แชร์

Pertemuan Pertama

ผู้เขียน: Rcancer
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-23 02:22:22

"Aaahhh!"

Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah.

Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka.

"Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan.

Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah.

Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas.

Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan.

"Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut.

"Nggak apa-apa, Nek," balas wanita yang dipanggil Rani. "Cuma ya ini, bajunya jadi kotor."

Nenek lantas tersenyum. "Bajunya bersihin di sana aja Mbak," Nenek mengajak wanita itu menuju gubug yang ada di ladangnya.

Oji sendiri menatap kedua wanita itu dengan tatapan penuh tanya. Karena baru kali ini Oji melihat wanita itu tapi Nenek malah mengenalnya.

Oji mendorong motor milik wanita itu dan menaruhnya di dekat gubung dekat aliran sungai kecil.

"Motornya dibersihin aja sekalian, Ji," titah sang Nenek.

Oji mengangguk dan dia segera mengambil ember untuk mengangkut air dari aliran sungai yang ada di dekat ladangnya.

"Dia cucuku, namanya Oji," ucap Nenek memperkenalkan sang cucu pada wanita yang tengah membersihkan bagian pakaian yang kotor. "Mbak Rani ini orang yang akan membeli melinjo yang kamu petik, Ji."

"Oh..." balas Oji panjang lalu mulai membersihkan motor wanita itu dari lumpur.

"Jadi ngerepotin ya, Mas," ucap Rani merasa tak enak hati.

"Repot apa sih, Mbak," Nenek yang membalas. "Orang nolong tuh bukan merepotkan."

Oji sendiri hanya tersenyum saja.

Nenek lantas bertanya kenapa bisa wanita itu terperosok ke sawah. Rani langsung menceritakan kejadiannya secara rinci.

"Berarti remnya bermasalah ya, Mbak?" Kali ini Oji turut bersuara.

"Padahal tadi waktu dibawa ke pasar masih baik-baik saja loh," balas Rani. "Tadi waktu ke sini juga, nggak ada masalah apa-apa."

Oji mengangguk paham. "Mending tetap dicek di bengkel, Mbak. Daripada nanti kenapa-kenapa, bahaya."

"Terus nanti pulangnya gimana?" Tanya Nenek. "Apa lagi pulangnya sambil bawa melinjo sekarung."

"Ya paling aku bawa pelan-pelan, Nek," jawab Rani

"Jangan," dengan tegas Nenek langsung melarangnya. "Mending gini aja, kamu diantar pulang Oji pakai motor kamu, nanti Oji pulangnya naik ojeg."

"Duh, apa nggak merepotkan?"

"Nggak lah," balas Nenek. "Kamu mau kan, Ji?"

Oji hanya bisa pasrah. Dia tidak mungkin menolak permintaan Nenek disaat seperti ini.

"Tuh kan, Oji aja mau," ucap Nenek lagi dan senyum Rani sontak terkembang.

Beberapa puluh menit lamanya ketiga orang itu berbincang, sampai mereka menyadari kalau langit semakin mendung, obrolan terpaksa harus dihentikan karena Rani memilih segera pamit.

"Loh, Oji nggak pakai baju dulu?" Rani agak terkejut kala Oji naik motor miliknya hanya dengan bertelanjang dada.

"Tadi dia ke sini nggak bawa baju," Nenek yang menjawab. "Sengaja katanya."

"Owalah..."

Rani pun segera naik ke motor dan duduk di belakang Oji. Sedangkan karung melinjo ditaruh di depan.

Setelah Rani pamit, Oji segera melajukan motor milik wanita itu dengan kecepatan sedang. Dari situ, Oji merasakan motornya memang ada yang aneh.

Sepanjang perjalanan, awalnya Oji merasa biasa saja. Namun, makin lama, Oji merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya.

Oji agak tersentak kala merasakan dua tangan melingkar di pinggangnya. Selain itu, Oji juga merasakan, ada benda yang kenyal, menempel pada punggungnya.

Mau tidak mau, otak Oji berkelana kemana-mana dan dia jadi kurang fokus karena rasa gugup menyerang dirinya.

Apa lagi keadaannya saat ini, Oji tidak memakai baju. Punggungnya jelas sangat merasakan, kekenyalan dua bulatan kembar milik wanita di belakangnya.

"Ini, ambil jalan mana, Mbak?" Tanya Oji ketika melihat pertigaan di depannya.

"Ini pertigaan belok kiri, terus nanti kanan jalan ada rumah yang bercat warna ijo, Ji, kamu masuk aja," ucap Rani dengan santainya.

"Iya, Mbak," jawab Oji agak gugup.

Begitu melihat rumah yang dimaksud, Oji kembali bertanya untuk memastikan. Setelah mendapat jawaban, Oji mengarahkan laju motor ke rumah yang gerbangnya tertutup.

"Biar aku yang turun," ucap Rani sambil melepas pelukannya.

Seketika Oji merasa bisa bernafas lega.

Di saat bersamaan, rintik hujan mulai turun. Bahkan tak butuh waktu lama, hujan deras langsung mengguyur.

Untungnya begitu hujan turun, motor sudah masuk di halaman rumah yang aman dari air hujan. Sekarang, tinggal Oji yang kebingungan pulangnya.

"Masuk dulu aja, Yuk, Ji, hujannya deras banget," ajak Rani. Mau tidak mau, Oji pun mengiyakan.

"Bentar ya, aku ganti baju dulu," ucap Rani setelah mempersilahkan Oji duduk.

Setelah itu Rani pergi, meninggalkan Oji yang tengah diliputi rasa canggung, karena baru kali ini anak itu berada di rumah orang yang baru dia kenal, dalam keadaan hanya mengenakan celana kolor.

Oji pun terdiam sambil memperhatikan rumah Rani yang cukup luas. Seketika itu juga Oji teringat kembali dengan dua wanita yang hari ini membuat jiwa lelakinya terus bergejolak.

Beberapa puluh menit kemudian Rani kembali sambil menenteng nampan berisi dua cangkir kopi. Namun, penampilan wanita itu justru yang membuat mata Oji hampir tak berkedip.

Rani mengenakan baju longgar seperti dress dengan panjang hanya sebatas paha. Disuguhi pemandangan yang membuat jiwa lelakinya meronta, menyebabkan Oji serang resah dalam hatinya.

"Diminum, Ji," ucap Rani setelah meletakan secangkir kopi di hadapan Oji.

"Iya, Mbak, makasih," balas Oji.

Oji memanggil Rani dengan sebutan Mbak, karena Oji mendengar dari Nenek kalau wanita itu sudah menikah dan usianya lebih tua dari Oji.

"Di sini kalau ujan deras, nyari ojeg agak susah, Ji," ucap Rani setelah menyesap kopi di tanganyya. "Nggak apa-apa kan, kalau pulangnya nunggu hujan reda?"

Oji tersenyum agak malu. "Nggak apa-apa, Mbak," jawabnya.

Rani pun turut tersenyum dan kembali menyesap kopinya.

"Orang-orang pada kemana, Mbak? Kok rumah kayanya sepi?" Kali ini Oji memberanikan diri untuk berbasa-basi.

Senyum Rani sedikit melebar. "Rumahku memang sepi, Ji. Nggak ada orang."

"Loh, terus suami?"

"Dia kabur sama cewek lain," jawab Rani. "Mana kaburnya ninggalin utang banyak lagi. Menyebalkan."

"Loh, kok bisa, Mbak?"

"Entahlah, Ji. Nikah baru empat tahun. Eh, malah kaya gini hasilnya."

Mau tidak mau Oji hanya bisa tersenyum meski merasa kasihan mendengar cerita dari wanita di hadapannya.

"Ji."

"Iya, Mbak."

"Kamu...." Rani menjeda ucapannya namun cukup tatapan matanya menumbuhkan rasa penasaran pada lawan bicaranya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Pertemuan Pertama

    "Aaahhh!" Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah.Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka."Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan. Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah.Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas.Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan."Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut.

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Godaan Lagi

    Mata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah."Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan.Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu."Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh."Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya.Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mu

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Kabur

    Oji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi.Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah."Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup."Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?"Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding."Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham."Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Sikap Yang Aneh

    Ketika hari berganti, Oji kali ini bangun lebih pagi dari biasanya.Karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu memutuskan untuk berolahraga.Hari ini Oji sudah mempersiapkan hati dan jiwanya untuk menghadapi gunjingan para tetanggga, akibat peristiwa semalam di rumahnya.Oji yakin, beberapa tetangga pasti melihat kedatangan keluarga Cokro dan menyangkut pautkan mereka dengan desas-desus yang melibatkan anak Pak Cokro dengan Oji.Sebelum keluar kamar, sejenak tatapan Oji terusik pada botol parfum yang dia temukan semalam. Oji pun mencium ketiaknya sendiri dan rasa heran seketika tergambar dalam wajahnya."Sebenarnya ini parfum bukan sih?" Gumam Oji menatap botol yang sudah berada di tangannya.Masih dengan rasa penasaran yang besar, anak itu kembali menyemprotkan cairan tersebut hingga membasahi bulu ketiaknya.Setelah beberapa detik dia terdiam dengan rasa penasarannya, akhirnya Oji memutuskan keluar kamar untuk menunaikan niatnya.

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Teman Dekat Berkhianat

    Oji melajukan motornya menuju suatu tempat. Ketika Oji melewati sebuah bangunan, matanya tak sengaja melihat wajah yang dia kenal berada di teras bangunan tersebut.Oji segera menghentikan laju motornya dan matanya menatap wajah-wajah itu dengan tatapan terkejut sekaligus heran."Oh, jadi seperti itu kelakuanmu di belakangku," ucap Oji. Tatapannya penuh amarah dan rasa kecewa.Oji terdiam beberapa saat, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan kepada salah satu wajah yang dia kenal itu.Setelah mempertimbangkan segalanya, Oji akhirnya memutuskan mendekat dan menemui wajah itu."Oji?" seseorang nampak kaget kala matanya menangkap sosok yang dia kenal berada di dekatnya.Suara sosok itu pun sontak mengalihkan semua mata yang sedang berkumpul di satu tempat dan mereka menunjukan beragam reaksi."Kamu ngapain ke sini?" tanya sosok anak muda yang saat ini mengenakan kaos biru. "Mau gabung sama kita?" Senyum dan tatapannya terlihat sangat mengejekOji memilih diam tapi kakinya terus me

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Nasib Pria Miskin

    Gemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi. Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka.Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak."Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar. Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu. "Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!" Pemuda itu agak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status