LOGINLangkah kaki berat yang menggema dari koridor membuat tangan Selir Layla berhenti tepat sebelum menghantam wajah Nayla untuk kedua kalinya.
Layla menarik kembali tangannya dengan sentakan kaku, sementara matanya melebar menatap ujung lorong yang temaram.
Semua mata menoleh ke arah sumber suara dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Mereka mengira sang penguasa tertinggi yang akan muncul memergoki keributan ini.
Namun, bayangan tubuh tinggi tegap yang perlahan keluar dari kegelapan balkon bukanlah Sultan Azfar.
Melainkan Panglima Rafiq yang melangkah maju dengan keangkuhan seorang prajurit sejati.
Zirah besi berlapis perak miliknya berkilau tajam tertimpa cahaya matahari senja, memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat. Pedang panjang yang bertengger di pinggang kirinya bergesekan dengan zirah, menciptakan bunyi konstan yang menciutkan nyali.
Rafiq muncul dengan wajah sedingin es batu. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menyapu seisi taman, mengunci pergerakan setiap orang di sana.
Semua selir langsung berubah sikap dalam hitungan detik setelah menyadari siapa yang berdiri di hadapan mereka. Sifat angkuh dan kejam yang mereka pamerkan beberapa saat lalu mendadak menguap tanpa bekas.
Safiya segera menarik napas dalam-dalam lalu memasang wajah sedih yang teramat sangat, seolah dialah korban yang teraniaya di sini
Layla buru-buru merapikan gaun sutra transparannya yang sedikit bergeser akibat emosi yang meluap-luap tadi. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan kilat amarah yang masih tersisa di matanya.
Amira dan Jihan mundur beberapa langkah ke belakang punggung Safiya, mencoba menjauhkan diri dari pusat perhatian sang panglima tertinggi kerajaan.
Mereka tahu betul betapa tegasnya pria yang memimpin seluruh pasukan Kesultanan Qamar ini.
Nayla masih terduduk di tanah berbatu dengan tubuh yang gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendera.
Pakaian pelayan barunya yang berwarna putih kini telah kotor dipenuhi debu dan noda tanah kelam.
Bibirnya berdarah, mengalirkan cairan hangat berbau anyir yang terus menetes dari sudut bibirnya yang pecah akibat hantaman cincin Safiya. Kulit pipi kirinya pun mulai membengkak kemerahan.
Jemarinya yang diinjak tadi sulit digerakkan, terasa kebas dan berdenyut nyeri yang teramat sangat di atas tanah. Ia mencengkeram pergelangan tangan kirinya sendiri dengan tangan kanan yang ikut bergetar, mencoba mengurangi rasa sakit.
Rafiq menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di hadapan para wanita harem yang masih membisu. Ia menaruh sebelah tangannya di atas hulu pedang, memandang mereka dengan tatapan menilai yang sangat dingin.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Rafiq dengan suara bariton yang berat dan berwibawa, menggema kuat di sepanjang koridor taman.
Semua diam, tidak ada satu pun selir yang berani membuka suara di bawah tatapan mengintimidasi milik sang panglima.
Safiya maju duluan dengan langkah anggun yang sengaja dibuat sedikit gontai, seolah tubuh seksinya yang menyerupai gitar Spanyol itu tengah melemas karena syok. Ia mengusap sudut matanya yang kering dengan selembar saputangan sutra mahal.
Safiya mendongakkan wajah cantiknya, menatap Rafiq dengan sepasang mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.
Safiya pura-pura menangis, membiarkan suara tangisan kecil yang terdengar sangat malang dan rapuh lolos dari bibir merah meronanya. "Panglima... syukurlah Anda datang tepat waktu untuk menyelamatkan kehormatan kami."
"Syukurlah Anda datang. Kami hampir diperlakukan tidak sopan oleh pelayan baru ini," lanjut Safiya sembari menunjuk ke arah Nayla dengan jari yang gemetar dramatis.
Rafiq menoleh ke Nayla, memperhatikan tubuh mungil yang masih meringkuk kesakitan di atas tanah berdebu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sorot mata sang panglima tampak mengeras, namun ia tetap memilih untuk tidak langsung mempercayai apa yang ia lihat.
Safiya melanjutkan penjelasannya dengan nada suara yang dibuat seolah-olah hatinya sangat terluka. "Pelayan sekarang sudah pandai membentak tuannya sendiri, Panglima. Dia merasa posisinya di kamar tidur Sultan membuatnya berada di atas hukum."
Layla ikut menambahkan dengan nada berapi-api, mencoba memperkuat kebohongan yang dirajut oleh Safiya. "Dia berkata kami takut kehilangan perhatian Sultan! Dia menuduh kami cemburu pada pelayan rendahan seperti dirinya!"
Amira tidak mau kalah dan ikut memanaskan situasi. "Dia menghina martabat para selir resmi yang telah sah terdaftar di dewan kerajaan! Tindakannya benar-benar keterlaluan dan merendahkan harga diri kami!"
Jihan menutup rentetan tuduhan itu dengan desisan tajam dari balik kipas bulunya. "Kalau kami tidak mengajarinya sopan santun, besok semua pelayan di istana ini akan berani melawan dan menginjak-injak harga diri kami!"
Nayla diminta bicara oleh sang panglima yang kini kembali memalingkan wajah tegasnya ke arah bawah. Keheningan kembali merayap di antara mereka, menunggu pembelaan apa yang akan keluar dari mulut pelayan yang dituduh itu.
Rafiq melihat Nayla dengan pandangan yang sangat dalam, mencoba membaca kejujuran dari sepasang mata gadis desa itu yang bergetar. "Apa benar begitu, Pelayan? Apakah kau mengeluarkan kata-kata yang menghina para selir?"
Nayla menunduk semakin dalam, menatap serpihan batu tajam di bawah tubuhnya dengan perasaan yang campur aduk. "Hamba..."
Safiya langsung memotong ucapan Nayla sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimat pertamanya. "Lihat! Dia bahkan masih berpura-pura tidak bersalah dengan wajah polosnya yang menjijikkan itu, Panglima!"
Rafiq mengangkat tangan kanannya ke udara,"Biarkan dia menjawab pertanyaanku sendiri, Selir. Aku tidak meminta Anda untuk mewakilinya."
Nayla tetap diam, menelan kembali bantahan yang sudah berada di ujung lidahnya yang terasa kelu dan pahit. Ia tahu betul posisi dan kastanya di tempat terkutuk ini.
Nayla menimbang setiap konsekuensi yang akan ia hadapi jika ia nekat bersuara jujur di depan pria berkuasa ini. Kalau aku membela diri sekarang, mereka akan semakin membenciku dan mencari cara yang lebih kejam untuk melenyapkanku.
Kalau aku berkata jujur tentang bagaimana Safiya menampar dan menginjak jemariku, mereka akan membalasnya nanti saat tidak ada orang yang melihat.
Ia akhirnya memilih diam, mengambil jalan tengah yang paling aman untuk melindungi nyawanya dan juga rahasia malam itu. "Hamba tidak ingin memperpanjang masalah ini, Panglima. Biarkan hamba menerima kesalahan hamba."
Rafiq mulai curiga setelah mendengar jawaban pasrah yang keluar dari bibir pelayan berusia dua puluh satu tahun tersebut. Sebagai seorang panglima perang yang sering menginterogasi musuh, ia tahu betul perbedaan antara ekspresi bersalah dan ekspresi tertekan.
Rafiq memperhatikan dengan sangat jeli pada tubuh mungil di hadapannya. Matanya yang tajam menangkap kilatan cairan hangat yang masih basah di sela-sela kulit wajah Nayla.
Pipi Nayla bengkak kemerahan, membentuk pola hantaman keras yang sangat kontras dengan warna kulit aslinya yang sawo matang bersih. Jejak kekerasan itu terlalu nyata untuk diabaikan.
Bibir berdarah dengan luka robek yang cukup dalam di sudut kanan, menandakan adanya benturan benda keras yang disengaja. Rafiq melirik cincin bermata zamrud besar yang melingkar di jari Selir Safiya.
Gaun kotor berdebu tanah taman dan beberapa bagian robek kecil di area lutut, membuktikan bahwa gadis ini dipaksa tersungkur dengan kasar di atas tanah. Tidak ada pelayan pribadi yang akan sengaja mengotori pakaian tugas mereka.
Jemari memerah di tangan kiri Nayla tampak mulai membiru, dengan beberapa bekas goresan tumit sepatu yang sangat jelas terlihat. Rafiq tahu betul bahwa luka seperti itu tidak akan tercipta hanya karena adu mulut biasa.
Lalu melihat ke arah sebaliknya, di mana empat selir berdiri rapi tanpa ada satu pun goresan atau noda di gaun sutra mahal mereka. Penampilan mereka terlalu sempurna untuk seseorang yang mengaku hampir diserang oleh pelayan rendahan.
"Aku hanya melihat empat selir berkuasa sedang mengepung satu pelayan kecil yang tidak berdaya," ucap Rafiq dengan nada menyindir yang sangat tajam, menatap lurus ke arah sepasang mata Safiya.
Safiya tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sarat akan tantangan politik istana. "Apa Panglima Rafiq yang terhormat hendak mengajariku tentang aturan dan tata tertib di dalam harem Sultan?"
Rafiq menegakkan tubuhnya, membalas tatapan Safiya tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya. "Aku tidak mengatur urusan harem, Selir. Itu adalah wilayah kekuasaan Sultanah Mariam dan Ibu Suri."
"Tapi aku bertugas menjaga ketertiban dan keamanan di seluruh area istana ini, termasuk taman luar harem," lanjut Rafiq dengan penekanan yang sangat tegas pada setiap kata yang diucapkannya.
Safiya mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dadanya yang montok dengan gerakan menantang. "Kalau begitu, urusan pendisiplinan pelayan kamar tidur ini bukanlah urusan Panglima. Masuklah kembali ke barak prajuritmu."
Rafiq tidak bergeming dari posisinya, jemarinya perlahan mengetuk hulu pedangnya dengan irama yang konstan dan mengancam. "Selama tidak ada darah yang tumpah di atas tanah istana ini, mungkin kau benar."
"Tapi begitu ada darah pelayan yang tercecer akibat kekerasan fisik, itu tetap menjadi urusanku sebagai penjaga keamanan," tegas Rafiq, membuat suasana di taman itu mendadak menjadi sangat tegang dan kaku.
Adu argumen di antara dua orang yang memiliki pengaruh besar di istana itu membuat para selir lainnya mulai merasa cemas dan ketakutan. Mereka tahu konflik dengan panglima tertinggi bisa berujung buruk jika sampai ke telinga dewan kerajaan.
Safiya mencoba memancing emosi Rafiq dengan membawa-bawa status sosial Nayla yang sangat rendah di tempat ini. "Panglima yang agung rela mengotori tangannya hanya untuk membela seorang pelayan murah?"
"Tidak," jawab Rafiq dengan satu kata pendek yang terdengar sangat datar namun penuh dengan keyakinan yang kokoh.
"Lalu? Kenapa Anda terus berdiri di sini menghadang jalan kami jika bukan karena terpikat oleh wajah pelayan ini?" tanya Safiya dengan nada memprovokasi yang sangat berani.
"Aku membela keadilan yang tertulis di atas hukum kesultanan kita," sahut Rafiq dingin, menolak untuk masuk ke dalam jebakan kata-kata yang dirancang oleh selir favorit tersebut.
Safiya tertawa kecil, sebuah suara tawa hambar yang terdengar sangat meremehkan."Keadilan? Anda bicara tentang keadilan untuk seorang pelayan rendahan yang tidak memiliki nama, Panglima?"
Rafiq menatap Safiya dengan pandangan yang sangat menusuk, membuat tawa wanita seksi itu terhenti seketika dalam sekali sentakan. "Hukum Kesultanan Qamar berlaku untuk semua orang yang bernaung di bawah takhta, tanpa memandang kasta atau pakaian yang mereka kenakan."
Safiya mendengus kesal, menyadari bahwa ia tidak akan bisa menang melawan kedisiplinan dan ketegasan yang dimiliki oleh pria berzirah perak di hadapannya ini.
Rafiq mengakhiri keributan itu dengan memberikan perintah final yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun di sana. Ia memutar tubuh tegapnya, menatap keempat selir itu bergantian dengan sorot mata mengusir.
Rafiq berbicara tegas. "Semua kembali ke paviliun masing-masing sekarang juga sebelum aku melaporkan kejadian ini ke Paviliun Utama."
"Tidak ada yang boleh membuat keributan atau menumpahkan darah lagi di area taman ini selama aku masih bertugas," tambahnya dengan nada yang sangat mutlak dan tidak menerima bantahan apa pun.
Safiya kesal setengah mati, wajah cantiknya tampak mengeras penuh dengan guratan kemarahan yang tertahan. Tetapi ia tidak bisa membantah perintah dari pria yang memegang kendali atas ribuan prajurit bersenjata tersebut.
Sebelum pergi meninggalkan taman, Safiya melangkah mendekati tubuh Nayla yang masih terduduk lemas di atas tanah berdebu. Ia membungkuk sedikit, membiarkan rambut hitam panjangnya menjuntai mendekati telinga Nayla.
Safiya berbisik dengan suara yang sangat rendah. "Keberuntunganmu tidak akan selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu, Pelayan Sialan. Esok hari, aku akan memastikan kau lenyap."
Nayla tidak menjawab ancaman itu, ia tetap menutup matanya rapat-rapat sampai suara gesekan gaun sutra keempat selir itu perlahan menghilang menjauh menuju paviliun mereka.
Setelah semua pergi dan keheningan kembali menguasai taman mawar, atmosfer di tempat itu berangsur-angsur melunak. Langkah kaki berat zirah besi kembali terdengar mendekat ke arah tubuh mungil Nayla.
Rafiq mendekati Nayla dengan gerakan yang jauh lebih santai daripada sebelumnya. Nada suaranya kini terdengar jauh lebih tenang dan bersahabat, kehilangan seluruh sisa ketegasan yang ia pamerkan di depan para selir tadi.
"Bisa berdiri, Pelayan?" tanya Rafiq sembari mengulurkan sebelah tangannya yang besar dan kokoh ke arah Nayla yang masih meringkuk di atas tanah.
Nayla mencoba berdiri sendiri, bertumpu pada kaki kanannya yang gemetar hebat menahan rasa lemas yang luar biasa akibat syok. Namun, begitu seluruh beban tubuhnya bertumpu pada kakinya, keseimbangannya hilang dan tubuhnya hampir jatuh tersungkur untuk kedua kalinya.
Rafiq menahan lengannya dengan sigap, cengkeraman tangan besarnya di bawah siku Nayla terasa sangat kuat dan hangat, mencegah tubuh gadis itu menyentuh tanah.
Nayla langsung mundur selangkah dengan terburu-buru begitu menyadari kedekatan fisik mereka, buru-buru melepaskan diri dari sentuhan sang panglima perang. "Maaf... mohon maafkan hamba, Panglima. Hamba bisa berdiri sendiri."
Rafiq mengangguk pelan, menarik kembali tangannya ke sisi tubuh tanpa ada rasa tersinggung sedikit pun di wajah tegasnya. "Tidak perlu takut padaku, Gadis Kecil. Aku tidak akan menyentuhmu lagi jika itu membuatmu merasa terancam."
Rafiq memalingkan wajahnya ke arah pintu gerbang taman, lalu mengangkat suaranya untuk memanggil salah satu prajurit bawahan yang berjaga di luar koridor. "Panggil tabib istana ke Paviliun Utama sekarang juga!"
Nayla panik mendengar perintah tersebut, ia tahu betul kehadiran tabib akan memicu pertanyaan baru dari pihak kepala pelayan atau bahkan Sultan sendiri. "Tidak perlu, Panglima! Kumohon jangan panggil tabib, hamba bisa mengobati luka ini sendiri di barak pelayan."
"Kalau luka bengkak di pipimu ini terlihat oleh Sultan Azfar malam ini, tabib tetap akan dipanggil ke kamarnya," sahut Rafiq dengan nada datar namun sarat akan kebenaran yang tidak bisa dibantah. "Dan kurasa kau tidak ingin Sultan menanyakan dari mana asal luka itu."
Nayla membeku seketika, kalimat Rafiq berhasil mengunci seluruh argumen pertahanan yang ada di dalam kepalanya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu benar, Sultan Azfar bukanlah pria bodoh yang bisa dikelabui.
***
Tabib datang beberapa menit kemudian dengan membawa sebuah kotak kayu berisi berbagai macam ramuan herbal dan kain kasa bersih. Pria tua berambut putih itu langsung berlutut di sebelah Nayla yang kini duduk di atas bangku taman.
Tabib mengobati luka robek di sudut bibir Nayla dengan sangat hati-hati, menggunakan sepotong kain kecil yang telah dibasahi cairan antiseptik herbal. Sensasi perih yang menyengat langsung menjalar di wajah Nayla, membuat gadis itu meringis kesakitan dengan mata terpejam erat.
Membersihkan luka dari sisa-sisa debu tanah yang menempel, lalu mengoles obat salep berwarna hijau pekat di atas permukaan kulit pipi kiri Nayla yang membengkak.
Nayla meringis pelan saat jemari tangan kirinya yang membiru dibalut dengan kain kasa hangat untuk mengurangi pembengkakan. Rasa nyeri membuatnya harus menggigit bibir bawahnya sendiri agar tidak berteriak.
Rafiq hanya berdiri tegak di dekat pilar marmer, mengawasi seluruh proses pengobatan itu dari awal hingga akhir tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia tidak banyak bicara, membiarkan keheningan itu menjadi saksi bisu atas kebaikannya yang tersembunyi.
Namun sorot matanya yang tajam menunjukkan satu hal yang sangat jelas di mata Nayla yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Ia tahu Nayla tidak bersalah dalam keributan ini, dan ia tahu gadis desa ini hanyalah korban dari permainan kekuasaan di dalam harem.
TUK! TUK! TUK!
Suara langkah kaki yang sangat tergesa-gesa dari arah koridor luar mendadak memotong keheningan proses pengobatan di taman mawar tersebut. Seorang pelayan muda dengan napas yang memburu dan wajah penuh keringat dingin berlari masuk ke dalam taman.
"Panglima! Panglima Rafiq!" seru pelayan muda itu sembari membungkuk hormat dengan tubuh yang naik turun karena kelelahan setelah berlari jauh.
"Ada apa? Jaga sikapmu di hadapan tabib," tegur Rafiq dengan alis yang bertaut rapat, merasa tidak suka dengan kegaduhan yang mendadak tercipta kembali.
Pelayan itu mendongak, menatap lurus ke arah mata Nayla dengan pandangan yang penuh dengan ketakutan yang luar biasa. "Yang Mulia Sultan Azfar... Yang Mulia Sultan memanggil Nayla untuk menghadap ke kamar tidur pribadinya sekarang juga!"
Semua wajah berubah seketika mendengar titah mendadak dari sang penguasa tertinggi Kesultanan Qamar tersebut. Tabib tua itu menghentikan gerakan tangannya di atas kasa, sementara prajurit penjaga di pintu gerbang taman langsung menegakkan posisi berdiri mereka.
Nayla kembali pucat pasi, rasa takut yang sempat mereda kini kembali menghantam dadanya dua kali lebih keras hingga membuatnya sulit bernapas. Perintah panggilan dari pria kejam berusia tiga puluh lima tahun itu terasa seperti vonis mati baru yang siap mengeksekusinya di atas ranjang sutra paviliun terlarang.
Rafiq hanya berkata pelan sembari menatap kepergian tubuh mungil Nayla yang mulai dituntun oleh pelayan utusan menuju lorong utama kamar Sultan. "Semoga keberuntunganmu malam ini masih berpihak padamu di dalam sana, Nayla Azura."
Wah, Bun! Jantung Emak mau copot! Untung ada Panglima Rafiq yang gagah perkasa dateng jadi penyelamat Nayla dari kuartet selir julid. Tapi belum juga napas lega dan ngobatin luka, si abang Sultan Azfar udah manggil Nayla ke kamar pribadinya malam-malam! Waduh, mau diapain lagi tuh si Nayla? Makin tegang dan bikin penasaran setengah mati, kan? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngegas update bab selanjutnya!
Nayla tahu dirinya sedang merancang sesuatu yang sangat berbahaya. Setiap kali Sultan tersenyum kepadanya, rencana besar itu terasa semakin sulit dibedakan dari perasaan hatinya sendiri.Pijaran lilin dari tatakan tembaga di sudut ruang kerja utama memantulkan bayangan malam yang hangat. Nayla bergerak amat perlahan, merapikan tumpukan kertas pajak daerah dan meletakkan cangkir teh gandum hangat di sisi meja mahoni yang tebal.Di balik keheningan yang menyelimuti ruangan, suasana di antara mereka berdua kini telah resmi bergeser melintasi batas kaku antara penguasa dan pelayan.Sultan Azfar meletakkan pena bulunya perlahan, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi takhta kayu. Tatapan mata abu-abunya yang biasanya dingin kini menatap lekat-lekat garis wajah pelayan pribadinya."Nayla," panggil Sultan Azfar, suaranya yang berat memecah kesunyian malam dengan nada yang sehalus beludru.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menangkupkan kedua belah tangannya sopan di depan tubuh. "
Rania kini hidup dengan dua wajah. Satu wajah untuk Safiya, satu wajah untuk Nadira, dan hanya Nayla yang mengetahui wajah aslinya.Lorong selasar sayap barat istana bergema samar oleh langkah kaki Rania yang terbungkus jubah perak pelayan dalam. Dinginnya marmer malam merambat menembus alas sepatunya, namun tidak sedingin ketakutan yang mencengkeram dadanya.Di balik saku pakaiannya, surat dari ayahnya tentang ancaman orang-orang bertudung hitam masih terasa berat. Surat itu laksana bara api yang siap membakar habis seluruh keluarganya di desa jika ia melakukan satu saja kesalahan kecil di tempat ini.Di dalam kamar tempat tinggal yang dipenuhi kepulan asap dupa mawar, Selir Safiya sudah menanti dengan raut wajah kejam yang tidak sabar. Jemari lentiknya yang berkuku merah mengetuk-ngetuk permukaan meja rias emas."Bawa dokumen itu kemari, Rania! Jangan biarkan aku menunggu seperti pengemis!" perintah Selir Safiya, suaranya melengking tajam memecah kesunyian kamar.Rania melangkah maj
Di kamar Amira, tidak ada yang berani menyebut nama Nayla terlalu keras.Bukan karena takut Nayla mendengar.Mereka takut mengingat apa yang sudah mereka lakukan.Selasar paviliun bagian dalam itu teramat sunyi saat angin malam gurun berembus pelan melewati tirai-tirai sutra hijau zaitun. Di dalam bilik pribadi yang temaram oleh pendaran lilin, aroma minyak cendana yang menenangkan sama sekali tidak mampu mengikis hawa dingin yang mencekik batin tiga orang wanita di dalamnya. Selir Layla duduk dengan gelisah di atas dipan rendah, sementara Jihan berdiri kaku di sudut ruangan, meremas kedua jemari tangannya sendiri. Selir Amira berdiri membelakangi mereka, menatap lurus ke arah kegelapan taman luar dari balik jendela kayu.Layla memajukan tubuhnya sedikit, memecah kesunyian dengan suara yang setengah berbisik karena didera rasa paranoid yang akut. "Amira... jawab aku dengan jujur. Kau benar-benar tidak memiliki niatan untuk kembali berkumpul dan mematuhi perintah di paviliun Safiya?"A
“Aku akan mengambil kendali atas Sultan.”Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Nayla. Seketika itu pula, Rania berhenti menangis. Isak tangis yang semula memenuhi kesunyian kamar asrama pelayan langsung terputus di tenggorokan, meninggalkan keheningan yang mencekam.Rania mendongak perlahan, menatap wajah sahabatnya dengan mata sembap yang membelalak lebar. Nayla berdiri teramat tenang, tetapi ada pendar tajam di matanya yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tekad yang membakar itu mengintimidasi siapa saja yang memandangnya.Nayla melangkah pelan menuju meja kayu di sudut ruangan. Jemarinya yang ramping bergerak halus, mengelus permukaan gulungan kitab herbal yang tergeletak di sana. Udara malam yang menembus celah jendela kayu terasa begitu dingin, menampar kulit mereka yang terekspos."Aku tidak ingin sekadar menjadi pelayan pribadi yang berdiri membisu di balik meja mahoni Sultan Azfar, Rania," ucap Nayla tanpa berbalik. "Aku ingin mendapatkan sebuah posisi yang membuat suarany
Langkah kaki Rania terasa bagaikan terseret beban timah panas saat ia menelusuri koridor belakang yang remang. Kepalanya terus menoleh gelisah ke kiri dan kanan, mengawasi setiap sudut lorong. Ia menahan napas setiap kali melewati pilar batu, khawatir bayangan dayang-dayang milik Selir Safiya mendadak muncul dari balik kegelapan.Matanya juga menyapu semak-semak taman tengah dengan cermat. Ia sangat waspada pada kemungkinan hadirnya prajurit rahasia utusan Ibu Suri Nadira yang mengintai pergerakannya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rania dengan cepat mendorong pintu kayu kamar asrama pelayan milik Nayla.Ia menyelinap masuk laksana hantu malam dan memutar selot besi pintu dari dalam. Suara dentang besi yang mengunci ketat seketika memecah kesunyian ruangan.Nayla yang sedang duduk di tepi ranjang bambu seraya membaca gulungan kitab tanaman obat mendadak terkejut. Matanya terangkat, menatap gurat wajah sahabatnya yang berantakan dengan kelopak mata membengkak merah."Rani
Rania selalu tahu bahwa ancaman Selir Safiya bukan sekadar kata-kata kosong. Tetapi pagi itu, ia menerima bukti bahwa wanita kejam itu benar-benar mulai merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.Matahari baru saja menyembul tipis di ufuk timur ketika seorang kurir pengirim barang menyerahkan sepucuk surat kumal berikat tali rami kepada Rania. Di sudut kanan kertas kasar tersebut, tertera tulisan tangan ayahnya yang sangat ia kenali.Rona bahagia sempat terbit di wajah Rania. Ia mengira surat itu hanya berisi kabar kerinduan biasa dari rumah panggung kayu mereka di pelosok desa.Namun, begitu ia melangkah menyelinap ke balik sekat kamar pelayan yang sepi dan merobek amplopnya, mata Rania bergerak cepat membaca baris pertama. Detik itu juga, seluruh darah di wajahnya seraya menguap habis. Kulitnya berubah pucat pasi."Rania, anakku yang paling kami sayangi..." tulis ayahnya dengan goresan pena yang gemetar dan berantakan."Ayah terpaksa menulis surat ini dengan sisa keberanian yang kami







