Masuk“Tidak, aku tidak akan menyesal.” Aleya menatap Juna dengan dingin, senyum tipisnya terangkat, penuh rasa merendahkan.
“Aku tidak punya cukup waktu untuk menunggumu mewujudkan mimpi yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Lagipula, aku sudah menemukan seseorang yang bisa memberikan apa yang aku butuhkan sekarang,” lanjut Aleya.
Mata Juna membulat sempurna. Dadanya naik turun, emosinya meledak tanpa bisa dibendung.
“Apa maksudmu? Katakan siapa!” suaranya meninggi, menggema di ruangan sempit itu. “Lancang sekali dia menyentuh apa yang masih menjadi milik orang lain!”
Aleya tetap tenang.
Tatapannya kembali dingin saat menatap Juna, sebelum akhirnya beralih ke arah jendela, seolah tak ingin lagi menatap wajah pria itu.
“Gala.”
Brak!
Juna menendang meja di dekat kakinya hingga terbalik.
Suara benturan itu menggema, seolah meluapkan semua amarah yang tak lagi mampu ia tahan.
“Kalau memang itu maumu, pergilah,” ucapnya dengan suara bergetar, tangannya menunjuk ke arah pintu.
“Kemasi barangmu sekarang, dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di depanku. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah sudi menerimamu kembali, Aleya Ganesha!”
Aleya berdiri.
Tatapannya tetap dingin, namun kali ini ia mengamati Juna dengan saksama, entah apa yang coba dia pastikan.
Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan melangkah menuju kamar.
Tak lama, Aleya keluar membawa sebuah tas jinjing putih. Wajahnya masih sama masamnya, seakan dialah yang tersakiti dalam keadaan ini.
“Aku sudah mengemas semua barangku,” ujarnya datar. “Bayangkan, kamu bahkan tidak sadar kalau semua pakaianku sudah kubereskan sejak beberapa hari lalu.”
Ia tersenyum tipis, sinis. “Jangan kira hanya aku yang salah di sini. Ingat, semua ini salahmu karena kamu sangat tidak kompeten, Juna!”
Aleya mengeluarkan sebuah amplop cokelat, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan ringan, seolah itu bukan sesuatu yang berarti.
“Aku harap kamu bisa segera menandatangani surat ini.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi. Tidak ada satu pun tatapan ke belakang.
Pintu tertutup keras.
Dan di dalam keheningan yang tersisa, Juna hanya berdiri. Terpaku meratapi setiap kata yang masih menggema di telinganya.
***
Beberapa hari kemudian, di dalam taksi yang telah menjadi tumpuannya selama bertahun-tahun, Juna melirik arloji di pergelangan tangannya.
Hari sudah hampir tengah malam, tetapi ia memutuskan untuk mengambil satu penumpang lagi sebelum pulang.
Bayangan Aleya yang memaki dan merendahkan harga dirinya terus terngiang setiap kali ia berada di rumahnya sendiri.
Rumah mungil itu kini terasa semakin sesak, terlebih sejak semua pengakuan Aleya malam itu.
Hujan deras masih mengguyur kota Metropolis.
Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, membuat aspal tampak licin dan berkilau.
“Tolong ke Hotel La Grande,” ucap seorang pria tua dengan nada cemas saat masuk ke dalam taksinya.
Juna mengangguk pelan, lalu mulai mengarahkan mobil menuju tujuan.
Sepanjang perjalanan, mata Juna sesekali tertuju pada spion tengah.
Pandangannya tak lepas dari sosok pria tua di kursi belakang itu.
Wajah penumpangnya tampak gelisah, napasnya tak teratur—seolah sedang diburu sesuatu yang tak kasatmata.
Juna tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Ia mungkin tidak hidup mewah, tetapi bertahun-tahun bekerja sebagai sopir membuatnya peka. Setelan jas yang dikenakan pria tua itu jelas mahal.
Belum lagi tas jinjing dengan logo kecil di ujungnya. Cukup untuk menunjukkan status sosial yang tak perlu diucapkan.
“Pak, apa ada masalah?” tanya Juna sopan, matanya tetap fokus ke jalan.
Pria itu tampak ragu. Ia hanya mengangguk kecil.
Juna tidak sempat menangkap gestur itu karena fokus menyetir. Namun ketika ia melirik spion kanan dan kiri, ada sesuatu yang terasa janggal.
Sebuah mobil sedan hitam tampak mengikuti tepat di belakang taksi Juna, jaraknya begitu dekat hingga membuatnya waspada.
Naluri yang terasah selama bertahun-tahun langsung memberi sinyal bahwa ini bukan kebetulan.
Juna mencoba mengurangi kecepatan, berharap mobil itu akan menyalip dan pergi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Mobil hitam itu ikut melambat, lalu perlahan bergerak sejajar di samping taksinya.
Juna melirik sekilas ke arah samping, jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Kaca mobil itu gelap, tak memperlihatkan siapa pun di dalamnya.
“Kamu… kelompok mereka?” tanya pria tua itu tiba-tiba, suaranya bergetar.
Suasana mendadak berubah mencekam.
Juna mengerutkan kening. “Bagaimana maksud Tuan?”
Menyadari dugaannya keliru, pria tua itu segera berbicara lagi, kali ini lebih panik. “Cepat, tambah kecepatanmu, Nak! Atau kita berdua mati konyol!”
Jantung Juna berdegup keras.
‘Sial…’ umpatnya dalam hati.
Baru saja istrinya meminta cerai, dan sekarang… nyawanya ikut dipertaruhkan.
‘Hidup macam apa ini! Aku hanya ingin kaya, Tuhan. Banyak yang belum aku coba. Biarkan aku hidup, Tuhan.’ Doanya lirih terucap dalam hati.
Dengan napas tertahan, Juna menginjak pedal gas kuat-kuat, berharap taksinya masih cukup tangguh untuk melaju lebih cepat untuk meninggalkan ancamn yang entah dari mana datangnya.
Semenjak malam gala perayaan di hotel itu, kehidupan emosional Shayra Wiwaha berubah total. Di dalam kamarnya yang mewah, setiap kali ia memejamkan mata, memori di sudut tangga mezanin itu selalu berputar tanpa izin. Sentuhan tegas telapak tangan Finn di dadanya, pagutan bibir pria itu yang awalnya dingin namun kemudian membakar, hingga sensasi ketika sesuatu yang keras di balik celana Finn menggeliat menegang di pangkal pahanya—semuanya telah menjadi candu yang aneh bagi Shayra.Ia menginginkan sentuhan itu lagi. Rasa penasaran seorang gadis muda yang baru pertama kali merasakan letupan gairah terus bergejolak di dadanya. Namun, setiap kali fantasi liar itu menguasai pikirannya, sebuah nama yang diucapkan mamanya malam itu mendadak bergema di kepalanya bak alarm bahaya: Raga.Keesokan paginya, suasana ruang makan kediaman Wiwaha terasa sejuk. Juna sedang menyesap kopi hitamnya sembari membaca laporan bisnis di tablet, sementara Salva duduk di sebelahnya, mengoleskan selai pada sepoto
Pagutan hangat itu mendadak terputus. Kesadaran Finn seolah ditarik paksa kembali ke realitas bumi oleh sisa akal sehatnya yang tersisa. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup liar, Finn memalingkan wajahnya ke samping, menolak ciuman Shayra secara halus namun tegas.Kedua telapak tangannya yang semula mencengkeram bahu Shayra perlahan turun, mendorong tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati agar memberi jarak di antara mereka."Kita tidak boleh begini, Shayra," bisik Finn, suaranya terdengar serak, berat, dan sarat akan penyesalan. Ia menatap karpet di bawah mereka, tak berani menatap langsung sepasang mata murni milik gadis di bawahnya. "Jangan lakukan ini. Aku... aku tidak sebaik yang kamu bayangkan. Terima kasih karena kamu sudah menolongku dari Tante Riana tadi, tapi... kamu terlalu berharga, dan aku terlalu hina untuk melakukan ini denganmu."Kalimat dingin namun jujur itu seketika menghantam kesadaran Shayra bak siraman air es. Pikiran liar yang sempat menguasai ke
Derap langkah kaki beberapa pengawal berbadan tegap terdengar semakin dekat di ujung koridor. Menyadari Riana sudah menghilang di balik pintu darurat, Shayra segera menoleh ke arah belokan. Ia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat mutlak agar para pengawal itu menghentikan langkah mereka."Pak Dimas, berhenti di sana," panggil Shayra dengan suara setengah berbisik namun tegas.Kepala pengawal itu menghentikan anak buahnya, menatap Shayra dengan patuh. "Ada apa, Non Shayra? Di mana orang yang membuat keributan tadi?""Dia sudah pergi lewat pintu keluar darurat. Tidak perlu dikejar, situasi sudah aman. Kalian kembali saja berjaga di depan aula utama, dan tolong jangan katakan apa pun pada Papa," dusta Shayra demi melindungi privasi Finn."Baik, Nona. Kami mengerti," Pak Dimas membungkuk hormat, lalu memimpin anak buahnya mundur dengan senyap.Setelah para pengawal pergi, koridor itu kembali diliputi keheningan yang pekat. Shayra memutar tubuhnya, melangkah cepat mendekati Finn. Tan
Grand Ballroom hotel bintang lima malam itu bertransformasi menjadi lautan kemewahan yang memesona. Kilau lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit berpadu sempurna dengan alunan musik klasika, menyambut ratusan tamu elite yang menghadiri gala perayaan ulang tahun La Grande Holdings yang ke-45.Di tengah hiruk-pikuk kaum borjuis itu, Shayra Wiwaha menjadi pusat semesta. Gaun satin marun model off-shoulder yang melekat sempurna di tubuh tinggi semampainya membuat gadis itu terlihat seperti dewi malam yang turun dari langit. Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah.Tak pelak, hampir setiap pria muda dari kalangan pengusaha dan anak kolega bisnis yang berpapasan dengannya selalu melirik dengan tatapan memuja. Namun, tidak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk menggoda, sebab tepat di sebelah Shayra, berdiri Juna Wiwaha, sang penguasa korporasi yang memancarkan aura dominasi yang teramat kuat
Sesuai prediksi semua orang, presentasi proyek analisis ekonomi makro Kelompok 7 berjalan dengan sangat sempurna. Penjelasan yang terstruktur rapi, ditambah dengan draf salindia buatan Finn yang begitu profesional, membuat dosen pengampu tak ragu untuk langsung memberikan nilai A+ di papan penilaian."Kerja bagus, Kelompok Tujuh. Ini adalah analisis terbaik yang pernah saya lihat semester ini," puji sang dosen sebelum membubarkan kelas."Gila! Kita beneran dapat A+!" seru Freya heboh begitu mereka keluar dari ruang kelas. "Finn, kamu bener-bener penyelamat hidup kami!""Iya, bro. Thanks banget, ya. Nanti malam kalau kamu senggang, biar aku yang traktir makan sebagai gantinya," timpal Jason antusias sembari menepuk bahu Finn.Finn hanya mengangguk datar, dengan cekatan memasukkan laptopnya ke dalam tas tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. "Tidak usah. Tugasnya sudah selesai. Aku duluan."Pria itu langsung membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Hubungan profesional mereka selesa
Satu minggu berlalu dengan cepat. Ruang diskusi di lantai dua perpustakaan pusat Universitas siang itu tampak tenang, hanya diisi oleh ketukan jemari di atas papan tik dan bisikan-bisikan mahasiswa yang sedang belajar.Shayra duduk tegak di salah satu meja bundar. Di hadapannya, Freya dan Jason sudah bersiap dengan buku catatan mereka. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Finn melangkah masuk dengan ransel kanvas usangnya, mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja denim pudar. Ia menarik kursi di hadapan Shayra tanpa mengeluarkan sepatah kata pun."Oke, karena minggu depan kita sudah harus maju presentasi, hari ini kita bagi tugas untuk pembagian materinya, ya," buka Shayra langsung pada inti masalah, menatap Finn dengan pandangan yang masih menyiratkan sisa kekesalan dari insiden minggu lalu.Tanpa repot-repot menjelaskan atau berbasa-basi, Finn membuka laptopnya. Jarinya bergerak lincah di atas trackpad selama beberapa detik.Tring!Ponsel Shayra, Fr
Di sebuah ruang kantor di Hotel La Grande, Satya berdiri di depan jendela tinggi, menatap lalu lalang mobil yang terasa lebih padat dari biasanya. Pantulan sosoknya terlihat samar di kaca.Di belakangnya, seorang pria berjas lengkap berdiri tegak, lalu menunduk hormat. Namun Satya bahkan tidak meno
Juna terbangun dari sofa yang kini menjadi tempat tidurnya. Sejak kepergian Aleya, ia tak pernah lagi menyentuh kamar mereka.Ada rindu yang sialnya masih sesekali datang, meskipun ia sudah berusaha keras melupakan wanita yang sebentar lagi resmi menjadi mantan istrinya itu.Perasaan sayang bercamp
“Bagaimana Anda tahu nama ibu saya?” tanya Juna, suaranya menegang.Pria tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, air mata sudah mengalir deras di pipinya.Dengan suara yang penuh emosi karena menahan campuran rindu dan penyesalan yang tak
“Tuan, rendahkan badan Anda!” seru Juna sambil menekan pedal gas hingga habis.Pria tua itu langsung menunduk, melindungi kepalanya. Di depan, cahaya lampu sorot masih menyilaukan, sementara siluet beberapa pria mulai bergerak keluar dari mobil yang menghadang.Juna menyipitkan mata.Di kejauhan, i







