共有

7. Tanda Merah!

作者: Dek_Put
last update 公開日: 2026-02-12 01:46:45

"Pria ini tidak hanya terampil, tapi dia juga ahli di bidangnya. Refleksnya sangat tajam, secepat kucing, dan sangat terasah. Jelas sekali bahwa dia sudah dididik sejak kecil, sama seperti diriku," gumam Aura sambil memutar gelas di genggamannya.

Baginya, Kellan adalah tipe pria yang tidak hanya akan berjuang sampai akhir, tapi juga akan menyeret siapa saja masuk ke jurang bersamanya.

Aura bisa melihat dari matanya, pria itu berani mengambil risiko, bahkan di saat peluangnya sangat kecil.

Saat pikiran-pikiran itu berkelebat di kepalanya, tiba-tiba ponsel Aura berdering nyaring seperti sekumpulan lebah yang sedang marah.

Awalnya dia mengabaikan benda pipih itu, tapi deringnya tidak kunjung berhenti. Akhirnya, Aura menggeser layar dan puluhan panggilan tak terjawab langsung memenuhi notifikasinya.

Sekarang sudah pukul setengah sembilan pagi. Aura punya janji bertemu dengan Gavin guna menyelesaikan urusan perceraian.

Sambil memandangi dirinya di pantulan cermin, Aura menghela napas panjang karena merasa kesal. Pakaiannya benar-benar berantakan, beberapa kancingnya hilang dan terdapat robekan di bagian tertentu, seolah-olah dia baru saja diterjang badai dahsyat.

Kalau dia keluar dengan penampilan seperti ini, orang-orang akan mengira dia baru saja terlibat perkelahian yang brutal.

Segera, Aura menggeledah lemari yang ada di dalam kamar itu dan mengenakan kemeja yang dia temukan. Sambil berpakaian, Aura sempat mengirimkan pesan singkat pada seseorang.

[Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Nanti akan kuceritakan semuanya.]

Sebelum pergi, Aura berhenti sejenak di sisi tempat tidur. Matanya menyipit saat ia mendekati meja nakas. Dia mengambil selembar kertas dan sejumlah uang, lalu meletakkannya tepat di bawah pistol yang tergeletak di sana.

"Permainanmu semalam sangat buruk," gumamnya sinis sambil menuliskan pesan singkat di sisi kertas itu. [Anggap saja ini sebagai tip untukmu. Jumlahnya kukurangi, potongan untuk biaya kerugianku!]

Bukan hanya pakaiannya yang robek, Aura juga harus membereskan kekacauan dari malam yang ingin dia lupakan. Itulah kerugian terbesarnya.

Murah hati karena masih mau memberikan tip? Mungkin saja. Itu karena Aura tidak mau di cap sebagai orang yang tidak tahu terimakasih.

Melangkah menuju pintu, Aura merapikan kemejanya dan menyisir rambutnya, kemudian menekan nomor manajer kapal pesiar dengan satu tangan.

"Pastikan setiap jejak keberadaanku di kapal ini terhapus. Hapus juga rekaman cctv-nya," perintah Aura tegas.

"Baik, Nona. Kami akan segera mengurusnya," jawab manajer itu dengan sopan.

Setibanya di luar kapal, Aura memacu kendaraannya menuju gedung pengadilan. Namun, saat dia sampai dan memarkir mobilnya, dia sudah terlambat setengah jam.

Anehnya, rasa sedih yang ia duga akan muncul hari itu ternyata tidak pernah datang. Setelah tiga tahun lamanya penuh dengan harapan palsu, tampaknya sumber air matanya sudah kering.

Yang tersisa hanyalah kekosongan sunyi, sebuah ruang hampa di tempat yang dulunya dipenuhi perasaan.

Gavin berada di luar gedung pengadilan, bersandar di mobilnya layaknya sebuah patung, sesekali mengecek jam tangannya dengan tidak sabar.

"Gavin, jangan menentang keinginan kakekmu. Sabarlah sedikit lagi," bisik Melany lembut, mencoba menenangkan pria itu.

Begitu Gavin melihat kedatangan Aura, ekspresinya langsung mengeras seperti batu dan alisnya berkerut marah.

"Apa kau berpikir untuk mengulur waktu atau mundur di menit terakhir? Jangan mimpi!" desis Gavin tajam. "Aku sudah memutuskan untuk menikahi Melany. Berhentilah bermain-main dengan taktik konyolmu," tambahnya.

Suaranya terdengar serak karena kesal, seolah-olah dia sudah bisa mencium tipu daya terbaru yang mungkin direncanakan Aura.

"Sudah kukatakan kemarin, bahkan air mata pun tidak akan mengubah keputusanku. Kita berakhir hari ini," ucap Gavin lagi dengan nada yang lebih menusuk.

Aura turun dari mobilnya dengan gerakan santai, dia hanya diam mendengar kata-kata pedas itu. Perutnya terasa mual karena belum sarapan, tapi bukan hanya rasa lapar yang membuatnya mual.

Dia tahu Gavin adalah pria berhati dingin, tapi kali ini... Ucapan pria itu benar-benar di luar dugaannya.

"Saya tidak menyesal. Baik dulu, maupun sekarang," balas Aura sambil menatap bola mata Gavin.

Sebenarnya, Aura sudah tahu sejak bertahun-tahun lamanya bahwa pria yang berdiri di hadapannya saat ini, bukanlah pria yang sama dengan yang pernah menjanjikan segalanya padanya. Namun, dia tetap berpegang pada satu harapan bodoh.

Tapi sekarang, saat tirai hampir turun, Aura akhirnya bisa melihat dengan jelas. Gavin bukan hanya berbeda; dia adalah orang asing, seseorang yang hampir tidak Aura kenali, bahkan seseorang yang tidak Aura sukai lagi.

Dengan ketenangan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, Aura tersenyum tipis sambil mengucapkan kalimat yang mampu membuat Gavin tertegun.

"Daripada membuang-buang waktu menuduhku bermain-main, kenapa kita tidak masuk dan selesaikan saja semuanya?"

Aura bahkan tidak menunggu jawaban dari pria itu. Dia langsung mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya, termasuk surat cerai, sambil melangkah menuju pintu gedung pengadilan dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Aku juga tidak berniat memperpanjang masalah ini lebih jauh lagi," jawab Gavin dingin sambil mengikuti langkah Aura.

“Aura, aku mengerti maksudmu. Sekalipun kamu hanya ingin melampiaskan emosi, tidak apa-apa kalau kamu memang belum siap untuk bercerai,” tiba-tiba Melany ikut bersuara dengan nada yang dibuat selembut mungkin.

“Aku benar-benar peduli pada Gavin. Bahkan tanpa surat nikah pun, aku bersedia menikah dengannya. Aku menyadari bahwa kemunculanku yang tiba-tiba ini mungkin terasa seperti tamparan keras di wajahmu, tapi cinta, bagaimanapun juga, memiliki aturannya sendiri. Lagipula, aku yang lebih dulu bertemu dengannya,” ucap Melany lagi.

Hari ini, Melany mengenakan gaun merah yang menjuntai indah, sangat kontras dengan sikapnya yang tampak rapuh dan polos. Bagi Aura, pemandangan itu tampak seperti adegan yang diambil dari drama tragis, di mana upaya sang pahlawan wanita hanya untuk menonjolkan keputusasaannya sendiri.

“Kalau kau bersedia melepaskannya, aku akan melakukan semua yang ku bisa untuk membalas budimu,” tambah Melany. “Lagipula, tidak ada rasa saling menyukai lagi di antara kalian berdua, kan? Kau boleh tetap memiliki gelar istri, tapi yang kuinginkan hanyalah hati Gavin.”

Melany sedang mencari reaksi, menunggu untuk melihat Aura kehilangan kendali diri dan meledak marah. Namun, Aura tetap tenang. Wajahnya menunjukkan keteguhan hati yang penuh kedamaian.

Dia mengangkat tangannya, menghentikan akting Melany dengan sebuah isyarat yang jauh lebih bermakna daripada kata-kata.

“Tunggu sebentar. Aku belum sarapan, dan rasanya tidak pantas kalau aku membuang sarapanku hanya karena mual melihat aktingmu,” potong Aura dengan nada acuh tak acuh, sedingin embun beku di musim dingin.

"Tapi karena kau sangat ingin menyingkirkanku, kurasa kau sadar bahwa kau berada di pihak yang salah dalam hal ini, kan? Bagaimana rencanamu untuk menebus kesalahan jika aku menyerahkan Gavin padamu?" tanya Aura.

Melany terdiam, lidahnya mendadak kelu.

Sementara Aura, dia melanjutkan ucapannya sambil menyunggingkan senyum kecut di sudut bibirnya.

“Bagaimana kalau kau menunjukkan rasa terima kasihmu padaku sekarang juga? Dengan begitu, kau bisa memulai hubungan ini dengan restuku, layaknya membuka lembaran baru.”

Aura tertawa sarkas melirik diam Melany.

“Kalau kau sangat berkomitmen pada Gavin, isyarat kecil untuk berterima kasih secara resmi padaku seharusnya tidak terlalu berlebihan, kan?”

Wajah Melany seketika berubah menjadi pucat pasi, jelas kehilangan arah karena skenarionya diputarbalikkan.

“Kau bereaksi berlebihan, Aura!” geram Gavin, menarik Melany ke sisinya untuk melindungi wanita itu.

“Apakah menurutmu dengan melontarkan komentar-komentar pedas ini akan membuatku kembali padamu? Atau...”

Sebelum Gavin selesai bicara, Aura sudah berbalik dan berjalan menuju pintu masuk gedung.

“Hanya lelucon kecil,” komentar Aura dengan sikap acuh tak acuh yang menyiratkan banyak arti. Hatinya sudah terlalu terkikis dan terluka, membuatnya tidak peduli lagi terhadap kemarahan pria itu.

“Apakah kau tidak ingin kita segera bercerai, Gavin? Atau jangan-jangan kau yang sedang mempertimbangkannya kembali?” Aura berbalik sejenak hanya untuk melontarkan kata-kata sinis itu.

Gavin terdiam seribu bahasa. Dia ingin meledakkan amarah, tapi sebelum dia sempat mengumpulkan pikirannya, Aura sudah lebih dulu pergi, seolah-olah dia tidak mau repot-repot membersihkan kekacauan yang ditinggalkannya.

Melihat Aura berjalan pergi dengan sikap yang begitu tegas dan dingin, justru membangkitkan perasaan yang lebih buruk di dalam diri Gavin. Ada rasa tidak terima yang mulai mengusik egonya.

“Di mana suami Anda? Apakah dia sudah datang?” tanya salah satu staf pengadilan begitu Aura masuk.

Mata Aura melirik ke depan pintu, tempat dimana Gavin dan Melany berdiri bergandengan tangan.

Para staf, yang mengikuti arah pandangan Aura, langsung berkedip kaget saat melihat seseorang yang sudah membanggakan kekasih barunya padahal proses perceraian resminya belum benar-benar selesai.

Rasa simpati terpancar jelas di wajah staf tersebut. Akhirnya, setelah melalui seluruh proses birokrasi, pernikahan mereka resmi berakhir.

"Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sejati, Nona," bisik staf itu saat mereka hendak pergi.

Melany, yang hanya berjarak beberapa langkah, terdiam kaku. Dia bisa merasakan panasnya tatapan kritis dari orang-orang di sekitarnya.

Tapi, dia berhasil memaksakan Senyumnya, meskipun kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Kebencian yang mendalam mendidih di balik ketenangan yang ia tunjukkan.

Seandainya Aura tidak menghalangi hubungannya dan Gavin sejak awal, dia pasti sudah menjadi Nyonya Stevens sekarang.

“Gavin…” Suara Melany berubah manis kembali.

Begitu mereka berada di luar, dia berpegangan pada lengan Gavin seperti tanaman rambat pada pohon. “Maaf. Seharusnya kita bersama sejak awal, tapi aku dikirim ke luar negeri,” ucapnya sambil menundukkan kepala.

"Selama tiga tahun terakhir ini, kau dan Aura hampir tidak bisa bertahan… semua itu karena aku. Tapi sekarang setelah kalian bercerai, kalian masih bisa berteman, kan? Kamu harus menghiburnya, Gavin. Aku yakin, sebenarnya dia sangat terpukul."

Aura hampir tidak mempedulikan kata-kata itu, namun telinganya masih bisa menangkap percakapan mereka.

“Dia terpukul?” Gavin mencibir, rasa jengkel muncul dalam dirinya tanpa alasan yang jelas.

Melihat ekspresi wajahnya, Gavin tahu Aura sama sekali tidak merasa terpengaruh oleh perpisahan ini.

“Bukankah wanita selalu begitu?” suara Melany terdengar manis, tapi mengandung duri yang tajam. “Sekuat apa pun penampilan seorang wanita, tidak ada yang lebih berarti baginya selain suaminya. Bahkan wanita terkuat pun akan hancur setelah perceraian," tambah Melany sambil melirik ke arah Aura dengan kilatan licik.

"Kasihan sekali, pasti hatinya sangat hancur sampai tidak bisa tidur semalaman. Lihatlah lingkaran hitam di bawah matanya… dan oh, dia bahkan punya beberapa gigitan nyamuk di lehernya! Gavin, kau harus menghiburnya, dia tetaplah wanita yang pernah mendampingimu…” Melany terus melontarkan kata-kata lembut namun tajam.

“Tunggu, gigitan nyamuk?” Gavin berhenti di tengah langkahnya.

Alisnya berkerut saat pandangannya beralih tajam ke arah Aura.

Dia memperhatikan bekas samar yang terlihat tepat di bawah leher mantan istrinya itu. Di sana, di tulang selangka Aura, terdapat tanda merah yang masih baru.

Tapi... itu bukan gigitan nyamuk! Semua yang hadir di sana adalah orang dewasa, dan tidak ada keraguan sedikit pun mengenai apa arti tanda-tanda itu.

“Tadi malam,” lanjut Melany, suaranya kini terdengar manja namun memojokkan. “Dia terlihat sangat kacau di atas kapal pesiar. Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya. Aku yakin dia menyendiri dan mengurung diri hanya untuk menangis.”

Kata-katanya dipenuhi kebencian terselubung, sebuah upaya untuk memutus segala sisa simpati yang mungkin masih dimiliki Gavin terhadap Aura.

Wajah Gavin langsung mengeras. Dia berjalan mendekat, menyambar lengan Aura dengan kasar.

“Kenapa ada bekas itu di lehermu?” tanya Gavin dengan suara rendah yang penuh ancaman. “Dengan siapa kau bercumbu semalam, Aura?!” bentaknya berapi-api.

Bersambung...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    9. Sisi lain Aura

    “Tapi, jangan senang dulu. Tempat ini pasti ada cctv, kan? Mereka pasti merekam semuanya dalam kualitas HD yang sempurna.”“Diam! Aku dan Gavin tidak bersalah!” teriak Melany histeris. Dengan air mata yang mulai berlinang, dia menoleh pada Gavin."Gavin, lihat dia! Walaupun dia merasa aku yang salah, dia tidak berhak menghancurkan hidupku seperti ini! Aku bisa menerima tamparan darinya, tapi mengancam reputasiku? Itu sudah keterlaluan!" rengeknya.Hati Gavin melunak melihat tangisan Melany. Rahangnya mengatup rapat saat menatap Aura dengan penuh kejengkelan."Aura! Kalau kau punya masalah, selesaikan denganku! Kenapa kau harus melibatkan Melany? Jujur saja, aku masih tidak tahu apa yang kau lakukan pada kakekku sampai dia begitu membelamu, tapi sekarang kau bertingkah seperti—”PLAK!Satu tamparan keras kembali bergema. Kali ini, tangan Aura mendarat di pipi Gavin. Tamparan itu sangat kuat hingga membuat Gavin terhuyung dan pipinya membengkak dalam hitungan detik.Gavin terdiam, berke

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    8. Skandal

    “Tentu saja, aku tidur dengan seseorang tadi malam. Tapi, kau tahu sendiri kan, itu bukan lagi urusanmu!” ucap Aura tegas, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Gavin.Aura menyunggingkan senyum provokatif sebelum melanjutkan ucapannya. "Pria itu memiliki tubuh yang sangat memikat. Dan untuk hal lainnya, yah, dia sangat tahu bagaimana cara memuaskanku di atas ranjang. Tidak heran tanda ini sampai membekas di sekujur tubuhku."“Kau...” Gavin tersedak oleh amarahnya. Kata-kata yang hendak ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokan, berubah menjadi kenyataan pahit.Nada acuh tak acuh dari Aura, ditambah dengan sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa malu, benar-benar menyulut api kemarahan di dada Gavin.“Dan aku hanya ingin kau tahu. Pria itu memang pantas mendapatkan tubuhku. Bagiku dia yang terbaik, bahkan mungkin pria terbaik yang pernah aku temui,” desis Aura pelan, ia tersenyum tipis saat melihat raut wajah Gavin yang kian memerah padam.“Tapi jangan terlalu dipiki

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    7. Tanda Merah!

    "Pria ini tidak hanya terampil, tapi dia juga ahli di bidangnya. Refleksnya sangat tajam, secepat kucing, dan sangat terasah. Jelas sekali bahwa dia sudah dididik sejak kecil, sama seperti diriku," gumam Aura sambil memutar gelas di genggamannya.Baginya, Kellan adalah tipe pria yang tidak hanya akan berjuang sampai akhir, tapi juga akan menyeret siapa saja masuk ke jurang bersamanya. Aura bisa melihat dari matanya, pria itu berani mengambil risiko, bahkan di saat peluangnya sangat kecil.Saat pikiran-pikiran itu berkelebat di kepalanya, tiba-tiba ponsel Aura berdering nyaring seperti sekumpulan lebah yang sedang marah. Awalnya dia mengabaikan benda pipih itu, tapi deringnya tidak kunjung berhenti. Akhirnya, Aura menggeser layar dan puluhan panggilan tak terjawab langsung memenuhi notifikasinya.Sekarang sudah pukul setengah sembilan pagi. Aura punya janji bertemu dengan Gavin guna menyelesaikan urusan perceraian.Sambil memandangi dirinya di pantulan cermin, Aura menghela napas pa

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    6. Buas

    Alis Aura berkerut, giginya tanpa sadar menekan bibir Kellan sehingga rasa amis darah yang tajam membanjiri mulut mereka berdua. Meski darah sudah mengalir dari bibirnya, Kellan sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Sebaliknya, ia memeluk tubuh Aura lebih erat, sentuhannya semakin kasar dengan napas yang memburu. BUGH! Aura bergerak dengan sigap. Ia melayangkan tinjunya ke perut Kellan dan memberikan tendangan cepat ke arah lutut pria itu. Tanpa persiapan, Kellan jatuh tersungkur ke lantai. Mulutnya penuh dengan darah, seolah-olah organ dalamnya terkoyak akibat serangan mendadak itu. Sebelum berhasil bangkit dari lantai, Kellan merasakan moncong senjata yang dingin dan keras menempel tepat di dahinya. Dari atas, tampak Aura sedang menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang menghitung waktu sebelum maut menghampiri. Dengan tangannya yang bertumpu di dinding, Aura berusaha menjangkau sakelar lampu, ingin melihat wajah Kellan dengan jelas di bawah cah

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    5. Pria Asing?

    Kemarahan Rebecca masih terasa nyata, bahkan saat mereka masuk kedalam lounge pribadi, wanita itu masih terus mengumpat kesal. "Si brengsek Danny Mason itu seharusnya dilempar saja ke tengah laut untuk jadi makanan hiu!" Walaupun Aura sendiri lah yang tadi memberikan pelajaran pada pria bernama Danny, tapi kemarahan Rebecca jauh lebih membara."Tenanglah," ucap Aura. Ia menyodorkan segelas anggur untuk menenangkan sahabatnya itu."Jangan khawatir. Tidak ada satu orang pun di planet ini yang bisa menyentuhku tanpa izin," tambah Aura dengan nada bercanda. "Tentu saja, si pecundang Danny itu tidak akan bisa menyentuhmu," jawab Rebecca. "Saat kau menjalankan misi di negara Q dulu, kau bahkan bisa mengalahkan penjahat kelas kakap yang sesungguhnya. Sampah tak berguna seperti Danny tidak ada apa-apanya," ucapnya lagi. "Kalau begitu, tarik napas dalam-dalam. Masih ada setengah jam sebelum perjamuan utama dimulai. Malam masih panjang, Becca. Jangan biarkan pria-pria tampanmu menunggu ter

  • Rahasia Istri Yang Terabaikan    4. Salah Lawan!

    Sementara itu, di salah satu lounge pribadi kapal pesiar yang eksklusif, Melany sedang menikmati pujian kekaguman dari teman-teman Gavin. "Mari kita bersulang untuk menyambut Nona Melany yang baru saja kembali dari luar negeri!" seru salah satu dari mereka sembari mengangkat gelas kristal di tangannya. "Tuan Gavin, Anda benar-benar pria yang beruntung. Memiliki wanita yang luar biasa dan anggun seperti Nona Melany, adalah impian semua orang!" tambah yang lain dengan nada memuji. "Aku dengar Nona Melany memenangkan juara pertama dalam kompetisi parfum internasional lima tahun lalu. Benar-benar bintang yang sedang bersinar," sahut suara lain yang membuat suasana semakin meriah. Ekspresi Melany tetap tenang dan elegan saat mendengar sebutan "juara pertama" tersebut. Dengan nada rendah hati, ia melirik Gavin dengan tatapan mesra. "Itu merupakan sebuah kebetulan. Aku bukan ahli parfum sejati. Aku hanya mendalami bidang ini karena seseorang yang sangat aku sayangi menyukainya." Karin,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status