Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 7: Ujian Sang Sultan

Share

Bab 7: Ujian Sang Sultan

Author: fazaa
last update publish date: 2026-07-06 15:23:27

Pintu kayu jati berukir emas milik kamar pribadi Sultan perlahan terbuka dengan derit halus yang terasa menyiksa pendengaran.

Udara dingin beraroma gaharu dan rempah mahal langsung menyergap indra penciuman Nayla, membawa atmosfer yang begitu pekat dan menekan.

Nayla menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Jantungnya berdentum begitu keras di balik tulang rusuk hingga ia yakin suaranya bisa memecah kesunyian.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, sepasang kaki Nayla yang beralaskan sandal tipis melangkah melewati batas ambang pintu tersebut.

Ia sadar, malam ini ia akan masuk ke tempat yang selama ini menjadi sumber dari seluruh mimpi buruknya di istana.

Kamar tidur Sultan Azfar terasa begitu sunyi, jauh dari bayangan kemegahan harem yang selalu bising oleh tawa wanita.

"Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia Sultan," ucap Nayla dengan suara yang diusahakan selembut dan setenang mungkin, meski getaran kecil tetap tidak bisa ia sembunyikan.

Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota, sang penguasa tertinggi duduk dengan tenang. Sultan Azfar tampak sedang membaca tumpukan dokumen.

Jubah tidurnya yang berbahan sutra hitam pekat berhias sulaman benang perak tampak melekat pas di tubuh tegapnya.

 Wajah tampan dengan rahang tegasnya terlihat begitu dingin di bawah temaramnya cahaya lilin, memancarkan aura dominasi yang mutlak.

Nayla segera menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memberikan penghormatan tertinggi.

Sultan Azfar tidak langsung menjawab ataupun mengalihkan pandangannya dari kertas perkamen di tangannya. Ia membiarkan suara goresan pena bulu miliknya menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan ruangan.

Sultan dengan sengaja membuat Nayla menunggu dalam posisi bersujud yang tidak nyaman tersebut.

Nayla bisa merasakan luka lebam di pipi dan perih di sudut bibirnya akibat siksaan Selir Safiya tadi kembali berdenyut nyeri. Namun, ia tidak berani bergerak satu milimeter pun, membiarkan tubuhnya membatu di bawah tekanan tak kasatmata.

Setelah beberapa menit yang terasa bagai berabad-abad bagi Nayla, Sultan Azfar akhirnya meletakkan pena bulunya.

Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit, menatap lurus ke arah sosok mungil yang masih bersujud.

"Maju," panggil Sultan Azfar dengan suara bariton yang berat, rendah, dan penuh dengan nada perintah yang tidak boleh dibantah.

Nayla perlahan menegakkan tubuhnya, namun posisinya tetap berlutut. Ia menggeser lututnya maju beberapa senti di atas lantai marmer hitam, mendekati meja kerja sang penguasa.

Meskipun jarak di antara mereka kini sudah memendek, kepala Nayla tetap menunduk lurus ke arah lantai.

 Ia mengingat dengan baik aturan istana bahwa pelayan rendahan dilarang keras menatap langsung mata sang pemilik takhta.

Sultan Azfar memperhatikan cara pelayan berusia dua puluh satu tahun itu bergerak, lalu menyipitkan matanya saat menangkap noda tanah di gaun putihnya.

Sudut bibir pria itu berkedut samar, menyadari ada sesuatu yang telah terjadi sebelum gadis ini sampai ke kamarnya.

Sultan Azfar mulai menguji mental gadis di hadapannya dengan pertanyaan tajam. "Mengapa kau gemetar begitu hebat, Pelayan? Apakah kamarku terasa seperti kandang singa bagimu?"

Nayla mencengkeram erat jemari tangan kanannya yang tidak terluka untuk menyembunyikan getaran tubuhnya. "Hamba... hamba hanya merasa tidak pantas berada di ruangan yang agung ini, Yang Mulia."

"Tatap aku," perintah Sultan Azfar memotong kalimat Nayla dengan nada dingin yang tidak menerima penolakan sedikit pun.

Nayla menahan napasnya sejenak, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki di dalam dadanya. Perlahan tapi pasti, ia mendongakkan wajahnya ke atas.

Tatapan mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya secara intens. Sepasang mata elang Sultan yang kelam dan tajam seolah langsung menusuk masuk ke dalam lubuk jiwa Nayla, mencari ketakutan atau pengkhianatan di sana.

Sultan Azfar sempat tertegun sesaat ketika melihat dengan jelas pipi kiri Nayla yang membengkak keunguan serta darah kering di sudut bibirnya. Namun, ekspresi wajah pria berusia tiga puluh lima tahun itu kembali mendatar dalam sekejap mata.

Sultan Azfar memalingkan wajahnya ke arah teko keramik yang berada di sudut meja, lalu mengetukkan jarinya di atas permukaan kayu. "Buatkan aku teh hangat. Ramuan herbal di dalam wadah perak itu."

Nayla segera bergerak cepat menuju nampan perak yang menyediakan air panas dan wadah ramuan herbal.

Ia mengambil sendok kecil, mencoba fokus meski seluruh sendinya terasa kaku akibat ketakutan yang luar biasa.

Saat tangan kiri Nayla yang membiru akibat diinjak oleh Selir Safiya mengangkat teko air panas, rasa nyeri yang teramat sangat mendadak menyerang sarafnya. Jemari Nayla bergetar hebat di luar kendalinya sendiri.

Akibat getaran itu, air teh yang panas sedikit tumpah ke atas permukaan nampan perak, menciptakan bunyi gemercik kecil.

Nayla tersentak, merasa dunianya seolah runtuh karena telah melakukan kecerobohan di depan sang Sultan yang terkenal kejam.

Sultan Azfar hanya memperhatikan dalam diam, tidak memarahi ataupun memanggil pengawal untuk menyeret Nayla keluar.

Ia menerima cangkir teh yang disodorkan Nayla dengan gerakan tenang, lalu menghirup aromanya perlahan.

"Apa kau begitu takut padaku, Nayla Azura?" tanya Sultan Azfar dengan nada suara yang terdengar santai namun tetap terasa mengancam.

Nayla menundukkan kepalanya kembali, mengatur napasnya yang sempat memburu akibat panik tadi. "Hamba takut pada hukuman Yang Mulia Sultan," jawabnya dengan jujur dan suara yang bergetar lirih.

Sultan Azfar menaikkan sebelah alisnya yang tebal, merasa tertarik dengan pilihan kata yang keluar dari bibir pelayan pribadinya. "Bukan padaku? Kau tidak takut pada sosokku?"

Nayla menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan jawaban yang telah ia pertimbangkan dengan kecerdasannya. "Hukuman lahir dari titah Yang Mulia. Tanpa adanya kesalahan yang memicu murka Anda, tidak akan ada hukuman yang dijatuhkan."

Sultan Azfar menatap wajah Nayla dalam waktu yang cukup lama, mencoba membedakan apakah kata-kata itu adalah bentuk sanjungan murah atau murni kejujuran. Keheningan kembali merayap di antara mereka selama beberapa saat yang menegangkan.

Secara tidak terduga, seulas senyuman tipis muncul di sudut bibir Sultan Azfar.      

Itu adalah untuk pertama kalinya pria yang dikenal berhati dingin tersebut mengulas senyum di depan seorang pelayan miskin dari desa terpencil.

Sultan Azfar meletakkan cangkir tehnya, lalu mulai bertanya banyak hal tentang latar belakang kehidupan pelayan barunya itu.

Nada suaranya kini terdengar seperti seorang hakim yang sedang melakukan interogasi mendalam.

"Dari desa mana asalmu? Dan siapa saja keluarga yang kau tinggalkan di sana?" tanya Sultan Azfar sembari menatap lurus ke dalam mata Nayla.

Nayla menjawab dengan jujur tanpa berani menambahkan kebohongan sedikit pun. "Hamba berasal dari Desa Subur di pinggiran selatan, Yang Mulia. Hamba hanya memiliki seorang ibu bernama Salma yang sedang sakit sakitan, dan seorang adik perempuan."

Sultan Azfar manggut-manggut kecil, jarinya mengetuk meja dengan irama konstan. "Sudah berapa lama kau bekerja di lingkungan istana?"

"Baru beberapa bulan, Yang Mulia. Hamba beruntung bisa lolos seleksi pelayan istana luar sebelum dipindahkan ke mari," jawab Nayla dengan suara yang semakin stabil.

"Mengapa kau memilih menjadi pelayan di sarang serigala ini jika tahu taruhannya adalah nyawa?" tanya Sultan Azfar lagi, kali ini dengan kilat mata yang menyelidik tajam.

Nayla meremas gaunnya, mengingat wajah ibunya yang pucat di ranjang reot mereka di desa. "Hamba membutuhkan koin emas untuk membeli obat ibu hamba, Yang Mulia. Di desa, tidak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan upah secepat di istana."

Sultan Azfar mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, lalu secara tiba-tiba menyenggol gulungan dokumen penting berstempel lilin merah di tepi mejanya hingga terjatuh ke dekat kaki Nayla.

Gulungan perkamen itu terbuka sedikit, memperlihatkan beberapa baris tulisan rahasia kesultanan.

"Lihat dokumen itu," perintah Sultan Azfar dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh selidik.

Nayla merasa bingung dan terkejut dengan tindakan mendadak sang Sultan.

Detak jantungnya kembali berpacu cepat, menyadari bahwa membaca dokumen rahasia negara adalah pelanggaran berat yang bisa dihukum pancung.

Ia segera merangkak maju sedikit, lalu mengambil gulungan dokumen tersebut dengan kedua tangannya yang masih gemetar.

Alih-alih mengarahkan pandangannya pada deretan huruf di dalam perkamen, Nayla dengan sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.

Nayla melipat kembali gulungan itu dengan rapi tanpa membaca satu kata pun yang tertera di dalamnya.

Ia meletakkan kembali dokumen sensitif tersebut ke atas meja Sultan dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh hormat.

Sultan Azfar memperhatikan setiap gerak-gerik dan arah pandangan mata Nayla dengan kejelian seorang penguasa yang paranoid. Tidak ada satu pun kepakan bulu mata Nayla yang lolos dari pengamatan tajam pria berusia tiga puluh lima tahun tersebut.

Setelah memastikan bahwa pelayan di hadapannya benar-benar tidak mencoba mengintip isi dokumen rahasia itu, kilat kepuasan muncul di mata Sultan Azfar.

Ia mengembuskan napas pendek yang terdengar lebih rileks dari sebelumnya.

"Bagus," ucap Sultan Azfar pendek dengan nada suara yang terdengar puas.

Nayla mendongak sedikit dengan dahi yang berkerut halus, merasa sangat bingung dengan respons yang diberikan oleh sang raja. Ia tidak mengerti ujian apa yang baru saja ia lewati dengan selamat.

Sultan Azfar mengambil kembali gulungan dokumen tersebut lalu menyimpannya ke dalam laci meja yang terkunci. "Orang yang memiliki rasa penasaran terlalu tinggi selalu tergoda untuk membaca apa yang bukan haknya."

"Kau tidak melakukan itu, meskipun kesempatannya ada tepat di depan matamu yang terbuka," lanjut Sultan Azfar sembari menatap Nayla dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Itu adalah pilihan yang cerdas, Nayla. Dan karena ketidakpedulianmu terhadap rahasia itulah, malam ini kau masih diizinkan bernapas dan hidup," tegas Sultan Azfar, membuat bulu kuduk Nayla berdiri merinding.

Nayla terdiam seribu bahasa, menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di dalam kamar tidur pria kejam ini.

Jika tadi ia tergoda untuk melirik isi dokumen itu walau hanya sekilas, mungkin kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya saat ini.

Sultan Azfar menutup dokumen terakhir yang ada di atas mejanya dengan sebuah ketukan keras yang menggema di dalam ruangan sunyi tersebut.

Ia berdiri dari kursinya, membuat tubuh tegapnya yang tinggi menjulang tampak begitu mendominasi di depan Nayla yang masih berlutut.

"Mulai hari ini..." ucap Sultan Azfar menggantung kalimatnya sengaja, berjalan perlahan memutari meja kerjanya menuju ke arah tempat Nayla berada.

Sultan menghentikan langkah kakinya tepat di depan tubuh mungil Nayla, membuat aroma gaharu dari jubah sutranya menyeruak kuat. "Kau tidak lagi bertugas membersihkan lantai koridor luar ataupun melayani selir-selir di harem."

"Kau bekerja langsung di sisiku sebagai pelayan pribadi yang akan mengatur seluruh kebutuhan pribadiku di kamar ini," lanjut Sultan Azfar dengan nada suara mutlak yang mengunci takdir baru gadis desa tersebut.

Nayla seketika membeku bagai patung marmer, napasnya seolah berhenti berputar di dalam tenggorokannya yang mendadak terasa terikat kuat.

Keputusan mendadak dari sang penguasa tertinggi Kesultanan Al-Qamar itu menghantam kesadarannya dengan sangat telak.

Ia sadar sepenuhnya, mulai hari ini dan detik ini juga, ia tidak akan pernah mungkin lagi bisa menghindari pesona berbahaya dan kekejaman Sultan Azfar yang siap menelan dirinya bulat-bulat ke dalam pusaran konflik politik istana yang mematikan.

fazaa

Huwaaa, tarik napas dalam-dalam! Si Nayla cerdik banget, Bun! Dijebak pakai dokumen rahasia sama Sultan Azfar yang super paranoid, tapi dia gak kegoda buat ngintip. Auto dapet stempel aman dan resmi jadi pelayan privat kamar tidur Sultan! Siap-siap deh makin intens interaksi mereka berdua! Makin deg-degan dan gak sabar nunggu kelanjutannya, kan? Yuk, langsung klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin gercep update bab selanjutnya! 🔥

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Saputraaa
1 kata wowwe
goodnovel comment avatar
Rikko
dah nebak klo kakak author yang nulis pasti cwekny badas ini
goodnovel comment avatar
Saroh Mutiah
bahhh ngga bisa berkata-kata
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 108: Laporan Yang Tidak Lengkap

    Malam pun bergulir dengan kepekatan kabut hitam yang mencekam, menelan seluruh kompleks paviliun harem istana Al-Qamar.Di dalam ruangan tertutup kediaman resmi Ibu Suri Nadira yang harum oleh kepulan dupa, Selir Safiya sudah berdiri tegak menanti penuh ambisi terselubung.Ibu Suri Nadira duduk anggun di kursi takhtanya, membiarkan cahaya temaram lilin menyinari garis wajah keriputnya yang sedingin es batu.Rania berlutut di tengah ruangan, menyerahkan selembar laporan perkamen tertulis mengenai hasil pengawasannya terhadap Nayla sepanjang hari ini.Namun, isi dari lembaran laporan yang disusun Rania telah resmi dimanipulasi secara total oleh kepalanya sendiri.Ia sengaja membuat kalimat-kalimat di dalamnya sesamar dan sebersih mungkin dari rahasia; Rania hanya menuliskan bahwa Nayla sepanjang hari sibuk mengelap debu rak buku perpustakaan agung, menghitung sisa beras dan tidak pernah melakukan perlakuan atau mengatakan hal aneh apa pun.Ia menyembunyikan fakta bahwa Sultan Azfar meng

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 107 : Rania Masuk ke Dalam

    Rania akhirnya resmi menjadi pelayan pribadi Ibu Suri Nadira.Dan langkah pertamanya justru membawanya mendekati Nayla.Pagi itu, suasana di sudut dapur kecil bawah tanah terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Aroma panggangan roti gandum kasar dan rebusan sup miju-miju mengepul tipis, menyelimuti empat orang yang kini berkumpul mengelilingi meja kayu panjang.Nayla duduk dengan punggung tegak, namun binar kebahagiaan yang teramat murni seketika terpancar dari sepasang manik mata cokelat jernihnya saat mendengar kabar terbaru mengenai sahabat kecilnya."Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar sebuah keajaiban yang luar biasa besar!" seru Nayla, wajah cantiknya yang semula agak pucat kini merona segar penuh rasa syukur yang tak terbendung. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan Rania yang terasa dingin."Aku sangat bahagia mendengarnya! Menjadi pelayan pribadi utama Ibu Suri Nadira berarti kau tidak perlu lagi mengangkat baskom air berat di dapur luar ini!" lanjut Nayla dengan mata berb

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 106: Pemilik Hati Sang Panglima

    Entah kenapa kini Rafiq mulai sering berada di sekitar Nayla.Bukan sebagai kebetulan.Langkah kaki tegap yang berbalut sepatu bot baja itu tidak lagi berderap kaku memimpin barisan patroli di benteng luar.Sebaliknya, ketukan konstan itu bergema halus di antara keheningan lorong-lorong perpustakaan agung yang sunyi dan beraroma kertas tua.Di balik rak-rak kayu raksasa yang menjulang tinggi, Panglima Rafiq berdiri tegap tanpa mengenakan pelindung kepala zirahnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci gerak-gerik Nayla yang sedang sibuk memilah naskah pengobatan herbal.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menolehkan kepalanya perlahan seraya menatap heran ke arah sosok pria perkasa yang berdiri terlalu dekat di sampingnya. "Panglima Rafiq? Mengapa Anda masih berdiri mematung di dekat rak ini? Apakah hamba melakukan kesalahan dalam penyusunan berkas administrasi kesultanan?"Rafiq tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah barisan buku kuno bersampul ku

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 105: Pangeran Dengan Perban

    Hari itu Nayla berharap koridor istana menjadi tempat yang aman.Harapan yang sangat sederhana itu rupanya hanya mampu bertahan selama beberapa menit saja.Sinar matahari sore menembus celah-celah pilar marmer, memantulkan bayangan panjang yang kaku di sepanjang selasar sayap kanan istana.Nayla baru saja melangkah keluar dari bilik ruang kerja Sultan Azfar setelah menyerahkan salinan revisi anggaran bendungan.Semburat lelah masih menggelayuti pundaknya, namun ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah tegap.Jemari tangan Nayla meremas pinggiran nampan besi berukir yang ia dekap di depan dada.Beban pekerjaan sebagai pelayan pribadi kesultanan terasa kian berat mengimpit seluruh persendian tubuhnya setiap hari.Namun, bayangan senyuman sang ibu di desa selalu menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan hidup di tempat terkutuk ini.Langkah kakinya mendadak terhenti total di belokan lorong yang sunyi.Di ujung koridor, berdiri sesosok pria bertubuh tinggi besar yang laksana

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 104: Pelayan Baru Ibu Suri

    Rania mendapat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya yang serba kekurangan.Ia dipanggil masuk ke kediaman Ibu Suri Nadira, wilayah paling sakral di sayap timur istana.Di dalam ruangan paviliun yang luas dan beraroma dupa gaharu khas Wilayah Timur itu, Selir Safiya sudah duduk menunggu di atas kursi beludrunya.Jemari lentiknya yang berkuku merah merona tampak mengetuk-ngetuk sandaran lengan kayu dengan tidak sabar.Ketika Rania melangkah masuk dengan kepala menunduk kaku, Safiya langsung melayangkan seulas senyuman manis yang dipenuhi oleh bisa ular."Duduklah, Rania. Jangan berdiri di sana seperti patung batu," buka Selir Safiya, suaranya mengalun merdu penuh kepalsuan.Ia menggeser kotak kayu kecil berukir di atas meja marmer, memperlihatkan kilauan beberapa keping koin emas murni di dalamnya."Bagaimana dengan tawaran yang kuberikan saat itu? Apakah pikiranmu sudah selesai menimbang tumpukan harta ini?"Rania meremas ujung gaun pelayan luarnya yang kasa

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 103: Rahasia yang Tidak Diceritakan

    Pagi datang.Tetapi Nayla tidak membawa ketenangan sedikit pun bersamanya saat menginjakkan kaki di area istana utama.Sinar matahari fajar yang menerobos dari celah jendela ruang kerja utama memantul pucat pada permukaan lantai marmer hitam yang dingin.Nayla melangkah masuk dengan nampan tembaga di dekapannya.Gerakan tubuhnya terasa jauh lebih kaku dari biasanya, menahan rasa lelah emosional yang meluap.Bahunya menegang kaku, dan setiap ketukan sepatunya di lantai marmer seolah menuntut tenaga dari kakinya yang masih lemas akibat sisa ketakutan semalam.Wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona kemerahan seperti biasa. Sepasang lingkaran hitam tercetak amat jelas di bawah kelopak matanya yang sayu dan kurang tidur.Ia meletakkan wadah tinta baru dan merapikan tumpukan kertas perkamen di tepi meja mahoni, berusaha keras bergerak seolah-olah dunianya sedang baik-baik saja.Namun, getaran halus pada ujung jemarinya saat memegang botol kaca tidak luput dari pengamatan tajam pria yang dudu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status