LOGINPintu kayu jati berukir emas milik kamar pribadi Sultan perlahan terbuka dengan derit halus yang terasa menyiksa pendengaran.
Udara dingin beraroma gaharu dan rempah mahal langsung menyergap indra penciuman Nayla, membawa atmosfer yang begitu pekat dan menekan.
Nayla menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Jantungnya berdentum begitu keras di balik tulang rusuk hingga ia yakin suaranya bisa memecah kesunyian.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, sepasang kaki Nayla yang beralaskan sandal tipis melangkah melewati batas ambang pintu tersebut.
Ia sadar, malam ini ia akan masuk ke tempat yang selama ini menjadi sumber dari seluruh mimpi buruknya di istana.
Kamar tidur Sultan Azfar terasa begitu sunyi, jauh dari bayangan kemegahan harem yang selalu bising oleh tawa wanita.
"Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia Sultan," ucap Nayla dengan suara yang diusahakan selembut dan setenang mungkin, meski getaran kecil tetap tidak bisa ia sembunyikan.
Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota, sang penguasa tertinggi duduk dengan tenang. Sultan Azfar tampak sedang membaca tumpukan dokumen.
Jubah tidurnya yang berbahan sutra hitam pekat berhias sulaman benang perak tampak melekat pas di tubuh tegapnya.
Wajah tampan dengan rahang tegasnya terlihat begitu dingin di bawah temaramnya cahaya lilin, memancarkan aura dominasi yang mutlak.
Nayla segera menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memberikan penghormatan tertinggi.
Sultan Azfar tidak langsung menjawab ataupun mengalihkan pandangannya dari kertas perkamen di tangannya. Ia membiarkan suara goresan pena bulu miliknya menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan ruangan.
Sultan dengan sengaja membuat Nayla menunggu dalam posisi bersujud yang tidak nyaman tersebut.
Nayla bisa merasakan luka lebam di pipi dan perih di sudut bibirnya akibat siksaan Selir Safiya tadi kembali berdenyut nyeri. Namun, ia tidak berani bergerak satu milimeter pun, membiarkan tubuhnya membatu di bawah tekanan tak kasatmata.
Setelah beberapa menit yang terasa bagai berabad-abad bagi Nayla, Sultan Azfar akhirnya meletakkan pena bulunya.
Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit, menatap lurus ke arah sosok mungil yang masih bersujud.
"Maju," panggil Sultan Azfar dengan suara bariton yang berat, rendah, dan penuh dengan nada perintah yang tidak boleh dibantah.
Nayla perlahan menegakkan tubuhnya, namun posisinya tetap berlutut. Ia menggeser lututnya maju beberapa senti di atas lantai marmer hitam, mendekati meja kerja sang penguasa.
Meskipun jarak di antara mereka kini sudah memendek, kepala Nayla tetap menunduk lurus ke arah lantai.
Ia mengingat dengan baik aturan istana bahwa pelayan rendahan dilarang keras menatap langsung mata sang pemilik takhta.
Sultan Azfar memperhatikan cara pelayan berusia dua puluh satu tahun itu bergerak, lalu menyipitkan matanya saat menangkap noda tanah di gaun putihnya.
Sudut bibir pria itu berkedut samar, menyadari ada sesuatu yang telah terjadi sebelum gadis ini sampai ke kamarnya.
Sultan Azfar mulai menguji mental gadis di hadapannya dengan pertanyaan tajam. "Mengapa kau gemetar begitu hebat, Pelayan? Apakah kamarku terasa seperti kandang singa bagimu?"
Nayla mencengkeram erat jemari tangan kanannya yang tidak terluka untuk menyembunyikan getaran tubuhnya. "Hamba... hamba hanya merasa tidak pantas berada di ruangan yang agung ini, Yang Mulia."
"Tatap aku," perintah Sultan Azfar memotong kalimat Nayla dengan nada dingin yang tidak menerima penolakan sedikit pun.
Nayla menahan napasnya sejenak, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki di dalam dadanya. Perlahan tapi pasti, ia mendongakkan wajahnya ke atas.
Tatapan mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya secara intens. Sepasang mata elang Sultan yang kelam dan tajam seolah langsung menusuk masuk ke dalam lubuk jiwa Nayla, mencari ketakutan atau pengkhianatan di sana.
Sultan Azfar sempat tertegun sesaat ketika melihat dengan jelas pipi kiri Nayla yang membengkak keunguan serta darah kering di sudut bibirnya. Namun, ekspresi wajah pria berusia tiga puluh lima tahun itu kembali mendatar dalam sekejap mata.
Sultan Azfar memalingkan wajahnya ke arah teko keramik yang berada di sudut meja, lalu mengetukkan jarinya di atas permukaan kayu. "Buatkan aku teh hangat. Ramuan herbal di dalam wadah perak itu."
Nayla segera bergerak cepat menuju nampan perak yang menyediakan air panas dan wadah ramuan herbal.
Ia mengambil sendok kecil, mencoba fokus meski seluruh sendinya terasa kaku akibat ketakutan yang luar biasa.
Saat tangan kiri Nayla yang membiru akibat diinjak oleh Selir Safiya mengangkat teko air panas, rasa nyeri yang teramat sangat mendadak menyerang sarafnya. Jemari Nayla bergetar hebat di luar kendalinya sendiri.
Akibat getaran itu, air teh yang panas sedikit tumpah ke atas permukaan nampan perak, menciptakan bunyi gemercik kecil.
Nayla tersentak, merasa dunianya seolah runtuh karena telah melakukan kecerobohan di depan sang Sultan yang terkenal kejam.
Sultan Azfar hanya memperhatikan dalam diam, tidak memarahi ataupun memanggil pengawal untuk menyeret Nayla keluar.
Ia menerima cangkir teh yang disodorkan Nayla dengan gerakan tenang, lalu menghirup aromanya perlahan.
"Apa kau begitu takut padaku, Nayla Azura?" tanya Sultan Azfar dengan nada suara yang terdengar santai namun tetap terasa mengancam.
Nayla menundukkan kepalanya kembali, mengatur napasnya yang sempat memburu akibat panik tadi. "Hamba takut pada hukuman Yang Mulia Sultan," jawabnya dengan jujur dan suara yang bergetar lirih.
Sultan Azfar menaikkan sebelah alisnya yang tebal, merasa tertarik dengan pilihan kata yang keluar dari bibir pelayan pribadinya. "Bukan padaku? Kau tidak takut pada sosokku?"
Nayla menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan jawaban yang telah ia pertimbangkan dengan kecerdasannya. "Hukuman lahir dari titah Yang Mulia. Tanpa adanya kesalahan yang memicu murka Anda, tidak akan ada hukuman yang dijatuhkan."
Sultan Azfar menatap wajah Nayla dalam waktu yang cukup lama, mencoba membedakan apakah kata-kata itu adalah bentuk sanjungan murah atau murni kejujuran. Keheningan kembali merayap di antara mereka selama beberapa saat yang menegangkan.
Secara tidak terduga, seulas senyuman tipis muncul di sudut bibir Sultan Azfar.
Itu adalah untuk pertama kalinya pria yang dikenal berhati dingin tersebut mengulas senyum di depan seorang pelayan miskin dari desa terpencil.
Sultan Azfar meletakkan cangkir tehnya, lalu mulai bertanya banyak hal tentang latar belakang kehidupan pelayan barunya itu.
Nada suaranya kini terdengar seperti seorang hakim yang sedang melakukan interogasi mendalam.
"Dari desa mana asalmu? Dan siapa saja keluarga yang kau tinggalkan di sana?" tanya Sultan Azfar sembari menatap lurus ke dalam mata Nayla.
Nayla menjawab dengan jujur tanpa berani menambahkan kebohongan sedikit pun. "Hamba berasal dari Desa Subur di pinggiran selatan, Yang Mulia. Hamba hanya memiliki seorang ibu bernama Salma yang sedang sakit sakitan, dan seorang adik perempuan."
Sultan Azfar manggut-manggut kecil, jarinya mengetuk meja dengan irama konstan. "Sudah berapa lama kau bekerja di lingkungan istana?"
"Baru beberapa bulan, Yang Mulia. Hamba beruntung bisa lolos seleksi pelayan istana luar sebelum dipindahkan ke mari," jawab Nayla dengan suara yang semakin stabil.
"Mengapa kau memilih menjadi pelayan di sarang serigala ini jika tahu taruhannya adalah nyawa?" tanya Sultan Azfar lagi, kali ini dengan kilat mata yang menyelidik tajam.
Nayla meremas gaunnya, mengingat wajah ibunya yang pucat di ranjang reot mereka di desa. "Hamba membutuhkan koin emas untuk membeli obat ibu hamba, Yang Mulia. Di desa, tidak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan upah secepat di istana."
Sultan Azfar mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, lalu secara tiba-tiba menyenggol gulungan dokumen penting berstempel lilin merah di tepi mejanya hingga terjatuh ke dekat kaki Nayla.
Gulungan perkamen itu terbuka sedikit, memperlihatkan beberapa baris tulisan rahasia kesultanan.
"Lihat dokumen itu," perintah Sultan Azfar dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh selidik.
Nayla merasa bingung dan terkejut dengan tindakan mendadak sang Sultan.
Detak jantungnya kembali berpacu cepat, menyadari bahwa membaca dokumen rahasia negara adalah pelanggaran berat yang bisa dihukum pancung.
Ia segera merangkak maju sedikit, lalu mengambil gulungan dokumen tersebut dengan kedua tangannya yang masih gemetar.
Alih-alih mengarahkan pandangannya pada deretan huruf di dalam perkamen, Nayla dengan sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.
Nayla melipat kembali gulungan itu dengan rapi tanpa membaca satu kata pun yang tertera di dalamnya.
Ia meletakkan kembali dokumen sensitif tersebut ke atas meja Sultan dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh hormat.
Sultan Azfar memperhatikan setiap gerak-gerik dan arah pandangan mata Nayla dengan kejelian seorang penguasa yang paranoid. Tidak ada satu pun kepakan bulu mata Nayla yang lolos dari pengamatan tajam pria berusia tiga puluh lima tahun tersebut.
Setelah memastikan bahwa pelayan di hadapannya benar-benar tidak mencoba mengintip isi dokumen rahasia itu, kilat kepuasan muncul di mata Sultan Azfar.
Ia mengembuskan napas pendek yang terdengar lebih rileks dari sebelumnya.
"Bagus," ucap Sultan Azfar pendek dengan nada suara yang terdengar puas.
Nayla mendongak sedikit dengan dahi yang berkerut halus, merasa sangat bingung dengan respons yang diberikan oleh sang raja. Ia tidak mengerti ujian apa yang baru saja ia lewati dengan selamat.
Sultan Azfar mengambil kembali gulungan dokumen tersebut lalu menyimpannya ke dalam laci meja yang terkunci. "Orang yang memiliki rasa penasaran terlalu tinggi selalu tergoda untuk membaca apa yang bukan haknya."
"Kau tidak melakukan itu, meskipun kesempatannya ada tepat di depan matamu yang terbuka," lanjut Sultan Azfar sembari menatap Nayla dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Itu adalah pilihan yang cerdas, Nayla. Dan karena ketidakpedulianmu terhadap rahasia itulah, malam ini kau masih diizinkan bernapas dan hidup," tegas Sultan Azfar, membuat bulu kuduk Nayla berdiri merinding.
Nayla terdiam seribu bahasa, menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di dalam kamar tidur pria kejam ini.
Jika tadi ia tergoda untuk melirik isi dokumen itu walau hanya sekilas, mungkin kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya saat ini.
Sultan Azfar menutup dokumen terakhir yang ada di atas mejanya dengan sebuah ketukan keras yang menggema di dalam ruangan sunyi tersebut.
Ia berdiri dari kursinya, membuat tubuh tegapnya yang tinggi menjulang tampak begitu mendominasi di depan Nayla yang masih berlutut.
"Mulai hari ini..." ucap Sultan Azfar menggantung kalimatnya sengaja, berjalan perlahan memutari meja kerjanya menuju ke arah tempat Nayla berada.
Sultan menghentikan langkah kakinya tepat di depan tubuh mungil Nayla, membuat aroma gaharu dari jubah sutranya menyeruak kuat. "Kau tidak lagi bertugas membersihkan lantai koridor luar ataupun melayani selir-selir di harem."
"Kau bekerja langsung di sisiku sebagai pelayan pribadi yang akan mengatur seluruh kebutuhan pribadiku di kamar ini," lanjut Sultan Azfar dengan nada suara mutlak yang mengunci takdir baru gadis desa tersebut.
Nayla seketika membeku bagai patung marmer, napasnya seolah berhenti berputar di dalam tenggorokannya yang mendadak terasa terikat kuat.
Keputusan mendadak dari sang penguasa tertinggi Kesultanan Al-Qamar itu menghantam kesadarannya dengan sangat telak.
Ia sadar sepenuhnya, mulai hari ini dan detik ini juga, ia tidak akan pernah mungkin lagi bisa menghindari pesona berbahaya dan kekejaman Sultan Azfar yang siap menelan dirinya bulat-bulat ke dalam pusaran konflik politik istana yang mematikan.
Huwaaa, tarik napas dalam-dalam! Si Nayla cerdik banget, Bun! Dijebak pakai dokumen rahasia sama Sultan Azfar yang super paranoid, tapi dia gak kegoda buat ngintip. Auto dapet stempel aman dan resmi jadi pelayan privat kamar tidur Sultan! Siap-siap deh makin intens interaksi mereka berdua! Makin deg-degan dan gak sabar nunggu kelanjutannya, kan? Yuk, langsung klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin gercep update bab selanjutnya! 🔥
Nayla tahu dirinya sedang merancang sesuatu yang sangat berbahaya. Setiap kali Sultan tersenyum kepadanya, rencana besar itu terasa semakin sulit dibedakan dari perasaan hatinya sendiri.Pijaran lilin dari tatakan tembaga di sudut ruang kerja utama memantulkan bayangan malam yang hangat. Nayla bergerak amat perlahan, merapikan tumpukan kertas pajak daerah dan meletakkan cangkir teh gandum hangat di sisi meja mahoni yang tebal.Di balik keheningan yang menyelimuti ruangan, suasana di antara mereka berdua kini telah resmi bergeser melintasi batas kaku antara penguasa dan pelayan.Sultan Azfar meletakkan pena bulunya perlahan, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi takhta kayu. Tatapan mata abu-abunya yang biasanya dingin kini menatap lekat-lekat garis wajah pelayan pribadinya."Nayla," panggil Sultan Azfar, suaranya yang berat memecah kesunyian malam dengan nada yang sehalus beludru.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menangkupkan kedua belah tangannya sopan di depan tubuh. "
Rania kini hidup dengan dua wajah. Satu wajah untuk Safiya, satu wajah untuk Nadira, dan hanya Nayla yang mengetahui wajah aslinya.Lorong selasar sayap barat istana bergema samar oleh langkah kaki Rania yang terbungkus jubah perak pelayan dalam. Dinginnya marmer malam merambat menembus alas sepatunya, namun tidak sedingin ketakutan yang mencengkeram dadanya.Di balik saku pakaiannya, surat dari ayahnya tentang ancaman orang-orang bertudung hitam masih terasa berat. Surat itu laksana bara api yang siap membakar habis seluruh keluarganya di desa jika ia melakukan satu saja kesalahan kecil di tempat ini.Di dalam kamar tempat tinggal yang dipenuhi kepulan asap dupa mawar, Selir Safiya sudah menanti dengan raut wajah kejam yang tidak sabar. Jemari lentiknya yang berkuku merah mengetuk-ngetuk permukaan meja rias emas."Bawa dokumen itu kemari, Rania! Jangan biarkan aku menunggu seperti pengemis!" perintah Selir Safiya, suaranya melengking tajam memecah kesunyian kamar.Rania melangkah maj
Di kamar Amira, tidak ada yang berani menyebut nama Nayla terlalu keras.Bukan karena takut Nayla mendengar.Mereka takut mengingat apa yang sudah mereka lakukan.Selasar paviliun bagian dalam itu teramat sunyi saat angin malam gurun berembus pelan melewati tirai-tirai sutra hijau zaitun. Di dalam bilik pribadi yang temaram oleh pendaran lilin, aroma minyak cendana yang menenangkan sama sekali tidak mampu mengikis hawa dingin yang mencekik batin tiga orang wanita di dalamnya. Selir Layla duduk dengan gelisah di atas dipan rendah, sementara Jihan berdiri kaku di sudut ruangan, meremas kedua jemari tangannya sendiri. Selir Amira berdiri membelakangi mereka, menatap lurus ke arah kegelapan taman luar dari balik jendela kayu.Layla memajukan tubuhnya sedikit, memecah kesunyian dengan suara yang setengah berbisik karena didera rasa paranoid yang akut. "Amira... jawab aku dengan jujur. Kau benar-benar tidak memiliki niatan untuk kembali berkumpul dan mematuhi perintah di paviliun Safiya?"A
“Aku akan mengambil kendali atas Sultan.”Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Nayla. Seketika itu pula, Rania berhenti menangis. Isak tangis yang semula memenuhi kesunyian kamar asrama pelayan langsung terputus di tenggorokan, meninggalkan keheningan yang mencekam.Rania mendongak perlahan, menatap wajah sahabatnya dengan mata sembap yang membelalak lebar. Nayla berdiri teramat tenang, tetapi ada pendar tajam di matanya yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tekad yang membakar itu mengintimidasi siapa saja yang memandangnya.Nayla melangkah pelan menuju meja kayu di sudut ruangan. Jemarinya yang ramping bergerak halus, mengelus permukaan gulungan kitab herbal yang tergeletak di sana. Udara malam yang menembus celah jendela kayu terasa begitu dingin, menampar kulit mereka yang terekspos."Aku tidak ingin sekadar menjadi pelayan pribadi yang berdiri membisu di balik meja mahoni Sultan Azfar, Rania," ucap Nayla tanpa berbalik. "Aku ingin mendapatkan sebuah posisi yang membuat suarany
Langkah kaki Rania terasa bagaikan terseret beban timah panas saat ia menelusuri koridor belakang yang remang. Kepalanya terus menoleh gelisah ke kiri dan kanan, mengawasi setiap sudut lorong. Ia menahan napas setiap kali melewati pilar batu, khawatir bayangan dayang-dayang milik Selir Safiya mendadak muncul dari balik kegelapan.Matanya juga menyapu semak-semak taman tengah dengan cermat. Ia sangat waspada pada kemungkinan hadirnya prajurit rahasia utusan Ibu Suri Nadira yang mengintai pergerakannya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rania dengan cepat mendorong pintu kayu kamar asrama pelayan milik Nayla.Ia menyelinap masuk laksana hantu malam dan memutar selot besi pintu dari dalam. Suara dentang besi yang mengunci ketat seketika memecah kesunyian ruangan.Nayla yang sedang duduk di tepi ranjang bambu seraya membaca gulungan kitab tanaman obat mendadak terkejut. Matanya terangkat, menatap gurat wajah sahabatnya yang berantakan dengan kelopak mata membengkak merah."Rani
Rania selalu tahu bahwa ancaman Selir Safiya bukan sekadar kata-kata kosong. Tetapi pagi itu, ia menerima bukti bahwa wanita kejam itu benar-benar mulai merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.Matahari baru saja menyembul tipis di ufuk timur ketika seorang kurir pengirim barang menyerahkan sepucuk surat kumal berikat tali rami kepada Rania. Di sudut kanan kertas kasar tersebut, tertera tulisan tangan ayahnya yang sangat ia kenali.Rona bahagia sempat terbit di wajah Rania. Ia mengira surat itu hanya berisi kabar kerinduan biasa dari rumah panggung kayu mereka di pelosok desa.Namun, begitu ia melangkah menyelinap ke balik sekat kamar pelayan yang sepi dan merobek amplopnya, mata Rania bergerak cepat membaca baris pertama. Detik itu juga, seluruh darah di wajahnya seraya menguap habis. Kulitnya berubah pucat pasi."Rania, anakku yang paling kami sayangi..." tulis ayahnya dengan goresan pena yang gemetar dan berantakan."Ayah terpaksa menulis surat ini dengan sisa keberanian yang kami







