Se connecterSuasana langsung kacau di dalam ruang ICU saat grafik di layar monitor berubah menjadi garis lurus. Suara alarm darurat melengking nyaring lagi, memecah suasana haru di ruangan dan membuat seluruh tim medis bergerak cepat mengambil tindakan pada pasien di sisi ranjang. Seorang perawat berlari kencang keluar ruangan mengambil troli darurat, sementara dokter spesialis langsung menaiki tepi ranjang dan melakukan penekanan dada berulang kali, berusaha memicu kembali detak jantung ayah Salsa yang berhenti tiba-tiba.Melihat situasi yang berubah menjadi sangat menakutkan, perawat senior dengan sigap menghadang tubuh Salsa, Nathan, Alea, dan anak-anak. Tanpa memberi ruang untuk berdebat, perawat itu mendorong mereka semua mundur melewati pintu kaca. Pintu tebal ICU itu terhempas mengatup rapat kembali, mengunci Salsa dan keluarganya di luar, terpisah dari pertarungan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalam sana.Di luar ruangan, suasana terasa sangat mencekam. Salsa berdiri gemetar d
“Suster saya boleh ikut masuk?” tanya Nathan. Dia kasihan pada Salsa harus mengajak kedua anak mereka, apalagi si kembar menangis.Suster itu diam sesaat, lalu mengangguk, “silahkan, Pak.” Nathan masih memakai topi dan masker belum ada yang menyadari sosoknya ada di sana. Namun saat dua malaikat kecil itu muncul di ruang ICU dokter langsung terkejut bukan main. “Loh, kok kayak Pak Nathan?” gumam dokter karena si kembar menolak memakai masker penutup mulut. Mereka hanya memakai baju steril yang kebesaran. Wajah mereka terekspos dengan jelas, semua orang mengenal Nathan Abimanyu dan sudah pasti mereka terkejut bukan main saat melihat dua anak kembar ini mirip dengan Nathan, sementara yang mereka tahu Nathan sudah bertunangan dengan Clara. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan melayani pertanyaan sang dokter, Salsa memilih mengabaikan ucapan itu dan mendekati ranjang ayahnya. Dokter dan para perawat perlahan melangkah mundur dari samping tempat tidur. Tak ada lagi tindakan medis y
“Mau dibawa kemana ini. Huaaaaaa huaaaaaaaa,” Kenzi yang jago nangis tiba-tiba terbangun di dalam mobil dan merasa ada yang tidak beres. Mereka yang biasa duduk pakai car seat tiba-tiba dipangku di dalam mobil. Jeritan itu membuat kakak kembarnya ikut terbangun tapi tak bisa membuka matanya.“Berisik. Jangan nangis nanti dimarahi Mama.” Setelah berkata demikian Kenzo kembali terlelap.Ingin sekali Alea dan Raka tertawa melihat tingkah konyol keduanya, tapi sayangnya situasinya sangat genting. Mereka bahkan tidak bisa menggerakkan ujung bibir mereka hanya untuk membentuk lengkungan senyum.Plak!Satu tepukan telapak tangan Kenzi mendarat mulus di pipi mulus kakaknya.“Bangun, Kebo. Kita mau diculik,” ucap Kenzi dengan wajah sangat serius penuh kepanikan.Mendengar itu kakak kembarnya kembali terjaga dan menyadari mereka ada di dalam mobil. Jadilah keduanya menangis berteriak di dalam mobil membuat kedua pengasuhnya kewalahan menenangkan. Raka yang sedang menyetir sampai mengelus dada m
Salsa baru saja melangkah melewati pintu ruang ICU. Langkah kakinya langsung terhenti karena belum sempat ia berjalan mendekati ranjang pasien tempat ayahnya tidur, suara alat pemantau jantung di samping ranjang pasien tiba-tiba berbunyi nyaring. Angka penunjuk tekanan darah dan detak jantung di layar monitor meluncur turun dengan sangat cepat, memicu bunyi alarm darurat yang memenuhi seluruh ruangan.Dalam hitungan detik, situasi di dalam ruangan berubah menjadi sangat kacau dan sangat menakutkan. Tim dokter spesialis bersama beberapa perawat yang ada di sana langsung berlari mengelilingi ranjang pasien. “Kondisinya turun lebih cepat dari yang tadi,” ucap salah satu dokter.“Bertahan, Pak. Anak Bapak sudah datang,” bisik dokter lain seolah sedang berbicara dengan pasiennya yang sedang kritis. Para dokter dan tim medis lainnya tahu bahwa hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan pasien dihadapan mereka ini. Mereka bekerja cepat memasang pipa oksigen tambahan, mengganti kantung ca
Sementara Raka terus mencoba menghubungi Salsa, panggilan itu tetap tidak bisa tersambung. Ponsel Salsa benar-benar mati. Tidak ingin membuang waktu, Raka langsung mengalihkan panggilan ke Alea, kekasihnya. Tak butuh waktu lama, sambungan telepon itu akhirnya terhubung.“Halo, Sayang,” sapa Alea dari seberang telepon. “Sayang, aku coba hubungi Salsa tapi ponselnya enggak aktif. Apa dia sudah tidur?” tanya Raka dengan napas memburu. Ia takut banget Salsa tidak keburu bertemu dengan Ayahnya. Ucapan dokter tak main-main dengan kondisi pasien yang semakin memburuk.Entah kenapa Alea merasa ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ayah sahabatnya itu. Tak bisa ia bayangkan hancurnya perasaan Salsa saat ini.“Enggak, Sayang. Salsa sudah jalan ke rumah sakit. Aku lagi nemenin anak-anaknya tidur,” jawab Alea. Namun, naluri Alea menangkap ada yang tidak beres dari nada suara kekasihnya. Raut cemas seketika membayang di wajahnya. “Ada apa, Sayang? Jangan bilang kalau keadaan ayahnya Salsa mem
Kepanikan yang beberapa saat lalu sempat terjadi di depan ruang ICU berhasil membuat Nathan yang awalnya mulai mengantuk kini matanya benar-benar terbuka lebar. Dia bergerak gelisah di depan ruang ICU dan berharap dokter keluar membawa kabar baik untuknya mengenai kondisi ayahnya Salsa. Sementara Raka duduk di sampingnya, raut wajahnya tak kalah cemas dari sang atasan.Setelah beberapa menit berlalu, dokter yang menangani ayah Salsa pun keluar dari ruang ICU. Pria berjas putih itu menghela napas panjang dengan raut wajah yang tampak sendu. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kepanikan sekaligus rasa lelah yang dialami.Nathan langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut untuk segera mengetahui kondisi calon Ayah mertuanya. “Bagaimana kondisi pasien, Dok?” tanyanya cepat. Di dalam hatinya yang paling dalam, Nathan terus berdoa agar ada kabar baik yang keluar dari mulut sang dokter. Ia sangat berharap Ayahnya Salsa bisa melewati masa kritis ini.Dokter itu sempat terdiam sejenak. Sanga
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa







