Beranda / Romansa / Rahasia Satu Malam / Bab 2. Alasannya Kembali

Share

Bab 2. Alasannya Kembali

Penulis: Oh Hana
last update Tanggal publikasi: 2026-09-12 10:02:33

​“Nikah aja belum, udah merencanakan kehamilan kamu, Ri?” Bu Jihan, ketua tim kreatif di perusahaan tempat Rihana dan Bara bekerja, tiba-tiba muncul di ambang pintu pantry.

​Entah perempuan bertubuh sintal itu mendengar seluruh obrolan sensitif keduanya atau tidak. Namun, dilihat dari raut wajahnya yang santai dan tanpa kecurigaan, sepertinya situasi masih aman.

​Rihana menyunggingkan senyum masam demi menutupi kepanikannya, sementara Bara diam-diam mengembuskan napas lega yang menumpuk di dada.

​“Cepetan nikah, dong, Ri! Entar saya bawa anak-anak satu tim buat ngeramein. Jangan kelamaan. Nggak bosan ya, pacaran terus tapi nggak nikah-nikah?”

​Lagi. Entah ini desakan ke berapa yang harus Rihana dengar dalam sepekan terakhir. Tidak di rumah, tidak di kantor, topik pernikahan seolah menjadi hantu yang terus mengejarnya. Usia Rihana bulan lalu genap 29 tahun, seumuran dengan Bara. Posisi Bara jauh lebih aman dari gunjingan hanya karena laki-laki itu belum berkeluarga. Rumor sinis seperti rahim kering karena ketuaan nikah sering kali dilontarkan Bu Jihan khusus kepada Rihana, bukan Bara.

​Andai Bu Jihan tidak berpangkat lebih tinggi dan berusia lebih tua darinya, Rihana tak perlu menjaga ekspresi sedemikian sulit demi mempertahankan sopan santun. Rasanya mengesalkan sekali.

​“Kalau saya aja yang nikahin Riri gimana, Bu? Setuju? Biar cepet gitu,” celetuk Bara enteng sebelum kembali menyesap kopi hangatnya.

​Rihana spontan memukul lengan kiri Bara cukup keras. Cairan hitam pekat di cangkir Bara sampai hampir tumpah mengotori kemejanya. Menerima pukulan mendadak itu, Bara meringis sambil memberengut tak suka.

​“Ck, iyuuh! Mau jadi perebut calon bini orang kamu, Bar? Saya depak kamu dari tim kreatif kalau sampai mencoreng nama baik divisi kita!” ancam Bu Jihan galak. Matanya memelotot dan kedua tangannya berkacak pinggang di depan dada.

​Bara malah tergelak santai. “Lagian Ibu buru-buru amat maksain Riri nikah? Kenapa, sih, Bu? Atau Ibu aja yang nikah lagi gimana?” canda Bara. Laki-laki berkemeja flanel itu terkekeh jahil, memanfaatkan kelemahan sang atasan.

​Dua manik berbulu mata palsu milik Bu Jihan mengerjap. Wajahnya mendadak merona. “Ah, kamu ini bisa aja! Entar, deh, nunggu anak-anak saya pada mapan semua.”

​Janda beranak tiga itu mengerling malu-malu sambil memegang cangkirnya. Hampir satu divisi sudah mendengar rumor bahwa ketua tim mereka memang sedang gencar menaksir salah satu staf magang di divisi umum. Puber kedua, begitu orang-orang kantor biasa menggunjingkannya.

​“Ck, udah, ah! Canda mulu kamu, Bar.” Bu Jihan mengibas rambut bergelombangnya ke samping kanan dengan gaya genit, lalu berlalu meninggalkan pantry.

​Begitu suara ketukan heels merah perempuan itu terdengar semakin samar menjauh, Rihana dan Bara serentak mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sempat membeku di udara perlahan mencair.

​“Semoga dia beneran nggak denger obrolan kita dari awal,” gumam Rihana pelan. Suaranya masih bergetar.

​Ia berniat menyusul langkah Bu Jihan untuk keluar dari area pantry yang menyiksa ini. Namun, sebuah cengkeraman hangat namun tegas di pergelangan tangannya menghentikan langkah Rihana seketika.

Bara menahannya.

​“Gue belum selesai ngomong, Ri.”

​Pundak Rihana mendadak terkulai lesu. Matanya menatap Bara dengan pendar memohon. “Kan, udah gue bilang tadi, Bar... lupain aja. Oke?”

​Perempuan itu membuat gerakan menyilangkan jari di depan bibirnya, memerintahkan mereka berdua untuk saling mengunci rapat rahasia tentang apa yang telah terjadi di apartemen Bara malam itu. Dengan menghentakkan tangan secara halus, Rihana melepas cengkeraman Bara lalu bergegas pergi meninggalkan area pantry.

​Bara melempar pandangan jengah ke arah jendela luar kantor. Ia mengusap tengkuknya yang terasa kaku. Untuk saat ini, ia sadar harus mengalah dan tidak menekan Rihana lebih jauh.

​Kembali ke kubikel kerjanya, Rihana mencoba memfokuskan pikiran pada tumpukan berkas revisi desain di layar monitor. Namun, bayangan pembicaraannya dengan Bara terus berputar seperti kaset rusak.

​Jujur saja, kehadiran Bara setahun belakangan ini di kantor sangat membantu Rihana bertahan. Laki-laki itu selalu menjadi tameng utama saat cibiran-cibiran tentang 'pertunangan lapuk'-nya mulai dilontarkan rekan kerja, atau saat tekanan-tekanan tak sensitif dari Bu Jihan datang.

​Lima tahun pacaran ditambah tiga tahun bertunangan dengan Marcel. Kurang lapuk apa lagi hubungan itu?

​Bara pernah berkomentar sinis suatu sore saat mendengarkan curhatan Rihana, “Kalau hubungan lo udah lapuk dan bikin lelah, ya cari tahu penyebabnya. Segera perbaiki atau tinggalkan.”

​Namun, bagaimana bisa Rihana memperbaikinya jika hanya dirinya yang berjuang sendirian? Marcel makin jauh, makin dingin, dan makin lihai menyembunyikan kebohongannya. Terus terang, Rihana merasa tenaganya sudah habis.

​Bara sangat paham betapa lelahnya Rihana. Pernah dalam satu kesempatan di area parkir kantor, Bara berkata dengan nada setengah bersenda gurau, “Kalau capek, udahin aja napa, Ri. Siapa tahu di luar sana lo bisa ketemu jodoh yang jauh lebih cocok sama elo. Gue, misal ….”

​Kala itu, cara Bara menunjuk dadanya sendiri langsung diganjar toyoran pelan di kepala oleh Rihana. Bara memang selalu begitu—menjadi sahabat yang siap melontarkan candaan konyol demi mengembalikan senyum di wajah Rihana.

​Tanpa Rihana sadari, setiap kali Bara berusaha memancarkan keseriusan di matanya, Rihana selalu membentengi diri dengan jawaban defensif, “Ngaco aja lo! Nggak mau gue sama tukang gombal kayak elo. Mantan lo di Amerika pasti numpuk, kan?!”

​Dan setiap kali tuduhan itu terlempar, Bara hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang sulit diartikan, lalu bergumam lirih, “Enggak.”

​Setelah itu, obrolan biasanya terputus begitu saja. Bara selalu memilih diam dan menolak membuka kisah kehidupannya selama menetap di luar negeri. Ada misteri yang sengaja dilingkupi laki-laki itu rapat-rapat.

​Sebenarnya, Rihana sangat terkejut saat setahun lalu Bara tiba-tiba muncul sebagai karyawan baru di kantornya. Sahabat sekaligus tetangga masa kecilnya yang sempat hilang kontak selama belasan tahun itu seolah hadir di waktu yang sangat tepat—di saat Rihana merasa paling kesepian di tengah peliknya pertunangan tanpa kejelasan.

​Rihana teringat momen beberapa bulan lalu, saat mereka mendapat tugas benchmarking ke sebuah supermarket modern atas perintah Bu Jihan. Perusahaan mereka berniat memperbarui kemasan produk susu UHT agar terlihat lebih kekinian.

​“Lo dulu kenapa, sih, tiba-tiba pindah ke Amerika?” tanya Rihana kala itu sambil menelisik barisan rak minuman kemasan.

​“Orang tua gue cerai. Dan gue harus ikut Mama ke Amerika karena beliau dapet pekerjaan di sana,” jawab Bara tenang seraya meletakkan kembali produk susu berdesain umum yang baru saja diperiksanya.

​“Oh …,” Rihana mengangguk-angguk paham. Ada rasa bersalah karena pernah menganggap Bara memutus komunikasi begitu saja saat mereka kecil. “Terus, kenapa sekarang lo malah milih balik dan kerja di Indonesia?”

​Laki-laki itu mendesah pelan, nyaris tak terdengar. Ia membungkuk, meraih sebuah kotak susu kemasan karton berbentuk segi delapan yang unik.

​“Kalau gue bilang … gue balik ke sini cuma karena lo, lo bakal percaya nggak, Ri?”

​Tubuh Rihana seketika membeku di tempat. Jemarinya yang memegang salah satu kemasan terasa kaku. Otaknya mendadak bekerja keras mencerna implikasi di balik jawaban datar tapi intens dari Bara.

​Namun, sebelum Rihana sempat merespons, Bara sudah beralih santai. “Eh, gue udah nemu ide nih. Kayaknya bentuk kemasan kayak gini oke juga. Tinggal diubah dikit pakenya tutup ulir. Gimana menurut lo?”

​Bara sengaja mengalihkan pembicaraan, memutus ketegangan yang baru saja terbentuk. “Yuk, makan siang! Laper banget gue,” pungkasnya sambil menyerahkan kotak sampel susu itu ke tangan Rihana yang masih mematung.

​Laki-laki berbadan tegap itu melangkah mendahului, membiarkan Rihana menatap punggung lebarnya yang berjalan perlahan menuju kasir.

​Di tengah jalan, Bara sempat berbalik dan melambaikan tangan. “Ri, buruan! Malah bengong.”

​“E-eh, iya!”

​Pikiran Rihana membuncah saat itu. Karena dirinya? Ada apa dengan Rihana kecil yang dulu? Bukankah saat mereka berpisah belasan tahun lalu, usia mereka baru sepuluh tahun? Usia yang masih terlalu hijau untuk memahami arti cinta atau perasaan romantis.

​Masa, sih, Bara rela pulang dari Amerika cuma buat nyariin gue?

Perempuan itu mengembuskan napas kasar. Mengakhiri sesi mengenang obrolannya bersama Bara dengan mengusap wajah.

Rihana mencuri pandang ke arah meja kerja Bara yang terletak tidak jauh di sudut ruangan. Laki-laki itu sedang fokus menatap layar monitornya dengan kacamata radiasi bertengger di hidung.

​Mata Rihana memanas. Rahasia malam itu kini berdiri megah di antara mereka. Sebuah rahasia yang bukan hanya mengancam pertunangannya yang retak dengan Marcel, tetapi juga berisiko merusak persahabatan manis yang baru saja kembali ia nikmati bersama Bara.

Getar ponsel di sisi papan ketik membuyarkan kekalutan pikiran Rihana sejenak. Namun, begitu melihat satu nama yang tertera di layar—nama tunangannya yang sudah seminggu ini menghilang—perempuan itu mendadak tersengat kesadaran yang menakutkan.

​Ia baru saja memikirkan laki-laki lain.

​Dengan tangan sedikit bergetar, Rihana membuka pesan.

​Marcel:

Mami ngajakin ketemu buat bahas pernikahan.

​Membaca pesan singkat dari tunangannya, Rihana merasa dadanya dihantam beban yang luar biasa berat. Otaknya mendadak buntu, dihinggapi dilema yang membakar benak.

​Menikah dengan Marcel ... setelah apa yang baru saja ia lakukan bersama Bara?

​Sungguh konyol dan mengerikan!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Satu Malam   Bab 7. Pelukan Hangat

    “Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia merasa canggung setiap membahas perihal mantan suami.Bukan karena malu-malu mengakui masih ada sisa-sisa rasa yang ia pendam. Perasaan tak enak hati itu muncul justru karena perempuan itu takut melukai putranya setiap membahas usaha-usaha mantan suami kembali.“Mama langsung terima?” Bara meletakkan ponsel di atas phone holder di atas meja. Ia mulai bersiap menata isi ransel untuk berangkat bekerja pagi ini.“Ck, belumlah! Mama selalu nungguin kamu siap. Kalau Mama kembali ke keluarga Kalingga, kam

  • Rahasia Satu Malam   Bab 6. Anak Haram

    “Kalau pernikahan Marcel dan Rihana batal, apa kata keluarga besar nanti? Saya nggak mau ngurusin buntut perkara yang bikin malu keluarga. Iya, kan, Nek?” Nyonya Diana meminta dukungan.Nenek Saidah mengangguk-angguk paham. Ibu pun tersenyum maklum. Sementara Nita hanya duduk di kursi pojok ruangan dengan tatapan enggan. Gadis itu memainkan kuku-kuku jari yang baru selesai ia kikir hingga mengilap.Rihana hanya duduk terdiam. Ia sudah terlalu lelah untuk sekadar menanggapi semua tekanan keluarga. Beginilah cara Marcel bekerja menyelesaikan setiap masalah yang ia buat sendiri. Laki-laki itu akan menghadirkan maminya untuk turun tangan, mendesak Nenek Saidah dan Ibu untuk membujuk Rihana.“Saya juga sudah telpon beberapa kolega bisnis papinya Marcel yang punya usaha WO buat atur pernikahan. Malah udah sempat ke butik buat pesan gaun pengantin. Tolonglah, saya kira ini hanya pre-wedding blues aja, kok, Ri.”Nyonya Diana mengulurkan tangan, mengusap punggung Rihana untuk menguatkan tekad

  • Rahasia Satu Malam   Bab 5. Batas Kesabaran

    ​“Dari mana kamu, Mbak? Kak Marcel dari tadi nungguin kamu, lho.”​Keterkejutan Rihana akibat menubruk dada bidang Marcel seketika buyar begitu mendengar suara manja yang teramat familier itu.​Di ruang tamu rumahnya yang temaram, Nita tampak sedang duduk santai di atas sofa. Kemeja putih longgar yang dikenakannya dibiarkan terbuka satu kancing atasnya. Setiap kali gadis itu menunduk sedikit saja, renda pakaian dalam di sebaliknya terekspos jelas tanpa rasa canggung.​Alih-alih menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Marcel maupun Nita, Rihana justru melangkah masuk dengan napas memburu. “Ke mana Ibu sama Nenek?” suaranya terdengar dingin dan bergetar.​“Pergi ke pasar dari tadi pagi. Kenapa?” Nita tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya santai sebelum akhirnya bangkit berdiri. Dengan gerakan perlahan yang terkesan disengaja, ia mengibas rambut panjangnya yang terurai ke belakang bahu.​Gerakan itu spontan mempertontonkan leher jenjangnya secara gamblang. Kening Rihana mengernyit heb

  • Rahasia Satu Malam   Bab 4. Satu Kesempatan Lagi

    “Are you okay?”Satu kalimat tanya sederhana yang keluar dari mulut Bara itu cukup untuk menyentak Rihana. Sendok di tangannya mendadak berhenti berputar di atas mangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul halus.Bara tahu Rihana sedang tidak baik-baik saja. Itu sebab pukul setengah 6 pagi tadi, ia sengaja menjemputnya untuk sekadar membuang sebal dengan jogging.Pertanyaan perhatian itu hanya Rihana jawab dengan satu desahan napas lelah yang teramat berat. Pandangannya terpaku pada mangkuk bubur ayam tanpa daun bawang pesenannya yang kini tampak tak lagi menggugah selera.“Nggak ngerti lagi gue, Bar. Kadang gue suka bertanya-tanya sendiri, kenapa Ibu sama Nenek Saidah nggak pernah kasih gue kesempatan membela diri waktu bertengkar sama Nita.”Mendengar nama Nita disebut, kilasan kejadian semalam mendadak berputar kembali di kepala Bara.​Semalam, saat Bara sedang makan malam seorang diri di sebuah restoran cukup mewah di pusat kota, ia tak sengaja melihat pemandangan yang mengganj

  • Rahasia Satu Malam   Bab 3. Orang Asing di Antara Mereka

    “Kamu tahu, kan, Marcel itu anak saya satu-satunya?”​Kalimat itu meluncur dingin sebagai pembuka pertemuan yang dijanjikan Marcel. Malam Minggu ini, Rihana dibawa ke sebuah private room bermeja bundar di resto mewah khusus kalangan VIP. Ruangan itu terasa terlalu melompong karena pada kenyataannya, hanya ada mereka berdua di sana.​Marcel? Laki-laki itu dengan entengnya pergi begitu saja dengan alasan ada urusan mendadak bersama klien.​Cih, klien katanya? Di Sabtu malam seperti ini?​Pada akhirnya, Marcel hanya berperan sebagai sopir yang menjemput Rihana di rumah, mengantarnya ke restoran, lalu menyerahkan seluruh urusan pembicaraan kepada maminya.​Sebagai wujud sopan santun yang diajarkan keluarganya, Rihana hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pembuka dari calon mertuanya itu.​“Marcel itu manja, Ri. Dia butuh istri yang bisa melayaninya all the time. Makan aja pilih-pilih, harus maminya yang turun tangan. Untuk itu, misal kamu benar bersedia serius menikah, kamu … mau m

  • Rahasia Satu Malam   Bab 2. Alasannya Kembali

    ​“Nikah aja belum, udah merencanakan kehamilan kamu, Ri?” Bu Jihan, ketua tim kreatif di perusahaan tempat Rihana dan Bara bekerja, tiba-tiba muncul di ambang pintu pantry.​Entah perempuan bertubuh sintal itu mendengar seluruh obrolan sensitif keduanya atau tidak. Namun, dilihat dari raut wajahnya yang santai dan tanpa kecurigaan, sepertinya situasi masih aman.​Rihana menyunggingkan senyum masam demi menutupi kepanikannya, sementara Bara diam-diam mengembuskan napas lega yang menumpuk di dada.​“Cepetan nikah, dong, Ri! Entar saya bawa anak-anak satu tim buat ngeramein. Jangan kelamaan. Nggak bosan ya, pacaran terus tapi nggak nikah-nikah?”​Lagi. Entah ini desakan ke berapa yang harus Rihana dengar dalam sepekan terakhir. Tidak di rumah, tidak di kantor, topik pernikahan seolah menjadi hantu yang terus mengejarnya. Usia Rihana bulan lalu genap 29 tahun, seumuran dengan Bara. Posisi Bara jauh lebih aman dari gunjingan hanya karena laki-laki itu belum berkeluarga. Rumor sinis seperti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status