Home / Zaman Kuno / Rahasia Malam Sultan / Bab 99: Rania Di Antara Dua Jalan

Share

Bab 99: Rania Di Antara Dua Jalan

Author: fazaa
last update publish date: 2026-09-05 20:31:14

Rania akhirnya dipanggil. Tetapi kali ini bukan hanya Safiya yang menunggunya—Ibu Suri Nadira juga sudah berada di dalam ruangan bernuansa perak tersebut.

Langkah kaki Rania tersendat tepat di ambang pintu aula dalam paviliun harem. Jantungnya berdegup keras menghantam dada, dan seluruh persendian kakinya mendadak lemas ketika melihat sosok wanita tua dengan jubah megah bersulam benang perak khas wilayah timur duduk anggun di samping Selir Safiya.

Dua baris pengawal kekar berdiri kaku di belaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 99: Rania Di Antara Dua Jalan

    Rania akhirnya dipanggil. Tetapi kali ini bukan hanya Safiya yang menunggunya—Ibu Suri Nadira juga sudah berada di dalam ruangan bernuansa perak tersebut.Langkah kaki Rania tersendat tepat di ambang pintu aula dalam paviliun harem. Jantungnya berdegup keras menghantam dada, dan seluruh persendian kakinya mendadak lemas ketika melihat sosok wanita tua dengan jubah megah bersulam benang perak khas wilayah timur duduk anggun di samping Selir Safiya.Dua baris pengawal kekar berdiri kaku di belakang mereka, menambah sesak udara ruangan."Masuklah, Rania. Jangan berdiri di sana seperti orang kebingungan," ujar Safiya.Suaranya sengaja dilembutkan, namun gestur tangannya yang mengibaskan saputangan terasa kaku dan menekan."Kemari dan ambil posisi duduk di hadapan kami," lanjut sang Selir seraya menunjuk kursi bantal rendah di tengah ruangan.Rania melangkah dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan napasnya yang patah-patah.Lututnya gemetar saat menduduki kursi kayu berlapis beludru

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 98: Dua Wajah Seorang Ibu Suri

    Nadira tidak pernah bertanya tanpa alasan. Dan Safiya mulai sadar bahwa mendekati Ibu Suri bisa menjadi sebuah permainan politik yang teramat berbahaya dan membakar tangannya sendiri.Di bawah temaram bayangan mawar paviliun, Safiya menarik napas panjang, mencoba menata detak jantungnya agar suaranya terdengar setenang mungkin di hadapan Ibu Suri Nadira.Jemarinya meremas kain gaun sutra birunya hingga kusut, menahan gejolak panik yang mendadak menyerang dadanya."Hamba... hamba hanya merasa kedudukan seorang pelayan pribadi sultan belakangan ini sudah mulai terlalu besar dan melintasi batas,Yang Mulia Ibu Suri," jawab Safiya, memilah kata dengan sangat hati-hati.Ia melirik ekspresi wajah Nadira yang tertutup rapat, mencoba membaca celah untuk menyelamatkan mukanya.Nadira memetik sekuntum kelopak mawar merah, matanya tidak beralih sedikit pun dari bunga di genggamannya."Terlalu besar? Dalam hal apa, Selir Safiya?" tanya Nadira datar tanpa menoleh."Apakah seorang pelayan kecil sang

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 97: Permainan Sang Pangeran

    Malam saat Pangeran Faris terang-terangan mengirim utusan untuk memanggil Nayla agar menemuinya ditolak Sultan mentah-mentah, tapi tak berhenti di situ. Sejak kedatangan Pangeran Faris, kehidupan Nayla berubah.Bukan karena Faris memiliki kekuasaan langsung atas istana karena adik tiri sang sultan, melainkan karena ia sengaja membuat keberadaan Nayla terasa seperti permainan baginya.Pangeran Faris mulai sengaja sering memunculkan diri di sepanjang lorong paviliun tempat Nayla biasa berlalu-lalang menyelesaikan tugasnya.Siang itu, ia kembali berdiri bersandarkan tiang marmer, menatap Nayla dengan pandangan meremehkan sekaligus penasaran.Dua pengawal pribadinya berjaga di kejauhan, membiarkan sang pangeran leluasa mematok mangsa barunya."Nayla," panggil Faris, melangkah memotong jalur berjalan gadis itu dengan senyum angkuh yang tersirat di bibirnya.Nayla menghentikan langkah, meletakkan nampan tembaga berisi botol tinta di pelukannya erat-erat.Ia memundurkan pijakannya, menjaga j

  • Rahasia Malam Sultan    Bab 96: Tatapan Dari Timur

    Nayla hanya berniat menjalankan tugas. Namun sejak memasuki aula, ia merasa dirinya sedang diperiksa seperti sebuah barang berharga di pasar pelelangan.Ibu Suri Nadira meletakkan jemarinya yang keriput di atas meja marmer, matanya menyipit tajam menatap posisi berlutut Nayla."Berdirilah, Gadis Pelayaan. Maju tiga langkah lebih dekat ke arah meja perjamuan ini," perintah Nadira dengan suara parau yang berat.Nayla menurut dengan gerakan yang teratur dan tenang. Ia melangkah maju tepat tiga kali, lalu menghentikan kakinya dengan posisi tegak, menatap lantai marmer dengan sopan."Katakan padaku, apa sebenarnya tugas utamamu di dalam ruangan pribadi anakku ini?" tanya Nadira memancing."Hamba hanya bertugas menyusun lembaran perkamen arsip lama, mengganti tinta pena bulu, dan memastikan lilin serta lampu minyak menyala dengan baik, serta penyiapkan segala kebutuhan sultan.Yang Mulia Ibu Suri," jawab Nayla sederhana.Jemarinya bertaut rapi di depan gaun pelayannya yang bersahaja, mempert

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 95: Jamuan Sang Ibu Suri

    Pertanyaan Ibu Suri Nadira membuat seluruh aula utama mendadak sunyi."Aku sudah mendengar semua cerita tentang efisiensi anggaran istanamu, Azfar. Sekarang katakan padaku... di mana keberadaan pelayan wanita pribadi bernama Nayla Azura itu?"Untuk beberapa detik, Sultan Azfar hanya menatap ibu tirinya. Tangannya masih berada di atas sandaran tahta. Tidak ada yang tahu apakah diamnya itu karena terkejut atau karena sedang menahan amarah.Sultan Azfar perlahan melenturkan jemarinya, menguasai ruang dengar dengan suaranya yang berat dan tenang.Ia sengaja menyembunyikan gurat kehangatan di matanya, menghindari kesan bahwa Nayla mempunyai kedudukan istimewa di mata hokum kesultanan."Nayla Azura adalah pelayan istana, Ibu Suri. Ia bekerja sesuai tugas administratif yang diberikan kepadanya di bawah pengawasan langsung ruang arsip," ujar Sultan Azfar datar.Nadira mencondongkan kepalanya, matanya yang berkerut menatap tajam selayaknya elang malam di atas tahta tua."Hanya itu, Azfar?" des

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 94: Seorang Sahabat

    Pagi itu, aula utama istana dipenuhi ketegangan. Sultan Azfar baru saja menerima kabar yang membuat seluruh pejabat berhenti berbicara. Ibu Suri Nadira telah tiba di ibu kota. Dan ia datang bersama seseorang, Pangeran Faris Qamar.Di aula utama istana Al-Qamar, gulungan perkamen bersayap elang baru saja dibuka di depan meja Sultan Azfar. Para penasihat langsung berkerumun, bisik-bisik ketakutan memecah keheningan ruangan.Kedatangan mendadak rombongan besar dari wilayah timur itu membuat suasana istana mendadak tegang.Sayyid Malik melangkah terburu-buru ke depan takhta, membungkuk dalam dengan pelipis berteteskan keringat dingin."Yang Mulia Sultan, kedatangan Ibu Suri Nadira ini sama sekali bukan perkara kecil," ujar Sayyid Malik dengan nada gemetar."Kita semua tahu bagaimana kekuasaannya di timur selama pengasingan. Hamba khawatir ada niat terselubung di balik kedatangan ini," lanjut sang penasihat.Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah utusan pembaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status