Masuk“Dasar bodoh!” Umpet pak Darmawan dengan penuh emosi setelah mendapatkan telepon dari anak buahnya. Dia pun mematikan sambungan telepon secara sepihak. “Kenapa, Bos?” tanya Adit.“Anak buahku mobilnya ditabrak dari belakang sampai harus berurusan dengan polisi. Tadinya aku menyuruh mereka untuk membuntuti Nathan. Tapi mungkin Nathan menyadari itu sehingga meminta anak buahnya untuk menabrak mobil mereka dari belakang. Memang dasar bodoh, disuruh membuntuti malah sampai ketahuan,” ujarnya marah. “Kenapa mereka sangat ceroboh?” Tanya Adit.Pak Darmawan kembali menghisap cerutunya lalu membuang asapnya ke atas, “mereka orang baru,” sahutnya. Barulah Adit paham Karena orang itu belum punya pengalaman.Aditya pun akhirnya pamit untuk pulang karena kebetulan hari ini tidak ada pengiriman barang haram. Dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bisa segera menemukan sang mantan.Aditya tidak mau membuang waktu. Begitu keluar dari tempat Pak Darmawan, ia langsung mencari keberadaan S
Nathan tahu dia gak boleh kepancing dengan tuntutan sang Mommy. Dia gak mau rencananya membongkar kebusukan Pak Darmawan jadi gagal. Dirinya harus mengikuti drama ini sampai semua bukti berhasil dikumpulkan. “Mom, bahkan aku sudah menyiapkan pernikahan yang istimewa dua bulan lagi. Please, jangan biarkan aku jadi suami bodoh yang harus menyerahkan semua urusan pernikahan kami pada keluarga. Aku tahu kalian wajib membantuku, tapi hanya sekedar membantu bukan mengambil alih semuanya,” ujar Nathan dengan suara lembut agar tidak menimbulkan kecurigaan pada sang mommy. Dia lantas duduk diantara Mommy dan Daddy-nya dan kembali berkata, “aku akan mengadakan pesta pernikahan yang megah. Aku hanya mau kalian mendukungku. Bersabarlah, Mom, Dad, dua bulan itu bukan waktu yang panjang,” ujar Nathan lagi seakan yang dia ucapkan benar-benar semua.“Tolong jangan main-main dengan ucapanmu ya, sayang. Mommy jauh-jauh datang ke sini karena Clara. Mommy tahu rasanya jadi dia yang cintanya digantung ga
Benturan keras itu berhasil membuat semua pengguna jalan yang berada di sekitarnya seketika berhenti dan menoleh ke sumber suara. Dari kaca spion, Nathan sempat melirik sebentar ke arah belakang. Ternyata anak buahnya bertindak sangat cepat dan cermat setelah dia menghubungi lewat pesan singkat. Mobil yang sejak tadi membuntutinya dari belakang kini ringsek parah di bagian belakang akibat dihantam kendaraan tim pengaman Nathan. Yakin anak buahnya bisa membereskan kekacauan di jalanan itu tanpa sisa, Nathan langsung menekan pedal gasnya dalam-dalam, meluncur membelah jalanan menuju kantor Abimanyu Group.Setibanya di gedung pencakar langit miliknya, Nathan tidak membuang waktu. Ia melangkah cepat menuju ruang rapat utama. Pagi ini ada agenda rapat penting yang harus dipimpin langsung oleh sang CEO. Di bawah kendalinya, omzet perusahaan meroket tajam, bahkan perkembangannya tumbuh jauh lebih dahsyat dari bayangan siapa pun—melampaui kejayaan masa lalu sebelum tragedi kebakaran gudang t
Nathan terus mencium setiap inci tubuh polos Salsa. Keringat dingin mulai bercucuran hingga membuat badan mereka menjadi sembab. Desahan demi desahan semakin membuat Nathan ingin segera melakukan penyatuan. Pria itu kembali menghisap bagian menyembul yang menjadi bagian paling favoritnya, membelai puncaknya dengan lidah dan sesekali menghisapnya seperti bayi yang kehausan. Pria itu benar-benar berhasil membuat Salsa tak pernah bisa menolak sentuhan Nathan. Salsa akhirnya matanya terbuka dan baru menyadari kalau dirinya sudah pindah ke kamar sang anak. Nathan langsung menyambar bibir wanita itu yang langsung dibalas juga oleh Salsa membuat ciuman mereka semakin panas dan ganas. “Hisap punyaku ya, sayang,” bisik Nathan. Tanpa memberi jawaban soal langsung menegakkan tubuhnya lalu mengambil posisi berlutut di depan tubuh Nathan. Bohong kalau Salsa tidak tergoda oleh Junior ayah dari anak-anaknya ini. Tidak ingin membuang-buang waktu wanita itu pun langsung menghisap milik Nathan dan
Malam itu mereka benar-benar menikmati momen bahagia bersama. Nathan dan Salsa bahkan meminta dua pengasuh si kembar, Indah dan Anggun, untuk ikut duduk satu meja dan menikmati hidangan BBQ. Awalnya kedua pengasuh itu menolak karena merasa sungkan. Namun, Salsa terus meyakinkan bahwa tidak ada perbedaan status sosial di antara mereka. Meski akhirnya mau bergabung, Indah dan Anggun tetap merasa agak canggung duduk di dekat Nathan. "Enak enggak, Ndut?" tanya Kenzo sambil bersandar di kursi taman. Kedua kaki kecil Kenzo diangkat ke atas kursi, persis seperti gaya santai orang dewasa. Mulutnya masih sibuk mengunyah sosis, sementara matanya sudah mulai sayu karena mengantuk. Setelah seharian berenang bersama sang papa dan lanjut menunggu sampai malam demi makan BBQ, energi mereka jelas mulai habis. "Enak," jawab Kenzi pelan dengan suara gumam karena mulutnya penuh makanan. "Yang hitam itu apa, Kak Al?" tanya Kenzo lagi, menunjuk ke bagian sosis yang agak gosong di piring. "Oh, itu
"Papa sih, oke," jawab Nathan mantap. Pria itu benar-benar berniat menahan Salsa agar tidak lagi meminum pil KB. Mau sampai punya anak selusin pun, Nathan siap merawat dan membahagiakan mereka semua. Tabungan dan asetnya sudah lebih dari cukup untuk menopang hidup tujuh turunan, bahkan jika suatu saat ada musuh yang mencoba merobohkan bisnisnya lagi dia tidak akan pernah tumbang untuk yang kedua kalinya. Anak buahnya pun saat ini sedang menguliti keterlibatan Pak Darmawan dalam kehancuran perusahaannya lima tahun lalu—tragedi yang memaksa Salsa berjuang sendirian saat mengandung si kembar. Nathan bersumpah, siapa pun yang terlibat harus membayar mahal setiap tetes air mata Salsa. Namun, di tengah benaknya yang membayangkan masa depan, jawaban santai Nathan barusan justru memicu emosi Salsa. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban santai dari Nathan. "Kamu pikir hamil itu gampang?!" semprot Salsa dengan suara melengking. Wajahnya memerah, menanggapi serius ucapan N
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding







