Share

Bab 07

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-04-16 06:25:42

Pagi datang terlalu cepat. Semilir angin menyusup dari celah jendela, menggerakkan tirai hitam yang sejak semalam tertutup rapat. Aroma sisa kehangatan masih tertinggal di dalam kamar, meninggalkan jejak jelas bahwa sesuatu telah terjadi di sana.

Sambara menjadi orang pertama yang membuka mata. Ia bergerak pelan, melirik ke arah Agnira yang masih terlelap. Wanita itu tampak damai, seolah tidak ada yang berubah, seolah malam tadi hanyalah mimpi yang tidak nyata.

"Sial ... aku menginginkannya lagi," bisik Sambara, lirih.

Ia menarik selimut, menutup tubuh Agnira yang terbuka. Jemarinya menyusuri rambut hitam itu perlahan, memperhatikan wajah cantik di hadapannya dengan saksama.

Senyum tipis terukir di bibir Sambara, "Perempuan keras kepala."

Bayangan semalam kembali terlintas. Tangis Agnira saat menyadari tidak ada pengaman, kepanikan yang jelas terpancar di matanya. Namun alih-alih berhenti, Sambara justru menariknya lebih dalam, hingga akhirnya wanita itu kelelahan dan terlelap.

Tatapan Sambara turun ke bawah. Jejak merah di atas sprei itu terlihat jelas. Perasaan puas menyelinap tanpa bisa ia tahan. Ia menjadi yang pertama bagi Agnira, dan fakta itu memberikan sensasi aneh yang sulit ia jelaskan.

"Bagaimana bisa kamu segila ini, " bisiknya lagi.

Jemarinya menyentuh pipi Agnira, seolah menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan. Namun tidak berlangsung lama, saat wanita itu bergerak pelan, dan terusik oleh tingkahnya.

Sentuhan itu membuatnya terbangun. Mata Agnira mengerjap, menatap langit-langit kamar dengan kosong, sebelum akhirnya beralih ke samping.

Dan di sanalah Sambara. Terlihat tenang dan santai.

Mata Agnira membulat, "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya, setengah terkejut.

Sambara menghela napas pendek, membenarkan posisinya, lalu memejamkan mata kembali, "Tidur. Memangnya apa lagi."

Jawaban itu terdengar santai. Bahkan mungkin terlalu santai.

Agnira terdiam. Tangannya perlahan menarik selimut, dan saat ingatan semalam kembali menghantam, tubuhnya menegang. Semua itu ... benar-benar terjadi.

Bibir Agnira bergetar samar, "Selanjutnya ... aku harus apa?" tanyanya pelan.

Sambara tidak membuka mata, "Sesuai perjanjian."

Singkat. Dingin. Seolah tidak ada yang perlu dibahas lebih dalam.

Jemari Agnira mencengkeram sprei. Napasnya mulai tidak stabil, matanya memerah, namun kali ini bukan karena rasa malu, tetapi karena rasa sesal yang membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Sama seperti dulu.

Ia menatap Sambara yang tampak kembali tertidur, seolah pria itu tidak pernah melakukan apa pun.

"Baiklah," ucap Agnira pelan, suara itu bergetar tipis.

Dengan sisa tenaga, Agnira bangkit. Namun rasa nyeri langsung menjalar, membuatnya meringis. Tubuhnya belum benar-benar pulih dari apa yang terjadi semalam.

Tangannya meraih piyama yang tergeletak. Sobek. Ia terdiam sejenak, lalu mengangkat kain itu dengan kesal.

"Bagaimana aku keluar dari sini kalau seperti ini?" protes Agnira tajam.

Tanpa berpikir panjang, ia melemparkan pakaian itu ke arah Sambara. Pria itu terbangun, mengerutkan kening.

"Kenapa lagi?"

"Pakaianku sobek. Bagaimana aku kembali ke kamar?" tanya Agnira, menahan emosi.

Sambara menarik napas panjang. Tanpa banyak bicara, ia menyingkirkan selimut dan langsung meraih tubuh Agnira. Tubuh kecil itu terangkat begitu saja.

"Apa yang kamu lakukan?" Agnira refleks memeluk lehernya.

"Mau apa ke kamarmu?" tanya Sambara santai.

Agnira terdiam, wajahnya memerah menahan malu, Ia sadar betul kondisi dirinya saat ini.

"Mandi," jawab Agnira singkat.

Sambara mengangguk, lalu melangkah ke arah kamar mandi.

"Bukan di sini. Di kamarku," tolak Agnira cepat.

Sambara melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis, "Kamar mandi fungsinya sama," ucapnya ringan. Lalu ia menunduk sedikit, suaranya merendah, "Kecuali kamu mau yang lain."

Mata Agnira membulat. Tangannya langsung memukul bahu Sambara dengan cukup keras.

"Dasar mesum!"

Sambara meringis tipis, namun tetap menurunkannya perlahan. Begitu kakinya menyentuh lantai, Agnira langsung menyilangkan tangan di depan tubuhnya, mencoba menutupi dirinya.

Sambara menatapnya tanpa ekspresi, "Kenapa ditutupi? Saya sudah melihat semuanya."

Ucapan itu membuat wajah Agnira semakin panas. Belum sempat ia membalas, Sambara sudah mendekat. Kepalanya merunduk, napasnya menyentuh telinga Agnira.

"Bagaimana kalau kita lanjut di kamar mandi?"

Tubuh Agnira menegang. Namun sebelum ia sempat bereaksi, tangan Sambara sudah lebih dulu menariknya ke arah shower.

Dan entah untuk ke berapa kalinya, Agnira lagi-lagi kalah dari pria yang selalu memiliki celah untuk mengobrak-abrik hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 27

    "Nona, Anda tidak boleh sembarangan seperti ini," ucap salah satu pelayan dari belakang Kirana."Minggir, jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" sentak Kirana sengit.Pelayan itu menarik napas dalam, mencoba tetap tenang dan sabar. Ia juga menarik pintu kamar Agnira agar kembali tertutup rapat, bisa habis jika Sambara bangun dan mengetahuinya."Nona, turunlah dulu biar saya yang memberitahu Tuan dan Nyonya," mohon pelayan itu sekali lagi.Kirana masih berdiam diri, enggan untuk pergi. "Biar saya saja, kau diam atau saya adukan pada papa dan mama." Pelayan itu terdiam, ragu, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Ia di ambang kebimbangan antara menurut pada perintah Kirana atau mengikuti instruksi yang sudah Sambara perintahkan. "Minggir atau saya pecat kamu detik ini juga," desis Kirana tajam.Pelayan itu menunduk takut, lalu bergeser pelan memberi jalan. Kirana tersenyum sinis merasa puas, wanita itu mengangkat tangan dan hendak membuka pintu, namun sebelum tangannya sempat mer

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 26

    "Lepas, lepas!" teriakan itu menggema, memantul di dinding ruangan hampa bercat putih.Tubuh kecilnya meronta, rambut berantakan, serta kedua kaki dan tangan yang terikat sempurna. Ia terus mencoba melepaskan diri walaupun terasa sia-sia, jerit serta tangisnya pecah begitu saja menggema di ruangan itu. Napasnya tersengal, tubuhnya terlihat bergetar."Lepas!" pekik wanita itu lagi, "kalian akan mati di tangan Sambara karena sudah memperlakukan aku seperti ini!" Ancaman demi ancaman terucap dari bibir pucat itu, matanya menyorot tajam ke arah Nayara yang berdiri tegak dengan wajah dingin. Nayara terlihat acuh dan tidak bereaksi–hanya diam, menunggu kedatangan tuannya. Hingga akhirnya pintu kayu bercat cokelat itu terbuka lebar, menampilkan sosok Sambara dengan raut wajah panik. Penampilannya berantakan, jauh dari sosok Sambara yang biasa dikenal banyak orang. Langkah Sambara lebar, masuk lebih dalam dan berlutut di samping ranjang."Sayan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 25

    Agnira menyingkirkan lembar kertas di depannya, lalu menatap pada pria di depannya. "Jika aku menolak untuk pergi? Bagaimana?" Sambara tidak bereaksi, tetapi tatapan matanya sudah menyiratkan, jika ia tidak masalah dengan apapun keputusan yang Agnira ambil. Namun ia juga tidak ingin mengambil resiko saat pulang sendirian tanpa Agnira di sisinya."Sebenarnya tidak masalah, tapi apa kau sudah lupa kenapa saya menikahimu?" suara Sambara terdengar tenang, namun tatapan matanya menyimpan banyak hal.Wanita itu terdiam, Agnira hanya mampu menarik napas dalam, lalu dengan cepat tangannya bergerak, menyusun beberapa berkas dan merapihkan segalanya. Mulutnya diam, tetapi gestur tubuhnya jelas menunjukkan rasa enggan, Agnira terlalu malas untuk bertemu dengan orang tua Sambara, bukan tidak menghormati, tetapi cara mereka memperlakukan Agnira cukup menguras emosi."Kapan berangkatnya?" tanya Agnira sambil terus memungut kertas-kertas di atas lantai.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 24

    "Kenapa kau menyiramku juga?" tanya Sambara heran. Agnira melirik kecil, tatapannya terlihat jengah dan lelah. Wanita itu menarik napas dalam, sebelum menghampiri Sambara, tangannya terlipat di depan dada sambil menatap tajam pria tampan di depannya. Sambara terlihat berantakan, baju basah serta rambut lepek karena air pel yang ia siramkan. "Siapa suruh bakterinya menempel di tubuhmu," jawab Agnira santai, bibirnya terlihat menahan senyum puas. Mata Sambara menyipit tajam, menuduh lebih tepatnya. "Kau sengaja." Agnira mendelik pelan. "Tentu saja tidak, untuk apa saya sengaja. Kan sudah saya katakan ada bakteri di tubuhmu." Sambara masih terus menatap dingin, ia lebih memilih tidak melanjutkan percakapan karena pasti akan menimbulkan keributan. Agnira tipe wanita yang tidak ingin kalah dari apapun juga, hanya perusahaan kecil itu yang membuat wanita itu kalah. Sambara kembali melanjutkan langkahnya, namun tepat saat tangan itu meraih gagang pintu, suara Agnira kembali terd

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 23

    Tangan itu terbuka lebar dengan wajah ceria yang tidak memudar. Namun alih-alih pelukannya tersambut mesra, Sambara justru menghindar begitu saja. Wanita itu akhirnya hanya mendekap angin pagi yang berhembus pelan, membelai wajah cantiknya.Dia mengerjap singkat, lalu berbalik pelan dengan tubuh kaku. Malu, jelas sekali. Nyatanya, Sambara tidak semudah itu disentuh sembarang orang, walaupun orang itu adalah adiknya sendiri."Kakak kok gitu sih," ucap wanita itu dengan wajah cemberut.Sambara hanya menatap dingin, sedangkan Agnira terlihat mulai jengah. Ia menarik napas dalam dan memilih masuk lebih dulu ke dalam. Bukan karena tidak ingin terlibat percakapan, melainkan karena tidak suka dengan kehadiran Kirana.Sambara menatap sengit pada adik tirinya itu. "Mau apa kau kemari?""Ih Kakak, kamu kok bicara begitu sih? Aku datang karena kangen, tahu," jawab Kirana manja. Ia kembali melangkah mendekat, hendak meraih lengan Sambara.Pr

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 22

    Hening menggantung di antara mereka. Tidak ada yang kembali membuka suara, seolah percakapan tadi tidak pernah benar-benar terjadi. Namun, diam itu justru terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.Sambara sempat melirik sekilas ke arah Agnira. Wanita itu tampak biasa saja dengan wajah datar yang justru terasa seperti tembok.Sambara berdeham pelan. "Mau ikut joging?"Agnira menghentikan kunyahannya. Tatapannya beralih, singkat, lalu ia menggeleng pelan."Aku tidak suka berkeringat," ucapnya pelan.Jawaban itu terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang tertahan di baliknya. Seolah Agnira menolak secara halus ajakan Sambara."Kenapa?" tanya Sambara lagi, seolah butuh lebih dari sekadar penolakan.Agnira mengangkat bahu. "Tidak suka saja."Sambara mengangguk pelan. Tidak memaksa dan tidak bertanya lagi. Ia mendorong piringnya menjauh, meneguk air hingga tandas, lalu bangkit tanpa banyak kata. Langkahnya tenang sep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status