LOGINAmira menantu miskin yang selalu mendapatkan perlakuan kasar dari keluarga suaminya. Ditinggal Rahima, sang ibu angkat karena mati akibat sakit yang dideritanya. Di rumah suaminya, ia dianggap sebagai pembantu. Lebih menyakitkan lagi ketika dia selesai mencuci, Amira mendengarkan percakapan keluarga suaminya yang ingin menjual rumah ibunya. Tentu saja Amira tidak setuju, dan memilih angkat kaki. Sayangnya itu tidak cukup untuk menghindar dari akal bulus Mereka. Bahkan kejahatan mereka tidak berhenti begitu saja, saat Amira mencoba untuk menjual kalung peninggalan mendiang ibu angkatnya. Hasil penjualan itu direbut paksa. Bahkan berujung pada pembakaran rumah milik mendiang ibunya. Amira mengalami luka bakar yang serius. Hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Hingga pada suatu kenyataan, ternyata Amira adalah anak seorang pengusaha berlian. Setelah sekian lama, Dia akhirnya dapat bertemu kembali dengan keluarga kandungnya. Dan bisa membalaskan dendamnya. Memiliki rupa baru karena luka bakar, yang menyebabkan merusak wajahnya. Dengan wajah barunya, Amira sebenarnya ingin membalaskan dendam. Namun karena kecerobohannya sendiri, keluarga suaminya menjadi tahu bahwa sosok baru itu adalah dirinya. Suaminya bahkan mengeluarkan banyak rayuan gombal untuk memikat hati Amira. Sehingga lagi-lagi hati Amira jatuh. Dan Rehan memiliki niatan busuk memanfaatkan kesempatan, untuk menguras harta Amira. Tetapi datang seorang penyelamat, dengan rela membantu Amira untuk menggagalkan semua rencana jahat yang dilakukan Rehan bersama keluarganya itu.
View MoreI devoted ten years of my life to the only man I've ever loved, my ex-fiancé, Zane Whitmoore.
Since our eighth grade in middle school, I was always by his side. I shaped myself into the perfect woman for him.
I kept my black curls cut short, just the way he liked. I never wore makeup. I dressed in outfits he approved of because he didn't like when other men looked at me.
For ten years, I did everything he wanted. I was going to be his wife. Everyone knew we were meant to be.
So it made no sense when, six months ago, he threw it all away.
"What did you say?" My voice was barely above a whisper.
Zane stared at me across the restaurant table, his expression unreadable. I had made this reservation months ago for our ten-year anniversary.
"I think we should break up," he said.
I blinked. My heart pounded in my chest. "Zane, is this supposed to be a joke? Because it's not funny, babe."
"I'm not joking, Emilia."
"No, you have to be joking!" My voice rose slightly, and I glanced around. People were staring. I took a deep breath and reached for his hands across the table. My engagement ring still sat on my finger. I had never wanted to take it off. Not even now.
"We just started planning the wedding," I said, keeping my voice steady. "I know it's stressful, but that's why I've been doing most of the work."
He didn't respond.
"If it's too much, we can push it back," I added, even though the words felt like poison. We had already delayed it for years. But if that's what it took to keep us together, I would do it in a heartbeat. "I don't want you to feel pressured."
Zane exhaled sharply. "Then you don't want me to marry you? Because that's something I don't want to do, Emilia."
His words hit like a slap. My chest tightened. "You don't mean that."
"But I do." His voice was firm. Cold. Nothing like the man I fell in love with. "I don't love you anymore. I haven't for years."
I stopped breathing.
"I stayed because I know how much I owe you," he admitted. "But I can't put you over my happiness anymore."
"Relationships go through tough times. We just have to work-"
Zane pulled his hand from mine and ran it through his hair. He had always been handsome. He had light brown hair, golden-brown eyes, and a smile that could make anyone melt. I knew I was lucky to have him.
He could have had any girl.
But he chose me.
That had to mean something. People don't just throw ten years away.
But he wasn't smiling at me now. He was scowling. He stood, dusting his hand on his thigh like my touch was something dirty.
"I don't want to work on anything. Not with you." His voice was flat. "It's been ten years, Emmy. If we were meant to be, wouldn't we have gotten married by now?"
The nickname stung. I stared down at my plate. "The only reason we're not married yet is because you had to focus on your career-"
"No." His tone was sharp. "It's because I never saw you as someone I could marry."
The words hit like a punch to the stomach.
"You might be someone's cup of tea, but not mine, Emilia. And besides, most NHL athletes don't get married. But you wouldn't understand that."
I did understand. I didn't want to go my whole life without being someone's wife. But for him, I would have tried.
"Don't cause a scene, Zane. There might be reporters here."
He chuckled. "You've always been a pushover, haven't you?" He leaned in slightly. "But I did love you when we were younger. Because of that, you can keep the engagement ring. I don't want it back."
He turned to leave, then glanced over his shoulder. "Oh, and we can't live together anymore. You get that, right? I'm a free man now. I should be able to bring m
y hookups to my own fucking house."
He smirked. "Leave the key in the flower pot."
Then he walked away.
And just like that, he took my life with him.
Hampir saja Dirga menabrak mobil yang sedang melaju di depannya. Nasib baik, masih sempat kakinya menginjak rem, "Astaga! Arina, maafin aku. Gimana ada yang luka gak?” Dirga diselimuti perasaan bersalah, nyaris melukai Amira.“Hati-hati dong! Lihat ke depan.” Amira menggerutu, apa yang terjadi bila tadi dia tidak berteriak. Mungkin sekarang mereka naik di mobil Ambulans.“Makanya jadi orang tuh jangan cantik-cantik dong. Bikin silap mata aja.” Dirga menyalahkan kecantikan Amira sebagai alasan mengapa atas kejadian barusan.“Yah, kok malah nyalahin aku sih? Makanya gak usah nengok, fokus aja lihat ke jalan.” balas Amira tak mau kalah, Jangan salah paham, mereka berdua bukan sedang bertengkar. Sebaliknya, sekedar bercanda saja dengan bukti tawa cekikikan dari bibir keduanya mulai memenuhi seluruh badan mobil Dirga. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Satu jam kemudian, kebetulan jam menunjukkan pukul 11.30. Dirga dan Amira tiba di tempat, “Kita ke panti asuhan?” Amira sempat membaca
“Lah, kenapa harus kamu? Saya sendiri geh juga bisa.” balas Dirman, untuk apa menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Begitu isi hati Dirman. Terus dan terus melakukan serangan, selama masih ada celah,maka dia akan langsung menggunakan kesempatan untuk membuat laki-laki ini jera.“Amang mau ke kantor polisi jalan kaki? Kan gak ada motor?” kata Rehan, mengeluarkan rayuan kedua.“Kamu tuh kenapa maksa banget sih Rey? Jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari saya? Atau tulang itu ada kaitannya sama kamu? Eh, sebentar! Udah hampir satu bulan, saya kok gak pernah lihat neng Amira yah?” celetukan Dirman, tidak dijawab Rehan. Lelaki itu memilih untuk melarikan diri, darinya. Menghindari menjawab pertanyaan yang jelas-jelas tidak dapat dielak. “Nah, kan kabur dia! Dirman kok dilawan, wkwkwk.” Sifat kritis Dirman tak pelak menjadi senjata pamungkas untuk mengusir Rehan. Menghampiri motornya dan siap tancap gas. Sesekali menoleh ke arah Dirman, berjaga-jaga seolah Dirman akan menge
Hari ini Santika terlihat repot, mengeluarkan dua gelas teh manis dan juga beberapa camilan. Bahkan buah yang dibawa Ranita sebagai oleh-oleh dikeluarkan juga olehnya.Menambah kebencian Ranita terhadap Amira saja. “Dasar ini cewek bisanya nyusahin aja! Itukan buah buat Ibu. Kenapa malah dia yang makan?!” Ranita membatin tak rela, mengintip di balik jendela. Sempat ingin keluar, tetapi Santika tidak mengizinkan. Alhasil, dengan keterpaksaan Ranita hanya bisa menahan dirinya. Menimbulkan bunyi gemeretak dari giginya, saking kesalnya.Di atas meja bundar, Rehan dan Amira duduk bersama. Mereka melakukan diskusi ringan perihal kerjasama mereka.“Eum, oke. Saya sepakat ambil cabai sama sayuran hijaunya ya di tempat Mas. Terus… setiap tiga hari sekali ada orang suruhan saya yang datang untuk ngambil semua sayuran itu.” kata Amira sepakat, langsung disambut senyuman sumringah dari keluarga Rehan.“Baik Mbak. Saya siap. Terimakasih banyak. Jarang-jarang lho ada Perusahaan besar ngajakin ker
Bab 6. Aku datangSepanjang melakukan adegan dewasa yang kaku. Tanpa adanya rasa nikmat. Sebab sang pemain tengah tidak fokus dalam menjalankan perannya.Walaupun bibir Ranita tak berhenti meracau, sama sekali tidak menaikkan birahi Rehan. Sampai adegan selesai. Kemudian pergi tidur ditemani tumpukan masalah hingga pagi, menyambut sinar mentari."Mas, aku mau ikut ke rumahmu ya, boleh kan?" Ranita keluar dari bilik mandi mengusap rambutnya yang basah."Boleh." jawab Rehan, sibuk memasukkan kancing berbentuk bulat ke masing-masing tempatnya tanpa menoleh.Kebiasaan biasa Ranita datang ke rumahnya, bahkan sering terjadi sejak dulu saat hubungannya dengan Amira masih bersama. Meskipun secara sembunyi-sembunyi.Mereka keluar dari kamar sewa, menuju ke tempat pengepul.Dalam perjalanan, Ranita sempat berhenti di toko buah untuk membeli oleh-oleh. Sikapnya memang royal, itulah alasan utama bagi Santika mau menerima kehadirannya. Sekalipun tahu kartu hitam Ranita sebagai wanita penghibur.Sa
Semua penjelasan Dirga memang memakan waktu yang panjang. Tetapi dengan mudahnya Amira mengerti.“Oke, jadi nanti aku dateng ke tempat mereka. Terus pura-pura dateng sebagai pembeli, gitu kan?” “Yap. Itu benar banget.” sahut Dirga menjentikkan jarinya setuju.“Tapi sayang… papa kok agak khawatir y
Dalam kecanggungan Amira dan Dirga melewati lorong bersama. Senyap bagai di dalam sebuah goa tanpa adanya perbincangan. Di sisi kiri Dirga diam-diam melirik ke arahnya diam-diam tengah mengumpulkan niat untuk membuka percakapan lebih dulu. Lama-lama mulutnya masam sebab terkunci tak mengatakan sepa
Disaat bersamaan Rehan sedang berencana pergi berkencan bersama Ranita. Wanita penghibur yang selama ini menjadi selingkuhannya. Apes! Ingin membenarkan posisi duduknya. Mata Amira tertuju melihat rupa Rehan sedang duduk bersama wanita lain. Sempat terkejut Amira berusaha untuk bersembunyi. Ia tida
Beberapa hari mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kesehatan Amira sudah pulih seperti sedia kala. Pagi ini tanpa alat bantu ia sudah bisa berjalan sendiri dengan leluasa. Di depan jendela Amira berdiri menatap langit luas melalui kaca tembus pandang. Dia belum bisa mengekspresikan diri atas keaja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.