Mag-log in
Hujan deras mengguyur kota Metropolis malam itu, menampar kaca jendela apartemen kecil yang nyaris rapuh. Di dalamnya, Juna duduk di sofa tua, memijat pelipis dengan lelah.
Tatapannya sesekali beralih ke pintu, menunggu Aleya, istrinya, pulang dari bekerja.
Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juna memilih pulang lebih awal. Ia ingin melakukan sesuatu yang sederhana, tapi mungkin akan sangat berarti menurut Juna, merayakan ulang tahun Aleya dengan caranya sendiri.
Di atas meja, sebuah kue kecil sudah tertata rapi. Lilin belum dinyalakan, seolah menunggu momen yang tepat.
Klak—
Pintu akhirnya terbuka.
Aleya masuk dengan wajah masamnya.
Juna segera berdiri, berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Di tangannya, kue ulang tahun itu kini terasa seperti harapan yang rapuh.
Ia menatap kue dengan satu lilin sederhana itu, lalu kembali menatap Aleya, "Sayang, Selamat ulang tahun.”
Tangannya yang berurat tampak sedikit gemetar saat merogoh saku jaket yang terasa sempit. Sesaat, ia seperti menahan napas.
Tak lama, senyumnya kembali merekah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu menyodorkannya dengan hati-hati. “Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku harap kamu suka.”
Aleya menatap kotak itu dengan ekspresi jijik, lalu mengalihkan pandangannya pada Juna dengan sorot mata penuh amarah.
“Apa lagi ini? Kamu beli barang rongsokan seperti ini di mana? Aku bisa gatal kalau memakainya!” katanya, lalu menyandarkan tubuh ke sofa dengan sikap acuh, jelas tidak tertarik.
Juna terdiam. Dadanya terasa sesak. Barang yang ia beli dengan susah payah, dari hasil menyisihkan penghasilannya seharian, kini terasa begitu tidak berarti. “Aku tahu ini tidak mewah, tapi….”
“Jun, sudahlah! Aku lelah!” potong Aleya tajam. “Setiap ulang tahun, kado darimu tidak pernah berubah! Perhiasan-perhiasan yang kamu kasih itu, bahkan dijual lagi pun tidak laku. Kamu pikir aku bahagia dengan semua ini?”
Entah mengapa, udara malam terasa semakin dingin, merayap pelan hingga menusuk ke tulang. Namun, dingin itu masih kalah kejam dibandingkan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Aleya.
“Juna, mari bercerai,” ucapnya tanpa jeda, tanpa ragu.
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Seolah yang ia ucapkan hanyalah hal biasa, bukan keputusan yang mampu menghancurkan segalanya. Seolah tahun-tahun yang mereka lewati bersama tidak pernah benar-benar berarti.
Juna terpaku. Tatapannya mengunci pada Aleya yang berjalan santai menuju sofa, lalu duduk dengan anggun, seakan sedang meletakkan dirinya di atas sesuatu yang menjijikkan. Kontras dengan Juna yang masih berdiri kaku, mencoba memahami kenyataan yang terasa begitu tiba-tiba.
“Cerai? Al… ini tidak lucu…” suaranya pecah, bergetar, bukan karena marah, melainkan karena hatinya yang mulai runtuh.
Aleya mengangkat dagunya sedikit, menatapnya dengan dingin yang tak lagi ia kenali. “Tidak ada yang sedang bercanda di sini. Aku sangat serius, Arjuna Wiwaha.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam, lebih menusuk.
“Aku muak. Dan benar kata orang… wajah tampanmu tidak akan pernah membuat seseorang kenyang.”
Jantungnya seolah dihantam palu godam berkali-kali. Juna bangkit, berdiri tepat di hadapan Aleya. Matanya memerah, menahan sesak yang terasa menyesakkan dada, menatap wanita itu dengan amarah yang bercampur luka.
“Muak?” suaranya bergetar, namun penuh tekanan. “Apa maksudmu wajah tampanku tidak bisa membuatmu kenyang?”
Ia menarik napas kasar, berusaha mengendalikan emosinya yang mulai meluap.
“Kamu lupa?” lanjutnya, nadanya meninggi. “Siapa yang dulu memintaku menikah? Siapa yang bersikeras bahwa kita bisa hidup bersama, apa pun keadaannya?”
Tatapannya semakin tajam, suaranya kini lebih dalam, sarat kecewa.
“Kenapa sekarang justru wajahku yang kamu hina? Ingat, Aleya… ingat dulu alasanmu memintaku menikahimu.”
“Itulah kebodohanku. Karena itu, aku ingin menghentikan kebodohan ini! Aku tidak bisa melihat masa depan bersamamu,” balas Aleya dengan nada dingin yang menusuk.
“Aku merasa terjebak dalam hubungan ini. Kamu terlalu sibuk mengejar pekerjaan yang masa depannya tidak jelas. Aku butuh lebih dari ini, Jun… dan kamu bukan orangnya.”
Juna terpaku, seolah baru saja ditampar keras. Dadanya naik turun menahan emosi. “Aku sudah bekerja keras, Al. Aku berusaha memberikan yang terbaik. Kamulah yang selalu merasa kurang! Kamu—”
“Iya, betul! Aku memang merasa kurang!” sergah Aleya, suaranya kini meninggi, penuh tekanan.
“Kamu bekerja sampai larut malam setiap hari, tapi hasilnya apa? Uang yang kamu bawa pulang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Aku harus membeli skincare, makeup, bahkan pakaian dengan uangku sendiri! Bukankah itu tanggung jawabmu sebagai suami?”
“Al, kamu tahu penghasilanku tidak seberapa, tapi aku sedang berusaha. Aku selalu mengusahakannya, Al… semua ini untuk kamu,” ucap Juna. Meski amarah menguasainya, ia masih berusaha menyelamatkan rumah tangga mereka yang nyaris runtuh.
“Berusaha? Dengan jadi sopir taksi, itu cukup?” balas Aleya, suaranya meninggi, hampir seperti teriakan.
“Aku yang seperti ini harus menikah denganmu? Ini benar-benar bencana! Seharusnya aku bisa mendapatkan yang lebih kaya darimu. Jangan paksa aku hidup susah seperti ini!”
Juna mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Jadi maumu apa, Aleya? Kamu mau meninggalkanku begitu saja? Setelah semua yang aku lakukan untukmu? Kamu tahu seberapa keras aku bekerja hanya untuk memastikan kita bisa hidup nyaman?”
Aleya mendengus, lalu melipat tangan di dada. Tatapannya merendahkan. “Hidup nyaman? Dengan kamu jadi sopir taksi? Sampai kapan, Jun? Janjimu itu sudah basi. Aku sudah mendengar kata ‘berusaha’ itu selama bertahun-tahun!”
Jawaban itu membuat darah Juna mendidih. Ia menatap Aleya tajam, suaranya berubah berat dan dingin.
“Jadi benar kamu ingin bercerai?” jedanya singkat, napasnya tertahan. “Kamu tidak akan menyesal?”
Salva merebahkan tubuhnya di atas kasur hotel yang empuk sambil mengembuskan napas panjang. Kakinya terasa pegal setelah seharian berkeliling menemui para pemilik ruko di sekitar La Grande Malang bersama tim operasional. Namun anehnya rasa lelah itu bukan hal yang paling mengganggu pikirannya malam ini.Yang terus terbayang justru tatapan Juna pada Aleya saat rapat tadi siang. Juna terlihat tenang mengamati Salva.Dan entah kenapa membuat dada Salva terasa tidak nyaman.“Ingat, Sal… gak baik terlalu kepo sama Kehidupan pribadi Bos. Tetap professional Salvarea!” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit kamar hotel.Ia menutup wajahnya dengan bantal beberapa detik karena silaunya lampu yang berada pas di atas wajahnya, sebelum akhirnya meraih ponsel di samping ranjang.Belum sempat ia membuka apa pun layar ponselnya sudah lebih dulu menyala. Nama “Tuan Juna” muncul besar di layar.Salva langsung memejamkan mata pasrah. “Assshhhh
Pagi itu, jarum jam di dinding ruang rapat Hotel La Grande Malang sudah menunjukkan pukul 09.20.Ruangan itu terasa dingin karena pendingin udara yang menyala maksimal, namun kegelisahan yang terpancar dari Salva justru membuat suasananya terasa semakin panas.Sudah dua puluh menit berlalu dan pihak perusahaan binatu milik Gala belum juga muncul.Juna sendiri masih duduk tenang di kursinya sambil membalik halaman demi halaman berkas kerja sama vendor dengan ritme santai. Wajahnya nyaris tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.Baginya, menunggu bukanlah hal baru.Dulu, saat masih menjadi sopir taksi, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu penumpang keluar dari mall atau hotel tanpa kepastian akan dibayar mahal. Jadi keterlambatan seperti ini belum cukup untuk memancing emosinya.Berbeda dengan Salva. Wanita itu sejak tadi terus melirik jam tangannya. Jemarinya beberapa kali mengetuk tablet di pangkuan
Juna menyesap kopi hitamnya perlahan. Aroma pahit yang kuat langsung memenuhi inderanya, sementara matanya masih terpaku pada lembaran laporan kerja sama vendor yang sejak tadi ia baca tanpa jeda. Alisnya sedikit berkerut. “Jadi…” gumamnya pelan sambil membalik halaman laporan itu. “Kenapa Kakek repot-repot membawa usaha milik Gala masuk ke jaringan hotel ini?” Ia mengangkat pandangannya sebentar. “Padahal menurutku, di kota sebesar ini pasti banyak jasa binatu yang jauh lebih profesional kalau kita benar-benar membuka penawaran mitra secara terbuka.” Tatapannya kemudian beralih pada Salva yang sedang merapikan cangkir di meja kecil dekat sofa. Salva mengangguk kecil, tanda setuju dengan ucapan itu. Namun tangannya tetap sibuk membenarkan posisi sendok dan tatakan cangkir yang sebenarnya sudah sangat rapi. “Kembali lagi…” ucapnya tenang. “Dalam dunia bisnis, semuanya tidak selalu soal kualitas atau efektivitas, Tu
Juna terpaku beberapa detik, matanya terkunci pada manik mata Salva yang terlihat jernih namun penuh dengan kekhawatiran. Tatapan itu terlalu dekat, hingga membuat pikirannya perlahan kosong.Hingga akhirnya, Juna pun menyadari, bahwa ia tidka boleh seperti ini. Perlahan, Juna menjauhkan wajahnya.Ia memutus kontak mata itu sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.Juna berdehem pelan, mencoba mengembalikan ketenangan dan wibawa yang sempat goyah hanya karena jarak beberapa senti.“Aku tidak apa-apa/ tenang saja,” ucapnya akhirnya. Suaranya sedikit serak. “Mungkin cuma kurang tidur.”Salva baru tersadar bahwa posisi mereka tadi terlalu dekat.Seketika ia memundurkan tubuhnya, kembali duduk dengan jarak yang lebih aman. Wajahnya merona cukup jelas di bawah cahaya redup mobil, sementara tangannya buru-buru merapikan tablet di pangkuannya hanya untuk mengalihkan rasa gugup.“Maaf, Tuan,” ucapnya pelan. “Saya hanya khawatir
Malam itu, kemegahan penthouse milik Satya terasa begitu tenang, namun di saat yang sama juga menyesakkan.Juna duduk di sofa kulit premium yang terlalu empuk untuk ukuran hidupnya selama ini. Kenyamanan seperti itu bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.Di hadapan mereka, lampu-lampu kota berkelip indah dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Kota itu terlihat kecil dari atas sana, seolah seluruh dunia berada di bawah kaki keluarga Wiwaha.Satya menyesap teh hangatnya perlahan sebelum akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka setelah pertemuan panas di ruang kerja sore tadi.“Jangan pernah terpikir untuk kembali dengannya, Cucuku,” ucap Satya tenang. “Apa jaminannya dia akan berubah?”Juna menoleh ke arah kakeknya. Kalimat itu tepat menghujam ulu hatinya. Sejenak, ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena sempat terlintas bayangan masa lalu saat menatap Aleya tadi. Ada bagian dari dirinya yang masi
“Tapi sekretaris saya yang cantik ini… sangat mengenal siapa pria di depan saya ini.”Suasana di ruangan Satya yang tadinya hanya terasa kaku, kini berubah menjadi medan perang dingin yang tidak nyaman. Satya, yang memang belum mengetahui detail masa lalu pernikahan Juna, menatap Aleya dengan sorot penuh rasa ingin tahu.Di matanya, Aleya terlihat seperti wanita terpelajar dengan pembawaan elegan dan penampilan yang pantas berada di lingkungan elite seperti ini.“Betulkah?” tanya Satya pelan. “Siapa nona muda yang cantik ini?”Gala jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menyunggingkan senyum menyeringai penuh kemenangan. Tatapannya melirik Juna sekilas, seolah sudah memegang kartu as untuk mempermalukan pria itu habis-habisan di depan Satya.“Oh, jadi Anda menerimanya tanpa mencari tahu latar belakangnya sama sekali, Tuan Satya?” ucap Gala dengan nada pura-pura prihatin. “Wanita ini a







