LOGIN"Aaahhh!"
Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah. Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka. "Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan. Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah. Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas. Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan. "Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut. "Nggak apa-apa, Nek," balas wanita yang dipanggil Rani. "Cuma ya ini, bajunya jadi kotor." Nenek lantas tersenyum. "Bajunya bersihin di sana aja Mbak," Nenek mengajak wanita itu menuju gubug yang ada di ladangnya. Oji sendiri menatap kedua wanita itu dengan tatapan penuh tanya. Karena baru kali ini Oji melihat wanita itu tapi Nenek malah mengenalnya. Oji mendorong motor milik wanita itu dan menaruhnya di dekat gubung dekat aliran sungai kecil. "Motornya dibersihin aja sekalian, Ji," titah sang Nenek. Oji mengangguk dan dia segera mengambil ember untuk mengangkut air dari aliran sungai yang ada di dekat ladangnya. "Dia cucuku, namanya Oji," ucap Nenek memperkenalkan sang cucu pada wanita yang tengah membersihkan bagian pakaian yang kotor. "Mbak Rani ini orang yang akan membeli melinjo yang kamu petik, Ji." "Oh..." balas Oji panjang lalu mulai membersihkan motor wanita itu dari lumpur. "Jadi ngerepotin ya, Mas," ucap Rani merasa tak enak hati. "Repot apa sih, Mbak," Nenek yang membalas. "Orang nolong tuh bukan merepotkan." Oji sendiri hanya tersenyum saja. Nenek lantas bertanya kenapa bisa wanita itu terperosok ke sawah. Rani langsung menceritakan kejadiannya secara rinci. "Berarti remnya bermasalah ya, Mbak?" Kali ini Oji turut bersuara. "Padahal tadi waktu dibawa ke pasar masih baik-baik saja loh," balas Rani. "Tadi waktu ke sini juga, nggak ada masalah apa-apa." Oji mengangguk paham. "Mending tetap dicek di bengkel, Mbak. Daripada nanti kenapa-kenapa, bahaya." "Terus nanti pulangnya gimana?" Tanya Nenek. "Apa lagi pulangnya sambil bawa melinjo sekarung." "Ya paling aku bawa pelan-pelan, Nek," jawab Rani "Jangan," dengan tegas Nenek langsung melarangnya. "Mending gini aja, kamu diantar pulang Oji pakai motor kamu, nanti Oji pulangnya naik ojeg." "Duh, apa nggak merepotkan?" "Nggak lah," balas Nenek. "Kamu mau kan, Ji?" Oji hanya bisa pasrah. Dia tidak mungkin menolak permintaan Nenek disaat seperti ini. "Tuh kan, Oji aja mau," ucap Nenek lagi dan senyum Rani sontak terkembang. Beberapa puluh menit lamanya ketiga orang itu berbincang, sampai mereka menyadari kalau langit semakin mendung, obrolan terpaksa harus dihentikan karena Rani memilih segera pamit. "Loh, Oji nggak pakai baju dulu?" Rani agak terkejut kala Oji naik motor miliknya hanya dengan bertelanjang dada. "Tadi dia ke sini nggak bawa baju," Nenek yang menjawab. "Sengaja katanya." "Owalah..." Rani pun segera naik ke motor dan duduk di belakang Oji. Sedangkan karung melinjo ditaruh di depan. Setelah Rani pamit, Oji segera melajukan motor milik wanita itu dengan kecepatan sedang. Dari situ, Oji merasakan motornya memang ada yang aneh. Sepanjang perjalanan, awalnya Oji merasa biasa saja. Namun, makin lama, Oji merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Oji agak tersentak kala merasakan dua tangan melingkar di pinggangnya. Selain itu, Oji juga merasakan, ada benda yang kenyal, menempel pada punggungnya. Mau tidak mau, otak Oji berkelana kemana-mana dan dia jadi kurang fokus karena rasa gugup menyerang dirinya. Apa lagi keadaannya saat ini, Oji tidak memakai baju. Punggungnya jelas sangat merasakan, kekenyalan dua bulatan kembar milik wanita di belakangnya. "Ini, ambil jalan mana, Mbak?" Tanya Oji ketika melihat pertigaan di depannya. "Ini pertigaan belok kiri, terus nanti kanan jalan ada rumah yang bercat warna ijo, Ji, kamu masuk aja," ucap Rani dengan santainya. "Iya, Mbak," jawab Oji agak gugup. Begitu melihat rumah yang dimaksud, Oji kembali bertanya untuk memastikan. Setelah mendapat jawaban, Oji mengarahkan laju motor ke rumah yang gerbangnya tertutup. "Biar aku yang turun," ucap Rani sambil melepas pelukannya. Seketika Oji merasa bisa bernafas lega. Di saat bersamaan, rintik hujan mulai turun. Bahkan tak butuh waktu lama, hujan deras langsung mengguyur. Untungnya begitu hujan turun, motor sudah masuk di halaman rumah yang aman dari air hujan. Sekarang, tinggal Oji yang kebingungan pulangnya. "Masuk dulu aja, Yuk, Ji, hujannya deras banget," ajak Rani. Mau tidak mau, Oji pun mengiyakan. "Bentar ya, aku ganti baju dulu," ucap Rani setelah mempersilahkan Oji duduk. Setelah itu Rani pergi, meninggalkan Oji yang tengah diliputi rasa canggung, karena baru kali ini anak itu berada di rumah orang yang baru dia kenal, dalam keadaan hanya mengenakan celana kolor. Oji pun terdiam sambil memperhatikan rumah Rani yang cukup luas. Seketika itu juga Oji teringat kembali dengan dua wanita yang hari ini membuat jiwa lelakinya terus bergejolak. Beberapa puluh menit kemudian Rani kembali sambil menenteng nampan berisi dua cangkir kopi. Namun, penampilan wanita itu justru yang membuat mata Oji hampir tak berkedip. Rani mengenakan baju longgar seperti dress dengan panjang hanya sebatas paha. Disuguhi pemandangan yang membuat jiwa lelakinya meronta, menyebabkan Oji serang resah dalam hatinya. "Diminum, Ji," ucap Rani setelah meletakan secangkir kopi di hadapan Oji. "Iya, Mbak, makasih," balas Oji. Oji memanggil Rani dengan sebutan Mbak, karena Oji mendengar dari Nenek kalau wanita itu sudah menikah dan usianya lebih tua dari Oji. "Di sini kalau ujan deras, nyari ojeg agak susah, Ji," ucap Rani setelah menyesap kopi di tanganyya. "Nggak apa-apa kan, kalau pulangnya nunggu hujan reda?" Oji tersenyum agak malu. "Nggak apa-apa, Mbak," jawabnya. Rani pun turut tersenyum dan kembali menyesap kopinya. "Orang-orang pada kemana, Mbak? Kok rumah kayanya sepi?" Kali ini Oji memberanikan diri untuk berbasa-basi. Senyum Rani sedikit melebar. "Rumahku memang sepi, Ji. Nggak ada orang." "Loh, terus suami?" "Dia kabur sama cewek lain," jawab Rani. "Mana kaburnya ninggalin utang banyak lagi. Menyebalkan." "Loh, kok bisa, Mbak?" "Entahlah, Ji. Nikah baru empat tahun. Eh, malah kaya gini hasilnya." Mau tidak mau Oji hanya bisa tersenyum meski merasa kasihan mendengar cerita dari wanita di hadapannya. "Ji." "Iya, Mbak." "Kamu...." Rani menjeda ucapannya namun cukup tatapan matanya menumbuhkan rasa penasaran pada lawan bicaranya."Eugh..." suara khas tanda orang bangun tidur, keluar dari mulut pemuda yang saat tengah terbaring di atas karpet. Tubuhnya pun sedikit bergerak namun tiba-tiba tubuh itu terdiam dan merasa aneh.Anak muda yang akrab dipanggil Oji segera membuka matanya dan melempar tatapan ke arah lain. Betap terkejurnya anak itu kala matanya menangkap seseorang wanita."Kamu sudah bangun?" Dengan entengnya wanita itu malah melempar pertanyaan sambil melempar senyum."Apa yang kamu lakukan, Mbak?" Oji mengangkat tubuhnya sedikit dan wajahnya masih diliputi rasa heran.Wanita itu malah semakin tersenyum lebar dan nampak tersipu. "Maaf, ya, kalau aku lancang. Soalnya aku udah nggak tahan."Oji masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar dan raut herannya semakin kelihatan."Tadi kamu ketiduran. Sampai tokoku tutup kamu nggak bangun-bangun, jadi aku terpaksa tarik tubuh kamu ke dalam," tanpa diminta, wanita yang mengaku janda itu langsung memberi penjelasa
"Bukankah itu kotak kayu parfum kita?" Seorang pria nampak kaget begitu melihat benda yang dia kenal, teronggok diantara tumpukan sampah.Sosok pria itu pun mendekat untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Tuh, kan, benar, ini kotak ramuan itu, Jo!" Serunya antusias."Loh, iya,"rekan dari pria itu pun tak kalah senang. "Wah, akhirnya kita menemukan petunjuk baru," dia langsung celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Kira-kira, sampah ini berasal dari rumah yang mana?""Itu dia yang harus kita cari tahu," ucap sosok yang saat ini mengenakan kaos hitam. "Pasti ini sampah salah satu rumah yang ada di sekiar sini."Sang rekan mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, kita cari rumah yang kehilangan parfum dulu. Setelah itu kita tinggal fokus cari orang yang menemukan kotak parfum ini.""Oke!" Kedua pria itu semakin semangat dalam melakukan usaha pencarian. Sedangkan di tempat lain, orang yang menemukan kotak kayu itu, sedang fokus dengan pekerjaan.Oji saat ini tengah sibuk melayani pem
"Ji, apa mungkin, Arinda marah sama kamu gara-gara dia pengin bermain ranjang juga?" Tiba-tiba Karin melempar pertanyaan yang membuat Oji terperanjat.Anak muda itu menoleh, menatap wanita yang tersenyum kepadanya, lalu Oji berpaling dan memilih memejamkan matanya."Kalau bisa sih, disaat seperti ini, kita jangan membahas orang lain dulu, Mbak," ucap Oji. "Bukankah kamu ngajak aku ke sini, untuk bersenang-senang? Jadi, nggak perlu lah, kita membahas hal yang tidak penting."Sekarang, giliran Karin yang tertegun. Wanita itu lantas tersenyum dan memilih mengalah dengan cara kembali mencium aroma ketiak Oji.Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Karin baru menyadari kalau pria yang baru saja memuaskannya, kini telah terlelap."Sepertinya, kamu capek banget ya, Ji?" Gumam Karin, menatap lekat wajah anak muda yang terlelap. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibirnya pada pipi Oji.#####Hingga beberapa jam kemudian, tubuh Oji menunjukan sebuah pergerakan, ya
Dua wanita yang sama-sama sudah memiliki cucu itu masih asyik berbincang. Sedangkan di luar warung, dua pria juga masih dalam kebingungan.Di saat bersamaan, datang lagi seorang wanita, memasuki warung tersebut. Wanita itu lebih muda dan sepertinya dia baru saja pergi karena dia datang menggukan motor maticnya."Eh, ada Nenek Sani," wanita itu terlihat sumringah sambil menyapa wanita yang usianya lebih tua darinya.Sapaan itu bukanya disambut dengan baik, tapi Nenek Sani malah terdiam dengan raut yang menandakan kalau dia terkejut. Nenek Sani cukup kenal dengan sosok wanita muda dan mereka sebenarnya hampir tak bertegur sapa tiap kali bertemu dan terkesan kurang ramah.Maka itu, Nenek Sani kaget, waktu sosok wanita itu bersikap ramah kepadanya. Beruntung, Nenek langsung menyadari sikapnya dan dia segera membalas sapaan dengan senyuman."Mbak Nadia darimana?" Tanya si pemilik warung. "Baru pulang kerja?""Iya nih, Mbok," balas Nadia sambil mencomot satu gorengan tempe. "Mbok aku minta
Oji tidak langsung mengiyakan. Anak itu memilih diam sambil berpikir untuk mencari alasan, menolak permintaan wanita yang pernah menghinanya.Oji juga yakin, kalau keinginan wanita itu cuma sandiwara saja. Perubahan sikap wanita itu pasti karena dia sudah terhipnotis dengan ketiak Oji.Jika diperhatikan, Karin sebenarnya bukan wanita yang jelek. Bahkan tanpa perawatan khusus, wanita itu memang sudah terlihat cantik sejak dulu.Bentuk badannya pun cukup menggiurkan. Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Benar-benar bentuk tubuh yang dirawat sangat baik."Nggak lah, Mbak," dengan sangat terpaksa, Oji menolak permintaan Karin. "Hari ini, aku sangat lelah, aku ingin istirahat yang lama."Jawaban Oji sontak membuat kaget lawan bicaranya sampai wanita itu menatap tajam dengan kening berkerut."Lelah?" Tanya Karin. "Aku kan cuma ngajak ngobrol, Ji, bukan ngajak melakukan sesuatu yang aneh-aneh."Oji terperanjat mendengar balasan lawan bicaranya. Lalu anak itu cengengesan dan agak sala
Oji diserang gelisah. Anak muda itu yakin, wanita dewasa di depannya, sedang menggoda dan seperti memberi perangkap agar Oji masuk ke dalam jeratannya.Belajar dari pengalaman, gelagat yang ditunjukan lawan bicaranya sama persis yang terjadi pada para wanita sebelumnya. Bukannya Oji tak suka mendapat kesempatan enak lagi. Anak itu takut, jika nasib sial menghampirinya seperti yang dialami tetangga Pamannya beberapa waktu lalu."Kenapa diam? Lagi mikir apa hayo?" Wanita yang belum diketahui namanya kembali mengusik Oji membuat anak itu semakin gelagapan."Nggak mikir apa-apa, Mbak," kilah Oji sambil cengengesan tersipu."Yah, nggak asyik," raut si wanita malah cemberut. "Harusnya mikir aja loh, Mas. Apa mungkin selera kamu bukan janda?"Mata Oji sontak agak terbelalak. Dia tidak menyangka lawan bicaranya bisa berpikiran seperti itu. "Wajar sih, kalau kamu nggak suka janda, kamu masih muda, ganteng, pasti lebib suka yang sama-sama muda, iya kan?""Ya, belum tentu juga sih, Mbak," bal







