تسجيل الدخولSorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera.
"Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seoLangkah kaki itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit jiwa, tidak hanya Sambara yang menunjukkan raut wajah cemas, tetapi Agnira pun sama. Mereka sama-sama bergerak cepat menghampiri petugas rumah sakit yang berjaga."Bagaimana bisa adik saya pergi?!" hardik Sambara, sorot matanya begitu tajam.Dokter tertegun sekilas, lalu berdeham pelan. "Maaf Tuan Sambara, tapi ini di luar kendali kami." Sambara dengan cepat meraih kerah kemeja dokter di depannya. Ia mencengkeram erat kerah kemeja itu dan mendorong tubuh dokter, hingga terbanting ke arah dinding."Di luar kendali? Saya membayar kalian untuk menjaga adik saya! Kenapa bisa kalian mengatakan di luar kendali!" teriak Sambara kehilangan kesabaran. Suaranya menggema di lorong rumah sakit yang lenggang."Dengarkan ini baik-baik, jika sesuatu terjadi pada adik saya. Maka saya pastikan rumah sakit ini di tutup seketika," ujar Sambara dingin, ia mencabut name tag dokter itu begitu saja. "
"Agnira," panggil Sambara pelan.Agnira yang hendak masuk ke dalam kamar mengurungkan niatnya, ia berbalik dan menatap sepenuhnya pada pria itu. Wanita itu menunggu, namun Sambara malah terdiam."Selamat beristirahat," ucap Sambara pelan.Agnira hanya mengangguk lemah, ia memang sudah lelah. Kehidupan tenangnya mungkin sudah tidak akan ada lagi, terlebih karena dia memilih berperang dengan Kirana, adik ipar gila yang tiga tahun lalu membuat ulah cukup besar.Tubuh Agnira terhempas pelan ke arah ranjang, memantul ringan dan menenggelamkannya pada balutan empuk itu. Sedangkan di kamar lain, Sambara terlihat memandang langit malam, pikirannya masih tertuju pada Nana, adik satu-satunya yang ia jaga.Sejak kecil, Nana dan Sambara memang hidup terpisah akibat perceraian orang tua mereka. Nana ikut bersama ibunya, sementara Sambara ikut bersama ayahnya ke Belanda. Pria itu tidak tahu apa yang selama ini menimpa adiknya, sampai saat ayahnya menin
"Minumlah dulu." Sambara memberikan satu botol air putih pada istrinya.Kini, mereka duduk diam di depan rumah sakit jiwa. Termenung dan memikirkan satu nama–Nana. Helaan napas berat terdengar dari mulut Agnira, dari semua yang terjadi, Agnira terlihat paling tertekan."Sampai kapan kau akan menutupi ini semua?" tanya Agnira, melirik kecil pada Sambara."Saya sudah mengatakan sejak awal, tidak akan ada yang bisa merubah keputusan saya." Sambara berucap dingin, ia meraih kembali air minum Agnira dan membuka penutup botolnya.Perhatian kecil yang membuat perasaan Agnira menghangat. Pria di depannya ini tidaklah jahat, selama tiga tahun ia tinggal bersama, tidak pernah sekalipun Sambara memperlakukannya buruk. Ia hanya diabaikan tanpa pernah benar-benar dianggap ada, hanya itu dan selebihnya tidak ada lagi.Mungkin karena memang permintaan Agnira sejak awal seperti itu. Mereka menjalani hidup simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Agnir
Mobil Agnira berhenti tepat di depan sebuah gedung rumah sakit jiwa. Bangunan itu menjulang pucat, catnya kusam seolah telah lama menyerah pada waktu. Jendela-jendelanya tertutup jeruji, sebagian tirainya tergerai setengah, memperlihatkan bayangan samar di baliknya. Agnira melangkah masuk lebih dalam. Kenan begitu setia mengikuti dari belakang, selalu bersiaga menjaga atasannya itu.Agnira berhenti melangkahkan, matanya melirik kecil ke arah taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit ini. Di sana terduduk seseorang yang ia kenal, gadis muda yang dulu ia sempat tolong."Kau tunggu di sini, jangan memperlihatkan diri padanya," peringat Agnira tegas.Kenan hanya mengangguk patuh, lalu bergerak menjauh dari jangkauan mata. Agnira menarik napas dalam sebelum kakinya melangkah, dia bergerak ceria dan berhenti tepat di depan gadis itu."Selamat sore, Nana," sapa Agnira lembut, bibirnya melengkung indah, sampai membuat matanya menyipit.
Nayara mendekat, jelas perintah Sambara adalah tugas baginya. Sedangkan Sambara berjalan keluar dengan langkah santai, mulai mengeluarkan satu batang rokok dan menyelipkan di antara bibirnya. Asap mengepul, terbawa angin, meninggalkan aroma nikotin yang pekat.Jerit tangis terdengar dari dalam rumah, Sambara hanya melirik sekilas dan tersenyum miring, lalu melempar sisa rokoknya ke lantai dan menginjaknya kuat. Pria itu bersenandung pelan dan kembali masuk ke dalam rumah.Nayara sudah menyelesaikan tugasnya, darah menetes dari kaki Kirana, bau anyir tercium menusuk hidung. Dini, wanita paruh baya itu berdiri susah payah, berjalan tertatih ke arah Sambara."Kenapa kamu jahat seperti ini, Sambara?" tanya Dini di sela isak tangisnya.Sambara tidak bergeming, pria itu terlihat berwajah datar dan dingin. Tangannya menghentak lengan Dini yang memegangnya, ia benar-benar sudah tidak sudi disentuh wanita itu."Sambara, aku ibumu," ucap Dini kehab
"Siapa Agnira?" tanya Sambara mulai geram, "jawab pertanyaanku." Agnira merapatkan kedua kakinya, dia menunduk, bersembunyi di balik rambut yang terurai menutupi wajah. Isak terdengar dari bibir tipis itu."Aku hanya keseleo saja," jawab Agnira pelan, namun gestur tubuhnya jelas menunjukkan hal yang tidak beres.Sambara tidak yakin dengan ucapan sang istri, ia lalu berdiri dan berlalu keluar dari dalam kamar. Hanya satu orang yang bisa ia mintai jawaban–Kenan, pria itu pasti tahu segalanya.Agnira mendongak pelan dan menyugar rambutnya perlahan. Senyum miring terlihat di wajah manisnya, senyum itu berubah menjadi kekehan ringan, memecah suasana sunyi kamar."Lihat, aku sudah berhasil mengendalikannya." Agnira berdiri dari duduknya, dan melangkah ke arah jendela, tangannya membuka tirai tipis yang menutupinya.Ia memiringkan kepala saat melihat mobil Sambara keluar dari halaman rumah. Agnira semakin melebarkan senyumnya, kemudian







