LOGINLevana pulang lebih awal dari sebelumnya. Setelah bertemu dengan Fandi, dia merasa ketenangannya terusik. Dia takut tiba-tiba saja Galen mencari tahu tentang Birru dan mengambil paksa Birru dari hidupnya. Demi Tuhan, jika itu terjadi, Levana hanya akan berakhir menjadi gila detik itu juga.
“Birru mana, Sus?” tanya Levana kepada pengasuh putranya tersebut ketika sudah sampai rumah.
Menunjukkan ekspresi tidak tenangnya, Levana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ketakutannya mencengkram kuat dalam jiwanya. Dia bisa kehilangan apa pun di dunia ini, tetapi tidak dengan Birru.
Birru adalah hidupnya, jantungnya, dan mana mungkin dia bisa hidup jika jantungnya pergi dari raganya.
“Mas Birru main air di belakang, Bu. Baru aja.” Jawaban perempuan itu disertai dengan mengangkat handuk milik Birru untuk menunjukkan kepada Levana.
Levana tidak menunggu apa pun lagi ketika dia langsung melangkahkan kakinya ke belakang rumahnya. Kelegaan itu menghujani hatinya ketika melihat Birru tengah bermain air di kolam plastik hanya dengan mengenakan celana pendek.
Ya Tuhan, hanya melihat senyum bocah itu saja Levana merasa bahagia luar biasa. Dia singkirkan sejenak perasaan tidak nyaman yang ada di hatinya untuk memberikan balasan senyum untuk Birru.
“Mama udah pulang.” Begitu katanya sambil melonjak-lonjak. Tak lupa menunjukkan cengiran antusias kepada Levana karena kedatangan ibunya. “Birru mau renang-renang, Ma,” katanya dengan bahagia.
Levana mendekati kolam tersebut dan mengelus puncak kepala Birru dengan sayang. Menatap lekat pada bocah kecil itu dengan seksama seolah sudah lama tidak bertemu.
Tuhan, Birru adalah kebahagiaan yang tidak bisa diganti dengan apa pun. Mengesampingkan segala gundahnya, Levana mencoba untuk tidak terlihat penuh pikiran. Dia tak ingin membuat Birru melihatnya bersedih.
“Kalau begitu, Birru renang-renang aja. Mama ke kamar dulu.”
“Oke, Mama.”
Hanya jawaban itu saja yang dibutuhkan oleh Levana ketika dia berbalik pergi dari halaman belakang. Memutuskan memanjat tangga untuk bisa sampai ke kamarnya, Levana perlu menentramkan batinnya yang berkecamuk. Dia harus mengembalikan suasana hatinya yang sudah terlanjur porak-poranda akibat Galen.
Alih-alih segera merebahkan tubuhnya ketika sampai di kamar, Levana justru menyibak gorden yang menutupi pintu balkon. Angin sore terasa sepoi menghantam wajahnya. Levana duduk di kursi yang berada di sana dan mendongak menatap langit.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan?” tanyanya sambil menatap awan yang bergerak pelan. “Aku tidak ingin berurusan dengan Galen lagi, tetapi aku tahu laki-laki itu tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Levana jelas tahu betul sifat lelaki itu. Galen bukan orang yang mudah dipukul mundur. Lima tahun tidak bertemu, Levana yakin Galen semakin keras kepala. Terbukti lelaki itu mampu menganggapnya tidak ada di pertemuan pertama mereka setelah lima tahun tidak bertemu.
Ya, Levana menyadari sikap Galen itu sangat wajar mengingat apa yang sudah dia lakukan kepada lelaki tersebut. Dia sudah menorehkan luka dalam yang tidak termaafkan. Meninggalkan seseorang di titik terendahnya adalah sebuah dosa besar. Tak hanya itu, dia juga sudah menjauhkan Galen dengan anak yang sangat dicintainya.
“Tapi, dia sudah punya istri, ‘kan? Dia seharusnya tidak perlu mengusik kami lagi.” Levana terus berkata kepada keheningan yang mencekam.
Meskipun Galen sudah menikah, bukankah tidak mengingkari fakta jika Galen adalah ayah biologis Birru. Lelaki itu berhak atas putranya. Pikiran itu berkecamuk rumit.
Memejamkan mata, Levana mencoba terus mengingatkan dirinya untuk tenang. Dia harus mengurai satu per satu benang berantakan yang saling membelit isi kepalanya. Menolak Galen memang tidak mudah, tetapi dia akan berusaha. Levana akan memberikan pengertian kepada lelaki itu agar tidak perlu lagi melibatkan diri dengan Birru.
Toh pada akhirnya nanti, Birru juga tidak akan diterima oleh keluarga lelaki itu. Mungkin atas dasar itulah dia bisa ‘bernegosiasi’ dengan Galen. Keberadaan Birru di hidup Galen hanya akan menambah masalah baru dalam keluarga lelaki itu. Ibunya pasti akan menolak secara terang-terangan.
Levana ingat betul bagaimana seorang Retno Hamiruddin dengan suara lantang tidak menginginkan cucu yang dilahirkan dari rahimnya.
“Mama.” Suara itu terdengar dari luar kamar Levana, menyentak kesadaran perempuan itu. Birru membuka pintu dan tersenyum lebar sebelum langka-langkah kakinya memupus jarak antara Levana dan Birru.
“Udah ganteng anak Mama.” Begitu kata Levana sambil merentangkan kedua tangannya.
Birru masuk ke dalam pelukan ibunya dan segera, wangi minyak telon bercampur parfum anak langsung memenuhi penciuman Levana. Meskipun sudah berusia lima tahun, suster Birru masih mengolesi minyak telon di perut dan punggungnya setiap selesai mandi.
“Mama, ayo kita jalan-jalan.” Bocah itu merangkum wajah Levana dengan kedua tangannya yang kecil. “Naik motor sama Mama seperti dulu-dulu.”
Sudah berapa bulan Levana sibuk dengan pekerjaannya sampai dia tak memiliki waktu untuk putranya. Dia pergi bekerja bebarengan dengan Birru berangkat sekolah, dan sering pulang malam ketika putranya sudah tidur. Kalaupun belum tidur, Birru sudah lelah dengan aktivitasnya sehari-hari.
“Jalan-jalan ke mana?” tanya Levana dengan lembut. “Birru nggak capek apa?”
“Birru mau keliling aja sama Mama naik motor. Nanti beli balon tiup Mama.”
Levana terkekeh kecil mendengar permintaan sederhana yang diinginkan oleh Birru. Dia pasti akan merasakan menjadi jahat jika menolak permintaan sederhana tersebut dari Birru.
“Kalau begitu, tunggu Mama, ya. Mama mandi dulu. Boleh?”
“Oke!” Birru mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum indahnya.
Semakin lama, Birru tumbuh menjadi mirip dengan Galen. Ada satu waktu di mana Levana merasa tercubit hatinya ketika dia melihat bocah itu yang tindak tanduknya mengingatkannya pada sosok sang ayah.
Mereka pergi setengah jam setelah itu. Levana membawa Birru jalan-jalan menggunakan motor seperti yang diinginkan oleh sang putra. Berhenti di sebuah taman tak jauh dari rumah, mereka duduk di kursi taman sambil menikmati waktu berdua.
Birru langsung mengeluarkan balon tiup dan mulai memaikannya. Levana merasa suasana hatinya sedikit membaik setelah berkeliling dengan putranya. Melihat Birru yang tampak begitu bersemangat itu pun membuatnya bisa meredam gejolak rasa duka yang menggema.
***
“Jadi, apa yang kamu dapatkan?”
Galen melemparkan pertanyaan kepada Fandi sambil tangannya sibuk membubuhkan tanda tangan pada dokumen penting. Di ruangannya hanya ada dirinya dan Fandi ditemani dengan detik jam yang membuat waktu terus berjalan.
“Saya tidak sengaja bertemu dengan Ibu dan Mas Birru, Pak.”
Praktis, tangan Galen segera terhenti ketika jawaban itu meluncur dari mulut Fandi. Kemudian dia mendongak untuk sekedar memberikan tatapan menilai pada asisten pribadinya tersebut.
“Kamu bilang kamu bertemu dengan mereka?” ulang Galen sekedar untuk meyakinkan pendengarannya. “Dengan Birru?”
Fandi tidak perlu mengatakan apa pun ketika dia mengambil ponselnya. Dia lantas mengotak-atiknya sebentar lalu memberikan kepada Galen. Foto candid itu langsung tersaji di depan matanya. Levana dengan seorang bocah sambil meniup balon.
Seluruh saraf Galen seakan mati dan dia terpekur dalam diam. Untuk pertama kalinya dalam hidup setelah Levana membawa pergi putranya, kini dia bisa melihat bocah itu lagi meskipun lewat layar ponsel. Jantungnya berdentam kencang mengacaukan segala kewarasan.
“Bapak bisa menggesernya karena ada banyak foto di sana. Ada potongan video pendek yang berhasil saya rekam.”
Dengan tangan sedikit gementar, Galen melakukan apa yang dikatakan oleh Fandi. Dia menggeser layar itu ke kanan dan mendapati foto Levana dan Birru sedang tertawa. Tawa lebar itu terlihat di bibir Birru menunjukkan kebahagiaan.
Bocah itu tampan dengan potongan rambut pendek dan rapi. Birru mengenakan kaos biru dan celana pendek. Kakinya dilapisi sepatu putih dan penampilannya sungguh keren. Galen melahap gambar-gambar itu dengan tatapannya sampai selesai. Kini dia tak bisa lagi merasa tenang.
“Kirimkan ke hp saya, Fan. Kamu boleh pergi.”
Galen tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Suasana hatinya mendadak mendung. Dokumen-dokumen yang sejak tadi menjadi fokusnya sebelum foto-foto itu menggantikannya, kini sudah tertepikan.
Suara langkah kaki Fandi menjauh membuat Galen menutup matanya rapat. Tanpa dia sadari, luka masa lalu yang berusaha dia balut itu kini mengeluarkan rasa sakit yang jauh lebih mengerikan.
Mengangkat gelas minumnya, dia langsung menenggak air putih itu sampai tandas. Tak cukup di sana, dia berdiri menuju kulkas yang ada di pojok ruangan. Mengambil satu minuman bersoda dan langsung menghabiskannya. Rasa terbakar di tenggorokannya tak dia indahkan karena rasa sakit hatinya jauh lebih besar.
“Ya Tuhan.” Galen memukul tepat di jantungnya mencoba mengurai rasa sakitnya. “Ya Tuhan.”
Dengan kaki yang tremor, Galen sampai di sofa dengan hati yang porak-poranda tak karuan. Dia nyalakan laki ponselnya, lalu melihat foto-foto itu berulang-ulang. Buncahan rindu itu seakan menggulung hatinya tiada ampun.
Tanpa terasa, setitik air mata itu muncul di sudut matanya. Titik itu nyatanya berubah menjadi aliran tipis di pelipisnya. Mengusapnya dengan kasar, lelak itu tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Fandi!” teriaknya dari dalam ruangannya.
Tanpa panggilan yang kedua kali, Fandi masuk ke dalam ruangan Galen. “Saya, Pak.”
“Hubungi dia dan desak perempuan itu untuk mengatur pertemuan atau saya akan benar-benar merealisasikan ucapan saya.” Setiap ucapannya penuh penekanan. “Saya hanya bisa menahan diri sampai besok atau dia akan kehilangan Birru.”
“Baik, Pak.” Fandi langsung memahami apa yang harus dilakukan. “Tapi, Pak, saya sudah menemukan di mana Mas Birru sekolah.”
Hanya sepersekian detik ketika Galen mendongak dan menatap laki-laki berkaca mata tersebut dengan ketertarikan yang hakiki. Laki-laki itu berdiri dan tanpa pertimbangan dia langsung bertitah, “Kita ke sana sekarang!”
Sejujurnya, Galen sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menemui Levana dan mengurus sendiri semuanya. Namun, ada sisi hatinya yang menolak untuk melakukan itu dan pada akhirnya memerintahkan Fandi untuk menggantikannya.
“Bapak, sebentar lagi ada meeting.”
“Batalkan, atau kamu bisa menjadwal ulang!” Galen melangkah lebih dulu. Namun, baru saja sampai di depan pintu, justru sekretarisnya yang menghadang.
“Lima belas menit lagi, meeting akan dimulai, Pak.”
“Cancel,” katanya dengan ringan. “Ada hal lebih penting yang harus saya lakukan sekarang.”
“Pak, hanya sebentar. Ini soal gudang baru yang ada di Kalimantan.”
“Ada apa lagi sekarang?” Galen sedikit membentak. Kepalanya sudah dipenuhi dengan masalah putranya dan dia ingin semuanya cepat terselesaikan. “Kita sudah menyelesaikan masalah gudang baru itu di meeting bulan kemarin, Vio.”
“Kali ini ada masalah baru lagi, Pak. Beberapa alat kontruksi dicuri dan beberapa pekerja tidak bisa bekerja.”
“Astaga!” Galen kali ini tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak.
Dia bahkan sudah meninggikan suaranya dan memarahi Fandi mengingat lelaki itu tidak mengatakan apa pun tadi. Vio pun mengatakan jika kabar itu baru saja diterima olehnya. Hal ini membuat Galen harus menekan amarahnya dan meluapkan pada peserta rapat.
Galen kali ini merasa jika semesta mensabotase hidupnya. Untuk bertemu dengan putranya saja, dia harus dihadapkan masalah yang membuatnya sakit kepala.
***
Hari masih pagi, Levana turun ke lantai bawah hanya untuk sekedar menghirup udara pagi yang menyejukkan. Hari ini minggu, dan Galen masih bergulung di dalam kasur bersama kedua anaknya. Dia kembali tidur setelah subuh dan Levana membiarkannya.Tak lama para ART muncul untuk mulai bekerja. Ada yang bersih-bersih, ada yang memulai membuat sarapan. Mereka tahu di hari minggu seperti ini sarapan sedikit lebih lambat. Tuan rumah mereka akan bangun telat.“Ibu mau dibuatin sesuatu nggak? Biasanya kan sarapannya agak siangan.” Salah satu Bibi menawarkan kepada Levana.“Nggak perlu, Bik. Makasih. Nanti aku buat sendiri kalau lapar.”Bibi memilih kembali ke dapur setelah itu dan meninggalkan Levana seorang diri. Angin pagi yang segar sebelum matahari muncul menjadi salah satu favorit Levana. Dia bisa berlama-lama di halaman rumah hanya untuk menatap langit dan menikmati aroma pagi yang menenangkan.Tamu datang tak lama setelah itu. Levana sedikit menyipitkan matanya sebelum tamu tersebut masuk
Duduk berdua dengan sang istri sambil melihat anak-anak bermain dengan riang adalah salah satu bayangan Galen sejak dulu. Sekarang terealisasi.Di siang hari sebelum makan siang, di weekend yang damai, Galen dan Levana bersantai di halaman belakang sambil ditemani suara tawa Birru dan Ivory. Ivory sudah mulai belajar berjalan dan sudah bisa diajak bermain oleh sang kakak.Birru yang dulu melihat adiknya bisa berdiri dan melangkahkan kakinya, tampak bahagia luar biasa. Tanpa diminta oleh siapa pun, dia langsung mengambil ipad-nya dan merekam adiknya.“Jadi, cukup dua aja atau mau nambah satu lagi?”Melihat dua anaknya yang tampan dan cantik tentulah membuat Galen merasa jika produk yang dihasilkan olehnya dan Levana adalah bibit unggul. Tak masalah kalau dia punya lebih dari dua.“Cukup dua aja. Pabriknya tutup.” Levana menyandarkan tubuhnya pada tubuh Galen masih sambil memantau kedua anaknya.“Bisa dibuka lagi, ‘kan? … pabriknya.” Semilir angin menerbangkan rambut Levana dan mengenai
“Birru, kok sendirian?” Birru yang sibuk dengan tabletnya itu menoleh ke arah sumber suara. Dalam satu hari, Birru mendapatkan kesempatan dua jam untuk bermain gadget dan dia sekarang tengah menggunakan kesempatan itu dengan baik.“Iya,” jawabnya singkat sebelum kembali fokus pada tabletnya.Yang bertanya adalah Retno yang baru sampai ke rumahnya. Tidak bersama siapa pun, hanya sendiri. Birru sama sekali tidak peduli dengan neneknya tersebut.Retno duduk di sofa single sambil menatap pada cucunya yang tampak begitu tak acuh. Seperti Retno yang tidak pernah mengakui Birru di masa lalu, sekarang Birru pun melakukan hal yang sama.Waktu sudah berlalu, tetapi tidak ada yang berubah dalam hubungan mereka. Bahkan Birru pun tidak pernah memanggil Retno sama sekali seakan tahu jika hubungan mereka memang tidak bagus.“Om Dante ke mana kok kamu di sini sendirian?” tanya Retno lagi.“Lagi ada urusan sebentar.” Meskipun singkat, tetapi Birru tidak pernah tidak menjawab pertanyaan Retno.“Kamu ma
Ivory Leora Wiraguna menjadi penambah kebahagiaan dalam keluarga Galen dan Levana. Setelah drama melahirkan yang berjalan hampir dua puluh empat jam, akhirnya dia lahir bergabung dengan sesaknya dunia.Birru yang melihat adik cantiknya sudah terlahir itu enggan melakukan apa pun. Bahkan untuk pergi ke sekolah pun harus melalu drama panjang.“Mama, Mas mau sama Adek.” Begitu katanya ketika dia diminta untuk bersiap sekolah.“Nanti sepulang sekolah juga kan sama Adek lagi, Mas. Sekarang Mas pergi sekolah dulu. Lagian sekolahnya juga nggak lama.”“Tapi kalau Mas Birru di sekolah suka kepikiran Adek, Ma.”“Mikirin Adek boleh, tapi jangan sampai Mas Birru nggak fokus sekolahnya.”Itulah kira-kira rentetan percakapan antara Birru dan Levana di suatu pagi. Birru yang tak mau sekolah dengan banyak sekali alasan. Ya, mungkin karena masih senang-senangnya dia menjadi seorang kakak.Jarak usia Birru dan Ivory yang cukup jauh membuat Birru sudah paham bagaimana menjadi seorang kakak. Sebelumnya s
“Udah berapa lama kira-kira kita udah nggak ketemu, ya, Bu? Terakhir kali sepertinya waktu lahirannya Naka.”“Iya, Bu. Kalau nggak ada acara begini saya milih di rumah aja. Perjalanan jauh begini kasihan papanya Heydar.”Obrolan ibu dan mertua Gia itu kembali terjalin setelah semua orang sudah pamit pulang. Tinggal orang tua Gia dan orang tua Heydar yang tetap ada di sana karena mereka memutuskan untuk menginap.Retno sebenarnya menolak rencana tersebut, tetapi pada akhirnya menyetujuinya. Galen sudah membawa istri dan anaknya pulang karena Levana pun sudah tampak kelelahan. Hamil tua membuat tenaga perempuan itu terasa tersedot habis meskipun tidak ada banyak hal yang dilakukan.“Tapi, udah nggak pernah kumat-kumat lagi ‘kan, Bu, sakitnya papanya Heydar? Waktu saja dikabari kalau waktu itu masuk rumah sakit lagi, saya juga cemas.”“Alhamdulillah, Bu. Ya, sekarang kalau di rumah saya nemani jalan setiap pagi. Yang penting harus dibuat gerak aja tubuhnya biar nggak lemes.”Obrolan itu
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Gia akan menempati rumah barunya sebelum Levana melahirkan. Setelah perabotan rumah tangga sudah terpenuhi di rumah tersebut, saatnya keluarga kecil itu berpindah rumah.Kebahagiaan itu tampak tumpah ruah tidak karuan. Levana yang perutnya sudah membesar itu hanya melihat orang-orang sibuk menyiapkan makanan.“Mbak Leva, Ibu buatkan jamu buat Mbak Leva.” Itu adalah ibu mertua Gia. Perempuan berhijab itu tampak begitu keibuan.Sejak awal mengenal Levana beberapa waktu lalu, perempuan paruh baya itu sangat perhatian dengan Levana. Jika mereka bertemu pun ada banyak sekali wejangan yang diberikan terkait kehamilan.Levana merasa memiliki ibu dan diperhatikan dan itu membuat hatinya menghangat. Andai saja dia memiliki ibu mertua sebaik itu, Levana pasti akan membalasnya tak kalah baiknya.“Terima kasih, ya, Bu. Ibu udah banyak banget buatin saya ini dan itu.” Levana tersenyum tulus ketika menatap perempuan itu.“Nanti sebelum Ibu pulang, Ibu aka







