LOGINAruna menarik buku kecil dari jepitan barisan ensiklopedia militer tebal di rak paling bawah. Sampulnya yang usang langsung menarik perhatiannya.
"Panduan Menanam Tomat di Lahan Kering Sebelum Kiamat." Aruna berkedip dua kali, memandangi judul unik itu dengan heran. "Malik, lihat deh. Kok ada buku kayak gini di perpustakaan Jenderal?" Malik mendekat, melirik sekilas benda di jemari Aruna. "Paling punya kakeknya komandan. Dulu peng"Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan
"Malik, sembunyi!" bisik Aruna panik, matanya bergerak liar mencari sudut ruangan yang aman. Malik tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan tangkas tanpa suara, ia meluncur ke bawah meja kayu panjang yang tertutup taplak tebal di dekat sofa. Aruna segera membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, membuka buku puisi bersampul hijau daun, dan berpura-pura tenang. Pintu ganda itu terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi Dante yang masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana yang berkilat dingin. "Siapa yang kasih kamu izin ke sini?" tanya Dante.. Aruna mendongak, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku... cuma mau cari bacaan. Tadi Sophie yang kasih kuncinya." Dante melangkah masuk, ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapan gadis itu. "Sophie nggak punya hak untuk kasih izin di mansion ini," desis Dante dingin, matanya beralih ke buku di pan
Aruna menarik buku kecil dari jepitan barisan ensiklopedia militer tebal di rak paling bawah. Sampulnya yang usang langsung menarik perhatiannya. "Panduan Menanam Tomat di Lahan Kering Sebelum Kiamat." Aruna berkedip dua kali, memandangi judul unik itu dengan heran. "Malik, lihat deh. Kok ada buku kayak gini di perpustakaan Jenderal?" Malik mendekat, melirik sekilas benda di jemari Aruna. "Paling punya kakeknya komandan. Dulu pengin jadi petani tapi gak kesampaian gara-gara telanjur disuruh pegang senjata." "Tapi ini berguna tahu," cetus Aruna sembari membuka halaman pertama. Ilustrasi tomat bulat bergoresan pensil warna yang sudah agak buram menyambut matanya. "Di belakang kan ada tanah kosong sedikit," lanjut Aruna lagi. "Kalau ditanam tomat kayaknya bagus." Malik mendengus pendek. "Tanah di sini udah tercemar residu mesiu, Aruna. Yang
Aruna menatap Malik dari balik batas selimut yang sudah turun ke dagunya. "Ngapain ditarik sih? Biarin aja." Malik tidak melepas ujung selimut itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hingga Aruna bisa mencium aroma samar minyak kayu cendana dan sisa dingin angin malam yang tertinggal di jaket pria itu. "Nanti kalau kamu sesak napas, aku lagi yang repot," ucap Malik pelan. "Kan ada kotak obat," sahut Aruna ketus, mencoba membela diri walau jantungnya sudah berdegup dua kali lebih cepat. "Tinggal kasih napas buatan." Aruna langsung menggigit bibir bawahnya begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan. 'Bodoh banget,' rutuknya dalam hati. Malik menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang nyaris pecah. "Oh, jadi kode nih?" "Bukan! Maksudnya—" Sebelum Aruna sempat menyelesaikan kalimatnya, Malik mendekat. Wajah me
Malik mengubah posisi tidurnya, menyandarkan kepala pada lengannya sendiri sambil menghadap Aruna. "Dulu, sebelum langit ketutup debu polusi militer dan perimeter kota dipasang benteng beton, dunia nggak sepi kayak gini. Isinya cuma perebutan wilayah logistik sisa faksi lama." Aruna tidak menyela. Ia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, mendengarkan sisa serak suara Malik yang berbaur dengan dengung tipis pendingin ruangan. "Komandan itu anak tunggal Jenderal," lanjut Malik, jemarinya mengetuk-ngetuk kasur dengan ritme lambat. "Sejak umur sepuluh tahun, dia udah dipaksa lihat isi barak. Waktu faksi pemberontak nembus lini pertahanan sektor barat, ibunya nolak dievakuasi lewat jalur udara karena mau jemput Dante di posko medis." Aruna menahan napas kecil. Tatapannya tertuju pada garis rahang Malik yang mendadak mengatup rapat. "Begitu helikopter mereka j
"M-Maaf, saya nggak tahu. Saya nggak lihat apa-apa kok," ucap prajurit itu cepat. Kepalanya menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Malik menoleh tanpa mengubah posisi duduknya. "Masuk aja." "Ini, saya bawakan kotak obat." Prajurit itu melangkah ragu, menyodorkan sebuah kotak logam putih. "Tadi saya nggak sengaja lihat wanita itu terluka." "Oh, terima kasih. Kamu bisa kembali." "Siap, laksanakan!" Prajurit itu menegakkan tubuh, memberi hormat, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu besi. Malik memindahkan posisi duduknya ke tepi ranjang. Tangannya bergerak mengambil kasa, mulai membersihkan luka robek di tangan Aruna, lalu membebatnya dengan perban. Begitu selesai, Malik menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu di samping ranjang. Matanya terpejam dalam posisi duduk. Garis cahaya pagi jatuh tepat di atas selimut Aruna. Malik m
"Eros, bangun!" tangis Aruna parau, memaksakan suaranya keluar di sela telinga yang berdenging sambil terus mengguncang bahu kokoh di pangkuannya. "Jangan banyak gerak, kamu juga terluka," sela Malik dengan suara yang tenang, napasnya memburu pendek. Arun
"Pegangan, Aruna!" teriak Malik dengan urat leher yang menegang keras. Sepasang tangannya mencengkeram setir dengan kencang, berusaha melawan momentum hantaman yang melempar mobil taktis mereka keluar dari jalur aspal gersang. Aruna tidak sempat menyahut,
"Itu apa?" tanya Malik setengah berteriak dari kursi kemudi. Sepasang matanya melirik tajam ke arah kaca spion tengah, menatap pendar cahaya ungu pekat yang kian terang dari dalam tas Aruna. Mobil taktis itu melesat membelah jalanan gersang yang gelap dengan kecepatan tinggi. "Aku juga nggak ta
"Kamu kuat lari kan?" Napas pria itu terasa amat panas di ceruk leher Aruna, berbau anyir darah pekat. Kecepatan lari Eros mulai melambat begitu mereka berhasil keluar beberapa ratus meter dari gerbang luar hanggar. "Bisa, tapi nggak secepat kamu," jawab Aruna dengan jantung yang berdegup kenc







