INICIAR SESIÓNNathan, Raka, dan Tuan Abimanyu langsung berlari menuju ruang tengah. Kaca tebal dan besar itu sudah jatuh dan puing-puingnya memenuhi lantai. Serpihan demi serpihan kaca tajam hancur berhamburan ke mana-mana, menutupi area lantai di ruang tengah yang luas itu.Nathan langsung memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Ujung jarinya menekan pelipisnya cukup keras karena rasa pusing dan tegang yang tak bisa ia hindari. Untung saja anak-anaknya tidak sedang bermain di sana. Padahal si kembar senang sekali berlari-larian di dekat pintu kaca itu saat mereka sedang bosan bermain di ruang bermain. Kalau saja tadi Kenzo dan Kenzi lagi ada di sana, Nathan benar-benar tidak sanggup membayangkan bahaya besar yang bisa saja melukai tubuh mungil anak-anaknya.Raka mengamati bingkai atas yang kini kosong melompong. “Mungkin pada saat servis kemarin tidak terlalu kuat kunciannya, Pak,” ucap Raka mulai menerka-nerka alasan paling masuk akal yang bisa terjadi hingga membuat kaca tebal itu sampai bisa le
“Kenapa, Sayang?” Nathan yang kepalanya tiba-tiba cenut-cenut karena panik langsung berlarian untuk mengejar istrinya. Dia berhasil menghadang jalan Salsa sebelum wanita itu makin nekat berlari dalam keadaan hamil muda.“Tolong stop motor itu, Sayang! Cepat!” tunjuk Salsa heboh ke arah penjual bakso keliling naik motor yang baru aja melintas. Itu bakso langganan Salsa waktu jaman kuliah dulu yang kuahnya pedas gurihnya khas banget.Nathan mengelus dadanya sambil menahan napas. Ingin rasanya dia mengomel, tapi mana tega dia memarahi wanita mungil di depannya ini. “Tapi nggak usah lari-lari gitu dong, Sayang. Bahaya buat kamu sama anak kita. Kalau terpeleset gimana?” di dalam hati dia marah luar biasa tapi kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar sangat lembut, sehingga Salsa tidak merasa sedang dimarahi oleh suaminya.Salsa langsung memajukan bibirnya, tangannya mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit. “Tapi dedek bayinya mau jajan bakso itu, Papa...” rengeknya dengan sangat
“Ada apa?” tanya Alea bingung melihat perubahan raut wajah Salsa.“Papa nyuruh kita ke taman. Mobilnya mogok dekat sana katanya,” jawab Salsa persis seperti skenario yang disiapkan suaminya.Alea mengerutkan kening. Rasanya aneh banget mendengar alasan itu dari mulut Salsa.“Sejak kapan Nathan Abimanyu punya mobil mogok? Mobil baru pakai dua tahun aja langsung ditukar tambah sama Papa,” gerutu Alea geleng-geleng kepala, merasa alasan itu nggak masuk akal sama sekali.Salsa langsung berdiri dari tempat duduknya, berpura-pura panik. “Aku juga nggak tahu! Udah ayo cepat anterin aku jemput suamiku. Nanti dia digigit semut lagi di sana,” balas Salsa ngeles tidak memberi ruang pada sahabatnya untuk membantah lagi, membuat Alea cuma bisa memutar bola mata malas.Sebelum berangkat, Salsa masuk sebentar ke dalam rumah untuk menemui kedua pengasuh si kembar. Dia menitipkan anak-anak dan mewanti-wanti supaya mereka nggak bermain di luar rumah dulu. Setelah sedikit berbohong ke si kembar kalau di
“Dasar pelacur!” Teriak seorang laki-laki tua yang selama ini membiayai hidup Zara dengan segala kemewahan. Laki-laki tua itu tak kuasa menahan amarahnya setelah membaca berita bahwa nama Zara tercatat sebagai wanita simpanan Darmawan.“Aku bisa jelasin semuanya,” teriak Zara. Sudut bibirnya terasa Asin setelah mendapat tamparan dari pria yang selama ini memanjakannya dengan harta benda.“Gak ada lagi yang perlu kamu jelaskan. Sekarang kemasi semua barang-barang kalian dan pergi dari rumah ini!” Bentak pria itu.Ibunya Zara langsung berlutut di depan laki-laki tua itu, “tolong jangan usir kami, Pak. Beri kesempatan pada Zara sekali lagi,” pintanya membujuk.“Tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Dalam waktu satu kali dua puluh empat jam rumah ini harus sudah kosong atau kalian akan tahu sendiri akibatnya!” Setelah berkata demikian laki-laki tua itu langsung pergi dari hadapan Zara dan ibunya.*Panggilan resmi dari kepolisian akhirnya sampai juga ke tangan beberapa wanita muda yang
“Sayang,” tegur Salsa, saat suara benda jatuh itu, berasal dari gadis kecilnya yang terjatuh di lantai. Kenzi hanya nyengir kuda menatap sang mama. Tiba-tiba si kembar berbisik-bisik, dia kembali ke bangku tempat mereka duduk tadi. Seakan ada sesuatu yang terlupakan. “Tahu gak, Om. Tadi kami ke sini naik helikopter loh. Papa yang nyetir. Papa keren banget,” puji Kenzo bangga pada Papanya. “Sayang Papa banyak-banyak,” Kenzi memeluk sang papa, karena dia memang duduk persis di samping Papanya. Kenzo tak mau kalah.“Udah dong, sayang. Ayo sana ditungguin sama Om Raka,” ujar Salsa mengusir kedua buah hatinya.“Mama iri,” mereka bertiga kompak menuduh Salsa iri disusul tawa renyah Nathan dan si kembar memenuhi tempat itu setelah melihat Salsa cemberut. Senyum Nathan yang tidak pernah dilihat sama sekali oleh publik selama ini. Bahkan senyuman itu menular ke semua orang yang ada di aula tersebut.Raka a Bulangsung memberi isyarat agar Alea membawa adik-adiknya kembali ke ruang kerja Nath
“Ma–maaf, Pak,” ucap mereka gugup. Tatapan tajam Raka justru lebih mengerikan daripada tatapan Nathan.“Setelah konferensi pers, kalian jangan pergi makan siang. Hari ini Pak Nathan traktir sekalian makan siang di restoran dekat kantor. Nanti setelah live berakhir, kalian bisa langsung menuju ke restoran itu. Bebas memilih menu apapun yang kalian mau tanpa harus melihat harga. Pak Nathan dengan berbagi kebahagiaan dengan kita semua,” ucap Raka.Rasa takut yang tadi mereka rasakan langsung hilang begitu saja, “wah terima kasih sebelumnya, Pak,” sahutnya kompak. “Hmmm.” Raka langsung membalikkan badan kembali ke aula utama.Di sisi lain, Clara berdiri mematung tepat di depan layar televisi berukuran besar. Matanya menatap tajam tayangan siaran langsung yang menampilkan sosok si kembar di podium. Air mata yang tadinya mengalir deras kini kering, berganti dengan kilatan amarah yang membakar hatinya. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya terlipa
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya







