Share

Hari Subur

Author: ShaSheMie
last update publish date: 2025-07-05 08:57:16

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Alana duduk tegang di pinggiran ranjang dengan tangan saling meremas keras, hati serta pikirannya gagal membuat santai.

Bunyi detik waktu menambah serunya permainan semesta. Alana menunggu Tara dengan tidak sabar. Bukan karena Alana menginginkannya. Gadis itu hanya penasaran, apakah sang suami siri benar-benar akan mendatanginya malam ini atau tidak.

Tak lama, suara deru mobil membuatnya memejam kaku.

Satu … dua … tiga ….

Derap langkah cepat dan suara pintu dibuka dengan kasar sontak membuat Alana menoleh.

Tara datang dalam keadaan kacau. Aroma alkohol menguar tajam, kemejanya tak serapi biasanya. Alana bimbang, bergerak mendekat untuk menyambut atau justru menjauh karena jujur dia sangat takut.

Sorot tajam Tara menusuk mata Alana. Pintu kamar ditutup dengan sangat keras, lalu Tara mengancing serta melempar kuncinya ke sembarang arah.

“Kamu nggak akan bisa melarikan diri. Kamu bilang aku bisa melakukan hal terburuk sekalipun kan? Jangan menyesal dengan ucapanmu! Wanita murahan!”

Alana bangkit, situasinya sulit. Ini tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Alana refleks mundur saat Tara semakin mendekat.

“Tunggu, Tara. Maksudku … Mas. Meski begitu kamu nggak boleh menyakitiku.”

Tara terbahak kencang. Dengan kasar dan cepat tangannya menekan kedua pipi Alana. “Mas? Panggilan yang terdengar menjijikkan!”

“Tolong jangan bunuh aku!”

Cengkraman Tara semakin kuat. Alana hanya bisa meringis menahan perih. “Ini mungkin akan jauh lebih buruk daripada kematian,” bisiknya penuh penekanan.

Susah payah Alana menelan air liur. Lebih menyakitkan dibanding kematian?

“Aku nggak akan memperlakukanmu dengan lembut sama sekali. Jangan harap!”

Setelah itu tubuh Tara malah tumbang. Alana refleks meraih lengan Tara berharap kepalanya tidak membentur lantai.

“Kamu kenapa?” tanya Alana khawatir.

Tara menghempas cekalan tangan Alana dengan kasar lalu duduk bersandar pada tembok.

“Jangan berlagak peduli! Aku sangat membencimu!”

Alana tetap mencoba mendekat. Titah Ratri untuk menyelesaikan malam ini dengan hasil pasti membuatnya berani. Bayang-bayang sang ayah terbaring di ranjang rumah sakit membuatnya membuang harga diri.

Dengan ragu gadis itu mengusap pipi Tara dengan lembut. Jari-jari itu gemetar seiring degup jantungnya yang tak karuan.

“Maafkan aku.”

Anehnya, Tara tak menampik. Kepala yang sedari tadi menunduk akhirnya terangkat, tatapan mata itu meredup, signal mulai berdamai.

“Asyila,” lirih pria itu lemah, mengambil tangan Alana lalu mengecupnya hangat.

“Asyila…. Maaf aku menyakitimu.” Pria tinggi itu menangis dan entah kenapa hati Alana seolah terhunus. Tara begitu mencintai istrinya.

“Aku menyakitimu Asyila. Maafkan aku.”

Tanpa aba-aba Tara meraup wajah Alana lalu mencium bibirnya dengan kasar.

“Aku mencintaimu Asyila, maafkan aku.”

Alana tak mampu melawan meski sepenuh jiwa raganya menolak. Napasnya seolah dibatasi. Gadis yang bahkan tak pernah berpacaran itu susah layah mengimbangi apa yang sang suami lakukan atas tubuhnya.

“Asyila! Aku merindukanmu. Jangan pergi.” Tara menggila tanpa peduli kesakitan Alana di bawah sana.

“Mas! Tolong, berhenti seben-” Tara tak membiarkan Alana melanjutkan kalimatnya. Bibir mungil itu kembali di bungkam berbarengan dengan irama hentakan yang semakin tak karuan.

“Jangan memintaku berhenti Asyila! Jangan!”

Alana tak tahan, kukunya tajam menggores bahu Tara yang semakin menggila.

Entah pukul berapa Tara akhirnya benar-benar berhenti. Alana tak punya tenaga lagi untuk mendorong tubuh besar yang masih menindihnya posesif. Alana menyerah dan memilih diam, menikmati kelelahan dan segala kesakitan dalam hening. Menatap nanar langit-langit kamar ditemani wangi parfum Tara yang menguar lembut. Sampai pada matanya yang semakin berat dan akhirnya menutup.

Bercinta untuk pertama kalinya dengan pengalaman seburuk-buruknya. Belum lagi, Alana harus mendengar suaminya terus menerus menyebut nama wanita lain diatas tubuhnya. Dia tak boleh mengeluh bahkan tak berhak mengklaim sakit hati.

***

Tenggorokan Alana kering. Tubuhnya nyeri, tapi seperti melayang, remuk redam.

Matanya mengerjap sesekali sebelum akhirnya benar-benar sadar. Hari sudah pagi, lebih tepatnya menjelang siang.

“Nona sudah bangun?”

Suara Santi membuatnya terkejut. Sejenak Alana lupa dengan apa yang terjadi, detik kemudian baru sadar dan langsung terduduk kaku, lalu meringis perih.

“Nona, pelan-pelan saja.”

Alana menangis lirih, mengira jika dirinya sudah mati sejak semalam.

“Anda baik-baik saja?”

Hanya tangisan yang menjadi jawaban atas kekhawatiran Santi. Alana belum mampu mengeluarkan sepatah katapun.

“Minumlah ini, Nona. Agar Anda lebih tenang. Setelah itu saya akan siapkan air hangat untuk berendam.”

Santi yang sedikit banyak tahu apa yang telah terjadi pada Alana pun hanya mampu menepuk ringan pundak polosnya yang naik turun karena isakan.

Butuh waktu lama bagi Alana untuk tenang. Semalam bagai mimpi buruk yang membuatnya trauma, bahkan hanya dengan membayangkan wajah Tara saja sudah membuatnya ketakutan.

Alana beringsut, kembali sembunyi di balik selimut.

“Tolong biarkan aku sendiri dulu, Santi,” lirihnya sedikit terbata.

Santi mengerti, Alana butuh waktu.

“Baik. Saya akan menunggu panggilan, Nona.”

Setelah Santi keluar, Alana menangis sampai puas, berteriak pada bantal agar suaranya tertahan. Lalu menggosok-gosok tangannya pada bahu, seperti membersihkan dari debu, kemudian mengusap kasar bibir yang kemarin beradu dengan Tara.

Akan tetapi, sebuah kalimat yang pernah didengarnya dari Ratri membuat Alana berhenti.

“Jangan menganggap dirimu hina, anggap saja sedang melayani suamimu. Ingat, pernikahan kalian sah dimata agama.”

Alana lupa, selain dilarang sakit hati, dia juga dilarang merutuki nasib. Sekali lagi, ini adalah pilihannya, tidak ada alasan untuk memberi makan pada egonya.

Dengan tangan gemetar, Alana meraih gagang telepon lalu menekan angka dua. “Santi, tolong bantu aku mandi,” pintanya hampir seperti berbisik.

"Ayah. Aku rindu hariku yang lalu."

***

Setelah memastikan Alana nyaman berendam di bathtub, Santi mulai membereskan semua kekacauan yang diciptakan Tara semalam.

Santi menggeleng heran, yang dia tau Tara cukup pendiam, tapi nyatanya buas juga saat diberi mangsa segar.

Pria itu pergi pagi-pagi sekali setelah mendapatkan kembali kesadarannya. Meninggalkan Alana begitu saja seperti seorang wanita habis pakai yang tidak ada harganya.

Cukup lama melamunkan nasib Alana, Santi sampai lupa akan tugasnya. Kemudian cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari saku, lalu mengambil beberapa gambar untuk dikirim kepada sang majikan.

Napasnya turut berat. “Semoga laramu membuahkan hasil manis Nona Alana.”

Santi langsung mendapat balasan pesan. [Bantu gadis itu pulih, aku yakin dia terkejut.] Ya, meski angkuh, tapi Ratri tak sekejam itu.

Kembali menatap kekacauan di atas kasur membuat asisten rumah tangga yang sudah sejak remaja bekerja pada Ratri itu bergidik ngeri. Dia masih perawan, dan melihat bercak darah di sprei membuatnya merinding.

"Sesakit apa malam pertama itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Rahim Alana   Empat Bulan

    Sepertinya kamu akan sering pulang telat,” keluh Asyila dalam dekapan hangat Tara.Pria itu tak menjawab, dia sibuk memeluk, tangannya bergerak-gerak lembut mengusap punggung sang istri.“Mama bilang, aku harus mengerti keadaan ini.” Asyila menjeda, kentara sekali jika menghela napas berat. “Anak itu … butuh ayah yang perhatian, kata mama.” Asyila menyebut mama mertuanya dua kali, pertanda sebuah penekanan atau pemaksaan yang harus ditangkap oleh perasaan Tata.Gerakan pada punggung Asyila berhenti.“Kamu nggak harus mengerti, kamu hanya cukup menjalani, ini semua akan segera berakhir.” Tara mengecup kening Asyila sekilas, berharap mampu mengusir gundah yang tidak mudah.“Aku takut, Tara.”“Takut apa, Sayang?”Asyila diam, ragu melanjutkan kalimatnya.“Takut kamu akan benar-benar berubah. Aku takut kamu jatuh cinta sama wanita itu, apalagi … anak itu … pasti akan selalu mengingatkanmu padanya.”Tara mem

  • Rahasia di Rahim Alana   Wangi Tubuh Tara

    Kehamilan Alana sebenarnya cukup unik, dia tidak mengalami morning sickness atau mual muntah di pagi hari seperti pada umumnya, justru Alana merasa mual dan ingin muntah di malam hari, selepas senja, dia mulai merasa pusing dan mual dengan berbagai aroma yang mampir ke indra penciumannya.Pagi ini Alana tampak jauh lebih segar. Semalam infus juga sudah dilepas oleh perawat perintah dari dokter Azlan setelah sebelumnya kembali disuntikkan obat anti mual. Dengan secangkir susu cokelat hangat, Alana menikmati sinar matahari lembut di taman belakang rumah.“Rasanya … aku seperti mabuk kendaraan,” keluhnya pada Ema.“Semalam yang terparah, Nona. Kami sampai bingung, untung Tuan Tara datang.”Sesapan Alana berhenti. “Tara?”Ema menggigit bibir bawah, seperti orang yang salah bicara.“Jadi semalam itu benar dia yang bawa aku ke kamar?”Ema mengangguk ragu.“Aku kira mimpi, tapi aromanya familiar. Apa dia suka

  • Rahasia di Rahim Alana   Tubuh Lemah Alana

    Dengan langkah dan helaan napas berat Tara mendekat ke pintu masuk rumah yang kini dihuni Alana.Sesuai hasil perdebatan siang tadi, sekali lagi pria itu kalah dengan sang mama. Menjelang senja, setelah mengulur waktu beberapa saat, Tama berakhir disini, masih lengkap dengan setelan jas dan tak lupa menenteng paper bag yang tadi dibawa Ratri. Tara mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ada respon.Ema membuka pintu dengan raut panik. “Tuan Tara!” Matanya membola, terkejut. “Syukurlah Anda datang. Tolong, Nona Alana pingsan.”Kini Tara yang malah diberi kejutan. Tanpa menjawab, Pria itu bergegas berlari ke arah sumber suara yang terdengar terus-menerus memanggil nama Alana.“Ada apa?” tanyanya refleks setelah sampai di pintu kamar mandi kamar Alana.Santi pun turut terkejut dengan kehadiran Tara yang tiba-tiba. “Ini Tuan, Nona Alana muntah-muntah dari tadi, sampai badannya lemas.”Tanpa pikir panjang Tara mengangkat tubuh ringan Alana. Tubuh dalam dekapannya itu terasa dingin d

  • Rahasia di Rahim Alana   Konflik Batin

    “Tenangkan dirimu, Asyila.”Langkah penuh amarah itu seketika berhenti. Sorot tajam yang seolah mampu membelah dunia itu tiba-tiba redup.“Mama,” sapanya lembut. Perubahan yang cukup drastis. Ternyata Ratri sudah menunggunya di ruang tengah sejak tadi. “Aku memahami ketidaknyamananmu mendengar kabar kehamilan Alana. Tapi tahan dirimu, ini tidak selamanya. Aku juga tegaskan berulang kali, gadis itu hanya dibayar sampai dia melahirkan.”Tak segera menjawab, Asyila malah tersenyum tipis. Dia yakin jika salah satu pelayan dirumah tadi menghubungi Ratri untuk melaporkannya.“Kamu juga tahu Tara tidak menyukainya. Lantas, kenapa kamu menjadi begitu khawatir? Biarkan dia hamil dengan tenang.”Sebenarnya baik Ratri maupun Asyila jarang sekali berdebat. Bisa dibilang menantu dan mertua itu cukup akrab.“Apa mama yakin semua akan berjalan mulus seperti yang mama katakan barusan?”Kening Ratri berkerut. Asyila menjawab dengan pertanyaan balik yang cukup mengejutkannya.“Apa mama nggak memikirka

  • Rahasia di Rahim Alana   Ultimatum Asyila

    “Selamat, Nona.”Alana tersenyum saat Ema menyambutnya dengan raut girang di ambang pintu. Entah harus bahagia atau bagaimana, Alana bingung mengekspresikan. Hamil memang menjadi tujuan dari segala kerjasama ini, tapi jujur Alana tak merasakan apapun.“Makasih, Ema. Aku mau langsung mandi.” Ajaibnya, beberapa saat setelah mengetahui jika hamil, sel-sel dalam tubuh Alana bereaksi aneh. Dia merasakan lelah yang teramat sangat. Padahal, sama sekali tidak melakukan aktivitas berat. Apa karena habis terpeleset tadi yang membuat Alana harus sedikit menahan sakit? Entahlah, semua terasa ambigu.“Hmm, Nona. Tapi ….”Alana mengernyit. “Ada apa, Ema?” tanyanya khawatir.Meski ragu akan berakhir baik, Ema tetap harus menyampaikan. “Hmm … itu … Nyonya Asyila menunggu di taman belakang.” Suara Ema mengecil di akhir.Napas Alana tertahan beberapa detik, lantas hembusan yang cukup berat mampu membuat Ema sadar jika Nona-nya ini jelas merasa tidak nyaman. Angan untuk segera merebahkan diri sirna. A

  • Rahasia di Rahim Alana   Positif

    Ratri melangkah tak sabar, sepatu pantofelnya sibuk memberi irama riuh. Sampai pada tangan dinginnya meraih gagang pintu dengan semangat.“Alana!” pekiknya tak tertahan.“Bu Ratri.” Serta merta Alana bangkit dari duduknya.Kilat kemarahan yang menumpuk seketika luluh saat menatap mata Alana yang bening.Entah mendapat dorongan dari mana Ratri memeluk Alana dengan posesif.“Syukurlah kamu baik-baik aja.”Meski ragu, Alana membalas pelukan Ratri demi untuk menenangkan diri.“Dia baik-baik aja, hanya lututnya ada sedikit luka.” Dokter Harjito menepuk bahu Ratri, membuat wanita itu melepas pelukan lantas memeriksa bagian yang dimaksud sahabatnya itu.Ratri kembali menatap Alana. “Bagaimana bisa jatuh?”“Hmm, saya terpeleset. Maaf,” ucapannya lirih diakhir kalimat. Ya, dia yang jatuh dia juga yang harus meminta maaf. Alana sadar betul keselamatannya adalah diatas segalanya saat ini.“Ayo duduk,” ajak dokter Harjito pada keduanya.“Selamat Ratri.” Pria berjas putih rapi itu menyodorkan sele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status