MasukCamelia menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu ruangan yang akan menjadi penentu masa depannya siang ini. Namun, begitu langkah kakinya melewati ambang pintu dan matanya menyapu jajaran meja, detak jantung Camelia sempat mencelos sejenak.Di sebelah ketua penguji, duduk seorang wanita paruh baya berkacamata dengan tatapan tajam yang sangat familier.Bu Ratri.Dia sama sekali tidak menyangka kalau dosen perempuan yang sempat membuat hidupnya penuh tekanan sebegai dosen pembimbing sebelumnya, kini duduk di sana sebagai salah satu penguji utamanya siang ini. Ingatan tentang masa-masa sulitnya mendadak berputar sekilas, memancing sedikit rasa gugup yang hampir saja meruntuhkan ketenangannya.Dari sudut ruangan, sepasang netra gelap milik Kenan Abimanyu menangkap perubahan ekspresi sesaat pada wajah mahasiswinya. Kenan yang duduk tenang di kursi dosen pembimbing hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat misterius, seolah sedang menikmati kejutan kecil yang harus di
Sesampainya di apartemen, Camelia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sejenak sebelum akhirnya menyeret langkah kaki menuju meja belajar. Efek adrenalin dari taktik gilanya di kampus tadi siang perlahan mulai luruh, menyisakan rasa lelah yang nyata di sekujur tubuh. Namun, Camelia menolak untuk santai. Targetnya sudah jelas: hari Senin adalah hari kebebasannya. Laptop segera dibuka dan jemari lentiknya dengan cekatan menyusun poin demi poin presentasi untuk sidang skripsinya. Dia mendesain materi itu dengan sangat sistematis, menutup setiap celah argumen yang sekiranya bisa digunakan oleh dosen penguji untuk menjatuhkan mentalnya nanti. Waktu bergulir cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Suara putaran kunci dari pintu depan seketika memecah keheningan unit apartemen. Camelia menoleh lambat, mendapati sosok Kenan melangkah masuk dengan setelan yang sudah jauh lebih kasual, sepertinya dia sempat kembali ke unit apartemennya sendiri. Anehnya, tidak ada g
Kenan perlahan menjauhkan bibirnya setelah pasokan oksigen keduanya menipis dan juga dia tidak menyangka kalau Camelia berani agresif di tempat umum seperti ini. Kedua tangannya masih melingkar erat di pinggang ramping Camelia dengan napas memburu pendek dan terasa hangat di permukaan kulit wajah Camelia. Sepasang netra gelap Kenan masih tampak keruh oleh kabut gairah yang tersisa, menatap mahasiswinya dengan kepemilikan yang pasti."Hah, hah, hah ... Ken," rengeknya."Ahk! Ehm ...."Camelia terengah-engah dengan punggung yang masih menempel erat pada dinding pintu ruang dosen. Dia memaksakan sebuah senyuman sayu yang tampak sangat meyakinkan, menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu liar karena adrenalin taktiknya berhasil dengan sempurna dan tentu saja dia juga menikmati."Gue ... gue harus balik ke apartemen, Ken. Sorry, gue nggak maksud tapi kita nggak bisa lanjutin ini," bisik Camelia dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil perlahan mendorong dada bidang Kenan agar membe
Camelia buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah, mendekap benda pipih itu erat-erat di dadanya bersama dengan bundel skripsi. Napasnya mendadak terasa pendek dan berat. Kalimat dari Mr. Jiwa di layar tadi benar-benar merusak seluruh suasana hatinya yang baru saja membubung tinggi karena jadwal sidang. "Pak Kenan, kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau menyiapkan untuk presentasi Senin nanti," ujar Camelia dengan nada terburu-buru, langkah kakinya langsung berputar cepat menuju pintu keluar ruangan. Namun, pergerakan Camelia kalah cepat dari insting sang predator. Sebelum jemari tangannya sempat menyentuh gagang pintu tersebut, sebuah lengan sudah menumpu di atas pintu, memotong jalur jalannya dengan sentakan kasar. Kenan sudah berdiri tepat di belakangnya, mengurung tubuh mungil Camelia di antara pintu dan dada bidangnya. Aroma parfum maskulinnya yang tajam langsung mengepung indra penciuman Camelia, mendatangkan intimidasi yang dingin. "Mau ke mana, Ca? Mau kabur dar
Siang harinya, suasana koridor gedung fakultas tampak cukup ramai. Camelia berjalan dengan langkah cepat setelah merampungkan seluruh revisi yang diminta Kenan pagi tadi. Sebelum melangkahkan kaki ke lantai dua, dia sudah menghubungi Kenan terlebih dahulu, dan pria itu mengabarkan bahwa dia sedang berada di ruangnya.Tok tok tok"Masuk!"Sambil mendekap bundel skripsinya dengan perasaan sumringah, Camelia mengetuk pintu ruangan Kenan setelah mendengar seruan samar dari dalam yang mengizinkannya masuk. Namun, begitu pintu terdorong terbuka, senyum di wajah Camelia seketika surut.'Zahra?' batinnya.Di dalam ruangan, tepat di depan meja kerja Kenan, ada Zahra. Adik kelasnya yang terkenal centil dan bermulut pedas itu tampak terkejut melihat kehadiran Camelia. Camelia yang awalnya bersemangat ingin meminta tanda tangan persetujuan demi bisa segera mendaftar sidang ke TU, mendadak merasa malas luar biasa.Bukan karena cemburu, ten
Sinar matahari pagi belum sepenuhnya penuh menerangi ruang tengah, namun unit apartemen itu sudah dikejutkan oleh suara gubrak-gubruk yang cukup bising. Camelia, dengan rambut yang masih agak acak-acakan dan mata yang baru saja melek, berjalan tergesa-gesa sambil mendekap laptopnya erat-erat ke dada."Aw, ssht!" teriak Camelia sambil terus berjalan, badannya sedikit oleng.Di meja makan, Kenan sedang duduk dengan sangat tenang. Pria itu tampak rapi dengan kemeja kerjanya, sedang asyik menyesap kopi hitam hangat sambil membaca berita online di layar tabletnya. Ketenangannya seketika buyar saat Camelia tiba-tiba datang dan menaruh laptopnya dengan sedikit gebrakan kasar tepat di dekat tablet Kenan."Hati-hati, Ca!""Iya. Cek skripsi gue sekarang juga, Ken. Semuanya udah beres gue ketik kemarin," todong Camelia tanpa basa-basi, suaranya masih agak serak khas orang baru bangun tidur.Kenan menghentikan aktivitas membaca beritanya. Pria itu menurunkan tabletnya, lalu mendongak menatap C







