LOGINAlea dan Raka melangkah menyusul ke tempat si kembar sibuk berlarian. Tingkah Raka dan Alea begitu telaten mengawasi Kenzo dan Kenzi yang terus tertawa girang. Gerak-gerik kedua orang itu tampak sangat menyatu dengan anak-anak. Siapa pun orang yang melihat pemandangan itu pasti akan langsung mengira bahwa merekalah pasangan suami istri yang memiliki anak kembar tersebut.Pemandangan itu berbanding terbalik dengan dua orang yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Nathan dan Salsa justru berdiri diam membisu. Jarak di antara tubuh mereka seakan jauh meski berdiri berdampingan. Raut muka kedua orang tua kandung si kembar itu tampak tegang, menyimpan tumpukan emosi yang menahan amarah.Salsa perlahan mengedarkan pandangannya ke sekeliling area permainan anak yang terlihat begitu lengang. Rasa heran perlahan muncul di benaknya. Area permainan seluas ini biasanya selalu dipenuhi deret antrean orang tua dan jeritan anak-anak lain. Namun, detik ini hanya ada suara Kenzo dan Kenzi yang terde
Disaat Kenzo dan Kenzi sibuk bermain ditemani para pengasuhnya, Salsa dan Nathan memperhatikan dari jarak dekat. Nathan merasa harus bicara dengan wanitanya.“Aku berharap kamu tetap mengambil keputusan yang sudah pernah kita sepakati, Sayang. Kamu berhenti bekerja karena aku yang akan menanggung semua biaya hidupmu dan anak-anak. Aku akan memanjakan kalian dengan hartaku,” ucap Nathan membujuk. Dia merasa harus bicara dengan Salsa karena takut David membawa pengaruh yang tidak baik sehingga keputusan yang sudah pernah mereka bahas diubah oleh Salsa. Nathan tidak ingin melihat Salsa kelelahan. Namun semuanya tidak sesuai harapan Nathan.“Bosku memberi kebebasan untuk aku cuti kerja selama apa pun yang aku mau. Dan aku boleh kembali bekerja kalau kondisiku sudah lebih baik. David sengaja dikirim oleh orang tuanya untuk menggantikanku sementara waktu, dan aku rasa aku merasa harus tetap bekerja sebelum ada kejelasan dan tahu bagaimana kelanjutan hubungan kita ke depannya. Tapi aku janji
“David, kenalin ini Papanya anak-anak,” ucap Salsa pada pria tampan yang sedang bercengkrama bersama Kenzo dan Kenzi.Dengan raut wajah kesal, Nathan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pria yang bernama David sekaligus ingin menegaskan kalau dirinya lah calon suami Salsa. “Nathan,” ucapnya. Tak ada senyum ramah sama sekali di wajahnya karena dia kesal melihat anak-anaknya sangat dekat dengan David.“David,” balas pria itu.Nathan sengaja duduk di samping Salsa sangat dekat dengan wanita itu seakan dia tidak memberi ruang sedikit pun untuk David mendekati calon istrinya.Salsa kemudian berkata, “Ini David, anak pemilik restoran tempatku bekerja. Dia sengaja datang untuk mengucapkan belasungkawa setelah mendengar kepergian Ayah,” ujar Salsa menjelaskan agar Nathan tidak salah paham dengan kehadiran David di rumahnya.“Uncle, kapan kita ke mall?” tanya Kenzo pada David.“Kalian gak boleh pergi sama orang lain selain Mama dan Papa, sayang,” ujar Nathan mengingatkan sang anak ag
“Bu, silahkan masuk,” ucap suster lagi dengan suara yang sangat kecil seakan dia sudah mengetahui sesuatu yang akan terjadi berikutnya.Salsa menoleh ke sumber suara sambil menghela napas berat, dia masih sesenggukan sebelum akhirnya berdiri dari duduknya. Nathan ikut berdiri di samping Salsa, memeluk wanita itu dan berkata, “sayang, yang terjadi adalah yang terbaik untuk kamu dan Ayah. Ikhlaskan pada Tuhan semua ya,” ucap Nathan. Salsa tak kuasa menahan tangis. Dia memilih masuk ke dalam, sementara Nathan meraih tubuh Kenzo dari gendongan Raka. Alea ikut masuk lagi ke dalam sambil mendekap tubuh adik bungsunya. Salsa mendekati ranjang pasien disusul yang lain. Suara monitor sangat lemah tapi Ayahnya Salsa masih bisa tersenyum menatap Salsa yang menangis menghampiri ranjang pasien. Nathan sempat melihat ke arah dokter, dan dokter menggeleng seakan sebagai kode kalau ini mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Yah,” panggil Salsa lirih. Dia mengecup punggung tangan sang Ayah
Suasana langsung kacau di dalam ruang ICU saat grafik di layar monitor berubah menjadi garis lurus. Suara alarm darurat melengking nyaring lagi, memecah suasana haru di ruangan dan membuat seluruh tim medis bergerak cepat mengambil tindakan pada pasien di sisi ranjang. Seorang perawat berlari kencang keluar ruangan mengambil troli darurat, sementara dokter spesialis langsung menaiki tepi ranjang dan melakukan penekanan dada berulang kali, berusaha memicu kembali detak jantung ayah Salsa yang berhenti tiba-tiba.Melihat situasi yang berubah menjadi sangat menakutkan, perawat senior dengan sigap menghadang tubuh Salsa, Nathan, Alea, dan anak-anak. Tanpa memberi ruang untuk berdebat, perawat itu mendorong mereka semua mundur melewati pintu kaca. Pintu tebal ICU itu terhempas mengatup rapat kembali, mengunci Salsa dan keluarganya di luar, terpisah dari pertarungan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalam sana.Di luar ruangan, suasana terasa sangat mencekam. Salsa berdiri gemetar d
“Suster saya boleh ikut masuk?” tanya Nathan. Dia kasihan pada Salsa harus mengajak kedua anak mereka, apalagi si kembar menangis.Suster itu diam sesaat, lalu mengangguk, “silahkan, Pak.” Nathan masih memakai topi dan masker belum ada yang menyadari sosoknya ada di sana. Namun saat dua malaikat kecil itu muncul di ruang ICU dokter langsung terkejut bukan main. “Loh, kok kayak Pak Nathan?” gumam dokter karena si kembar menolak memakai masker penutup mulut. Mereka hanya memakai baju steril yang kebesaran. Wajah mereka terekspos dengan jelas, semua orang mengenal Nathan Abimanyu dan sudah pasti mereka terkejut bukan main saat melihat dua anak kembar ini mirip dengan Nathan, sementara yang mereka tahu Nathan sudah bertunangan dengan Clara. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan melayani pertanyaan sang dokter, Salsa memilih mengabaikan ucapan itu dan mendekati ranjang ayahnya. Dokter dan para perawat perlahan melangkah mundur dari samping tempat tidur. Tak ada lagi tindakan medis y
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu







