مشاركة

BAB 341

مؤلف: Jw Hasya
last update تاريخ النشر: 2026-08-08 07:27:25

"Terima kasih."

Angga terdiam sesaat. Entah mengapa, hanya dua kata sederhana itu mampu membuat sesuatu di dalam dadanya bergrlentar aneh.

"Aku kebetulan lewat."

"Tetap saja, kalau kau tidak datang, mungkin tasku sudah dirampas."

Angga mengangguk singkat. "Rumahmu di mana? Biar aku antar."

Gadis itu tampak ragu. "Tidak perlu repot."

"Aku tidak bertanya apakah aku perlu repot atau tidak." Nada suara Angga membuat gadis itu terdiam. "Kau mau pergi ke mana?"

Gadis itu akhirnya menjaw
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (4)
goodnovel comment avatar
Marimar
semoga masih ada pintu maaf buat Garen dari Arumi
goodnovel comment avatar
Marimar
cieee angga mulai berdebar nih wkwkk
goodnovel comment avatar
Anin Anindita
Angga harus dpt jodoh Thor,..dan garen sama Arumi kudu baikan jgn pisahkan mereka.
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 344

    "Apa kau bisa menjamin aku akan keluar dari sini, Sya?"Suara Celline terdengar begitu lirih, hampir tenggelam oleh kesunyian yang memenuhi ruangan. Namun, bagi Marsya, pertanyaan sederhana itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan atau ancaman apa pun yang sebelumnya mereka terima. Ia menatap wajah Celline yang basah oleh air mata, melihat ketakutan yang begitu nyata di sana, dan untuk beberapa detik Marsya tidak mampu menemukan satu pun kata yang pantas untuk menjawabnya.Marsya menarik napas panjang. Perlahan, ia mendekat hingga duduk tepat di hadapan Celline, kemudian menggenggam kedua tangan wanita itu yang terasa dingin dan gemetar. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini," ucapnya jujur, membuat Celline kembali menundukkan kepala. Namun, Marsya segera mengangkat dagu sahabatnya itu, memaksanya untuk menatap kedua matanya. "Tapi ada satu hal yang bisa kujanjikan kepadamu, Celline. Aku akan mengeluarkanmu dari sini.""Bagaimana caranya?" Air mata kembal

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 343

    "Makanlah. Bagaimanapun juga, kalian berdua membutuhkan sedikit amunisi untuk terus saling menyalahkan." Baron menyeringai miring. Dengan santai, pria itu meletakkan beberapa bungkus makanan di lantai, tepat di hadapan Marsya dan Dokter Celline. Makanan yang dibawanya tampak sudah hampir basi, aromanya bahkan mulai berubah, seolah benda itu bukan lagi sesuatu yang layak disebut makanan, melainkan sekadar sisa yang sengaja dilemparkan kepada dua manusia yang sedang tidak berdaya. Marsya menatap bungkusan itu dengan jijik. Tatapannya kemudian perlahan terangkat, mengarah tepat kepada Baron dengan sorot mata yang dingin dan penuh penghinaan. "Apakah kau pikir aku anjing?" suara Marsya terdengar bergetar menahan amarah. "Atau kau mengira aku akan menelan semua sampah yang kau lemparkan ke hadapanku?" Baron hanya terkekeh pelan. "Aku tidak pernah mengatakan kau anjing." "Kalau begitu, apa maksudmu memberikan makanan seperti ini?" "Aku hanya tidak ingin melihat kalian berdua pingsan k

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 342

    Desing mesin mobil semakin mendekat hingga akhirnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Arumi. Ban mobil itu menggesek permukaan jalan sebelum kendaraan tersebut benar-benar berhenti, dan sesaat kemudian pintu pengemudi terbuka. Angga keluar dengan napas yang sedikit terengah, buru-buru merapikan kemejanya yang kusut setelah perjalanan panjang. Namun baru saja kedua kakinya menginjak halaman, pandangannya langsung bertemu dengan sosok Garendra yang berdiri beberapa meter di depannya.Tatapan pria itu membuat langkah Angga seketika terhenti.Garendra berdiri tegak dengan wajah yang mengeras. Rahangnya tampak mengatup kuat, sementara kedua matanya menatap Angga seolah pria itu baru saja melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Perlahan, tangan kanannya mengepal. Buku-buku jarinya memutih, urat di punggung tangannya mulai menonjol.Angga menelan ludah."Maaf, Tuan. Saya—""Kau cari mati!" Garendra menggelegar sebelum Angga sempat menyelesaikan ucapannya.Dalam

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 341

    "Terima kasih." Angga terdiam sesaat. Entah mengapa, hanya dua kata sederhana itu mampu membuat sesuatu di dalam dadanya bergrlentar aneh. "Aku kebetulan lewat." "Tetap saja, kalau kau tidak datang, mungkin tasku sudah dirampas." Angga mengangguk singkat. "Rumahmu di mana? Biar aku antar." Gadis itu tampak ragu. "Tidak perlu repot." "Aku tidak bertanya apakah aku perlu repot atau tidak." Nada suara Angga membuat gadis itu terdiam. "Kau mau pergi ke mana?" Gadis itu akhirnya menjawab, "Kampus." "Kampus?" "Iya. Aku ada kelas pagi." Angga melirik jam tangannya. Kemudian ia menghela napas. "Masuk." Gadis itu membulatkan mata. "Apa?" "Aku antar." "Tapi ...." "Kalau kau terus berdiri di sini, tiga orang tadi mungkin kembali." Gadis itu langsung meno leh ke belakang. Angga menahan senyum tipis."Masuklah." Akhirnya gadis itu mengangguk. "Baik." Ia berjalan menuju mobil. Angga membukakan pintu penumpang untuknya. "Terima kasih." Kembali ucapan itu terden

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAH 340

    Garendra justru tersenyum lebar. "Lakukanlah sesuka hatimu. Aku tidak akan pernah melarang sekalipun kau ingin menguburku hidup-hidup." Arumi menatap pria itu beberapa detik. Entah harus kesal atau justru heran mendengar jawaban yang begitu tenang. Dalam keadaan normal, seorang pria tentu akan ketakutan ketika istrinya mengancam akan melaporkan segala kejahatan yang pernah dilakukannya, tetapi Garendra justru mengatakannya seolah kematian sekalipun bukan sesuatu yang perlu ia takutkan. "Jangan bercanda!" sentak Arumi. "Aku tidak bercanda," jawab Garendra tenang. "Justru itu yang membuatku semakin kesal!" Arumi menggeram pelan. "Kau selalu seperti ini. Seolah-olah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatmu takut." Garendra bangkit dari kursinya. Ia merapikan sedikit bagian depan kemejanya yang kusut, kemudian menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata yang jauh lebih serius. "Ada." Arumi terdiam. "Aku takut kehilanganmu." Kalimat itu membuat dada Arumi seketik

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 339

    Fajar perlahan menyingsing, menggantikan pekatnya malam yang sejak tadi membungkus rumah sederhana itu. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara udara pagi membawa kesejukan yang menenangkan. Burung-burung mulai berkicau dari dahan pohon mangga di halaman.Di atas teras, Garendra masih berada di tempat yang sama.Kemeja putih yang dikenakannya kini kusut, sebagian tertutup embun pagi. Lehernya sedikit pegal karena semalaman bersandar pada tiang teras tanpa benar-benar memejamkan mata. Sesekali ia mengusap wajahnya yang tampak lelah, tetapi tak sedikit pun terlintas keinginan untuk meninggalkan rumah itu.Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Selama Arumi belum benar-benar merasa aman, ia akan tetap berada di sana."ada apa, Angga?" Garendra menerima sebuah panggilan dari sang tangan kanan. "Biarkan, yang penting kau katakan pada Baron, suruh kasih mereka makanan yang hampir basi."Klik.Panggilan diakhiri sepihak oleh Garendra.Di dalam rumah, Arumi perlahan membuka mata

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 5

    Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 4

    Arumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah. “Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar.

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 3

    “Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka

  • Rahasia di Malam Pertama: Istri Perawan Disangka Janda   BAB 2

    Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status