Share

6. Buas

Author: Dek_Put
last update publish date: 2026-02-12 01:44:50

Alis Aura berkerut, giginya tanpa sadar menekan bibir Kellan sehingga rasa amis darah yang tajam membanjiri mulut mereka berdua.

Meski darah sudah mengalir dari bibirnya, Kellan sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Sebaliknya, ia memeluk tubuh Aura lebih erat, sentuhannya semakin kasar dengan napas yang memburu.

BUGH!

Aura bergerak dengan sigap. Ia melayangkan tinjunya ke perut Kellan dan memberikan tendangan cepat ke arah lutut pria itu.

Tanpa persiapan, Kellan jatuh tersungkur ke lantai. Mulutnya penuh dengan darah, seolah-olah organ dalamnya terkoyak akibat serangan mendadak itu.

Sebelum berhasil bangkit dari lantai, Kellan merasakan moncong senjata yang dingin dan keras menempel tepat di dahinya.

Dari atas, tampak Aura sedang menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang menghitung waktu sebelum maut menghampiri.

Dengan tangannya yang bertumpu di dinding, Aura berusaha menjangkau sakelar lampu, ingin melihat wajah Kellan dengan jelas di bawah cahaya terang.

"Kau sudah memilih lawan yang salah, Tuan..." Aura memperingatkan dengan nada tenang. Tapi, tepat saat jari-jarinya menyentuh sakelar lampu, tiba-tiba ia merasakan ada yang salah dalam dirinya. kulitnya terasa terbakar. Ia merasa seolah kobaran api sedang menyala di dalam tubuhnya.

Ciuman tadi, yang terasa seperti ciuman biasa, ternyata bukan sembarang ciuman.

"Bagaimana mungkin aku lengah?" Aura mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Dia tidak pernah mengira dirinya akan terjebak dalam situasi seperti ini. Namun, api gairah yang tidak alami itu mulai menekan kewarasannya. Tubuhnya terasa seperti terpanggang, tenggorokannya kering seolah-olah ia sudah terdampar di padang pasir selama berhari-hari.

"Kalau aku tahu siapa dalang di balik semua ini, aku akan membuat mereka membayar perbuatan mereka dengan harga sepuluh kali lipat," geramnya.

Merasakan perubahan sikap yang tiba-tiba dari Aura, Kellan menggunakan cadangan kekuatan terakhirnya untuk melakukan perlawanan. Ia menerjang ke arah wanita itu, dan dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Aura, menjepit tubuhnya ke meja dengan kasar.

Entah dari mana asalnya, Kellan berhasil menghunuskan sebuah belati kecil di sisi tubuh Aura, memberikan ancaman kematian yang nyata.

Meski begitu, pistol Aura tetap menempel kuat, bukan lagi di bagian dahi, melainkan di dada Kellan.

Tatapan mereka bertemu dalam kegelapan; tidak ada kata-kata yang diucapkan dari mulut masing-masing.

Sementara itu, efek obat perangsang terus mengalir dalam tubuh Aura. Hal itu membuatnya gelisah, berusaha melawan gejolak h4srat yang membara.

Tapi tiba-tiba, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kedua insan manusia itu saling mendekat. Bibir mereka bertemu lagi dalam ciuman dengan sengit dan intens.

"Kau..." Aura tidak berhasil mengeluarkan suara karena kata-katanya ditelan oleh tekanan keras dari bibir Kellan.

Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Aura, mengusapkan jari-jarinya di atas kulit wanita itu, mengirimkan sengatan listrik yang merambat sampai ke tulang punggung. Sensasinya tidak hanya membakar, tetapi juga tidak terlupakan.

"Bisakah kau bergerak lebih lambat?" bisik Aura dengan napas terengah. Tangannya bergerak menelusuri kontur tajam pinggang Kellan hingga jari-jarinya bertemu dengan otot keras di bawah sana.

Bagi Aura, pria itu adalah perpaduan antara api dan baja, mengesankan dalam segala hal, tapi tidak memiliki kelembutan sama sekali.

Tentu saja, Kellan yang sudah di kuasai nafzu, tidak bisa lagi mengendalikan diri. Ia seperti binatang buas yang sedang menikmati mangsa langka.

Baru beberapa saat yang lalu, mereka saling menodongkan senjata ke organ vital masing-masing, namun kini mereka terkunci dalam ritme yang berbahaya, didorong oleh sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar kebencian.

"Jangan bergerak!" Suara Kellan yang kasar dan berat terdengar memenuhi udara. Perintah itu saja sudah cukup kuat untuk membuat darah siapa pun mendidih. Namun, Aura bukan wanita sembarangan. Ia tidak pernah bisa menerima perintah begitu saja.

Dengan gerakan cepat, Aura melingkarkan tangannya lebih erat di leher Kellan dan membalikkan posisi mereka. Aura bukanlah wanita yang sudi membiarkan siapa pun memegang kendali atas dirinya.

Tubuh Kellan menghantam meja segi sebuah erangan lolos dari bibirnya. Tatapan dinginnya seketika meleleh, berubah menjadi kebingungan yang nyata.

Aura, yang kini berada di posisi atas, menyisir helaian rambut dari wajah Kellan yang memerah. Ekspresinya penuh percaya diri, tidak menyisakan keraguan sama sekali.

"Aku yang akan bertanggung jawab!" ucap Aura tegas.

Jari-jarinya bergerak dari tenggorokan hingga ke sekujur tubuh Kellan, menelusuri otot-otot yang terpahat sempurna itu.

Aura mencondongkan tubuh secara perlahan untuk mencium bibir Kellan. Sementara tangannya bergerak lincah membuka kancing kemeja pria itu.

Di bawah kendali obat perangsang, Aura tidak bisa menunggu lebih lama lagi sehingga dia merobek pakaian yang melekat di tubuh Kellan. Kini, telapak tangannya menyentuh langsung kehangatan dada pria itu.

Kellan, yang selalu memegang kendali dalam hidupnya, tidak pernah menyangka seorang wanita bisa membalikkan keadaan seperti yang terjadi saat itu. Tapi alih-alih menolak, ia justru membiarkan semuanya terjadi. Tangannya tetap menempel di pinggang Aura, seolah ingin menjadikan wanita itu bagian dari dirinya.

*****

Saat Aura terbangun, ia merasakan sesuatu yang keras menekan pinggangnya. Dengan susah payah, ia mengulurkan tangan sehingga jari-jarinya menyentuh benda dingin yang tak lain adalah pistol.

Aura memaksakan diri untuk duduk, menatap desain rumit di langit-langit kamar hotel, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.

Untuk sesaat, pikirannya berputar seperti rekaman rusak. Ruangan yang remang-remang itu, hanya diterangi seberkas cahaya yang menembus celah tirai tebal, tampak seperti medan perang.

Di sisi lain, Aura melihat sesosok pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Posisi pria itu tengkurap sehingga Aura tidak bisa melihat wajahnya.

"Apa yang sudah kulakukan?" Aura mengumpat pada dirinya sendiri dengan suara parau.

Aura menatap sekeliling ruangan. Kekacauan terjadi di mana-mana. Vas yang pecah, kelopak bunga berserakan di lantai, kursi-kursi terbalik, dan sebuah kondom yang tergeletak di dekat tempat tidur.

"Dia benar-benar biadab!" Aura mengumpat dalam hati. Dia tidak membutuhkan cermin untuk melihat buktinya. Memar dan bekas gigitan menghiasi pinggangnya, menggambarkan betapa ganasnya malam pria itu. Bahkan pahanya pun dipenuhi warna-warna lebam yang serupa.

"Kenapa dia bisa sekuat itu? Dari mana dia datang?" gumam Aura.

Pikirannya sempat dipenuhi ide absurd untuk mencekik pria itu dengan bantal, hanya untuk melihat apakah dia bisa lolos tanpa ketahuan.

Pria itu, yang masih di bawah pengaruh obat, terbaring tak sadarkan diri dengan wajah terbenam di bantal.

Di punggungnya terdapat goresan merah dari kuku Aura—bukti nyata dari malam yang mereka habiskan bersama.

"Huft..." Sambil menghela napas panjang, Aura bangkit dari tempat tidur dan menenggak segelas air. Kesejukan air itu seolah mampu mengembalikan kejernihan pikirannya.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    9. Sisi lain Aura

    “Tapi, jangan senang dulu. Tempat ini pasti ada cctv, kan? Mereka pasti merekam semuanya dalam kualitas HD yang sempurna.”“Diam! Aku dan Gavin tidak bersalah!” teriak Melany histeris. Dengan air mata yang mulai berlinang, dia menoleh pada Gavin."Gavin, lihat dia! Walaupun dia merasa aku yang salah, dia tidak berhak menghancurkan hidupku seperti ini! Aku bisa menerima tamparan darinya, tapi mengancam reputasiku? Itu sudah keterlaluan!" rengeknya.Hati Gavin melunak melihat tangisan Melany. Rahangnya mengatup rapat saat menatap Aura dengan penuh kejengkelan."Aura! Kalau kau punya masalah, selesaikan denganku! Kenapa kau harus melibatkan Melany? Jujur saja, aku masih tidak tahu apa yang kau lakukan pada kakekku sampai dia begitu membelamu, tapi sekarang kau bertingkah seperti—”PLAK!Satu tamparan keras kembali bergema. Kali ini, tangan Aura mendarat di pipi Gavin. Tamparan itu sangat kuat hingga membuat Gavin terhuyung dan pipinya membengkak dalam hitungan detik.Gavin terdiam, berke

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    8. Skandal

    “Tentu saja, aku tidur dengan seseorang tadi malam. Tapi, kau tahu sendiri kan, itu bukan lagi urusanmu!” ucap Aura tegas, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Gavin.Aura menyunggingkan senyum provokatif sebelum melanjutkan ucapannya. "Pria itu memiliki tubuh yang sangat memikat. Dan untuk hal lainnya, yah, dia sangat tahu bagaimana cara memuaskanku di atas ranjang. Tidak heran tanda ini sampai membekas di sekujur tubuhku."“Kau...” Gavin tersedak oleh amarahnya. Kata-kata yang hendak ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokan, berubah menjadi kenyataan pahit.Nada acuh tak acuh dari Aura, ditambah dengan sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa malu, benar-benar menyulut api kemarahan di dada Gavin.“Dan aku hanya ingin kau tahu. Pria itu memang pantas mendapatkan tubuhku. Bagiku dia yang terbaik, bahkan mungkin pria terbaik yang pernah aku temui,” desis Aura pelan, ia tersenyum tipis saat melihat raut wajah Gavin yang kian memerah padam.“Tapi jangan terlalu dipiki

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    7. Tanda Merah!

    "Pria ini tidak hanya terampil, tapi dia juga ahli di bidangnya. Refleksnya sangat tajam, secepat kucing, dan sangat terasah. Jelas sekali bahwa dia sudah dididik sejak kecil, sama seperti diriku," gumam Aura sambil memutar gelas di genggamannya.Baginya, Kellan adalah tipe pria yang tidak hanya akan berjuang sampai akhir, tapi juga akan menyeret siapa saja masuk ke jurang bersamanya. Aura bisa melihat dari matanya, pria itu berani mengambil risiko, bahkan di saat peluangnya sangat kecil.Saat pikiran-pikiran itu berkelebat di kepalanya, tiba-tiba ponsel Aura berdering nyaring seperti sekumpulan lebah yang sedang marah. Awalnya dia mengabaikan benda pipih itu, tapi deringnya tidak kunjung berhenti. Akhirnya, Aura menggeser layar dan puluhan panggilan tak terjawab langsung memenuhi notifikasinya.Sekarang sudah pukul setengah sembilan pagi. Aura punya janji bertemu dengan Gavin guna menyelesaikan urusan perceraian.Sambil memandangi dirinya di pantulan cermin, Aura menghela napas pa

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    6. Buas

    Alis Aura berkerut, giginya tanpa sadar menekan bibir Kellan sehingga rasa amis darah yang tajam membanjiri mulut mereka berdua. Meski darah sudah mengalir dari bibirnya, Kellan sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Sebaliknya, ia memeluk tubuh Aura lebih erat, sentuhannya semakin kasar dengan napas yang memburu. BUGH! Aura bergerak dengan sigap. Ia melayangkan tinjunya ke perut Kellan dan memberikan tendangan cepat ke arah lutut pria itu. Tanpa persiapan, Kellan jatuh tersungkur ke lantai. Mulutnya penuh dengan darah, seolah-olah organ dalamnya terkoyak akibat serangan mendadak itu. Sebelum berhasil bangkit dari lantai, Kellan merasakan moncong senjata yang dingin dan keras menempel tepat di dahinya. Dari atas, tampak Aura sedang menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang menghitung waktu sebelum maut menghampiri. Dengan tangannya yang bertumpu di dinding, Aura berusaha menjangkau sakelar lampu, ingin melihat wajah Kellan dengan jelas di bawah cah

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    5. Pria Asing?

    Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    4. Salah Lawan!

    Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status