로그인"Sakit, huh? Rasanya pasti luar biasa untuk kulit murahanmu itu, Pelayan Jalang!" cibir Selir Safiya, suaranya yang merdu kini terdengar seperti desisan ular berbisa di tengah sunyinya taman harem.
"Ampun, Selir Safiya... hamba tidak berniat merebut apa pun. Hamba hanya mematuhi titah Yang Mulia Sultan," rintih Nayla sembari menekan pipinya yang berdenyut nyeri akibat tamparan brutal beberapa saat lalu. Darah segar tampak merembes di sela jarinya, menetes satu demi satu di atas tanah.
"Mematuhi titah katanya? Gadis ingusan ini benar-benar tidak tahu diri!" sahut Selir Layla, salah satu dari tiga selir lain yang berdiri mengepung Nayla dengan berkacak pinggang.
Nayla yang masih tersungkur di atas tanah berbatu hanya bisa menunduk pasrah, meratapi nasibnya yang malang.
Di hadapannya kini berdiri empat wanita paling memikat di seluruh Kesultanan Al-Qamar. Mereka adalah para selir resmi Sultan Azfar yang terkenal memiliki kecantikan mutlak dan daya pikat yang luar biasa.
Kulit mereka putih bersih seperti pualam, dengan lekuk tubuh yang sangat montok, padat, dan sensual di balik balutan gaun sutra transparan yang mengekspos kemolekan mereka.
Terutama Selir Safiya, sang selir favorit yang berusia dua puluhan selisih beberapa tahun dari Sultan. Wanita itu memiliki tubuh yang begitu seksi menyerupai gitar Spanyol, dengan dada yang membusung menantang dan pinggang yang sangat ramping.
Kehadiran Nayla di kamar pribadi Sultan jelas menjadi ancaman besar bagi posisinya yang selama ini paling dipuja oleh Sultan Azfar.
"Dengar, Pelayan Sialan. Kau pikir hanya karena Sultan membawamu ke kamarnya, kau bisa naik kasta?" tanya Selir Jihan, selir ketiga yang bertubuh tidak kalah sintal, sembari mengibas kipas bulunya dengan kesal.
"Sultan Azfar itu pria matang yang seleranya tinggi. Beliau menyukai wanita matang yang tahu cara memuaskan gairahnya di ranjang, bukan gadis kurus kering seperti dirimu!" tambah Selir Amira dengan senyum merendahkan yang sangat menyakitkan.
"Hamba tahu diri, para Selir yang agung. Hamba tidak akan pernah berani bermimpi bersanding dengan Yang Mulia," bisik Nayla dengan suara lirih yang tertahan di tenggorokan.
Safiya melangkah maju, membiarkan ujung gaun merah menyalanya menyapu debu tanah. Ia berjongkok di depan Nayla, aroma parfum mawar yang sangat pekat dan memabukkan langsung menusuk indra penciuman Nayla.
Jemari Safiya yang lentik dengan kuku-kuku panjang berwarna merah darah mencengkeram rahang Nayla dengan sangat kasar, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya.
"Kau lihat tubuhku ini, hmm? Sultan sangat menyukai setiap jengkal kulitku," bisik Safiya dengan nada yang sangat intim namun dipenuhi intimidasi yang pekat. "Beliau selalu mendesah memanggil namaku setiap kali kami bersenggama. Kau tahu kenapa, Pelayan Bodoh?"
Nayla menahan napas, matanya yang berkaca-kaca menatap gemetar pada paras cantik yang kini tampak begitu mengerikan di matanya. "Hamba... hamba tidak tahu, Selir..."
"Karena pelayan rendahan sepertimu tidak akan pernah bisa menandingi kehangatan ranjangku!" sentak Safiya sembari menghempaskan wajah Nayla ke samping hingga cengkeramannya terlepas. "Sultan hanya mengasihanimu, atau mungkin beliau hanya ingin menjadikanku cemburu. Jangan pernah bermimpi untuk mendekati atau melayani kebutuhan pribadi beliau di atas ranjang!"
"Hamba hanya pelayan kamar yang bertugas membersihkan lantai dan merapikan selimut, Selir. Demi Tuhan, hamba tidak memiliki niat lain," isak Nayla, mencoba membela diri di tengah kepungan empat wanita berkuasa tersebut.
"Kata-kata dari mulut seorang pelayan tidak lebih dari hembusan angin kosong," sela Selir Layla dengan senyum sinis yang menghina. "Safiya, jangan biarkan pelayan jalang ini mengelabui kita dengan air mata buatannya."
"Benar, Safiya. Singkirkan saja dia sebelum dia benar-benar merangkak ke pelukan Sultan malam ini," hasut Selir Jihan sembari melipat kedua tangannya di bawah dadanya yang menyembul padat.
Safiya kembali berdiri tegak, menatap Nayla dari atas dengan tatapan penuh jijik. Ketiga selir lainnya ikut tertawa merendahkan, menikmati keputusasaan yang terpancar jelas dari wajah pelayan berusia dua puluh satu tahun itu.
Bagi mereka, menyingkirkan pelayan magang yang mencoba mencari perhatian Sultan adalah hal yang sangat mudah.
"Kau dengar itu, Nayla Azura? Tidak ada tempat bagi wanita murahan sepertimu di lingkungan harem ini," kata Safiya dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Hamba mengerti, Selir Safiya. Hamba bersumpah akan menjaga jarak dan hanya melakukan tugas hamba bersihkan kamar tidur tanpa berani menatap Yang Mulia," ucap Nayla sembari mengusap darah di sudut bibirnya.
"Bagus jika kau tahu diri. Tapi kata-kata saja tidak cukup untuk menjamin keselamatanku di istana ini," sahut Safiya dingin, senyuman manipulatif kembali terukir di bibir merahnya yang sensual.
"Lalu apa yang harus hamba lakukan agar Anda memercayai hamba?" tanya Nayla dengan keputusasaan yang mendalam.
"Sederhana saja. Pergilah menghadap Kepala Pelayan dan mintalah untuk dipindahkan ke kandang kuda, atau buat dirimu sendiri cacat agar Sultan tidak sudi melihat wajahmu lagi!" jawab Safiya kejam, membuat hati Nayla mencelos seketika.
Safiya melirik ketiga rekannya, memberikan kode tersembunyi yang langsung dipahami oleh mereka semua.
Atmosfer di taman harem yang dipenuhi bunga mawar itu mendadak terasa semakin mencekam, seolah udara hangat sore itu telah berubah menjadi badai es yang siap membekukan urat nadi Nayla.
Ketiga selir lainnya melangkah maju selangkah lagi, mempersempit ruang gerak Nayla yang masih terduduk lemah di atas tanah.
"Jika aku melihatmu berada dalam jarak kurang dari lima langkah dari Sultan Azfar, atau jika aku mendengar namamu disebut lagi oleh beliau..." Safiya menggantung kalimatnya sengaja, melangkah mendekat hingga ujung sepatunya menyentuh jemari tangan Nayla yang gemetar di atas tanah.
Safiya tiba-tiba menginjak jemari tangan kiri Nayla dengan tumit sepatunya yang keras, menekan dan memutarnya dengan perlahan tanpa memedulikan ringisan kesakitan yang lolos dari bibir pucat gadis itu.
Nayla memejamkan mata rapat-rapat, air mata kesakitan mengalir deras membasahi pipinya yang terluka, menahan rasa nyeri yang teramat sangat dari jemarinya yang seolah hendak patah.
"Aku berjanji, Nayla Azura... aku sendiri yang akan memastikan hidupmu berubah menjadi neraka dunia yang paling mengerikan," bisik Safiya dengan suara rendah yang penuh dengan racun kedengkian. "Aku tidak hanya akan membuatmu diusir dari istana ini dalam keadaan cacat, tapi aku juga akan memastikan ibumu yang sekarat di desa itu mati tanpa pernah melihat wajahmu lagi!"
DEG!!!
Mendengar ancaman kejam yang membawa-bawa nyawa ibunya, mata Nayla langsung terbelalak sempurna dengan pupil yang bergetar hebat karena syok yang teramat sangat.
Rasa takut yang murni dan kemarahan yang tertahan bergejolak hebat di dalam dadanya, membuat jantungnya berdegup begitu kencang hingga mengabaikan rasa sakit di jemari tangannya yang masih diinjak.
Ibunya adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup di istana terkutuk ini, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita tua itu.
"Jangan... jangan sentuh ibu hamba, kumohon..." rintih Nayla dengan sisa-sisa suaranya yang serak, menatap Safiya dengan pandangan yang kini dipenuhi kilat kebencian yang mendalam.
"Oh, lihatlah tatapan mata ini! Pelayan kecil ini berani menatapmu dengan benci, Safiya!" seru Selir Amira sembari menunjuk wajah Nayla dengan tawa mengejek.
"Berani sekali kau menatapku seperti itu!" bentak Safiya yang merasa tertantang, ia mengangkat kakinya lalu menendang bahu Nayla hingga gadis itu kembali terjungkal ke belakang.
Nayla terengah-engah di atas tanah, debu-debu taman kini mengotori gaun sutra putih barunya yang bersih.
Rasa sakit fisik di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa hancur di dalam dadanya akibat penghinaan yang ia terima bertubi-tubi. Ia menyadari satu hal, di tempat ini, kebaikan dan kepasrahan hanya akan membuat dirinya diinjak-injak sampai mati seperti serangga.
"Kenapa kalian begitu takut padaku?" tanya Nayla tiba-tiba, suaranya mendadak berubah menjadi tenang namun dingin, membuat tawa keempat selir itu terhenti seketika.
Safiya menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Nayla yang kini perlahan-lahan berusaha untuk bangkit berdiri sendiri tanpa bantuan pilar. "Apa kau bilang? Takut? Kami adalah selir penguasa, untuk apa kami takut pada pelayan busuk sepertimu?!"
"Jika kalian tidak takut, kalian tidak akan berkumpul berempat hanya untuk mengancam seorang pelayan baru," ucap Nayla sembari menghapus darah di bibirnya dengan punggung tangannya, menatap lurus ke arah mata Safiya dengan keberanian yang mendadak bangkit dari dalam dirinya. "Kalian takut karena tahu, posisi kalian di hati Sultan bisa digantikan kapan saja, bahkan oleh seorang pelayan kamar seperti hamba."
"Kurang ajar! Jaga mulutmu, Jalang!" teriak Selir Layla yang berniat maju untuk melayangkan pukulan baru ke wajah Nayla.
Namun, sebelum tangan Selir Layla sempat menyentuh kulit Nayla, atau sebelum Safiya sempat memerintahkan para dayangnya untuk menyiksa Nayla lebih jauh, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat dan berwibawa mendadak terdengar dari arah koridor utama.
Suara gesekan zirah besi yang khas menandakan bahwa ada seseorang yang memiliki otoritas tinggi sedang berjalan menuju ke arah taman harem.
Atmosfer di sekitar taman mawar yang semula dipenuhi hawa kemarahan mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan kaku.
Langkah kaki itu semakin dekat, menciptakan ketukan konstan yang membuat keempat selir seksi itu menahan napas mereka secara bersamaan, buru-buru merapikan pakaian mereka yang sedikit berantakan akibat emosi yang meluap-luap tadi.
Nayla pun ikut menoleh ke arah koridor dengan jantung yang kembali berdegup kencang, menanti siapakah sosok yang akan muncul di balik pilar-pilar emas tersebut.
Ya ampun, Bun! Lapangan harem mendadak jadi ring tinju! Empat selir seksi bin sintal ngeroyok Nayla sampai bibirnya pecah dan jarinya diinjak. Kejam parah! Tapi plot twist banget, si Nayla yang dikira lemah ternyata bisa nge-skakmat balik sampai para selir mati kutu. Eh, tapi siapa tuh yang dateng? Jangan-jangan pawangnya, si Sultan? Udah gak sabar nih! Makin hot dan bikin penasaran setengah mati, kan? Yuk, langsung klik LIKE, FOLLOW,SUPOORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngegas update bab selanjutnya!
Selir Safiya membuka sebuah kotak kayu kecil berukir di dalam kamarnya yang remang.Di dalamnya, masih tersimpan rapi sebuah botol kaca tanpa nama yang memantulkan kilau mematikan.Safiya menyunggingkan senyuman tipis yang teramat dingin, menyiratkan pendar kejahatan yang tak terhingga."Semuanya... akan berubah mulai hari ini," bisik Safiya pelan sebelum menutup kembali kotak kayu itu dengan denting halus.Pagi itu, aktivitas di seluruh penjuru istana kesultanan Al-Qamar tampak berjalan seperti biasa.Para pelayan sibuk mengelap pilar, prajurit berzirah tegak berjaga di setiap sudut lorong, dan para pejabat kerajaan keluar masuk ruang kerja Sultan membawa gulungan perkamen.Tidak seorang pun dari mereka yang menyadari bahwa seseorang sedang melangkah anggun, membawa benih kematian di balik lipatan lengan jubah sutranya.Di lorong sunyi menuju area dapur khusus kamar utama, seorang sosok berjubah melangkah perlahan namun pasti.Penutup kepalanya ditarik rendah hingga setengah wajahnya
Sejak wanita tua itu mati secara tragis di dalam sel penjara bawah tanah, Selir Layla tidak pernah benar-benar tidur dengan tenang.Setiap kali kegelapan mulai menyelimuti sudut-sudut kamarnya, rasa bersalah yang mencekik selalu datang lebih dulu merayap sebelum kantuk menyapa.Di dalam kamar riasnya yang megah, nyala api pada lampu minyak sudah hampir padam.Layla tertidur di atas ranjang dengan tubuh yang bergolak gelisah, jemarinya mencengkeram erat kain seprai sutra.Dalam alur mimpinya yang amat kelam, sosok wanita tua itu kembali muncul menembus kegelapan.Ia berdiri diam di lorong penjara yang basah dan berbau karat.Wajahnya pucat bagai mayat, dan suaranya yang serak bergema memantul di dinding batu."Aku menepati janjiku padamu....." desis wanita tua itu seraya melangkah maju perlahan."Aku tidak pernah menyebut namamu saat disiksa... Lalu kenapa kau tetap meracuniku sampai mati...?"Layla berlari ketakutan dalam mimpinya, namun lorong gelap itu mendadak menjadi kian panjang
"Buka gulungan perkamen itu dan berikan aku pendapatmu, Nayla," perintah Sultan Azfar dengan nada dingin namun tegas.Kepercayaan... tidak selalu lahir dari peristiwa besar penyelamatan nyawa di medan perang.Kadang, ia tumbuh perlahan, tanpa suara, dari hal-hal paling kecil yang sering diabaikan orang.Dan sore itu, di balik dinding-dinding batu, Sultan kembali meminta sesuatu yang tak pernah ia minta dari orang lain: sebuah pendapat jujur dari seorang Nayla.Ruang kerja Sultan tampak jauh lebih padat dari biasanya.Tumpukan laporan gulungan perkamen kian menggunung di atas meja mahoni besar.Sultan memanggil Nayla sore itu, bukan untuk membawakannya secangkir teh melati hangat, bukan pula untuk sekadar merapikan sisa lilin dan menyapu meja.Pria itu memanggilnya untuk menilai sebuah cetak biru rancangan tata ruang arsip kesultanan yang baru.Sultan membentangkan perkamen lebar itu di atas meja, lalu menunjukkan beberapa draf gambar dengan guratan tinta hitam.Ia menopang dagunya den
"Cari perhiasan itu sampai dapat! Geledah seluruh kamar pelayan tanpa ada satu pun yang terlewat!"Teriakan melengking Selir Safiya memecah ketenangan pagi di sayap timur paviliun mewah.Belum genap seminggu suasana istana tenang setelah malam-malam penuh cerita, keributan hebat kembali pecah.Suasana damai seolah lenyap dalam sekejap ketika perhiasan emas bertahtakan kalung zamrud kesayangan Selir Safiya mendadak hilang tanpa jejak.Dan seperti biasa, seolah-olah skenario ini sudah ditulis rapi sebelumnya, semua tuduhan langsung mengarah pada satu nama.Nayla Azura."Ada apa ini? Mengapa kalian menggeledah kamar kami dengan kasar?" tanya seorang pelayan senior seraya menahan pintu kamarnya yang didorong paksa."Diam kau! Ini perintah Selir Safiya!" bentak dayang kepercayaan Safiya seraya melempar tumpukan kain ke lantai."Ada tikus yang berani mencuri kalung zamrud milik Selir!"Safiya sengaja membuat kepanikan luar biasa sejak fajar baru menyingsing.Dayang-dayangnya berteriak hister
Sore menjelang malam itu, saat seluruh deretan pekerjaan utama di area kerajaan hampir tuntas diselesaikan, Sultan Azfar justru memanggil Nayla kembali.Bukan karena gadis pelayan itu telah melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan paviliun.Bukan pula karena ada setumpuk dokumen pekerjaan baru yang mendesak untuk ditata.Melainkan belaka karena rasa penasaran tersembunyi yang mendadak mengusik benak sang penguasa Al-Qamar.Di dalam keheningan ruang kerja megah sang Sultan, Nayla sibuk merapikan gulungan laporan, botol tinta hitam, stempel berukir emas, serta surat-surat diplomatik yang selesai diperiksa.Suasana terasa teramat sepi, hanya dipecahkan oleh gesekan pena bulu dan nyala lilin yang menari menembus kegelapan.Hanya ada Sultan Azfar dan Nayla di ruangan luas tersebut.Sultan Azfar mendadak menutup laporan tebal di tangannya dengan ketukan pelan yang bergema.Pria berwajah dingin itu tidak langsung membuka berkas berikutnya.Jemari tegapnya yang berhias cincin batu zamru
Di balik megahnya dinding batu dan kemewahan istana Al-Qamar, ada sebuah dapur kecil yang tersembunyi di sudut bawah paviliun.Tempat itu sederhana, hanya bersuhu hangat oleh tungku kayu bakar, namun selalu menjadi ruangan favorit bagi Nayla untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dari himpitan intrik Istana.Nayla berjalan pelan menyeberangi lantai batu sambil membawa nampan kayu berisi beberapa cangkir teh hangat aromatik.Di meja kayu panjang ruang istirahat tersebut, Sofyan sudah duduk santai sambil mengunyah sebutir kurma manis dengan ekspresi wajah konyol seperti biasanya.Tak lama setelah Nayla meletakkan nampannya di atas meja, pintu kayu dapur berderit terbuka.Bu Suraya dan Rania masuk seraya membawa beberapa keranjang anyaman berisi kain sutra dan rempah-rempah wangi.Begitu matanya menangkap sosok Nayla, Rania langsung menjatuhkan keranjangnya begitu saja dan menghambur memeluk Nayla secara heboh."Aku kangen banget sama kamu!" jerit Rania dramatis seraya memeluk leher







