LOGINSambara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggang serta tangan yang mengusak rambut perlahan, memamerkan otot perut dan juga lengannya. Hal itu terlihat seksi bagi Agnira, matanya bahkan tidak berkedip dan terus menatap, sampai Sambara berjalan ke arahnya pun ia tidak sadar.
"Kau ingin makan apa?" tanya Sambara pelan.Agnira mengerjap singkat, dia mengusap liur di ujung mulutnya yang hampir menetes, bisa gila bila dirinya terus satu ruangan dengan"Kita tidak mungkin tidur di lantai atas dengan kondisi mu yang seperti ini, jadi aku meminta Bi Nurma untuk membersihkan kamar tamu yang berada di lantai bawah," ujar Agnira memberitahu.Ia mendorong tubuh suaminya menuju kamar yang berada di pojok ruang tamu. Kamar kosong yang tidak pernah di buka sama sekali, kamar yang dulu sempat di tempati oleh Panji.Kamar itu cukup luas, walaupun tidak seluas kamar utama miliknya. Kasurnya pun terbilang kecil dari dua kamar di lantai atas. Akan tetapi, apa boleh buat, Agnira tidak akan sanggup menggendong Sambara ke lantai atas."Ke mana Nana?" tanya Sambara yang tidak melihat keberadaan adiknya sejak tadi."Mungkin di halaman belakang. Dia sedang gemar melukis saat ini," ucap Agnira sambil berjalan ke arah jendela.Wanita itu membuka tirai selebar mungkin. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan menerangi seisi kamar, membuat suasana semakin nyaman. "Lihat, adikmu di sana," tunjuk Agnira pada halaman belakang yang langsung terlih
"Sidang pertama Panji akan di adakan satu minggu dari sekarang," beritahu Nayara di sela langkah mereka, "dan Tuan harus hadir di sana." "Iya, saya tau." Sambara menggeser duduknya agar terasa nyaman. Kini mereka akan pulang ke rumah Lakeswara, karena Sambara yang bersikeras sudah sembuh dari rasa sakitnya. Walaupun sangat jelas dari segi fisik pria itu sangat jauh dari kata sembuh.Untuk berdiri tegak saja kesulitan, bahkan duduk tegak pun harus ekstra menahan sakit. Akan tetapi, apa boleh buat, Sambara itu keras kepala. "Aku pengen bakso," celetuk Agnira sambil menatap keluar kaca mobil. Wanita itu menarik napas dalam seperti sedang merasakan sakit yang luar biasa.Sambara berpura-pura tuli. Dia lebih memilih membuka notebook nya daripada mendengarkan permintaan aneh Agnira. Makanan pinggir jalan sangat tidak baik di konsumsi terlalu sering, dan itu adalah hal yang harus Agnira patuhi."Untuk apa duitmu banyak, kalau seharga dua puluh ribu saja tidak punya," sindir Agnira tajam.
Begitu memasuki gedung utama, seorang polisi berpangkat inspektur segera menghampiri mereka."Selamat pagi, Pak Sambara.""Pagi." Sambara menjawab sapaan itu dengan apa adanya. "Terima kasih sudah datang memenuhi panggilan kami," lanjut polisi itu, sambil tersenyum hangat.Sambara hanya mengangguk singkat. Pria itu memang tidak pernah pandai berbasa-basi."Silakan ikut saya." Polisi itu memimpin mereka menuju sebuah ruangan pemeriksaan yang berada di lantai bawah yang berada di paling ujung ruangan.Sesampainya di sana, Sambara dipersilakan masuk. Namun ketika Agnira hendak mengikuti dari belakang, petugas itu mengangkat tangan."Maaf, Bu. Hanya Pak Sambara yang bisa masuk."Langkah Agnira langsung terhenti. Wanita itu menoleh ke arah Sambara, lalu menatap Nayara dan juga Robi. Ia tidak bisa membiarkan Sambara masuk sendirian, mengingat terakhir kali pria itu bersama aparat kepolisian dan berakhir seperti ini."Kenapa?" tanya Sambara yang melihat wajah ragu istrinya. "Tidak apa-apa,
Seperti yang dikatakan Nayara, Sambara wajib memenuhi panggilan dari pihak kepolisian. Pagi itu, pria itu sudah tampil rapi dengan pakaian sederhana yang jarang ia kenakan.Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sorot matanya yang tajam telah kembali seperti semula. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kali ini, Sambara harus duduk di atas kursi roda karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih."Kau yakin akan datang?" tanya Agnira untuk kesekian kalinya, sambil merapikan sweater yang membungkus tubuh suaminya."Tentu saja. Ini panggilan dari pihak berwajib," jawab Sambara tenang.Meski demikian, tatapannya sempat beralih ke Nayara dengan sorot mata yang penuh arti. Tentu saja ia akan datang.Bagaimana mungkin ia melewatkan momen ketika musuh-musuhnya akhirnya menerima kekalahan yang pantas mereka dapatkan?Sudut bibir Sambara terangkat tipis. Setelah semua yang terjadi, akhirnya ia akan melihat mereka jatuh dengan matanya sendiri. Bukankah sudah ia katakan, bahwa dirinya tidak akan
Setelah pengakuan perasaan itu, keduanya sama-sama terdiam dalam kecanggungan yang sulit dijelaskan. Tidak ada percakapan yang terjalin di antara mereka.Sambara terlihat sibuk membaca jurnal yang berada di tangannya, sementara Agnira berpura-pura fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang. Namun, sesekali keduanya diam-diam saling melirik.Setiap kali tatapan mereka bertemu, baik Sambara maupun Agnira akan segera mengalihkan pandangan dengan gugup, seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, sudut bibir keduanya beberapa kali terlihat terangkat tipis tanpa sadar.Suasana hening itu terasa aneh, tetapi juga menenangkan. Mereka tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan pertengkaran atau sindiran seperti biasanya. Hanya duduk bersama dalam ruangan yang sama sudah cukup membuat jantung keduanya berdebar dengan cara yang berbeda.Ini gila dan itulah kenyataannya. Bibir mereka mungkin saling bungkam, namun takdir Tuhan sedang bekerja di dalamnya. "Agnira," panggil Sambara pelan.Agnir
"Kau tahu sesuatu tentang mereka?" selidik Agnira sambil memicingkan mata.Sambara mendelik tajam. Pria itu meringis kecil saat berusaha mengubah posisi duduknya. Bagian perutnya masih terasa nyeri karena jahitan yang belum benar-benar kering, belum lagi kakinya yang mulai merasakan efek dari luka yang ia terima."Lagipula, untuk apa mengurusi kisah cinta mereka? Kisah cinta kita saja sudah cukup rumit," gerutu Sambara pelan.Agnira yang mendengar itu hanya mampu menelan ludah dengan susah payah. Tidak salah memang, hanya saja kurang tepat. Sampai sekarang, Agnira bahkan masih tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri terhadap Sambara."Setidaknya bantu saya duduk. Jangan malah termenung seperti itu," sentak Sambara mulai kesal."Ck, iya, iya. Kau ini baru bangun sudah mengomel terus. Giliran tidur, bikin orang khawatir setengah mati," gerutu Agnira balik.Wanita itu segera meraih bahu Sambara dan membantunya duduk dengan hati-hat
"Aaaahh ... lebih cepat sayang," perintah Sambara dengan mata terpejam, menikmati sensi hangat dan basah yang berada di bawah sana. Sambara mendongak saat kuluman itu semakin dalam, ia meremas rambut Agnira dan membenamkan kepala wanitanya agar semakin dalam. Kepala Agnira terus bergerak dengan ce
Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela. “Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.” Wanita itu
Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuh
Angin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk."Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi. Agnira terd







