LOGIN“Perkenalkan, nama saya Salvarea, Tuan. Anda bisa memanggil saya Salva. Mohon maaf saya tadi tidak datang lebih cepat,” ucapnya sambil menunduk sopan. Juna tetap menatap lurus ke depan, pada layar lift yang terus bergerak naik melewati lantai demi lantai. “Bukan salahmu,” jawabnya tenang. “Cepat atau tidak, mereka memang sengaja cari masalah. Jadi tidak ada hubungannya denganmu.” Nada suaranya datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Salva tanpa sadar, ia menghela napas pelan karena merasa lega. Sejak awal, ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, bahwa Juna akan bersikap angkuh seperti kebanyakan cucu konglomerat yang pernah di abaca di novel maupun dia lihat di drama. Namun ternyata, pria di hadapannya justru berbeda. Tenang, tidak berlebihan, dan tampan. Salva tersentak dalam diam. Apa yang ia pikirkan barusan? Tampan?
Juna bangkit perlahan dari duduknya.Tatapannya kini berbeda, lebih tenang, tapi juga lebih tajam.“Kamu yakin aku yang salah tempat?” tanyanya pelan.Ia melangkah satu langkah mendekat.“Kadang… orang yang terlalu sering meremehkan… justru tidak sadar sedang berdiri di tempat yang bukan untuknya.”Gala tiba-tiba saja maju bak pahlawan kesiangan, tangannya terangkat dan mendorong dada Juna dengan sengaja.Namun tubuh Juna tidak bergeser sedikit pun. Justru Gala yang sedikit terhenti.Gala menyipitkan mata. Dada pria di depannya terasa keras, kokoh. Tidak seperti yang ia bayangkan.‘Oh, Boleh juga,’ gumam Gala dalam hati.Sudut bibir Gala terangkat tipis. Ia melirik sekilas ke arah pria berbadan besar yang berdiri di belakangnya, pengawalnya.Melirik sekilas ke arah pengawalnya, Gala kembali tenang.Jika pria di hadapannya ternyata lebih kuat darinya, itu bukan masalah.Bagaima
Hotel La Grande berdiri begitu angkuh di hadapannya, tinggi, terang, dan terlalu mewah untuk disentuh oleh hidup seperti miliknya dulu.Lantainya mengilap, pintu kacanya berkilau, dan orang-orang keluar masuk dengan pakaian rapi seolah tempat ini bukan untuk sembarang orang.Juna pernah ke sini.Berkali-kali.Mengantar penumpang, menunggu sejenak di pelataran, lalu pergi lagi tanpa pernah benar-benar peduli dengan hotel tersebut.Mewah, hanya kata itu saja yang muncul dibenaknya.Karena ia tahu tempat ini bukan dunianya.Tapi sekarang berbeda.Kakinya benar-benar berdiri di sini.Matanya menatap dan mengamatinya lama.Dan entah kenapa dadanya terasa sesak.Siapa sangka, hidupnya bisa berputar sejauh ini?Juna menelan ludah, pandangannya masih terpaku pada bangunan megah di hadapannya.“Ma…” bisiknya pelan.Suaranya nyaris tak terdengar.“Kenapa Mama dulu meninggalkan hidup seperti ini?”Ia terdiam sejenak, napasnya terasa berat.“Hidup yang… bahkan orang lain akan lakukan apa saja unt
Di sebuah ruang kantor di Hotel La Grande, Satya berdiri di depan jendela tinggi, menatap lalu lalang mobil yang terasa lebih padat dari biasanya. Pantulan sosoknya terlihat samar di kaca.Di belakangnya, seorang pria berjas lengkap berdiri tegak, lalu menunduk hormat. Namun Satya bahkan tidak menoleh.“Kamu sudah mengirim sampel rambutku dengan Arjuna?” tanya Satya dingin.“Sudah, Tuan. Sampelnya sudah tiba di laboratorium. Perkiraan besok pagi hasilnya keluar,” jawab pria itu hati-hati.Hening sesaat.Lalu suara Satya berubah, lebih berat dan lebih tajam.“Sekarang jelaskan padaku…” ucapnya perlahan, namun penuh tekanan. “Bagaimana bisa kalian tidak melacak keadaan putriku selama puluhan tahun, hingga dia di liang kubur pun aku tidak tahu?!”Satya akhirnya menoleh. Tatapannya dingin menusuk.“Katakan… kenapa kalian begitu tidak becus.”Pria itu menelan ludah, lalu menundukkan kepala lebih dalam.“Maaf, Tuan… Nona Karina memang sempat menghilangkan jejaknya,” lanjut pria itu dengan h
Juna terbangun dari sofa yang kini menjadi tempat tidurnya. Sejak kepergian Aleya, ia tak pernah lagi menyentuh kamar mereka.Ada rindu yang sialnya masih sesekali datang, meskipun ia sudah berusaha keras melupakan wanita yang sebentar lagi resmi menjadi mantan istrinya itu.Perasaan sayang bercampur benci mengaduk-aduk dadanya, membuatnya terjebak dalam kegelisahan yang tak kunjung usai.Namun pagi ini berbeda.Alih-alih memikirkan Aleya, pikiran Juna justru kembali pada kejadian semalam.Tentang pria tua itu.Tentang pengakuan yang cukup mengguncang dirinya.Tentang satu fakta yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.Banyak pertanyaan bermunculan di benaknya. Kenapa baru sekarang Tuhan mempertemukannya dengan kakeknya?Kenapa tidak sejak dulu?Jika saja ia bertemu lebih awal, mungkin hidupnya akan berbeda.Mungkin ia tidak akan merasa serendah ini.Mungkin ia masih bisa mempertahankan rumah tangganya.Sebuah ketukan di pintu membuyarkan semua andai-andai yang memenuhi kepala Juna.“
“Bagaimana Anda tahu nama ibu saya?” tanya Juna, suaranya menegang.Pria tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, air mata sudah mengalir deras di pipinya.Dengan suara yang penuh emosi karena menahan campuran rindu dan penyesalan yang tak terbendung. Pria itu pun berkata dengan parau, “Di mana Karinku…? Katakan, di mana Karinku!”Juna terdiam.Tubuhnya seolah membeku. Pikirannya berputar liar, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.Tatapannya tertuju pada pria tua itu, penuh ketidakpercayaan.“Apa maksud Anda…?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bermunculan di kepalanya.Termasuk satu pikiran yang membuat dadanya sesak, bagaimana jika pria ini adalah alasan ayahnya menghilang?Juna menggeleng pelan. Tidak. Itu terlalu jauh.Tangisan pria tua itu, terdengar begitu pilu untuk seseorang yang hanya sekedar singgah.Jantungnya berdegup tak karuan.“Sebenarnya Anda siapa?” tanya Ju







