Share

CHAPTER 2

Author: syffftrly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-31 21:22:38

Setelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka. 

Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu.

"Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga. 

Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.

Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu. 

Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.

Sebelum Serena sempat membalas, Oliver sudah berjalan pergi begitu saja. Serena menghela napas kecil lalu masuk ke kelasnya kembali. 

Hari itu berjalan jauh lebih normal dibanding yang ia kira. Tidak ada ledakan sihir, tidak ada insiden memalukan, tidak ada guru yang sengaja mempermalukannya di depan kelas. Hanya pelajaran membosankan seperti biasa.

Meski begitu, Serena tetap bisa merasakan beberapa tatapan mengarah padanya setiap kali praktik sihir dimulai. Tatapan merendahkan yang sama, tatapan kasihan yang lebih menyebalkan. 

Serena sudah terlalu terbiasa untuk peduli. Ia hanya duduk diam sambil mencatat seperlunya sampai akhirnya bel pulang berbunyi.

Suara siswa yang langsung ribut memenuhi kelas. Beberapa buru-buru keluar, beberapa masih berkumpul dengan teman-teman mereka. Serena memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berjalan keluar kelas tanpa terburu-buru. 

Namun, baru beberapa langkah keluar koridor, seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya. “Yo,” katanya dengan suara rendah dan santai.

Serena langsung mengenalinya. Rambut perak, kulit gelap khas wilayah gurun, dan mata hitam tajam yang seolah selalu memandang rendah orang lain. Seth Roux Albagard, putra mahkota Kerajaan Albagard. Kerajaan gurun dengan budaya patriarki menjijikkan yang bahkan membuat Serena muak hanya dengan mengingatnya. 

Di sana, wanita diperlakukan seperti barang, semakin banyak istri, semakin tinggi kebanggaan pria mereka. Benar-benar budaya sinting.

"Ada perlu dengan saya, Pangeran Albagard?” tanya Serena dingin tanpa repot-repot tersenyum. Seth menyeringai geli. “Kau galak sekali,” katanya. “Itu bukan jawaban,” jawab Serena. 

Pria itu malah tertawa kecil lalu melangkah mendekat tanpa izin. Gerakannya santai, terlalu santai untuk ukuran bangsawan. Seolah tata krama belum ditemukan di negaranya.

Tangannya terangkat, berniat merangkul bahu Serena begitu saja. Refleks Serena langsung menepis tangannya. Plak, cukup keras sampai Seth sedikit mengangkat alis. “Aku tidak ingat mengizinkan anda menyentuh saya,” katanya dengan tegas. 

Koridor mendadak sedikit lebih sunyi. Beberapa siswa yang lewat mulai melirik ke arah mereka. Namun Serena tidak peduli. Ia terlalu malas melayani tingkah pria menyebalkan seperti ini.

Seth justru terlihat semakin terhibur. “Menarik,” katanya. “Kau yang aneh,” jawab Serena. “Biasanya wanita langsung tersipu kalau aku mendekat,” kata Seth dengan senyum. “Kalau begitu mungkin mereka perlu diperiksa ke tabib,” jawab Serena dengan nada datar. 

Seth tertawa kecil mendengar balasan itu. Tatapan hitamnya memperhatikan Serena dari atas sampai bawah tanpa malu-malu. Jelas sekali pria itu tertarik. Dan Serena semakin ingin pergi dari sana.

"Jika tidak ada yang ingin dikatakan, saya permisi,” katanya dengan tegas. Serena langsung berjalan melewati Seth tanpa menunggu jawaban. Namun, saat ia lewat, suara pria itu terdengar lagi dari belakang. 

“Kau benar-benar tidak takut padaku, ya?” Serena berhenti sebentar. Lalu menoleh setengah. “Apa saya harus takut?” Senyum Seth sedikit berubah. Bukan lagi santai, lebih seperti tertarik. Dan itu justru membuat Serena semakin tidak nyaman. Ia langsung melanjutkan langkahnya pergi tanpa menunggu balasan lagi. 

Di ujung koridor lain, seseorang sejak tadi memperhatikan semuanya dalam diam. Oliver. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya. 

Ekspresinya yang biasanya santai kini menghilang. Tatapan ambernya tertuju lurus ke arah Seth yang masih berdiri di depan kelas Serena. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak masuk akademi, Oliver merasa ada sesuatu yang mulai bergerak ke arah yang tidak ia sukai sama sekali.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 16

    Hari-hari di akademi berlalu dengan cukup tenang. Setidaknya bagi Serena. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lucifer semakin sering muncul dalam kehidupannya. Mereka memang berada di kelas seni yang sama, tetapi pria itu seolah sengaja mencari alasan untuk selalu berada di dekatnya.Kadang Lucifer menunggunya di depan kelas. Kadang pria itu muncul di perpustakaan. Kadang bahkan sudah berdiri di depan asrama sebelum Serena selesai bersiap. Hari ini pun sama. Mereka sedang makan siang bersama di kantin akademi. Serena sibuk memotong steak di piringnya. Sementara Lucifer hanya duduk santai di hadapannya. Makanan di depannya hampir tidak tersentuh. Tatapan merahnya justru tertuju pada Serena. Memperhatikan setiap gerakan gadis itu."Jadi?” tanyanya. Serena mengangkat kepala. “Hm?” Lucifer menopang dagunya. “Kamu terlihat banyak berpikir.” Serena menusukkan garpu ke steaknya. “Oliver aneh banget akhir-akhir ini.” Lucifer tidak menjawab.

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 15

    "Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 14

    Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 13

    "Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 12

    Serena menelan ludah pelan. Jantungnya masih terasa tidak nyaman sejak Lucifer mengaku sebagai raja iblis. "Ya…” jawabnya lirih.Lucifer tersenyum tipis. Lalu, ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya sekali. Seketika, lingkaran hitam transparan muncul mengelilingi mereka. Lingkaran itu tipis dan hampir seperti kabut. Namun, Serena bisa merasakan udara di sekitar mereka berubah aneh. Suara perpustakaan mendadak terasa jauh, seolah mereka dipisahkan dari dunia luar. "Apa itu?” tanya Serena pelan."Penghalang kecil,” jawab Lucifer santai. “Supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita." Serena langsung terdiam lagi. Pria ini benar-benar menggunakan sihir sesuka hati. Dan yang lebih menyeramkan… tidak ada seorang pun di perpustakaan yang menyadarinya.Lucifer menatap Serena cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi. “Yahh, aku diberitahu oleh seseorang.""Tentang apa?” tanya Serena. "Tentang kehidupan,” jawab Lucifer pelan. “Bahwa kehidupan ini tidak hanya ada satu." Tatapan me

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 11

    "Dimana?” tanya Serena dengan penuh antusiasme. Ia condongkan tubuhnya ke depan, setelah membaca buku yang membosankan selama hampir dua jam. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang tahu sesuatu, meskipun hanya tentang tempat penyimpanan buku.Delara, pria elf itu, hanya mengangkat alis tipis dan berkata, “Heh.” Ia menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya, “Kenapa aku harus memberitahumu?” Antusiasme Serena langsung turun setengah. Benar juga, kenapa dia berharap banyak pada pria menyebalkan ini?"Tak perlu,” kata suara familiar dari belakang Serena. Tubuhnya langsung menegang karena ia mengenali suara itu. Dan benar saja, Lucifer berdiri di belakang kursinya, dengan mata merah yang menatap tajam ke arah Delara. Aura dingin memenuhi meja kecil perpustakaan itu."Biar aku saja,” kata Lucifer santai sebelum duduk di samping Serena tanpa diminta. Serena membeku, kapan pria ini datang? Dan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti hantu kurang kerjaan?Delara menegang sesaat, dengan tat

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 3

    "Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahk

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 7

    Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kec

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 6

    Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 1

    “Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status