تسجيل الدخول"Ah—" Telapak sepatunya kehilangan pijakan Tubuhnya langsung oleng ke belakang. Refleks, Devan yang berjalan di sampingnya bergerak cepat. Satu tangan melingkar di pinggang Citra, sementara tangan satunya menahan bahunya agar tidak membentur lantai. Gerakan itu begitu sigap hingga tubuh Citra berhenti tepat sebelum terjatuh. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Cermat saat berjalan," ujar Devan dengan nada datar, tetapi cengkeraman tangannya di pinggang Citra masih terasa kokoh. Jantung Citra kembali berdetak lebih cepat. Ia buru-buru menegakkan tubuh setelah mendapatkan kembali keseimbangannya. "Maaf... aku tidak melihat lantainya licin." Devan tidak langsung melepaskan tangannya. Ia memastikan Citra benar-benar sudah berdiri stabil, barulah perlahan menarik tangannya kembali. "Ayo." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Namun, tanpa mereka sadari, puluhan pasang mata di lobi perusahaan baru saja menyaksikan bagaimana CEO yang dikenal ding
Citra berjalan cepat menyusuri koridor hingga akhirnya tiba di meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu ruang CEO. Ia meletakkan kardus di atas meja, lalu mengembuskan napas panjang. Satu per satu barang pribadinya ia keluarkan dan dirapikan ke meja kerja barunya. Setelah meja kembali rapi, Citra segera mengambil tablet perusahaan. Jarinya lincah membuka aplikasi email dan kalender kerja. Dia mengecek seluruh agenda Devan untuk hari itu agar tidak ada jadwal yang terlewat. Pukul sembilan, rapat dengan divisi keuangan. Pukul sebelas, penandatanganan kontrak dengan klien. Pukul satu siang, makan siang bersama investor. Pukul tiga sore, inspeksi proyek pembangunan cabang baru melalui konferensi video. Dia harus memastikan hari pertamanya jadi sekretaris pribadi CEO, tidak menimbulkan masalah se
BRUK! Karena keseimbangan Citra goyah dan kardus di tangannya berat, tubuh Citra menabrak keras punggung tegap Alex. Dorongan itu membuat mereka berdua kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersama ke atas lantai karpet koridor. Dalam hitungan detik saat tubuh mereka ambruk ke lantai, insting protektif Alex sebagai pria aktif. Dia memutar tubuhnya secepat kilat, menarik pinggang Citra, dan dengan sigap menyelipkan telapak tangan kanannya di belakang kepala Citra agar tidak terbentur keras ke lantai marmer di balik karpet. GUBRAK! Barang-barang di dalam kardus berserakan di lantai. Posisi mereka berakhir sangat dekat di lantai koridor yang sepi. Citra telentang di bawah dengan napas terengah-engah karena terkejut, sementara tubuh Alex berada tepat di atasnya, menumpu badannya dengan tangan kiri agar tidak menindih Citra, sementara tangan kanannya masih mendekap erat bagian belakang kepala Citra untuk melindunginya. Jantung Citra berdegup kencang karena kaget, menatap
"P-Pak Devan?! Apa yang Anda—" Belum sempat Citra menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah menundukkan kepalanya, meraup dan membungkam bibir ranum Citra dalam sebuah ciuman yang dipenuhi paksaan dan dominasi mutlak. Devan tidak memberikan celah sedikit pun bagi Citra untuk menghindar. Citra sendiri berusaha memberontak, kedua tangannya memukul-mukul dada bidang Devan dengan panik. "Mmph! De-van... lepas...!" teriaknya di sela-sela ciuman brutal Devan. Namun, perbedaan tenaga yang kontras membuat pemberontakan Citra sia-sia. Devan justru menyatukan kedua pergelangan tangan Citra dengan satu tangan kokohnya, menguncinya di atas kepala Citra pada dinding. Tangan Devan yang bebas beralih mencengkeram tengkuk Citra, memaksa tautan bibir mereka menjadi semakin dalam, intim, dan menuntut. Ciuman Devan terasa kasar, menghisap, dan menginvasi rongga mulut Citra dengan lihai, menyalurkan seluruh gairah liar yang barusan dia tonton dari layar ponselnya. Bau parfum cedarwood m
"Gak perlu. Aku bisa ambil sendiri," tolak Citra langsung. Citra tak mengerti kenapa Devan suka sekali mengatur, selalu menggunakan otoritasnya dan memaksakan kehendak orang lain. Devan mendengus kesal karena lagi-lagi Citra membantahnya. "Aku tak meminta pendapatmu." "Sudahlah, Pak Devan, biarkan saya saja yang mengambilnya," keputusan telak Citra dengan nada bicara yang formal. Devan menoleh menatap Citra dengan tatapan horor, akan tetapi tak membuat nyali Citra menciut, justru Citra menatap balik Devan. Johan yang berada di antara pasutri baru ini yang berdebat, dia binggung harus bagaimana. Dia berdehem canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "maaf Pak Devan, Bu Citra." Kedua manusia yang merasa namanya disebut menatap empu pemilik suara yang memanggil. Johan menelan ludah kasar, "mungkin ada baiknya memang Bu Citra saja yang mengambilnya, karena pagi ini saya akan menggantikan Pak Devan melakukan inspeksi dadakan untuk wawancara karyawan baru bersama
"Aku tak tahu jika asistenku dan istriku memiliki kedekatan khusus." Suara tajam dan dingin menginvasi ruang sempit di dalam kabin mobil yang sedang melaju membelah jalanan ibu kota. Johan yang sedang menyetir tergugup, karena saat masuk ke mobil tadi atmosfir di dalamnya berubah menjadi dingin. "Bu-Bukan sepe—..." ucapan Johan terpotong oleh suara Devan lagi. "Aku menyuruhmu turun untuk menjemputnya, bukan malah melakukan kontak mata sambil saling membalas senyum." Citra terkejut, dia merasa bahwa otak Devan bermasalah. Wajah Citra berubah merah karena kesal. "Apa kau habis makan kotoran? Kenapa mulutmu bau sekali!" kata Citra sambil menatap Devan menantang. "Habis makan kotoran katamu?!" desis Devan menatap tajam Citra. Citra merasa terintimidasi oleh aura Devan yang dingin dan mengerikan, namun harga diri yang tinggi dalam jiwanya tak menyusutkan nyali Citra. "Ya!" Mata Citra melotot lebar. "Kalau gak, kenapa gak ada satu pun kalimat yang enak di dengar pas kamu b







