MasukULALA BUND, NAYLA MAKIN DI ATAS ANGIN! Sultanah Mariam dibuat terpesona sama jawapan bijak Nayla pas nge-teh bareng. Tapi gawat, ada sosok misterius ngintip di semak-semak! Harem Al-Qamar fix makin gawat! Makin penasaran kan siapa sosok yang ngintip itu? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, dan tumpahin KOMENTAR kalian! Jangan lupa berikan SUPPORT terbaik kalian secara ugal-ugalan buat author lewat koin atau hadiah. SUPPORT kalian adalah bensin utama biar bab baru cepet up!
Pagi datang.Tetapi Nayla tidak membawa ketenangan sedikit pun bersamanya saat menginjakkan kaki di area istana utama.Sinar matahari fajar yang menerobos dari celah jendela ruang kerja utama memantul pucat pada permukaan lantai marmer hitam yang dingin.Nayla melangkah masuk dengan nampan tembaga di dekapannya.Gerakan tubuhnya terasa jauh lebih kaku dari biasanya, menahan rasa lelah emosional yang meluap.Bahunya menegang kaku, dan setiap ketukan sepatunya di lantai marmer seolah menuntut tenaga dari kakinya yang masih lemas akibat sisa ketakutan semalam.Wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona kemerahan seperti biasa. Sepasang lingkaran hitam tercetak amat jelas di bawah kelopak matanya yang sayu dan kurang tidur.Ia meletakkan wadah tinta baru dan merapikan tumpukan kertas perkamen di tepi meja mahoni, berusaha keras bergerak seolah-olah dunianya sedang baik-baik saja.Namun, getaran halus pada ujung jemarinya saat memegang botol kaca tidak luput dari pengamatan tajam pria yang dudu
SRET!Bilah besi yang teramat tajam itu bergesek kencang memotong udara malam. Suara robekan halus terdengar, disusul oleh cairan hangat berwarna merah pekat yang langsung memercik keluar, mengalir deras mengotori lantai kusam reruntuhan kuil itu.Darah menetes ke lantai batu kuil, menciptakan ketukan konstan yang memutus seluruh keheningan malam.Nayla mematung. Napasnya tertahan di ujung tenggorokan, tersenggal-senggal dengan dada yang naik turun tidak beraturan.Kedua matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah noda merah yang kian melebar di bawah kaki mereka. Tangannya kaku.Detik berikutnya, suara denting logam bergema nyaring saat belati kecil itu terlepas begitu saja dari genggamannya, jatuh menghantam marmer retak.Seluruh tubuh mungilnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki, terkejut atas apa yang baru saja ia lakukan, ya.. Nayla benar-benar melakukannya.Pangeran Faris tersentak mundur beberapa langkah. Sepasang lengannya yang semula mengunci pilar marmer
Lonceng tengah malam berdentang dua belas kali, bergema menembus kesunyian istana.Di saat seluruh istana seharusnya tenggelam dalam tidur yang lelap, Nayla justru berjalan seorang diri menuju sayap barat yang telah lama ditinggalkan.Di balik lipatan gaunnya, jemarinya menggenggam erat sesuatu yang dingin dan tajam.Sebuah belati kecil milik almarhum ayahnya.Suasana malam itu teramat senyap dan meremangkan bulu kuduk. Koridor marmer yang biasanya dilewati oleh barisan dayang atau pelayan kini kosong melompong, menyisakan bayang-bayang tiang batu yang memanjang kaku.Taman istana hanya diterangi oleh pantulan cahaya rembulan yang muram dan berawan.Sesuatu terasa ganjil di kepala Nayla; beberapa prajurit yang biasanya berpatroli ketat di perbatasan sayap barat mendadak tidak terlihat di pos mereka.Nayla menunduk sejenak, meraba selembar kertas perkamen tanpa nama pengirim yang tersimpan di saku gaun kusamnya.Surat itu hanya berisi perintah singkat untuk datang ke kuil tua di rerunt
Nayla tidak mengetahui bahwa namanya sedang dibicarakan di tiga tempat berbeda. Di ruang Sultan, di kediaman Safiya, dan di ruangan Ibu Suri Nadira.Malam semakin larut di ruang kerja pribadi Sultan Azfar. Berkas-berkas laporan pajak yang biasanya membuatnya mengerutkan kening, kini terasa berbeda.Hubungan antara Sultan dan Nayla perlahan bergolak melintasi batas kaku seorang penguasa dan pelayan biasa, baik secara emosional maupun profesional.Cahaya lilin terpantul di matanya saat ia menatap gadis di hadapannya. "Nayla, coba kau jelaskan lagi teori perputaran rute perdagangan yang waktu itu kau baca dari manuskrip kuno Baghdad," ujar Sultan Azfar.Ia sengaja menaruh pena bulunya, bersandar pada takhta emasnya sembari menatap Nayla yang sedang menata lilin.Nayla berbalik, binar antusias langsung memancar di sepasang matanya. Jemarinya dengan lincah merapikan lelehan lilin di tatakan perunggu."Ah, tentang kafilah dagang musiman, Yang Mulia Sultan? Buku itu mencatat bahwa jika kita
Rania akhirnya dipanggil. Tetapi kali ini bukan hanya Safiya yang menunggunya—Ibu Suri Nadira juga sudah berada di dalam ruangan bernuansa perak tersebut.Langkah kaki Rania tersendat tepat di ambang pintu aula dalam paviliun harem. Jantungnya berdegup keras menghantam dada, dan seluruh persendian kakinya mendadak lemas ketika melihat sosok wanita tua dengan jubah megah bersulam benang perak khas wilayah timur duduk anggun di samping Selir Safiya.Dua baris pengawal kekar berdiri kaku di belakang mereka, menambah sesak udara ruangan."Masuklah, Rania. Jangan berdiri di sana seperti orang kebingungan," ujar Safiya.Suaranya sengaja dilembutkan, namun gestur tangannya yang mengibaskan saputangan terasa kaku dan menekan."Kemari dan ambil posisi duduk di hadapan kami," lanjut sang Selir seraya menunjuk kursi bantal rendah di tengah ruangan.Rania melangkah dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan napasnya yang patah-patah.Lututnya gemetar saat menduduki kursi kayu berlapis beludru
Nadira tidak pernah bertanya tanpa alasan. Dan Safiya mulai sadar bahwa mendekati Ibu Suri bisa menjadi sebuah permainan politik yang teramat berbahaya dan membakar tangannya sendiri.Di bawah temaram bayangan mawar paviliun, Safiya menarik napas panjang, mencoba menata detak jantungnya agar suaranya terdengar setenang mungkin di hadapan Ibu Suri Nadira.Jemarinya meremas kain gaun sutra birunya hingga kusut, menahan gejolak panik yang mendadak menyerang dadanya."Hamba... hamba hanya merasa kedudukan seorang pelayan pribadi sultan belakangan ini sudah mulai terlalu besar dan melintasi batas,Yang Mulia Ibu Suri," jawab Safiya, memilah kata dengan sangat hati-hati.Ia melirik ekspresi wajah Nadira yang tertutup rapat, mencoba membaca celah untuk menyelamatkan mukanya.Nadira memetik sekuntum kelopak mawar merah, matanya tidak beralih sedikit pun dari bunga di genggamannya."Terlalu besar? Dalam hal apa, Selir Safiya?" tanya Nadira datar tanpa menoleh."Apakah seorang pelayan kecil sang







