Se connecter"Kamu dengar semuanya, ya?" Suara Salva terdengar lembut, memecah keheningan di balik tirai jendela. Juna yang masih berdiri mematung hanya mengangguk pelan. Namun, kali ini sebuah senyum tipis, sebuah pertahanan diri terakhir muncul di bibirnya. "Kamu nggak perlu khawatir," ujar Juna lirih. "Hm?" Juna menoleh ke arah istrinya. Tatapannya tampak kosong, namun menerima. "Kalaupun omongan Raga itu benar... seperti yang kamu bilang waktu itu, kita cukup kok untuk satu sama lain." Dada Salva langsung terasa sesak. Ia melihat betapa pria di depannya ini baru saja menelan kemungkinan terburuk dalam hidupnya demi ketenangan Salva. Itu justru membuat hatinya hancur sekaligus menghangat. Salva melangkah mendekat, lalu tanpa peringatan, ia mengecup bibir Juna dengan lembut. Satu kali. Dua kali. Juna mengerjap bingung, kruknya sedikit bergeser di lantai. "Kok tiba-tiba?" tanyanya pelan, mencoba mencari sisa-sisa k
Raga masih berdiri di taman belakang ketika ponselnya bergetar. Ia melirik layar, lalu menerima panggilan dari anak buahnya tanpa basa-basi. "Ya." "Tuan, Nona Aleya sudah diamankan." Raga melirik sekilas ke arah kastil yang megah di belakangnya. "Di mana?" "Di mansion pribadi Anda, sesuai instruksi sebelumnya." "Dia tidak membuat masalah?" "Tidak, Tuan." "Bagus." Raga memutus sambungan telepon. Setidaknya, satu urusan krusial masih berada dalam kendalinya. Namun, baru saja ia hendak memasukkan ponsel ke saku, derap langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Raga menoleh dan mendapati Satya sedang berjalan santai dengan tongkat kayu hitam di tangannya, diikuti Vicky yang mengekor dengan wajah datar. Raga mendecih pelan. "Ternyata Kakak masih suka muncul tiba-tiba." "Aku bisa mengatakan hal yang sama," jawab Satya tenang. Ia berhenti beberapa meter dari Raga. "Ja
Salva tertidur pulas di atas ranjang setelah meminum obat penurun demam yang diberikan dokter. Wajahnya masih tampak pucat. Bahkan saat tidur pun, alisnya sedikit berkerut seolah tubuhnya masih berjuang melawan sesuatu. Juna duduk di kursi di samping ranjang, memperhatikan istrinya dalam diam. Ia seharusnya senang. Berita yang selama ini menghancurkan mereka akhirnya berbalik arah. Hasil tes DNA yang diumumkan Satya membuat publik mulai mempertanyakan Aleya. Banyak orang yang sebelumnya menghujat Juna kini berbalik menyerang mantan istrinya. Namun anehnya, Juna tidak merasakan kemenangan apa pun. Karena selama tiga hari terakhir, pikirannya hanya dipenuhi oleh Salva. Keadaan wanita itu terus memburuk. Demamnya naik turun dan nafsu makannya hampir hilang sepenuhnya. Ia juga mulai menghindari cahaya matahari. Bahkan saat tirai dibuka sedikit saja, Salva akan memejamkan mata dan mengeluh pusing. Belum lagi rasa mual yang datang tanpa peri
Seminggu berlalu, dan alih-alih mereda, skandal tentang Juna justru membara. Nama Juna Wiwaha menjadi santapan harian media yang berlomba-lomba mengangkat narasi klise. Satya awalnya memilih diam, karena ia tahu dalam dunia bisnis, tidak semua serangan layak dibalas. Namun, ketika fitnah tersebut mulai menyeret nama besar keluarga Wiwaha dan menggerogoti harga saham La Grande, kesabarannya mencapai titik nadir. Pagi itu, sebuah konferensi pers mendadak diumumkan. Ruang utama La Grande dipadati awak media. Tak ada yang menyangka Satya akan muncul sendiri. Pria tua itu berjalan masuk dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi, didampingi Vicky dan jajaran pengacara dari firma hukum paling bergengsi. Kilatan kamera segera membabi buta, memenuhi ruangan dengan cahaya yang menyilaukan. Satya duduk di depan mikrofon. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, yang justru membuat suasana ruangan terasa jauh lebih mencekam. "Kalian s
Juna dan Salva sama sekali tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, nama mereka sedang menjadi bahan perbincangan panas. Saat berbagai portal berita dan akun gosip bisnis sibuk menyebarkan narasi tentang seorang pria yang menghamili mantan istrinya lalu kabur ke luar negeri demi menikahi wanita lain, keduanya justru sedang duduk tenang di ruang konsultasi dokter. Dokter yang menangani Juna tampak jauh lebih ceria dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ia membuka hasil pemeriksaan terbaru sambil tersenyum lebar. "Perkembangannya sangat baik, Tuan Juna." Salva yang duduk di samping suaminya langsung terlihat lega. "Benarkah, Dok?" Dokter mengangguk mantap. "Jauh lebih baik dari yang kami perkirakan. Setelah operasi terakhir, respons saraf dan ototnya meningkat signifikan. Saya bahkan ingin mulai mengurangi ketergantungan Anda pada kursi roda." Mata Salva langsung berbinar. "Maksudnya?" "Kita mulai latihan menggunakan kruk,"
Ruang rapat utama La Grande pagi itu dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Para pemegang saham utama, jajaran direksi, dan komisaris duduk mengelilingi meja panjang berlapis kayu mahoni. Di ujung meja, Satya duduk tenang dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara di sisi kanan, Raga tampak rapi dan professional, seolah ia tidak sedang memimpin sebuah kudeta halus di balik topeng ketenangannya. "Baik," ujar Satya sambil meletakkan dokumen di hadapannya. "Karena rapat ini diminta secara resmi, saya ingin mendengar alasan-alasannya." Seorang direktur senior segera membuka suara. "Kita tidak bisa memungkiri bahwa Tuan Juna sudah cukup lama tidak menjalankan tugas secara langsung." Beberapa orang mengangguk setuju. "Seluruh keputusan operasional tertunda," sahut yang lain. "Koordinasi lintas divisi menjadi lambat, dan investor mulai mempertanyakan stabilitas perusahaan." Satya hanya mendengarkan. Ia tidak membela Juna, pun tidak menyela
Pertanyaan Satya itu terus bergema di kepala Juna, bahkan setelah sambungan telepon berakhir lama. "Apa kau masih yakin itu anakmu?" Awalnya, ego Juna ingin langsung membantah. Namun, semakin lama ia memikirkannya, riak-riak keraguan justru bermunculan ke permukaan. Jika anak
Di belahan dunia lain, jauh dari bayang-bayang nama La Grande, ancaman Raga yang tak pernah berakhir, dan permainan kekuasaan yang melelahkan, Juna menjalani hari-harinya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semuanya terasa tenang, lambat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia
Ketegangan yang memenuhi meja itu akhirnya memuncak. Aleya yang sejak tadi berusaha mempertahankan kesombongannya mendadak memucat. Jemarinya yang mencengkeram tepi meja bergetar hebat. Rasa nyeri yang tajam menusuk bagian bawah perutnya. Skenario sempurna yang ia susun buyar
Aleya berdiri di depan cermin kamarnya, jemarinya mengusap lembut perut yang kini mulai menonjol. Senyum tipis terbit di bibirnya. Perasaan ini, perasaan yang sudah bertahun-tahun ia nantikan, akhirnya menjadi kenyataan. Dulu, bisik-bisik orang selalu menghantuinya. Mandul. Tidak bisa m







