LOGIN
“Lo yang narik gue semalam, Bar! Harusnya lo sadar, lo cowok!”
“Gue mabuk, Ri! Lo pikir gue sengaja, hah?! Kenapa lo sendiri nggak dorong gue kalau lo masih sadar?!” Suara pertengkaran itu memecah keheningan kamar yang kacau. Keduanya duduk di atas satu ranjang yang sama, napas mereka terengah saling memburu. Pakaian berceceran di lantai, selimut terbelit tak beraturan, dan tubuh mereka yang polos tadi pagi menyadarkan satu fakta mengerikan, mereka telah melewati batas. Setelah erupsi emosi dan saling menuding tentang siapa yang paling bersalah, kekuatan mereka habis. Lelah bertengkar—karena sadar semalam mereka sama-sama terlalu mabuk usai acara makan-makan bersama rekan kantor—keduanya akhirnya bungkam. Pilihan terakhir hanyalah menghela napas panjang dan terdiam beberapa menit lamanya. Tidak, tidak …. Dalam hati kecil masing-masing, mereka tahu ini bukan salah satu pihak saja. Bara, laki-laki yang masih terdiam dalam kebingungan itu, bukanlah orang brengsek yang suka memanfaatkan keadaan. Pun Rihana bukan tipe perempuan urakan yang hobi berganti-ganti pasangan. “Gue bersedia ….” Bara akhirnya bersuara, berniat mengambil tanggung jawab penuh. “Lupain aja gimana, Bar?” Rihana menyela cepat. Ada kepanikan terselubung dalam suaranya. Laki-laki yang masih bertelanjang dada itu mengerjap sebentar. Pikiran Bara berusaha keras mencerna permintaan perempuan yang kini mengenakan kaus kebesaran miliknya. Ia menoleh, menatap Rihana tak percaya. “Lo gila, ya?” Kelopak mata Rihana memejam rapat. Leher jenjang berhias bilur biru di sisi kiri tampak terlihat makin jelas ketika ia menengadah—menahan gejolak penyesalan yang membakar dadanya. “Ya, gimana lagi emang?” Kali ini Rihana bertanya dengan nada ketus, benteng pertahanan terakhir untuk menutupi ketakutannya. Masalah utamanya, Rihana tahu betul dirinya masih berstatus tunangan Marcel. Laki-laki yang sudah delapan tahun ini menjalin hubungan serius dengannya dan berencana menikah dalam waktu dekat. Namun, Rihana juga tak bisa membohongi rasa sakitnya. Semalam ia mabuk berat karena emosinya memuncak pada Marcel. Di tahun kedelapan hubungan mereka, suasana justru mendingin. Marcel kerap menghilang beberapa hari tanpa kabar. Jika ditelpon dan ditanya, dengan enteng pria itu menjawab, “Aku sibuk, Yang.” Setiap kali Rihana mengajak membahas pesta pernikahan, Marcel selalu menghindar. Lebih menyakitkan lagi, Rihana sudah lebih dari tiga kali memergoki calon suaminya itu jalan dengan perempuan lain. Kalau bukan karena tekanan keluarga, mungkin Rihana sudah memupus pertunangan sialan itu sejak lama. Kalau bukan karena keinginan kuatnya untuk segera hengkang dari rumah orang tuanya, ia tak sudi terburu-buru menikah. “Gue mau nikahin elo, Ri!” Satu kalimat tegas dari mulut Bara membuat Rihana terperanjat kaget. Jantungnya berdegup kencang. “Gue punya tunangan, Bar! Lo mau jadi perusak hubungan orang, hah?!” Dua tangan Rihana mengepal erat di atas pangkuan. Ia menatap sahabatnya lebih intens, berusaha menyembunyikan getaran di matanya. “Tapi semalam kita udah ngelakuin ….” Bara mencoba menyadarkan fakta di antara mereka. “Stop! Lupain! Gue mau kita lupain! Jalani hidup seperti biasa. Oke …?” Rihana memohon, tatapannya menyiratkan ketakutan akan kehancuran hidupnya. “Please, jangan persulit kondisi gue ….” Tanpa menunggu jawaban Bara, Rihana menyingkap selimut dan meraih celana jins-nya dengan cepat. “Ri ….” Bara memanggil dengan suara tertahan. Saat Rihana menoleh sekilas, Bara terpaku. Tatapan mata laki-laki itu tertuju pada noda merah di atas permukaan sprei—tepat di mana Rihana berbaring di bawah kungkungannya semalam. Penyesalan Bara kian menghantam dada. Ia telah merenggut kesucian sahabatnya sendiri. Rihana yang menyadari arah pandang Bara langsung menggigit bibir bawahnya, mengusap wajah secara kasar. Sebelum Bara meminta lebih banyak penjelasan dan melontarkan tuntutan, Rihana bergegas meraih handbag di sofa. Rihana berlari kecil dengan mata berkaca-kaca, melangkah keluar dari apartemen sahabat masa kecilnya itu. Sementara Bara, yang hanya mengenakan jins belel, sempat berusaha mengejar namun terhenti begitu melihat Rihana melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka. Di dalam lift yang dingin, Rihana terengah-engah. Tubuhnya merosot, berjongkok sembari menangis di balik kedua telapak tangan. Perasaannya hancur. Ada penyesalan mendalam dan rasa malu yang melingkupinya. Apa bedanya aku dengan Marcel sekarang? Sama-sama pengkhianat, batin Rihana meratapi nasib pertunangannya yang kian retak. Usai malam itu, Rihana seolah lenyap ditelan bumi. Di sisi lain, Bara diliputi rasa cemas dan gelisah luar biasa. Ia tak pernah lelah berusaha menghubungi Rihana. Telepon tak pernah diangkat. Pesannya tak pernah dibalas. Rasa frustrasinya bertambah saat tahu Rihana mengambil cuti seminggu. Bara benar-benar uring-uringan. Ia sering mengabaikan jam makan dan tidur. Rasa bersalah terus menggerogoti otaknya karena telah meniduri calon istri orang. “Calon bini orang! Berhenti inget-inget itu terus nggak lo?!” rutuk Bara geram pada bayangannya sendiri di depan cermin kamar apartemen. Namun, setiap kali ia merebahkan diri di tempat tidur, ingatan tentang aroma vanilla yang manis dari tubuh Rihana seolah masih tertinggal di indra penciumannya, membuat frustrasinya semakin menjadi. Pagi ini, Bara memutuskan bangkit dari kasur bernuansa abu-abu miliknya. Ia harus bekerja. Rasa stres membuatnya terbangun sejak pukul tiga pagi dan tak bisa memejamkan mata lagi. Setidaknya, deru lalu lintas dan kemacetan kota selama 20 menit berkendara dengan motor matic-nya mampu mengalihkan sedikit benang kusut di kepala. Pukul tujuh pagi, kantor masih sepi. Untuk mengusir rasa kantuk, Bara melangkah ke pantry dan menyeduh kopi. Namun, gerakan tangannya mengaduk cangkir mendadak terhenti saat sosok perempuan yang ia cari seminggu ini muncul di ambang pintu. Ada desir aneh yang menghantam dada Bara—campuran antara lega melihat Rihana tampak baik-baik saja, dan emosi tertahan yang siap meluap. Rihana sendiri terkejut melihat Bara, tapi berusaha tetap tenang. Ia melangkah maju dan menyeduh kopinya sendiri, mengaduk cairan hitam itu dengan gerakan canggung. Rihana sangat sadar betapa intens tatapan Bara yang sedang menyesap kopi di sisinya. “Apa kabar, Bar?” tanya Rihana pelan, mencoba memecah keheningan. Bara memutar bola matanya jengkel. “Menurut lo?” Rihana makin merasa serba salah. Ia menyelipkan rambut ke balik telinga, berdeham ragu, lalu menyesap kopinya untuk menutupi rasa gugup. Saat Bara berbalik dan menyandarkan setengah tubuhnya ke meja bar, Rihana menelisik sekitar—memastikan area pantry benar-benar aman. “Bar ….” “Hm?” “Gue … nggak hamil. Tadi pagi udah cek,” bisik Rihana pelan, berharap kalimat itu bisa menjadi jalan keluar dan menenangkan Bara. Meski Rihana belum sepenuhnya yakin perbuatan mereka tak menumbuhkan sesuatu di dalam dirinya. Namun sebaliknya, berita itu justru menyentil perasaan Bara secara aneh. Ada letupan emosi mengesalkan yang sulit ia jelaskan. Rasa tanggung jawab dan kepeduliannya seolah disepelekan begitu saja. “Terus, dengan begitu menurut lo bisa menghapus kejadian malam itu gitu?” tanya Bara sinis. “Nggak gitu juga. Maksud gue aman, Bar. Kita bisa merahasiakan kejadian malam itu dan hidup normal seperti biasa tanpa terbebani. Gue ….” “Ck!” Bara berdecak, menatap tajam manik mata Rihana yang redup. “Lo pikir cuma karena lo hamil apa nggak, gue jadi cemas dan ngerasa bersalah gitu?” Hening menyelimuti mereka. Keduanya saling tatap dengan beban emosi masing-masing yang saling bertabrakan. “Lo picik banget sumpah, Ri,” mendesah marah, Bara memalingkan wajah ke arah jendela. Rihana tertunduk lesu, menatap kepulan asap kopi di tangannya. Hatinya mencelos. “Gue cuma mau ngebebasin elo, Bar. Pun kalau gue hamil ….” “Hamil? Siapa, Ri?!” Bara dan Rihana sontak terperanjat. Suara nyaring dari arah pintu pantry mengejutkan mereka berdua, menyadarkan bahwa rahasia besar mereka mungkin baru saja terancam bongkar.“Nita sakit,” kata Nyonya Diana pendek.Alih-alih melihat empati atau penyesalan di wajah wanita berblazer merah menyala itu, Rihana justru menemukan raut congkak yang memuakkan. Dagu Nyonya Diana terangkat menantang, memamerkan keangkuhan yang tak tersentuh.“Tadi temannya telepon Marcel, katanya Nita hampir pingsan di kampus. Makanya langsung saya bawa ke dokter keluarga Wijaya,” lanjutnya dengan nada santai tanpa beban.Dengan gaya pongahnya, Nyonya Diana kembali merogoh tas mewahnya, mengeluarkan selembar amplop tebal lalu menggesernya di atas meja ke arah Nenek Saidah.“Beli makanan bergizi untuk mempercepat pemulihannya. Jangan cuma dikasih roti pasar yang hambar.” Matanya mengerling sinis ke arah Ranti yang duduk bersisian dengan Rihana di sofa.Rihana mendengkus pelan seraya membuang muka. Ia tahu betul Nyonya Diana sedang sengaja meremehkan usaha kuliner jajanan pasar yang menjadi sumber penghidupan ibunya selama bertahun-tahun.Paham putri sulungnya mulai tersulut emo
Ranti mengepalkan tangannya erat-erat di atas pangkuan. Ponsel di tangan kanannya masih menempel rapat di telinga, berharap laki-laki di seberang saluran sana sudi berubah pikiran.“Bagaimanapun kamu itu ayah Rihana sekarang, Mas. Apa kata orang-orang nanti kalau kamu tidak datang di hari pernikahan putri kita?” bujuk Ranti dengan nada memohon.“Ck! Kamu lupa kalau Rihana itu anakmu sama Almarhum Gunawan? Aku nggak datang pun nggak bakal jadi masalah!”Decakan bernada meremehkan itu terdengar teramat menyakitkan. Ranti memejamkan mata rapat-rapat, dadanya terasa seperti diremas sembilu. Ia semakin menyadari kenyataan pahit bahwa sejak Gunawan—suami pertama sekaligus ayah kandung Rihana—berpulang belasan tahun lalu, hanya ia seorang diri yang selalu bertarung memperjuangkan hidup Rihana.Rudi—suami keduanya saat ini—tak pernah sedikit pun berniat menjadi sosok ayah yang mengayomi bagi Rihana.Menyadari hal itu, penyesalan dalam melingkupi benak Ranti. Ia merasa sangat salah karena
Suasana di dalam restoran privat berbintang lima itu tampak begitu kaku dan dingin, seolah memuat atmosfer es yang membekukan darah. Dua manik kelam Bara menatap tajam dan sengit ke arah jajaran kursi di seberang meja. Laki-laki itu masih berusaha setengah mati menahan diri dengan mengetatkan rahang serta mengepalkan kedua tangan di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.Dadanya yang bergemuruh panas terasa sangat kontras dengan senyum manis kebahagiaan yang tersungging di bibir seorang gadis bergaun pastel di sisi Oma Suhita. Emosi Bara seketika meledak begitu ia menyadari makan malam ini dari awal hanyalah sebuah jebakan licik yang menjengkelkan. Pasalnya, Oma Suhita dan Pradipta—sang ayah—ternyata tidak datang berdua saja.Di sana, duduk anggun Bela bersama kedua orang tuanya. Dan tepat di belakang kursi Oma Suhita, berdiri tegak seorang asisten kepercayaan bersanding dengan kepala bagian hukum alias pengacara utama Keluarga Kalingga.Sebuah pemandangan mengerikan tentang
“Enak?”Rihana mengangguk pelan seraya tetap mengunyah dan menangis. Sesekali punggung tangannya bergerak cepat menyapu lelehan air mata yang tak henti-hentinya meluncur di pipinya.Laki-laki di sisinya tersenyum lembut memperhatikan penampilan perempuan yang malam itu mengenakan jaket hoodie oversize miliknya. Saking besarnya ukuran jaket itu di tubuh irit Rihana, kedua tangannya tenggelam sepenuhnya—hanya menyisakan ujung-ujung jemari lentiknya yang menyembul dari lubang lengan.Keduanya duduk berdampingan di salah satu bangku taman kota pukul sebelas malam, ditemani satu paper cup berisi manisan mangga muda yang segar.Bara memenuhi permintaan konyol itu meski tadi sempat pusing tujuh keliling memutari kota untuk mencari penjual manisan mangga yang masih buka tengah malam. Ketika Bara menelepon tadi, Rihana mendadak mengajaknya bertemu dan merengek ingin makan manisan mangga, tetapi syaratnya harus Bara sendiri yang membelikan.Sebenarnya, Bara sendiri juga berniat menemui Rih
“Bujuk Rihana untuk datang ke rumah Nyonya Diana besok, Ran!”Kalimat paksaan bernada memerintah dari Nenek Saidah itu terus terngiang berulang-ulang di kepala Ranti bagai kaset rusak. Hatinya meringis pedih. Ia masih tak rela, dan sudah pasti tak akan pernah rela Rihana—putri sulungnya yang selalu mengalah—harus mengorbankan harga dirinya lagi demi memuluskan jalan perselingkuhan Nita.Bahkan hingga malam makin larut dan Rihana sudah pulang dari kantor sejak sore tadi, Ranti masih memilih tetap bungkam. Ia merenung seorang diri di meja ruang makan yang temaram, ditemani secangkir kopi hitam yang mulai dingin. Lampu-lampu utama rumah sudah dimatikan secara sepihak oleh Nenek Saidah sejak pukul setengah 9 malam tadi.“Lho, Bu? Kok belum tidur?”Suara lembut Rihana yang baru saja turun dari kamar atas memecah keheningan. Gadis itu mendekat dengan pakaian santai rumahannya.Senyum getir Ranti terukir menyambut kedatangan putri sulungnya. “Sini duduk, Ri. Mau Ibu buatkan kopi?”Rih
“Bara menyayangi Rihana, Ran. Dia … mau menikahi putrimu secepatnya.” Maira menatap penuh kesungguhan pada wanita yang terdiam kaku di seberang meja ruko.Di balik permukaan kayu meja, jemari Maira meremas kuat tali tas bahu di pangkuannya. Ada getar hebat yang merayapi sekujur tubuhnya setiap kali teringat bahwa di dalam tas itu tersembunyi bukti kehadiran sesosok bayi. Sebuah janin yang seharusnya disambut dengan suka cita. Namun, Maira sadar, ia belum berani mengungkap rahasia raksasa itu detik ini juga di tempat ini.Ranti tersenyum gamang. Bersama senyum tipis yang dipaksakan itu, riak-riak air di pelupuk matanya mulai menggenang.“Mai, aku sungguh senang dan terharu mengetahui Bara begitu serius ingin membersamai Rihana. Tapi … sepertinya kurang bijak kalau mereka harus menikah dalam waktu sedekat ini. Rihana baru saja mengalami kegagalan besar, Mai. Pertunangannya dengan Marcel baru saja hancur. Aku takut keputusasaan ini berimbas buruk pada nama baik putramu dan Rihana.”







