria itu berderit seperti dahan kering, namun Aura bahkan tidak sudi meliriknya. "Pergilah selagi kau masih bisa berjalan," ucap Aura dingin.

Pria itu terpaku sesaat, otaknya belum sepenuhnya memproses rasa sakit yang datang. Detik berikutnya, ia melolong kesakitan dan menarik tangannya dengan tak percaya. Ia tidak menyangka seorang wanita bisa menjatuhkannya semudah memukul lalat.

Rasa malu yang ia rasakan langsung berubah menjadi kemarahan yang membabi buta. Pria itu meraih sebuah botol di dekatnya dengan tangannya yang tidak terluka, wajahnya memerah padam karena marah.

"Kau pikir kau bisa lolos setelah melakukan ini padaku? Aku pastikan kau akan mati malam ini!" teriaknya liar.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    5. Pria Asing?

    Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    4. Salah Lawan!

    Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    3. Bukan Wanita Biasa

    Di dalam rumah yang sunyi, kondisi Karin tampak memprihatinkan. Ia berlutut di depan Gavin dengan sisa-sisa kekuatannya, memohon dengan sangat putus asa. "Tuan Gavin, bukankah Anda berencana memberikan kejutan untuk Nona Melany di kapal pesiar malam ini? Tolong, izinkan aku menebus kesalahanku dengan membantu persiapannya." Karin mengenal Melany selama bertahun-tahun, jadi dia hafal dengan detail selera wanita itu hingga hal terkecil. Hal inilah yang membuatnya merasa masih memiliki nilai di mata Gavin. Gavin mengerutkan kening. Melany memang kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya, sementara persiapan pesta belum sepenuhnya matang. "Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untukmu," gumam Gavin sambil melirik jam tangan mewahnya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. "Kalau kau mengacaukan persiapan ini, tamat lah riwayatmu. Kau tidak hanya akan diusir dari keluarga Theodore, tapi hal berikutnya yang akan kau hadapi adalah panggilan dari pengadilan," teg

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    2. Di Campakkan!

    "Nyonya Aura, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Karin bergegas menuruni tangga dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran palsu. "Aduh... Kopernya rusak. Bagaimana kalau aku memasukkan semua barang-barang ini ke dalam plastik kresek?" tambahnya, mencoba menyembunyikan penghinaan di balik senyum manisnya yang memuakkan. Karin selalu memandang rendah Aura. Baginya, Aura tidak lebih dari sekadar gadis desa miskin yang tidak tahu malu karena sudah memanfaatkan kebaikan keluarga Theodore demi bisa mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi Gavin. Gavin mengerutkan kening, rasa frustrasinya semakin memuncak. "Kau ceroboh sekali!" bentaknya saat melihat pakaian Aura berserakan di lantai. Gavin memperhatikan isi koper itu. Hanya ada sedikit pakaian dan tidak ada perhiasan mewah. Aura memang tidak pernah menyentuh uang yang ia berikan selama tiga tahun terakhir. Istrinya itu sangat sederhana dan hemat; sebuah cerminan bahwa Aura tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai bagia

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    1. Perceraian

    "Aku sudah mengajukan gugatan cerai," ucap Gavin sambil melangkah masuk dengan sorot wajah dingin yang seolah mampu membekukan udara di dalam ruangan. Langkah kakinya yang berat terdengar tidak sabar, mencerminkan rasa frustrasi yang sudah lama ia pendam. "Empat miliar rupiah seharusnya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupanmu setelah kita berpisah nanti," ucapnya datar. Wajah Aura seketika pucat pasi. Dunianya seolah runtuh mendengar kalimat singkat itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya agar tetap terlihat tegar di hadapan suaminya. "Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, Gavin," ucap Aura dengan suara yang nyaris tak terdengar, serak karena menahan tangis. "Tidakkah kau bisa menunda pembicaraan ini sebentar saja? Aku sudah memasak semua makanan kesukaanmu. Bisakah kita menghabiskannya untuk yang terakhir kali?" Aura berdiri di sana dengan aroma bumbu dapur dan asap ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status