LOGINTubuh kecil itu berguncang pelan, tangannya bergetar samar saat mata itu menatap benda asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Benda itu terlihat besar dengan bentuk yang cukup aneh menurut Agnira.
"Kemarilah," ucap Sambara memberi perintah. Degup jantung Agnira berpacu lebih cepat saat dia bergerak lebih dekat. Sesekali matanya melirik kecil pada benda yang menurutnya sedikit membuat ia tidak nyaman itu. Namun anehnya, Sambara tidak terlihat risih ataupun malu. Sial. Di sini hanya ia yang malu sendirian. Sambara tersenyum samar, "Mau menyentuhnya?" Hah. Agnira terdiam, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya saat ungkapan kalimat itu terucap. Bagaimana bisa Sambara melemparkan pertanyaan seperti itu. Tangan besar Sambara meraih jemari lentik Agnira, walaupun terlihat ragu, tetapi wanita itu terpaksa harus menuruti perintah Sambara. "T-tapi ini." Tangan Agnira bergetar pelan. "Jangan takut, dia tidak akan menyakitimu," ucap Sambara penuh keyakinan, seolah benda itu hidup. Agnira hanya mampu menelan ludah dengan susah payah. Ia benar-benar tabu dengan masalah ranjang seperti ini, ia wanita bersih yang bahkan tidak pernah menjamah hal dewasa, bahkan untuk sekedar 'menyentuh' dirinya sendiri. "Jangan ragu, Agnira." Ucapan itu bak sihir bagi Agnira, ia terhipnotis oleh kalimat lembut yang Sambara bisikan di telinganya. Wanita itu dengan cepat menggenggam milik Sambara dengan kuat. "Ah ..." Ringisan terdengar dari mulut Sambara, dia menunduk menahan rasa ngilu, "lebih lembut lagi." Agnira mengangguk paham. Ia melonggarkan genggam tangannya dan membuat Sambara lebih rileks lagi. Mata tajam itu terpejam seiring dengan tangan Agnira yang naik turun semakin cepat. Bulir keringat mulai terlihat, suasana dalam kamar yang terasa dingin berubah menjadi hangat penuh hasrat. Sambara menarik lengan Agnira dengan paksa, kepalanya sudah berdenyut dan ia tidak boleh kalah lebih dulu. Lalu tanpa basa basi, Sambara menyatukan kedua lengan Agnira, mengikat kedua lengan itu menggunakan dasinya. Agnira panik, matanya membulat saat melihat apa yang akan Sambara perbuat, "Apa yang akan kamu lakukan, Sambara?" Sambara hanya tersenyum samar. Inilah dirinya, jiwa buas yang selama ini tenggelam tanpa bisa ia keluarkan. Tangan kekar itu merobek paksa piyama satin yang masih menutupi baju Agnira, membuat wanita itu memejamkan mata dengan kuat. "Ku mohon jangan seperti ini," bisik Agnira pelan. Dia sudah kehilangan mukanya dan ini benar-benar penghinaan bagi wanita itu. "Buka matamu, Agnira. Tatap aku," perintah Sambara terdengar dingin dan tajam. Napas Agnira terasa sesak. Ia mencoba membuka mata dan menahan tangisnya, tetapi itu semua tidak berlaku bagi Sambara, pria itu tidak akan luluh hanya dengan air mata. Tangan besarnya mulai kembali menjamah setiap inci tubuh Agnira, membuat napas Agnira kembali berpacu dengan cepat. Ia terpejam saat sesuatu yang basah mengenai dadanya. Rasa ini tidak pernah Agnira rasakan, dia seperti melayang tatkala Sambara mulai menghisap miliknya. Tangan besarnya terus bergerak menyentuh miliknya yang terasa basah dibawah sana. Wajah Agnira bersemu. Akan tetapi rasa nikmat itu benar-benar menghancurkan harga dirinya. "Ah ... A-apa yang kamu lakukan?" tanya Agnira di sela desah nikmatnya. Sambara tidak menjawab, dia tersenyum di sela-sela aktivitasnya. Sampai punggung Agnira melengkung dengan mata terpejam kuat. Tangannya meremas sprei dengan kuat saat gelombang aneh yang merangsek keluar. "Ah ..." Lenguhan itu terdengar nyaring, memecah kesunyian malam. Tubuh Agnira melemas seiring dengan napas yang mulai kembali terasa normal. Dia menatap pada Sambara yang terlihat tersenyum puas, matanya lalu turun ke bawah, dimana bagian itu terasa semakin membesar. Agnira menelan ludah susah payah. Pikirannya mulai bekerja dengan cepat, "Apa akan masuk?" Dia bertanya-tanya di dalam hatinya. Ingin sekali ia kabur. Namun sepertinya sudah terlambat. Serigala di depannya terlihat sudah sangat lapar. "Kita mulai," bisik Sambara sensual. Mata Agnira terpejam saat benda asing itu merangsek masuk perlahan. Mencoba mendobrak apa yang selama ini ia jaga dengan sepenuh jiwa raga. Tangannya masih terikat, ia mencoba menahan jerit saat Sambara mendorong lebih kuat. "Kamu masih perawan?" tanya Sambara merasa heran. "Iya ... Memangnya salah?" tanya Agnira di sela rasa sakitnya. Senyum Sambara bertambah lebar. Tangannya bergerak melepas ikat tangan Agnira. Sambara merunduk pelan, dan berbisik lirih ditelinga Agnira, "Kau bisa mencakarku bila terasa sakit." "Aku tidak akan ... Ah!" teriak Agnira cukup kencang saat Sambara tidak memberinya aba-aba. Benda itu melesak masuk memenuhi dirinya. Membuat Agnira merasa sesak dan sakit di waktu yang bersamaan, air mata Agnira menetes perlahan saat sakit yang ia rasakan lebih dominan. Namun bukan berhenti, Sambara malah melanjutkan dengan bergoyang pelan. "Tatap saya." Agnira mencoba membuka mata, menatap manik mata pria di atasnya yang terlihat terhalang kabut gairah. Tubuh Agnira terus tersentak pelan saat Sambara terus masuk lebih dalam. Peluh mulai membasahi keduanya, berbagai macam hal Sambara lakukan sampai Agnira mencapai melepasannya lagi. Tidak lama dari itu tubuh Agnira kembali tersentak kuat, lebih kuat dari sebelumnya, sampai suara lenguhan Sambara terdengar cukup kencang. Mata pria itu terpejam, kepalanya mendongak dengan tubuh yang dipenuhi peluh. "Terima kasih." Sambara menatap manik mata Agnira dengan pandangan dalam. Agnira terdiam. Pria di atasnya ini benar-benar sangat berbeda dari pria yang selama tiga tahun ini ia kenal. "Apa kau memakai pengaman?" tanya Agnira tiba-tiba. Sambara terdiam. Dia merunduk dan melihat benda miliknya masih menancap sempurna, "Sepertinya lupa." "Apa?!"Sorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seolah tak peduli, pria itu sibuk mengiris steak di hadapannya dengan tenang.Agnira mengikuti arah lirikan itu. Seketika ia mengerti, dan desahan lelah pun lolos dari bibirnya."Duduk Nayara, kau tidak akan mati hanya karena duduk bersama kami," ucap Agnira menekan setiap kalimatnya."Memang tidak akan mati, tapi saya tidak suka satu meja dengan bawahan saya," sambar Sambara dengan suara tenang.Kenan yang hendak meraih centong nasi mendadak menarik tangannya, a
"Kamu ganti baju dulu," perintah Sambara pada istrinya, sorot matanya dingin dan tegas.Agnira menatap pada piyama tidur yang masih ia kenakan. Lagi-lagi baju indahnya harus sobek akibat ulah Sambara. Wanita itu melirik suaminya yang terlihat berwajah santai, seperti tidak pernah merasa bersalah."Bibi bisa turun terlebih dahulu, bilang pada tamu bahwa kami akan segera turun," ucap Agnira lembut. Nurma mengangguk patuh, lalu berlalu setelah menunduk hormat pada Sambara–kebiasaan yang selalu dilakukan para pelayan di rumah itu. Sambara menganut sistem kasta; baginya, pelayan dan majikan tak akan pernah setara. Pria itu memang tidak sombong, melainkan angkuh yang sudah mendarah daging."Cepatlah," perintah Sambara sekali lagi.Agnira hanya mampu melirik sinis. "Sabar, tidak lihat aku kesulitan melangkah." "Lelet sekali," ejek pria itu dingin.Agnira membulatkan mulutnya, ia berbalik dan menatap sengit Sambara. "Ini semua
Sambara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggang serta tangan yang mengusak rambut perlahan, memamerkan otot perut dan juga lengannya. Hal itu terlihat seksi bagi Agnira, matanya bahkan tidak berkedip dan terus menatap, sampai Sambara berjalan ke arahnya pun ia tidak sadar."Kau ingin makan apa?" tanya Sambara pelan.Agnira mengerjap singkat, dia mengusap liur di ujung mulutnya yang hampir menetes, bisa gila bila dirinya terus satu ruangan dengan Sambara. Belum lagi otaknya yang selalu tertuju pada benda besar di balik handuk itu."Agnira," panggil Sambara sekali lagi. Pria itu berbalik untuk melihat keadaan istrinya. Namun, yang ia dapati hanya sorot mata Agnira yang terfokus pada satu hal. Ia mengikuti arah pandang wanita itu, lalu melangkah pelan mendekat."Kau mau lagi?" tanya Sambara berbisik. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Agnira.Tanpa sadar kepala Agnira mengangguk pelan, menghadir
Tubuh Agnira terasa remuk saat dia mencoba bergerak, bagian intinya berdenyut hebat, ringisan pelan itu terdengar memenuhi ruangan. Butuh tenaga ekstra bagi Agnira agar bisa bangun dari tempat tidur, tubuhnya perlahan bangun, mencoba meraih piyama tidur yang berserakan di atas lantai."Sakit sekali," bisik Agnira pelan, ia melirik kecil pada Sambara yang tertidur dengan pulas, "dia brutal sekali." Kaki jenjang itu mencoba melangkah keluar dari kamar milik Sambara, berjalan perlahan ke seberang kamar untuk mencapai kamarnya sendiri. Agnira menyeret langkahnya, cukup pelan karena rasa sakit di bagian intinya begitu terasa, ini lebih dari malam pertama mereka, keringat dingin mulai terlihat dikening Agnira, rasa sakit itu menjalar dan membuat ia limbung seketika.Tubuh kecilnya tertangkap sempurna oleh Sambara, pria itu menatap Agnira dengan pandangan bingungnya. "Apa saya terlalu semangat?" Agnira cukup malas membuka mulut, dia hanya ingin tidur d
Herman mulai naik pitam. Dia meraih lengan Dini dan juga Kirana, lalu menatap sengit pada putra tirinya itu. "Kita pergi dari sini," ajak Herman.Kirana masih diam, dia enggan pergi. "Tidak Papa, aku mau pulang sama Kakak." Kirana terus meronta, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan ayahnya. Sementara Dini, dia hanya bisa menatap sendu putranya yang terasa jauh dengannya, bukan ini yang Dini inginkan.Rumah kembali hening, suasana mencekam itu berangsur mereda dengan sendirinya, kini hanya tersisa Sambara dan Agnira yang terdiam di meja makan."Jadi, apa kita bisa melakukan malam ke dua?" tanya Sambara tiba-tiba. Agnira terdiam, menatap sengit pada pria di sampingnya, baru saja keluarga toxicnya pergi, Sambara sudah memulai drama lainnya lagi. Wanita itu menggelengkan kepala pelan, merasa heran dengan pemikiran aneh pria ini."Hey, kau harus menjawabnya," ucap Sambara menuntut. Agnira menarik napas berat. "Ya udah ayo, sekalian di ruang tamu saja." Ucapan itu bagai ajakan ba
Ruang tamu kediaman Sambara yang selalu di isi keheningan serta kehampaan, mendadak terasa berat dan menekan. Orang-orang yang berada di dalam ruangan terlihat berwajah dingin dan tegang, tidak sama seperti keluarga hangat pada umumnya. Hanya Agnira yang masih terlihat santai dengan piyama tidurnya, wanita itu bahkan terlihat acuh dan terus mengunyah di ruangan terpisah."Nyonya, apa saya harus membuat sarapan lebih?" tanya Nurma setengah berbisik.Agnira menggeleng pelan, dia ikut berisik, "nggak usah, sebentar lagi juga di usir Sambara." Wanita itu begitu yakin dengan perkataannya. Dia kembali menatap ke arah Sambara yang terlihat santai dengan wajah dinginnya, pria itu terlihat menyimpan bara yang siap meledak kapan saja. Tatapan Agnira berpindah pada mertuanya serta Kirana, mereka terlihat acuh dan tidak tahu malu."Nak, kenapa kamu kemarin tidak datang ke rumah?" tanya Dini, suaranya terdengar lembut dan halus.Tidak ada jawaban dar







