INICIAR SESIÓN“Sedikit lagi selesai, aku harus cepat pulang sebelum dia datang,” gumam Alya seraya menuangkan ekstrak rempah pekat ke dalam tabung kaca laboratorium.
Jarum jam di dinding laboratorium ekstraksi bumbu sudah melewati pukul lima sore. Suasana ruangan yang hangat karena mesin pemanas distilasi terasa begitu sunyi setelah seluruh staf riset pulang ke rumah masing-masing.
“Pak Arga, kalau ada orang yang kita kenal ke tempat ini dan menemukan kita sedang bersama, bagaimana?” bisik Alya sambil celingukan menatap koridor supermarket yang cukup ramai.Sejak tadi memilih-milih kol dan daun bawang di area sayuran, Alya merasa ada sepasang mata yang terus mengikuti pergerakan mereka. Bulu kuduknya meremang pelan. Dia cemas setengah mati jika akal-akalan mereka untuk menyembunyikan hubungan ini dari anak-anak kantor mendadak gagal total malam ini.Arga mengambil sebotol kecap manis dari rak depan, lalu menaruhnya ke dalam troli dengan gerakan santai. “Tidak apa-apa. Di luar jam kantor, statusmu kan memang kekasihku.”“Tapi bagaimana kalau yang melihat itu teman sekantorku, sedivisiku?” kejar Alya lagi, suaranya naik satu nada karena merasa jawaban Arga ter
“Sepuluh tahun lalu? Memangnya Pak Arga masih ingat bagaimana rasanya? Warung Nenek kan hanya warung kecil pinggir jalan,” kata Alya sambil menatap sang CEO dengan dahi berkerut tidak percaya.Arga tidak langsung berbalik, tangan kirinya yang bebas mengambil sebuah mangkuk kosong dari rak atas dengan gerakan santai. “Apakah kau sedang meragukanku, Karyawan Kecil? Ingatanku ini sangat baik, terutama untuk rasa makanan yang belum pernah kutemui tandingannya di tempat lain.”‘Sombong sekali. Padahal dulu dia sendiri yang bilang kalau memori malam hotel kami saja dia tidak ingat bersih,’ gerutu Alya di dalam batinnya yang masih dirundung rasa canggung yang tebal.Alya menghela napas panjang, melangkah mendekati gantungan kain di sudut dapur marmer. “Baiklah, saya akan menuruti k
“Besok pagi kamu sudah harus mulai menjelaskan rencana kerja ke anggota tim tugasmu, Alya,” kata Arga seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja laboratorium baja yang bersih.Alya yang sedang mengelap sisa cairan tabung reaksi hanya mengangguk kaku tanpa menoleh. “Baik, Pak. Apakah besok saya juga harus menyeleksi staf dari divisi riset bumbu untuk masuk ke kelompok saya?”“Tidak perlu, anggota tim sudah kusiapkan,” jawab Arga dengan nada suara yang berat. “Kau tidak perlu repot-repot mencarinya lagi ke kubikel lain. Mereka semua sudah kuseleksi secara ketat dari berkas harian sebelumnya.”“Terima kasih, Pak,” cicit Alya pendek.Alya segera menyelesaikan catatan formula bumbu pasta di bukunya, lalu mulai bergerak cepat membersihkan meja laboratorium menggunakan kain lap basah. Rasa canggung yang teramat pekat akibat kejadian memalukan soal salah paham tadi masih membuat wajah Alya terasa hangat setiap kali mengingatnya. Dia memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat demi menjaga s
“Sedikit lagi selesai, aku harus cepat pulang sebelum dia datang,” gumam Alya seraya menuangkan ekstrak rempah pekat ke dalam tabung kaca laboratorium.Jarum jam di dinding laboratorium ekstraksi bumbu sudah melewati pukul lima sore. Suasana ruangan yang hangat karena mesin pemanas distilasi terasa begitu sunyi setelah seluruh staf riset pulang ke rumah masing-masing.Alya bergerak cekatan mencampur formula bumbu pasta dasar mi nyemek, memacu gerakannya agar seluruh jatah lembur hukumannya bersih sebelum siluet tegap sang CEO mendobrak pintu.‘Kalau formula ini selesai lebih awal, aku punya alasan masuk akal untuk segera kabur dari gedung ini,’ batin Alya sambil menutup tangki steril dengan terburu-buru.“Kamu terburu-buru sekali, Kary
“Lihat grafik merah ini, penjualan kita tertinggal dua puluh persen di bawah grup sebelah,” kata Arga seraya mengetuk layar proyektor dengan pulpen hitamnya.Alya mengambil posisi duduk di barisan kursi paling belakang aula kecil lantai satu. Suasana ruangan ber-AC dingin ini mendadak terasa pengap oleh kepanikan puluhan staf divisi riset. Di depan meja rapat, Arga berdiri tegap tanpa jas, hanya dengan kemeja hitamnya, memaparkan tumpukan angka kerugian dengan sepasang mata elang yang menatap tajam.‘Dia beneran kelihatan galak sekali siang ini,’ batin Alya sambil meremas ujung kemejanya.“Kalau terus begini, produk baru kita bulan depan tidak akan punya ruang di rak supermarket besar,” lanjut Arga dengan nada suara yang berat dan kembali berwibawa menekan. “Kali ini, kita harus mengambil alih posisi unggul. Tidak ada rencana cadangan.”Seorang staf pria di samping Alya tiba-tiba mendekatkan kepalanya, berbisik dengan nada sangat lirih. “Eh, logikanya, kalau jualan merosot, bukankah s
“Seluruh anggota divisi riset yang ada di sini, berdiri sekarang,” perintah Arga dengan suara bariton yang berat dan langsung mengunci gerakan semua orang di sudut kantin.Alya menahan napasnya, jemarinya yang memegang sendok nasi goreng membeku seketika. Dia perlahan mendongak, menatap bayangan tegap Arga yang berdiri kokoh tepat di samping kursinya.‘Mampus. Kenapa lagi sekarang?’Alya dan Sinta langsung saling menoleh, melemparkan pandangan panik ke sekeliling mereka. Saat itulah Alya baru menyadari sebuah hal yang masuk akal. Meja-meja di sekitar mereka ternyata hampir semuanya dipenuhi oleh anak-anak dari divisi riset bumbu dan tim pengembangan produk baru Nusantara. Segerombolan rekan kerjanya yang sedang asyik makan siang kini ikut pucat pasi ditatap langsung oleh sang CEO.







