Beranda / Romansa / Rahasia Satu Malam / Bab 10. Persetan Ketinggian

Share

Bab 10. Persetan Ketinggian

Penulis: Oh Hana
last update Tanggal publikasi: 2026-09-24 22:39:44

“Lepasin! Gue bisa jalan sendiri!”

Bara berkelit kasar dari cekalan dua pengawal bertubuh kekar. Dua pria berbaju serba hitam itu baru melepas lengannya begitu mereka melintasi halaman rumah megah bergaya Mediterania.

Rumah yang sangat familier. Deretan bunga bougenville tampak cantik membingkai pagar depan. Air mancur berdiri megah di tengah taman, dikelilingi rumput hijau yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak.

Bara mendengkus jengkel saat matanya melirik deretan mobil mewah yang berjaj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahasia Satu Malam   Bab 12. Puas Menggerayangi Tubuh Adikku?

    “Gimana, Ri? Lo mau nikah sama gue?”Gema suara Bara saat melamarnya semalam terus berputar tanpa henti di otak Rihana. Perempuan itu memang tak lantas menjawab. Pun Bara tak lekas mendesak atau menuntut kepastian malam itu.Usai menyadari reaksi kaget dan kebingungan Rihana, Bara hanya tersenyum tipis lalu berkata lembut, “Nggak usah terburu-buru. Nggak harus dijawab sekarang kalau memang lo masih ragu.”Laki-laki itu lantas berpamitan pulang, meninggalkan Rihana yang mendadak diserang insomnia berat hingga subuh menyapa.Rihana menguap lagi, entah sudah yang keberapa kalinya hari ini. Ia berusaha keras menahan kantuk agar tidak tertidur di atas meja kubikelnya. Sementara itu, kubikel di sebelahnya tampak lengang. Bara tidak masuk kerja hari ini. Bu Jihan bilang, laki-laki itu sedang izin sakit.Sangat masuk akal jika Bara jatuh sakit. Semalam laki-laki nekat itu bertahan kedinginan mengenakan pakaian basah kuyup dari rumah Kalingga hingga sampai ke teras rumahnya.Rihana berniat men

  • Rahasia Satu Malam   Bab 12. Lamaran 300 Juta

    ​“Kok, bengong? Dingin, Ri. Gue … boleh masuk sebentar nggak?”​Suara Bara yang agak parau membuyarkan keheningan malam, membuat Rihana terperanjat kaget. Lamunannya seketika buyar menatap sosok jangkung yang masih membeku di luar pagar.​“A-eh, iya! Sebentar!”​Pelan-pelan Rihana membuka gembok besi pagar agar tak menimbulkan suara dentang yang keras. Ia mengajak Bara melangkah pelan menuju teras rumah, lalu menunjuk sebuah kursi kayu panjang.​“Duduk yang tenang di sini. Gue ambilin kaos ganti buat lo,” bisik Rihana tegas.​Bara hanya mengangguk pasrah. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding teras, menyadari tubuhnya mulai tak sanggup lagi menerima tumpukan hawa dingin dari baju yang basah dan rambutnya yang mulai setengah kering.​Tak sampai dua menit, Rihana kembali ke teras membawa selembar kaos oversize milik pribadinya. Namun, saat Bara memegang kain katun itu dan menemukan gambar kepala beruang berwarna merah muda yang lucu tercetak di bagian dada, alis tebalnya langsung berta

  • Rahasia Satu Malam   Bab 11. Gue Cuma Kangen

    ​“Nyonya Besar, toloooongg! Den Bara terjun ke kolam dari balkon, Nyonya!"​Teriakan histeris dari para pelayan membelah keheningan malam, membuat perempuan tua yang hampir memejamkan mata di kamarnya itu berjengit kaget. Mendengar kabar cucunya melompat dari balkon lantai dua sontak membuat dadanya ditubruk rasa cemas dan ketakutan yang membuncah.​Dengan napas terengah-engah, Oma Suhita bergegas bangkit. Langkah kakinya tertatih menepuk lantai marmer karena usianya yang mulai renta. Dua pelayan perempuan mengekor di belakang dengan raut wajah sama cemasnya, takut sang Nyonya Besar tersandung kakinya sendiri akibat terburu-buru.​Tepat ketika Oma Suhita sampai di teras belakang yang menghadap kolam, Bara sudah berhasil berenang ke tepi. Cucu badungnya itu benar-benar nekat, keras kepala, dan tak kenal takut. Bara tahu betul apa kelemahan terbesar Oma Suhita: perempuan tua itu tidak akan pernah rela satu-satunya pewaris harapannya terluka parah atau cacat akibat kenekatannya sendiri

  • Rahasia Satu Malam   Bab 10. Persetan Ketinggian

    “Lepasin! Gue bisa jalan sendiri!”Bara berkelit kasar dari cekalan dua pengawal bertubuh kekar. Dua pria berbaju serba hitam itu baru melepas lengannya begitu mereka melintasi halaman rumah megah bergaya Mediterania.Rumah yang sangat familier. Deretan bunga bougenville tampak cantik membingkai pagar depan. Air mancur berdiri megah di tengah taman, dikelilingi rumput hijau yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak.Bara mendengkus jengkel saat matanya melirik deretan mobil mewah yang berjajar di carport samping. Ada dua mobil sport yang dulu pernah ditawarkan padanya, dan semuanya sudah ia kembalikan.Manik tajam Bara menelisik ke segala sudut, mencari celah untuk meloloskan diri. Namun, ia mendesah kecewa. Selama dua pria tegap di sisinya ini belum enyah, kesempatan untuk kabur nyaris nol. Ia memilih menurut untuk sementara sampai bertemu sang pemilik rumah.Langkahnya terhenti di sebuah ruang tamu yang luas. Di sofa panjang berwarna cokelat muda, seorang perempuan tua duduk sant

  • Rahasia Satu Malam   Bab 9. Titik Muak Rihana

    ​“Berhenti, Cel,” perintah Rihana tiba-tiba. Suaranya tidak tinggi, tetapi sarat dengan nada perintah yang dingin.​Marcel yang tengah memegang kemudi mendadak kaku. Matanya melirik Rihana lewat kaca spion tengah sebelum kembali menatap jalanan sore yang padat.“Kita belum sampai, Sayang. Sebentar lagi sampai di butik. Mami udah nunggu.”​“Hentikan mobil di taman kota depan saja,” potong Rihana tanpa memandang Marcel. Ia mengalihkan tatapan lurus ke kaca depan. “Berhenti juga bertingkah sok manis. Aku muak.”​Rihana bersiap membenarkan posisi tas bahunya, menegakkan punggung demi bersiap keluar.​Marcel mengentakkan napas pendek. Dengan gerakan kasar, ia memutar kemudi dan menghentikan mobil di pinggir jalan dekat deretan pohon taman kota.​“Oh, kamu minta berhenti buat nyariin rekan kerja cowok kamu itu, ya?” tuding Marcel sinis. Wajah ramahnya yang tadi dipasang seketika luntur, berganti raut meremehkan.​“Ngapain, sih, kamu ngarep sama karyawan baru itu? Lagaknya sok iya, padahal k

  • Rahasia Satu Malam   Bab 8. Tuan Muda yang Tersembunyi

    “Bara dipanggil ke ruangan HRD,” celetuk Bu Jihan usai meletakkan revisi naskah copywriting untuk brand voice yang Rihana buat.“Hah? Kenapa?” Rihana sontak mendongak dengan raut cemas.Perempuan berbalut blazer merah bata itu mengibas tangan seraya memutar bola mata jengah.“Ck, kamu ini! Gara-gara kamu, tahu. Anak-anak magang bilang sewaktu pulang dari acara makan-makan kantor itu kalian mabuk dan pulang bareng. Si Bela anak magang sempat cerita ke aku juga. Kamu jangan sembarangan, dong, Ri.”Bu Jihan menjelaskan dengan suara berbisik seraya menarik kursi milik karyawan lain yang kubikelnya kosong. Jam pulang kantor sudah tiba, sebagian orang bersiap-siap melangkah keluar.“Seantero kantor udah pada tahu kamu punya tunangan. Kamu sama Bara, kok, makin ke sini makin deket. Bela bilang tadi pagi kamu berangkat bareng? Boncengan? Bener itu? Tunangan kamu tahu dan kasih izin?”“Ya Tuhan, Bu. Kenapa mesti dibawa ke HRD, sih? Ibu bisa tanya saya dulu atau tanya Bara. Lagian Bela kurang k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status