Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 5: Selir Favorit

Share

Bab 5: Selir Favorit

Author: fazaa
last update publish date: 2026-05-31 15:29:45

"Sakit, huh? Rasanya pasti luar biasa untuk kulit murahanmu itu, Pelayan Jalang!" cibir Selir Safiya, suaranya yang merdu kini terdengar seperti desisan ular berbisa di tengah sunyinya taman harem.

"Ampun, Selir Safiya... hamba tidak berniat merebut apa pun. Hamba hanya mematuhi titah Yang Mulia Sultan," rintih Nayla sembari menekan pipinya yang berdenyut nyeri akibat tamparan brutal beberapa saat lalu. Darah segar tampak merembes di sela jarinya, menetes satu demi satu di atas tanah.

"Mematuhi titah katanya? Gadis ingusan ini benar-benar tidak tahu diri!" sahut Selir Layla, salah satu dari tiga selir lain yang berdiri mengepung Nayla dengan berkacak pinggang.

Nayla yang masih tersungkur di atas tanah berbatu hanya bisa menunduk pasrah, meratapi nasibnya yang malang.

Di hadapannya kini berdiri empat wanita paling memikat di seluruh Kesultanan Al-Qamar. Mereka adalah para selir resmi Sultan Azfar yang terkenal memiliki kecantikan mutlak dan daya pikat yang luar biasa.

Kulit mereka putih bersih seperti pualam, dengan lekuk tubuh yang sangat montok, padat, dan sensual di balik balutan gaun sutra transparan yang mengekspos kemolekan mereka.

Terutama Selir Safiya, sang selir favorit yang berusia dua puluhan selisih beberapa tahun dari Sultan. Wanita itu memiliki tubuh yang begitu seksi menyerupai gitar Spanyol, dengan dada yang membusung menantang dan pinggang yang sangat ramping.

Kehadiran Nayla di kamar pribadi Sultan jelas menjadi ancaman besar bagi posisinya yang selama ini paling dipuja oleh Sultan Azfar.

"Dengar, Pelayan Sialan. Kau pikir hanya karena Sultan membawamu ke kamarnya, kau bisa naik kasta?" tanya Selir Jihan, selir ketiga yang bertubuh tidak kalah sintal, sembari mengibas kipas bulunya dengan kesal.

"Sultan Azfar itu pria matang yang seleranya tinggi. Beliau menyukai wanita matang yang tahu cara memuaskan gairahnya di ranjang, bukan gadis kurus kering seperti dirimu!" tambah Selir Amira dengan senyum merendahkan yang sangat menyakitkan.

"Hamba tahu diri, para Selir yang agung. Hamba tidak akan pernah berani bermimpi bersanding dengan Yang Mulia," bisik Nayla dengan suara lirih yang tertahan di tenggorokan.

Safiya melangkah maju, membiarkan ujung gaun merah menyalanya menyapu debu tanah. Ia berjongkok di depan Nayla, aroma parfum mawar yang sangat pekat dan memabukkan langsung menusuk indra penciuman Nayla.

Jemari Safiya yang lentik dengan kuku-kuku panjang berwarna merah darah mencengkeram rahang Nayla dengan sangat kasar, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya.

"Kau lihat tubuhku ini, hmm? Sultan sangat menyukai setiap jengkal kulitku," bisik Safiya dengan nada yang sangat intim namun dipenuhi intimidasi yang pekat. "Beliau selalu mendesah memanggil namaku setiap kali kami bersenggama. Kau tahu kenapa, Pelayan Bodoh?"

Nayla menahan napas, matanya yang berkaca-kaca menatap gemetar pada paras cantik yang kini tampak begitu mengerikan di matanya. "Hamba... hamba tidak tahu, Selir..."

"Karena pelayan rendahan sepertimu tidak akan pernah bisa menandingi kehangatan ranjangku!" sentak Safiya sembari menghempaskan wajah Nayla ke samping hingga cengkeramannya terlepas. "Sultan hanya mengasihanimu, atau mungkin beliau hanya ingin menjadikanku cemburu. Jangan pernah bermimpi untuk mendekati atau melayani kebutuhan pribadi beliau di atas ranjang!"

"Hamba hanya pelayan kamar yang bertugas membersihkan lantai dan merapikan selimut, Selir. Demi Tuhan, hamba tidak memiliki niat lain," isak Nayla, mencoba membela diri di tengah kepungan empat wanita berkuasa tersebut.

"Kata-kata dari mulut seorang pelayan tidak lebih dari hembusan angin kosong," sela Selir Layla dengan senyum sinis yang menghina. "Safiya, jangan biarkan pelayan jalang ini mengelabui kita dengan air mata buatannya."

"Benar, Safiya. Singkirkan saja dia sebelum dia benar-benar merangkak ke pelukan Sultan malam ini," hasut Selir Jihan sembari melipat kedua tangannya di bawah dadanya yang menyembul padat.

Safiya kembali berdiri tegak, menatap Nayla dari atas dengan tatapan penuh jijik. Ketiga selir lainnya ikut tertawa merendahkan, menikmati keputusasaan yang terpancar jelas dari wajah pelayan berusia dua puluh satu tahun itu.

Bagi mereka, menyingkirkan pelayan magang yang mencoba mencari perhatian Sultan adalah hal yang sangat mudah.

"Kau dengar itu, Nayla Azura? Tidak ada tempat bagi wanita murahan sepertimu di lingkungan harem ini," kata Safiya dengan nada dingin yang menusuk tulang.

"Hamba mengerti, Selir Safiya. Hamba bersumpah akan menjaga jarak dan hanya melakukan tugas hamba bersihkan kamar tidur tanpa berani menatap Yang Mulia," ucap Nayla sembari mengusap darah di sudut bibirnya.

"Bagus jika kau tahu diri. Tapi kata-kata saja tidak cukup untuk menjamin keselamatanku di istana ini," sahut Safiya dingin, senyuman manipulatif kembali terukir di bibir merahnya yang sensual.

"Lalu apa yang harus hamba lakukan agar Anda memercayai hamba?" tanya Nayla dengan keputusasaan yang mendalam.

"Sederhana saja. Pergilah menghadap Kepala Pelayan dan mintalah untuk dipindahkan ke kandang kuda, atau buat dirimu sendiri cacat agar Sultan tidak sudi melihat wajahmu lagi!" jawab Safiya kejam, membuat hati Nayla mencelos seketika.

Safiya melirik ketiga rekannya, memberikan kode tersembunyi yang langsung dipahami oleh mereka semua.

Atmosfer di taman harem yang dipenuhi bunga mawar itu mendadak terasa semakin mencekam, seolah udara hangat sore itu telah berubah menjadi badai es yang siap membekukan urat nadi Nayla.

Ketiga selir lainnya melangkah maju selangkah lagi, mempersempit ruang gerak Nayla yang masih terduduk lemah di atas tanah.

"Jika aku melihatmu berada dalam jarak kurang dari lima langkah dari Sultan Azfar, atau jika aku mendengar namamu disebut lagi oleh beliau..." Safiya menggantung kalimatnya sengaja, melangkah mendekat hingga ujung sepatunya menyentuh jemari tangan Nayla yang gemetar di atas tanah.

Safiya tiba-tiba menginjak jemari tangan kiri Nayla dengan tumit sepatunya yang keras, menekan dan memutarnya dengan perlahan tanpa memedulikan ringisan kesakitan yang lolos dari bibir pucat gadis itu.

Nayla memejamkan mata rapat-rapat, air mata kesakitan mengalir deras membasahi pipinya yang terluka, menahan rasa nyeri yang teramat sangat dari jemarinya yang seolah hendak patah.

"Aku berjanji, Nayla Azura... aku sendiri yang akan memastikan hidupmu berubah menjadi neraka dunia yang paling mengerikan," bisik Safiya dengan suara rendah yang penuh dengan racun kedengkian. "Aku tidak hanya akan membuatmu diusir dari istana ini dalam keadaan cacat, tapi aku juga akan memastikan ibumu yang sekarat di desa itu mati tanpa pernah melihat wajahmu lagi!"

DEG!!!

Mendengar ancaman kejam yang membawa-bawa nyawa ibunya, mata Nayla langsung terbelalak sempurna dengan pupil yang bergetar hebat karena syok yang teramat sangat.

Rasa takut yang murni dan kemarahan yang tertahan bergejolak hebat di dalam dadanya, membuat jantungnya berdegup begitu kencang hingga mengabaikan rasa sakit di jemari tangannya yang masih diinjak.

Ibunya adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup di istana terkutuk ini, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita tua itu.

"Jangan... jangan sentuh ibu hamba, kumohon..." rintih Nayla dengan sisa-sisa suaranya yang serak, menatap Safiya dengan pandangan yang kini dipenuhi kilat kebencian yang mendalam.

"Oh, lihatlah tatapan mata ini! Pelayan kecil ini berani menatapmu dengan benci, Safiya!" seru Selir Amira sembari menunjuk wajah Nayla dengan tawa mengejek.

"Berani sekali kau menatapku seperti itu!" bentak Safiya yang merasa tertantang, ia mengangkat kakinya lalu menendang bahu Nayla hingga gadis itu kembali terjungkal ke belakang.

Nayla terengah-engah di atas tanah, debu-debu taman kini mengotori gaun sutra putih barunya yang bersih.

Rasa sakit fisik di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa hancur di dalam dadanya akibat penghinaan yang ia terima bertubi-tubi. Ia menyadari satu hal, di tempat ini, kebaikan dan kepasrahan hanya akan membuat dirinya diinjak-injak sampai mati seperti serangga.

"Kenapa kalian begitu takut padaku?" tanya Nayla tiba-tiba, suaranya mendadak berubah menjadi tenang namun dingin, membuat tawa keempat selir itu terhenti seketika.

Safiya menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Nayla yang kini perlahan-lahan berusaha untuk bangkit berdiri sendiri tanpa bantuan pilar. "Apa kau bilang? Takut? Kami adalah selir penguasa, untuk apa kami takut pada pelayan busuk sepertimu?!"

"Jika kalian tidak takut, kalian tidak akan berkumpul berempat hanya untuk mengancam seorang pelayan baru," ucap Nayla sembari menghapus darah di bibirnya dengan punggung tangannya, menatap lurus ke arah mata Safiya dengan keberanian yang mendadak bangkit dari dalam dirinya. "Kalian takut karena tahu, posisi kalian di hati Sultan bisa digantikan kapan saja, bahkan oleh seorang pelayan kamar seperti hamba."

"Kurang ajar! Jaga mulutmu, Jalang!" teriak Selir Layla yang berniat maju untuk melayangkan pukulan baru ke wajah Nayla.

Namun, sebelum tangan Selir Layla sempat menyentuh kulit Nayla, atau sebelum Safiya sempat memerintahkan para dayangnya untuk menyiksa Nayla lebih jauh, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat dan berwibawa mendadak terdengar dari arah koridor utama.

Suara gesekan zirah besi yang khas menandakan bahwa ada seseorang yang memiliki otoritas tinggi sedang berjalan menuju ke arah taman harem.

Atmosfer di sekitar taman mawar yang semula dipenuhi hawa kemarahan mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan kaku.

Langkah kaki itu semakin dekat, menciptakan ketukan konstan yang membuat keempat selir seksi itu menahan napas mereka secara bersamaan, buru-buru merapikan pakaian mereka yang sedikit berantakan akibat emosi yang meluap-luap tadi.

Nayla pun ikut menoleh ke arah koridor dengan jantung yang kembali berdegup kencang, menanti siapakah sosok yang akan muncul di balik pilar-pilar emas tersebut.

fazaa

Ya ampun, Bun! Lapangan harem mendadak jadi ring tinju! Empat selir seksi bin sintal ngeroyok Nayla sampai bibirnya pecah dan jarinya diinjak. Kejam parah! Tapi plot twist banget, si Nayla yang dikira lemah ternyata bisa nge-skakmat balik sampai para selir mati kutu. Eh, tapi siapa tuh yang dateng? Jangan-jangan pawangnya, si Sultan? Udah gak sabar nih! Makin hot dan bikin penasaran setengah mati, kan? Yuk, langsung klik LIKE, FOLLOW,SUPOORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngegas update bab selanjutnya!

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Rikko
ni 4 selir enakny diapain ni kak author?
goodnovel comment avatar
raffe
Semangat nayla hidup lu bakalan sulit selanjutnya
goodnovel comment avatar
raffe
Sepakat kak btw salken ketemu kakak ini lagi wkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 111: Satu Langkah Menuju Badai

    Istana tampak tenang.Tetapi di balik dinding tebalnya, empat orang sedang memainkan permainan yang berbeda.Nayla ingin melindungi semua orang yang tertindas karena tak mau ada lagi pelayan yang dipenggal seperti waktu itu.Rania ingin melindungi Nayla.Safiya ingin menghancurkan Nayla.Dan Ibu Suri Nadira ingin mengetahui apakah Nayla bisa dimanfaatkan.Sinar matahari sore menembus celah-celah pilar marmer, memantulkan bayangan panjang yang kaku di sepanjang koridor sayap kanan istana.Nayla menjalani harinya seperti biasa. Ia menyusun berkas, membersihkan meja mahoni, dan memastikan kebutuhan Sultan Azfar terpenuhi tanpa cacat.Namun, setiap kali matanya menatap halaman tengah, bayangan panggung kayu eksekusi itu seolah kembali membayang tebal di dalam kepalanya. Leher pelayan yang tebas darahnya menyiprat ke lantai batu masih menghantuinya.Nayla menarik napas panjang, menekan rasa mual yang mendadak muncul di dada. Ia mengusap jemarinya yang dingin sebelum membawa nampan teh ke d

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 110: Perasaan Yang Mulai Terlihat

    Sultan Azfar tidak menyadarinya.Tetapi orang-orang di sekitarnya mulai menyadari perubahan kecil dalam dirinya.Atmosfer di dalam ruang kerja utama kini tidak lagi sekaku dan sedingin beberapa bulan yang lalu.Sultan Azfar semakin sering meminta agar Nayla berdiri di sisinya. Bukan hanya untuk menata tumpukan kertas dokumen atau mengganti sumbu lilin yang meleleh, atau melakukan hal yang biasa dilakukan sebagai pelayan pribadinya melainkan karena ada rasa haus yang mendadak mengusik jiwanya.Jika cerita tentang dunia luar meluncur dari bibir Nayla, Sultan Azfar selalu terhanyut dalam ketertarikan yang mendalam.Nayla tidak menceritakan kemegahan kota besar atau rute perdagangan yang mewah.Gadis itu memilih mengisahkan sudut termiskin, padang gandum yang gersang, dan gubuk-gubuk reot rakyat jelata yang tak pernah dilirik oleh para bangsawan."Di desa hamba, Yang Mulia sultan," bisik Nayla pelan seraya merapikan ujung kertas di meja, "rakyat tidak meminta emas. Mereka hanya ingin air

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 109: Memilih untuk diam

    Sementara itu, di sudut lain sayap utama istana yang diterangi lentera temaram, Nayla masih terjaga di meja kerjanya.Jemari cantiknya yang halus bergerak teliti menyalin catatan resep obat-obatan herbal untuk pengobatan ibunya di desa."Sedikit lagi, Ibu... Nayla akan membawa obat ini pulang," bisik Nayla pada dirinya sendiri.Tiba-tiba, daun pintu kayu berukir di ruangan itu berdecit pelan, terbuka sedikit.Langkah kaki tegap tanpa suara melangkah masuk ke dalam keheningan ruangan. Sultan Azfar berdiri di sana tanpa jubah kebesarannya, hanya mengenakan kemeja kain putih longgar yang memperlihatkan bahu kokohnya.Nayla seketika meletakkan pena bulunya dan berdiri tegap, menundukkan kepalanya penuh hormat. "Yang Mulia Sultan... mengapa Anda belum beristirahat? Apakah ada dokumen penting yang perlu hamba rapikan?atau ada keperluan yang harus hamba lakukan?"Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah mendekat, menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja kerja Nayla.

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 108: Laporan Yang Tidak Lengkap

    Malam pun bergulir dengan kepekatan kabut hitam yang mencekam, menelan seluruh kompleks paviliun harem istana Al-Qamar.Di dalam ruangan tertutup kediaman resmi Ibu Suri Nadira yang harum oleh kepulan dupa, Selir Safiya sudah berdiri tegak menanti penuh ambisi terselubung.Ibu Suri Nadira duduk anggun di kursi takhtanya, membiarkan cahaya temaram lilin menyinari garis wajah keriputnya yang sedingin es batu.Rania berlutut di tengah ruangan, menyerahkan selembar laporan perkamen tertulis mengenai hasil pengawasannya terhadap Nayla sepanjang hari ini.Namun, isi dari lembaran laporan yang disusun Rania telah resmi dimanipulasi secara total oleh kepalanya sendiri.Ia sengaja membuat kalimat-kalimat di dalamnya sesamar dan sebersih mungkin dari rahasia; Rania hanya menuliskan bahwa Nayla sepanjang hari sibuk mengelap debu rak buku perpustakaan agung, menghitung sisa beras dan tidak pernah melakukan perlakuan atau mengatakan hal aneh apa pun.Ia menyembunyikan fakta bahwa Sultan Azfar meng

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 107 : Rania Masuk ke Dalam

    Rania akhirnya resmi menjadi pelayan pribadi Ibu Suri Nadira.Dan langkah pertamanya justru membawanya mendekati Nayla.Pagi itu, suasana di sudut dapur kecil bawah tanah terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.Aroma panggangan roti gandum kasar dan rebusan sup miju-miju mengepul tipis, menyelimuti empat orang yang kini berkumpul mengelilingi meja kayu panjang.Nayla duduk dengan punggung tegak, namun binar kebahagiaan yang teramat murni seketika terpancar dari sepasang manik mata cokelat jernihnya saat mendengar kabar terbaru mengenai sahabat kecilnya."Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar sebuah keajaiban yang luar biasa besar!" seru Nayla, wajah cantiknya yang semula agak pucat kini merona segar penuh rasa syukur yang tak terbendung. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan Rania yang terasa dingin."Aku sangat bahagia mendengarnya! Menjadi pelayan pribadi utama Ibu Suri Nadira berarti kau tidak perlu lagi mengangkat baskom air berat di dapur luar ini!" lanjut Nayla dengan mata berb

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 106: Pemilik Hati Sang Panglima

    Entah kenapa kini Rafiq mulai sering berada di sekitar Nayla.Bukan sebagai kebetulan.Langkah kaki tegap yang berbalut sepatu bot baja itu tidak lagi berderap kaku memimpin barisan patroli di benteng luar.Sebaliknya, ketukan konstan itu bergema halus di antara keheningan lorong-lorong perpustakaan agung yang sunyi dan beraroma kertas tua.Di balik rak-rak kayu raksasa yang menjulang tinggi, Panglima Rafiq berdiri tegap tanpa mengenakan pelindung kepala zirahnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci gerak-gerik Nayla yang sedang sibuk memilah naskah pengobatan herbal.Nayla menghentikan gerakan jemarinya, menolehkan kepalanya perlahan seraya menatap heran ke arah sosok pria perkasa yang berdiri terlalu dekat di sampingnya. "Panglima Rafiq? Mengapa Anda masih berdiri mematung di dekat rak ini? Apakah hamba melakukan kesalahan dalam penyusunan berkas administrasi kesultanan?"Rafiq tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah barisan buku kuno bersampul ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status