LOGINSorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seolah tak peduli, pria itu sibuk mengiris steak di hadapannya dengan tenang.Agnira mengikuti arah lirikan itu. Seketika ia mengerti, dan desahan lelah pun lolos dari bibirnya."Duduk Nayara, kau tidak akan mati hanya karena duduk bersama kami," ucap Agnira menekan setiap kalimatnya."Memang tidak akan mati, tapi saya tidak suka satu meja dengan bawahan saya," sambar Sambara dengan suara tenang.Kenan yang hendak meraih centong nasi mendadak menarik tangannya, a
"Kamu ganti baju dulu," perintah Sambara pada istrinya, sorot matanya dingin dan tegas.Agnira menatap pada piyama tidur yang masih ia kenakan. Lagi-lagi baju indahnya harus sobek akibat ulah Sambara. Wanita itu melirik suaminya yang terlihat berwajah santai, seperti tidak pernah merasa bersalah."Bibi bisa turun terlebih dahulu, bilang pada tamu bahwa kami akan segera turun," ucap Agnira lembut. Nurma mengangguk patuh, lalu berlalu setelah menunduk hormat pada Sambara–kebiasaan yang selalu dilakukan para pelayan di rumah itu. Sambara menganut sistem kasta; baginya, pelayan dan majikan tak akan pernah setara. Pria itu memang tidak sombong, melainkan angkuh yang sudah mendarah daging."Cepatlah," perintah Sambara sekali lagi.Agnira hanya mampu melirik sinis. "Sabar, tidak lihat aku kesulitan melangkah." "Lelet sekali," ejek pria itu dingin.Agnira membulatkan mulutnya, ia berbalik dan menatap sengit Sambara. "Ini semua
Sambara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggang serta tangan yang mengusak rambut perlahan, memamerkan otot perut dan juga lengannya. Hal itu terlihat seksi bagi Agnira, matanya bahkan tidak berkedip dan terus menatap, sampai Sambara berjalan ke arahnya pun ia tidak sadar."Kau ingin makan apa?" tanya Sambara pelan.Agnira mengerjap singkat, dia mengusap liur di ujung mulutnya yang hampir menetes, bisa gila bila dirinya terus satu ruangan dengan Sambara. Belum lagi otaknya yang selalu tertuju pada benda besar di balik handuk itu."Agnira," panggil Sambara sekali lagi. Pria itu berbalik untuk melihat keadaan istrinya. Namun, yang ia dapati hanya sorot mata Agnira yang terfokus pada satu hal. Ia mengikuti arah pandang wanita itu, lalu melangkah pelan mendekat."Kau mau lagi?" tanya Sambara berbisik. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Agnira.Tanpa sadar kepala Agnira mengangguk pelan, menghadir
Tubuh Agnira terasa remuk saat dia mencoba bergerak, bagian intinya berdenyut hebat, ringisan pelan itu terdengar memenuhi ruangan. Butuh tenaga ekstra bagi Agnira agar bisa bangun dari tempat tidur, tubuhnya perlahan bangun, mencoba meraih piyama tidur yang berserakan di atas lantai."Sakit sekali," bisik Agnira pelan, ia melirik kecil pada Sambara yang tertidur dengan pulas, "dia brutal sekali." Kaki jenjang itu mencoba melangkah keluar dari kamar milik Sambara, berjalan perlahan ke seberang kamar untuk mencapai kamarnya sendiri. Agnira menyeret langkahnya, cukup pelan karena rasa sakit di bagian intinya begitu terasa, ini lebih dari malam pertama mereka, keringat dingin mulai terlihat dikening Agnira, rasa sakit itu menjalar dan membuat ia limbung seketika.Tubuh kecilnya tertangkap sempurna oleh Sambara, pria itu menatap Agnira dengan pandangan bingungnya. "Apa saya terlalu semangat?" Agnira cukup malas membuka mulut, dia hanya ingin tidur d
Herman mulai naik pitam. Dia meraih lengan Dini dan juga Kirana, lalu menatap sengit pada putra tirinya itu. "Kita pergi dari sini," ajak Herman.Kirana masih diam, dia enggan pergi. "Tidak Papa, aku mau pulang sama Kakak." Kirana terus meronta, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan ayahnya. Sementara Dini, dia hanya bisa menatap sendu putranya yang terasa jauh dengannya, bukan ini yang Dini inginkan.Rumah kembali hening, suasana mencekam itu berangsur mereda dengan sendirinya, kini hanya tersisa Sambara dan Agnira yang terdiam di meja makan."Jadi, apa kita bisa melakukan malam ke dua?" tanya Sambara tiba-tiba. Agnira terdiam, menatap sengit pada pria di sampingnya, baru saja keluarga toxicnya pergi, Sambara sudah memulai drama lainnya lagi. Wanita itu menggelengkan kepala pelan, merasa heran dengan pemikiran aneh pria ini."Hey, kau harus menjawabnya," ucap Sambara menuntut. Agnira menarik napas berat. "Ya udah ayo, sekalian di ruang tamu saja." Ucapan itu bagai ajakan ba
Ruang tamu kediaman Sambara yang selalu di isi keheningan serta kehampaan, mendadak terasa berat dan menekan. Orang-orang yang berada di dalam ruangan terlihat berwajah dingin dan tegang, tidak sama seperti keluarga hangat pada umumnya. Hanya Agnira yang masih terlihat santai dengan piyama tidurnya, wanita itu bahkan terlihat acuh dan terus mengunyah di ruangan terpisah."Nyonya, apa saya harus membuat sarapan lebih?" tanya Nurma setengah berbisik.Agnira menggeleng pelan, dia ikut berisik, "nggak usah, sebentar lagi juga di usir Sambara." Wanita itu begitu yakin dengan perkataannya. Dia kembali menatap ke arah Sambara yang terlihat santai dengan wajah dinginnya, pria itu terlihat menyimpan bara yang siap meledak kapan saja. Tatapan Agnira berpindah pada mertuanya serta Kirana, mereka terlihat acuh dan tidak tahu malu."Nak, kenapa kamu kemarin tidak datang ke rumah?" tanya Dini, suaranya terdengar lembut dan halus.Tidak ada jawaban dar







