Share

3. Giliran Gue

Penulis: SleepyFace
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 16:53:05

Satu hari berlalu.

Joni duduk di lantai supermarket, bersandar dengan santai. Di belakangnya, barang-barang numpuk—mie instan, air kemasan, makanan kaleng, obat-obatan. Berantakan, tapi banyak.

Di tangan kanannya, dia pegang botol air mineral yang udah rusak setengah. Plastik penyok, bagian bawahnya robek.

Dia fokus dan cahaya itu muncul. Botol itu langsung balik utuh—bening, dingin, penuh.

Joni ngangguk pelan.

“Oke… berarti rusaknya maksimal setengah.”

Dia muter botol itu, mikir cepat.

“Lebih dari itu… gak bisa balik.”

Senyum mulai muncul.

“Kalau gue bagi dulu sebelum hancur… bisa jadi dua.”

Senyumnya makin lebar.

“Buset… mantep ini.”

Tangan kirinya ngangkat buah busuk. Lembek, bau, lengket. Dia coba namun tidak ada reaksi.

“...najis. Yang beginian gak bisa.”

Langsung dia lempar jauh.

“Berarti cuma barang pabrik doang.”

Dia buka botol tadi, tuang air ke tangan, bersihin sisa lengket.

“Pantesan selama ini gue dianggap sampah.”

Dia ketawa kecil, tapi nadanya dingin.

“Yang lain main api, main tanah… gue dapet beginian.”

Setelah tangannya bersih, dia minum sisa airnya. Lalu nengok ke belakang.

Ke tumpukan itu dan matanya langsung berubah.

“...tapi mereka rebutan makanan.”

Senyumnya naik.

“Gue bikin makanan.”

Sunyi sebentar dan nama itu muncul lagi.

Broto.

Rahangnya mengeras.

“Gue bakal bikin mereka ngemis.”

Suaranya rendah.

“Ngemis ke gue… biar mampus.”

Kruuuk.

Joni langsung pegang perutnya.Beberapa detik dia diem lalu nyengir.

“Iya iya… makan dulu.”

Dia bangkit, jalan ke tumpukan. Tangannya langsung nyari barang.

Panci, kompor, set nesting. Ada semua.

“Enak…”

Cahaya muncul berkali-kali di tangannya. Barang rusak balik utuh, tabung gas portable terisi penuh.

Siap dipakai.

Tidak lama, aroma mie rebus mulai nyebar dicampur sosis, kornet.

Asap tipis naik ke udara. Joni duduk di depannya, nunggu sambil senyum tipis.

Dua hari lalu dia hampir mati kelaparan tapi sekarang dia lagi masak makanan yang tidak semua orang bisa nikmati di dunia ini.

Siang itu, setelah makan dan semua barang yang ia buat tersusun rapi dan tersembunyi di dalam supermarket, Joni akhirnya berdiri di depan barikade. Tangannya memegang beberapa kaleng soda—bekal sekaligus alat.

Dia menarik napas pendek.

“Coba gue liat…”

Dengan hati-hati, dia membuka celah dan keluar. Udara di luar terasa berbeda. Lebih luas, tapi juga lebih berbahaya.

Joni langsung celingak-celinguk.

Beberapa zombie masih berkeliaran di jalan. Tidak banyak, tapi cukup untuk bikin masalah kalau dia ceroboh.

Dia tidak bergerak dulu. Menghitung jarak, arah lalu satu kaleng dia angkat.

“Pergi sana…”

Dia lempar.

Kaleng itu melayang, menghantam kap mobil dengan suara keras, lalu memantul masuk lewat jendela yang sudah pecah.

TING—!

Ces—!

Suara desis langsung menyusul.

Kepala-kepala itu menoleh hampir bersamaan. Geraman muncul. Satu per satu, zombie mulai bergerak ke arah suara.

Joni tidak menunggu, begitu jalur terbuka, dia langsung lari dengan cepat.

Langkahnya ringan tapi terarah, menyeberang jalan tanpa ragu. Dia tidak melihat ke belakang. Tidak perlu.

Beberapa detik kemudian, dia sudah sampai di depan toko outdoor.

Pintunya setengah terbuka. Tanpa berhenti, Joni langsung masuk ke dalam.

“Anjing… untung gue selamat.”

Joni berdiri di dalam toko, masih sedikit terengah. Dia menoleh ke belakang sebentar, memastikan tidak ada yang mengikutinya, lalu mulai memperhatikan sekeliling.

Toko outdoor itu berantakan, tapi tidak separah supermarket tadi. Rak-raknya masih berdiri, barang-barang masih banyak yang utuh—tas carrier, jaket, sepatu, peralatan camping.

Joni melangkah masuk lebih dalam.

“Barang beginian… dulu sih penting.”

Dia menyisir rak satu per satu, matanya cepat mencari yang benar-benar berguna. Tangannya mulai bergerak—ambil tas carrier besar, sepatu gunung, celana, jaket, lalu beberapa alat tajam yang masih layak pakai.

Di sela-sela itu, dia mencoba kemampuannya. Sebuah jaket robek dia pegang. Cahaya muncul langsung berubah menjadi utuh.

Tas rusak—balik. Sepatu sobek—balik.

“Masuk…”

Dia ambil benda lain. Gantungan kunci kecil, buatan tangan. Dia putar-putar sebentar di jarinya, lalu mencoba.

Tidak ada reaksi. Joni mendengus.

“...jadi yang pabrik doang ya.”

Tanpa minat, dia lempar benda itu ke belakang.

Pilihannya makin jelas.

Dia lanjut mengumpulkan barang—sleeping bag, matras, pisau lipat, tali, set nesting cadangan, beberapa kaleng gas. Semua dimasukkan ke satu tas besar, sementara tas lain dia biarkan kosong.

Gerakannya cepat, tapi teratur lalu dia berhenti. Pikirannya jalan.

“Gue butuh senjata…”

Matanya menyapu ruangan lagi.

“Ga mungkin gue lempar kaleng terus.”

Beberapa detik kemudian, pandangannya berhenti.

Di sudut rak, ada satu alat multi-tools—kapak kecil yang bisa jadi gergaji dan beliung. Kondisinya sudah jelek, berkarat, dan sedikit retak.

Joni langsung mengambil dan menggenggamnya.

Cahaya muncul.

Perlahan, karatnya hilang. Retaknya lenyap. Permukaannya kembali halus, tajam, berkilau seperti baru keluar dari pabrik.

Joni menyeringai.

“Nah… ini mantap.”

Dia mengayunkannya sekali, mencoba beratnya.

Pas.

Tanpa buang waktu, dia merapikan semua barang ke dalam tas, memastikan semuanya siap dibawa lalu dia berdiri, menatap ke arah pintu.

Siap keluar lagi.

Joni sudah sampai di dekat pintu, tubuhnya sedikit condong ke depan, siap mengintip kondisi luar.

Belum sempat dia bergerak—

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan pecah.

Tubuh-tubuh zombie di sekitar mobil yang tadi dia pancing jatuh satu per satu.

Joni langsung refleks merunduk.

“Anjing—!”

Dia menutup kepalanya, lalu buru-buru merangkak menjauh dari pintu.

“Bangsat…”

Dia terus merangkak sampai ke balik meja counter. Di sana dia berhenti, napasnya berat, lalu perlahan mengangkat kepala dan mengintip lewat celah jendela.

Sebuah mobil off-road berhenti di jalan.

Beberapa orang berdiri di bak belakang, menembaki zombie dengan santai tapi terlatih.

Satu orang turun.

“Cepat! Bersihin area!”

Tak lama, sebuah mobil van menyusul dari belakang. Pintu belakangnya terbuka, beberapa orang keluar sambil membawa tas besar.

“Cepat, cepat! Ambil yang bisa diambil!”

Sebagian berjaga di sekitar mobil, terus menembaki zombie yang mendekat. Gerakan mereka rapi.

Terlatih. Bukan pemulung.

Joni menyipitkan mata lalu dia melihatnya. Di antara mereka ada satu wajah yang dia kenal dan rahangnya langsung mengeras.

“...Darian.”

Nadanya berubah.

“Si bangsat…”

Ingatan lama langsung muncul.

Tendangan, pukulan dan tawa merendahkan.

Darian—salah satu anak buah Broto. Orang yang paling sering cari masalah sama dia. Nendang, mukul, meludah… cuma karena hal sepele.

Tangan Joni mengepal.

“Gue bales lu sekarang…”

Dia langsung membuka tasnya, gerakannya cepat tapi tetap diam. Dua tabung gas portable dia keluarkan.

Matanya menatap ke arah luar lagi. Jaraknya agak jauh.

“Gimana caranya…”

Pandangannya bergeser ke laci di bawah counter. Dia buka dan di dalamnya terdapat flare gun. Joni berhenti sepersekian detik lalu senyum pelan muncul.

“Perfect…”

Dia ambil flare gun itu, mengeceknya cepat. Masih ada isinya.

“Udah waktunya lo mampus.”

Dia mengambil salah satu tabung gas, lalu dengan multi-tools di tangannya, dia melubangi sedikit bagian sampingnya.

Hiss—Bau gas langsung keluar.

Joni menahan napas sebentar, lalu menyiapkannya.

Pelan-pelan, dia bergerak mendekati pintu lagi, tubuhnya merendah.

Matanya terus mengawasi mereka. Menunggu satu celah kecil saja cukup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   102. Kesimpulan Sindy

    Malam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   101. Pengungsi Di Pasar

    Mobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   100. Pengungsi Berseragam

    Menjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   99. Evakuasi Total

    Charles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   98. Pemburu Jadi Buruan

    BOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   97. Sebelas Mutan

    Dengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   25. Jadi Awakener Atau Zombie

    Setelah suasana mulai tenang, Joni akhirnya sibuk menjelaskan ke semua orang bahwa dirinya tidak gay dan semua itu hanya salah paham konyol dari omongan Deri.Walaupun begitu, beberapa orang masih terlihat memandangnya dengan tatapan aneh.Terutama Pak Bram.Pria itu bahkan beberapa kali menghela n

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   7. Makanan Mewah

    Wanita itu hanya diam beberapa detik, menatap Joni. Lalu matanya melirik ke samping, ke arah kakaknya yang napasnya sudah tersengal-sengal.“Bang… tolong. Bantuin kakak gue dulu.”Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah pria itu. Joni tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin.“Eh sial

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   6. Cewek Gila

    Joni memarkir mobilnya tidak jauh dari area pabrik air, lalu mematikan mesin dan turun perlahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Terlalu sepi. Tidak ada geraman, tidak ada suara langkah menyeret seperti biasanya.“...di sini ga ada zombi?”Tangannya refleks

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   5. Wilayah Gue

    Tengah malam, Joni terbangun.Perutnya masih hangat karena makanan tadi, tapi telinganya menangkap sesuatu.Suara dari luar, Dia langsung membuka mata penuh. Refleks.Tangannya meraih senjata di sampingnya, lalu dia bangkit pelan dan berjalan mendekati jendela yang pecah.Di luar gelap, tapi cahaya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status