LOGINAndre menyeringai tipis sambil melihat area base sekali lagi.
“Sebenernya gue baik.” Dia menepuk bahu Joni pelan seolah sudah akrab. “Gabung aja sama gue.” Joni diam mendengarkan. Andre melanjutkan dengan nada santai. “Gue jamin hidup kelompok lu.” Dia mengangkat satu jari. “Satu orang satu bungkus roti per hari.” Sunyi sesaat lalu Mila refleks menutup mulutnya menahan tawa. Beberapa anggota di atas tembok yang mendengar itu juga langsung saling melirik sambil tersenyum aneh. Bahkan ada yang sampai tertawa kecil. Joni melirik ke sekitar lalu menggeleng pelan sebelum kembali menatap Andre. “Liat?” Dia menunjuk ke belakang. “Tawaran lu diketawain orang gue.” Deri cepat-cepat menyenggol siku Mila supaya berhenti ketawa. Andre memicingkan mata melihat reaksi itu. “Buat kelompok baru kayak kalian…” Nada suaranya mulai dingin. “Itu udah mewah.” Namun sebelum dia selesai bicara, Joni langsung memotong santai. “Kalau ga ada urusan lain…” Dia menunjuk jalan keluar. “Mending pergi deh.” Beberapa anggota Andre langsung tersulut. “Woi jaga mulut lu!” “Jangan ngerendahin kelompok gue!” Anggota di atas tembok juga langsung membalas. “Lah siapa yang mulai?” “Roti satu bungkus songong amat!” Suasana langsung ramai oleh sahutan dari kedua pihak. Senjata mulai terangkat lebih tinggi dan beberapa orang sudah memasang posisi menembak. Sampai akhirnya Andre mengangkat tangannya dan semua langsung diam. Andre tersenyum tipis lalu menatap Joni. “Yaudah.” Dia mengangguk pelan. “Gladiator.” Mata Joni langsung menyipit. Deri dan Mila juga ikut serius mendengar itu. Semua orang tahu apa arti gladiator. Tradisi lama antar kelompok survivor untuk menyelesaikan konflik tanpa perang besar. Satu lawan satu. Biasanya antar awakener atau pemimpin kelompok langsung. Karena loyalitas di dunia sekarang lahir dari kesepakatan dan kebutuhan, bukan pengorbanan buta. Tidak ada yang mau mati sia-sia hanya karena perang antar kelompok. Andre menepuk dadanya sendiri sambil tersenyum songong. “Gue maju.” Sorakan langsung pecah dari kelompoknya. “BOS!” “HANCURIN MEREKA!” Andre kembali menatap Joni. “Gimana? Takut?” Beberapa detik suasana hening lalu Joni mengangguk santai. “Oke.” Andre tertawa puas. “Bagus.” Dia menunjuk ke arah salah satu area pabrik di kejauhan. “Besok.” “Jam dua belas siang.” “Di sana.” Lalu dia mendekat sedikit ke Joni sambil menyeringai. “Kalau lu ga dateng…” Tatapannya tajam. “Tau sendiri akibatnya kan?” Joni tetap tenang. “Tau.” Andre mengangguk puas lalu berbalik. “Ayo pergi.” Konvoi mereka langsung mulai bergerak menjauh meninggalkan base, sementara suasana di pihak Joni berubah jauh lebih tegang dibanding sebelumnya. Begitu konvoi Andre pergi menjauh, suasana di depan gerbang masih tegang beberapa saat sebelum akhirnya orang-orang mulai sedikit tenang. Deri langsung menoleh ke Joni. “Jon.” “Siapa yang maju besok?” Joni menjawab tanpa ragu. “Gue.” Mila langsung mengernyit. “Bang…” Dia terlihat khawatir. Mila tahu Joni seorang awakener, tetapi selama ini dia hampir tidak pernah melihat Joni benar-benar menggunakan kemampuan awakenernya dalam pertarungan langsung. Yang dia lihat hanyalah Joni menembak, meledakkan sesuatu, atau memanfaatkan medan. Bukan bertarung seperti awakener lain. Joni sendiri terlihat santai. “Ayo masuk dulu.” Dia mulai berjalan kembali ke dalam base. “Naikin penjagaan.” Tatapannya menyapu anggota pertahanan di tembok. “Jangan turunin kewaspadaan.” Semua langsung mengangguk paham. “Siap!” Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah kembali di ruang kerja Joni. Joni duduk di kursinya sambil menyandarkan tubuh, sementara Mila dan Deri berdiri di depan meja menunggu penjelasan. Mila yang pertama membuka suara. “Rencana lu apa?” Namun Joni justru bertanya balik. “Lu berdua pernah liat gladiator?” Deri dan Mila langsung mengangguk. Di dunia sekarang, gladiator termasuk hiburan besar. Dua orang bertarung sampai salah satunya mati, dan semua cara diperbolehkan. Deri menyilangkan tangan lalu berkata. “Gue pernah liat Andre beberapa kali.” Ekspresinya berubah serius. “Itu salah satu alasan kelompoknya bisa gede sekarang.” Joni mengangguk pelan. “Traitnya apa?” Deri langsung menjawab. “Pengendali tanah.” Dia mulai menjelaskan sambil menggerakkan tangannya. “Biasanya dia nyelimutin tubuhnya pake tanah keras kayak armor.” “Terus dia bikin tanah sekitar musuh jadi jebakan.” Tatapan Deri menyipit. “Habis itu dia hajar lawannya sampe mati.” Ruangan jadi sunyi beberapa detik. Joni memegang dagunya sambil berpikir. “Hmmm… Pengendali tanah ya.” Mila mulai terlihat semakin khawatir. “Bang…” Dia mendekat sedikit. “Jangan bilang lu belum punya rencana.” Joni melirik santai ke arah Mila. “Iya.” “Gue ga punya rencana.” Sunyi. Deri dan Mila langsung saling melirik lalu bersamaan mereka menepuk jidat masing-masing. Ruangan langsung diam. Sunyi. Mila dan Deri masih memegang jidat mereka sementara Joni terlihat santai seperti tidak ada masalah besar menunggunya besok siang. Tidak lama kemudian— Brak. Pintu ruangan terbuka dan Pak Bram bersama Pak Kusno masuk dengan wajah serius. “Kami dengar tadi di luar…” Pak Bram langsung bicara. “Besok ada gladiator?” Joni mengangguk santai. “Iya.” Pak Kusno langsung terlihat cemas. “Apa yang terjadi?” Akhirnya Deri dan Mila mulai menjelaskan semuanya dari awal. Tentang kedatangan Andre, tawaran bergabung, sampai tantangan gladiator tadi. Semakin mendengar penjelasan itu, wajah Pak Kusno semakin tegang. Dia tahu siapa Andre. Dan dia tahu seberapa mengerikannya awakener itu. Setelah cerita selesai, Pak Kusno langsung duduk pelan sambil mengusap wajahnya. “Joni…” Nada suaranya berat. “Andre itu bukan orang sembarangan.” Dia menatap Joni serius. “Dia sering pakai gladiator buat nundukin kelompok lain.” Pak Bram ikut mengangguk. “Dan hampir selalu menang.” Ruangan kembali sunyi sesaat. Namun yang paling dipikirkan Pak Kusno sebenarnya bukan hanya soal Andre. Dia takut kehilangan kehidupan mereka sekarang. Tempat aman. Makanan cukup. Obat tersedia. Semua itu bisa hilang kalau Joni kalah besok. Pak Kusno akhirnya membuka suara lagi. “Kalau…” Dia ragu sejenak. “Kalau pakai perwakilan lain gimana?” Semua menoleh kepadanya. Pak Kusno melanjutkan. “Saya sekarang kenal beberapa kelompok.” “Mungkin kita bisa sewa awakener lain buat maju.” Pak Bram langsung mengangguk setuju. “Itu lebih aman.” “Gladiator ga harus ketua kelompok sendiri.” Namun Joni langsung menggeleng. “Engga.” Nada suaranya tegas. “Gue punya ide sendiri.” Semua langsung menatapnya. Lalu Joni menunjuk Deri. “Dan gue butuh Deri buat jalanin ide gue.” Tatapan semua orang langsung pindah ke Deri. Deri sendiri langsung bingung. “Hah?” Joni berdiri dari kursinya. “Ayo ikut gue.” Dia menunjuk pintu. “Ke workshop lu sekarang.” Tanpa menjelaskan lebih jauh, Joni langsung berjalan keluar ruangan dan Deri buru-buru menyusulnya sementara yang lain hanya bisa saling melirik bingung. Mereka berdua langsung turun menuju workshop. Area bengkel masih ramai oleh suara mesin dan percikan las, tetapi Joni terus berjalan sampai ke meja kerja Deri di sudut ruangan. Tanpa banyak bicara, Joni langsung mengambil selembar kertas dan spidol. Deri hanya diam memperhatikan. Joni mulai menggambar cepat dengan coretan kasar. Garis demi garis muncul tanpa rapi, penuh catatan kecil dan simbol aneh yang bahkan sulit dipahami orang biasa. Namun ekspresi Joni semakin serius setiap detiknya. Beberapa menit kemudian dia akhirnya berhenti lalu menyodorkan kertas itu ke Deri dengan senyum licik. “Kemenangan gue besok…” Dia mengetuk gambar itu pelan. “Tergantung ini.” Tatapannya menyipit. “Lu bisa buat ga?” Deri langsung mengambil kertas itu. Awalnya dia hanya melihat gambar kasar biasa. Namun beberapa detik kemudian, matanya langsung membesar. Blueprint transparan muncul otomatis di penglihatannya. Gambar kasar Joni langsung berubah menjadi rancangan mekanik lengkap dengan detail struktur, tekanan, distribusi berat, dan simulasi fungsi yang terus bergerak naik turun di depan matanya. Deri membaca semuanya cepat lalu perlahan senyum muncul di wajahnya. “Ini…” Dia mengangkat kepala menatap Joni. “Bisa dibuat bang.” Joni langsung tersenyum puas. “Nah.” Dia menepuk bahu Deri. “Buat sekarang.” “Uji coba juga.” “Pastiin hasilnya sesuai.” Deri mengangguk mantap. “Sip.” Joni mulai berjalan mundur sambil berkata. “Gue siapin bahan lain.” Deri langsung bergerak cepat mengambil alat-alatnya sementara Joni ikut mulai menarik beberapa material dari gudang workshop. Di tengah suara bengkel yang semakin ramai, mereka berdua saling menatap sebentar. Lalu mengepalkan tangan masing-masing dengan senyum liar penuh antusias.Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







