Share

Bab 10

Penulis: D.N.A
last update Tanggal publikasi: 2026-04-17 22:09:19

Agnira melirik kecil ke arah Sambara, "Kau mengikutiku?"

Sambara terdiam. Pria itu terlihat sibuk dengan tab yang berada di tangannya sedari tadi, "Hanya kebetulan saja."

Di luar mobil keadaan sudah kembali kondusif. Arjuna dan para antek-antek pergi saat suara sirine polisi terdengar di kejauhan, mereka kabur begitu saja dengan ancaman yang membuat Agnira merasa takut.

Jika harus memilih, ia lebih rela jatuh ke tangan Sambara daripada Arjuna. Namun jika boleh meminta, ia tidak ingin terlibat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Moza Pratiwi
hmmmmm....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 260

    ​"Mari kita akhiri semua ini," desis Sambara seraya kembali menerjang.​Arman berusaha bangkit dari lantai dengan napas tersengal, satu tangannya menekan rusuk yang nyeri akibat benturan. Namun Sambara tidak memberinya celah sedikit pun. Dalam sekejap, Sambara menahan ayunan pukulan Arman hanya dengan satu tangan.​"Kau sudah terlalu tua untuk permainan ini, Arman," seringai Sambara dingin. "Dan kau belum belajar kapan harus berhenti."​Sambara memelintir lengan Arman dan menghantam bahunya hingga pria tua itu terjerembap. Saat Arman mencoba meraih senjata yang terlempar di lantai, kaki Sambara langsung menginjak remuk pergelangan tangannya.​"Argh!" Arman melolong tertahan.​"Sudah saya peringatkan sejak awal. Sekali kau menyentuh batasan saya, kau akan saya musnahkan detik itu juga."​Di luar dugaan, Arman justru tertawa serak. "Kau pikir ... ini benar-benar berakhir?"​Sambara menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"​"Kalau aku jatuh malam ini, kau akan membayar harga yang jauh lebih mah

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 259

    Sambara menatap Arman tanpa berkedip. Seringai tipis terukir di bibirnya. Tubuh bagian atasnya terekspos karena tidak mengenakan baju, sementara percikan darah Aurelie terlihat menodai kulit dan bahunya.Dalam cahaya redup gudang, wajah Sambara tampak semakin mengintimidasi. Tatapannya tajam dan penuh kewaspadaan, terus mengawasi Arman beserta anak buahnya, seolah menunggu siapa pun yang berani mengambil langkah lebih dulu."Apa kau pikir satu tembakan akan membuatku takut?" Arman mengangkat pistolnya, mencoba mempertahankan keberanian yang mulai goyah.Sambara justru tertawa pelan. "Bukan satu tembakan yang seharusnya kau takutkan."Ia menggeser pandangan ke arah belasan anak buahnya yang kini mengepung gudang dari berbagai sisi. "Yang harus kau takutkan adalah kenyataan bahwa kau tidak punya jalan keluar."Arman melirik ke belakang. Jalan menuju hutan sudah tertutup. Anak buah Sambara berdiri dengan senjata terarah kepada kelompoknya."Turunkan senjata!" teriak salah satu anak buah

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 258

    Senyum Aurelie semakin lebar ketika melihat perubahan pada wajah Sambara. Pria itu masih berdiri tegak, tetapi napasnya mulai berubah berat. Tatapannya yang semula tajam perlahan tampak membayang.​Jari-jari Sambara mengepal kuat, berusaha mempertahankan kendali atas tubuhnya sendiri. Aurelie tertawa kecil—tawa puas karena merasa berhasil menjebak pria itu.​"Bagaimana rasanya, Sambara?" Ia melangkah mendekat. "Kau selalu terlihat begitu kuat, selalu mampu mengendalikan semua orang di sekitarmu." Aurelie memiringkan kepalanya. "Tapi untuk malam ini, kau tidak akan bisa mengendalikan dirimu sendiri."​Sambara tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melirik serpihan serbuk yang berserakan di lantai. "Apa yang kau masukkan ke dalam serbuk itu?"​"Kenapa? Takut?"​"Jawab." Nada suara Sambara terdengar rendah dan berbahaya.​Aurelie terkekeh. "Sudah terlambat untuk bertanya."​Ketika Aurelie melangkah mendekat, Sambara bergerak cepat. Ia melepas jaketnya dan melemparnya ke sudut

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 257

    Malam semakin larut ketika suara deru mesin mobil membelah kesunyian. Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan kediaman Lakeswara. menyusuri jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti dengan pepohonan tinggi yang berdiri rapat di sepanjang jalan. Sambara duduk di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.Wajahnya tenang. Namun jemarinya sesekali mengetuk pelan pahanya, sebuah kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang mengganggu.Arman. Nama itu kembali berputar di kepalanya. Selama ini Sambara mengira semua kejadian yang menimpanya memiliki hubungan dengan Leonard. Namun semakin banyak informasi yang ia dapatkan, semakin jelas bahwa ada seseorang yang bekerja dari balik layar.Seseorang yang bahkan mampu memengaruhi orang-orang di sekelilingnya tanpa menunjukkan wajah. Dan kini gudang tua itu kembali muncul dalam semua kekacauan tersebut. Arman. Pria itu tidak bisa Sambara anggap remeh.Sambara mengangkat ponseln

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 256

    Di waktu yang sama, rintihan lirih terdengar dari dalam gudang tua di pinggir hutan. Aurelie terus menangis menahan rasa sakit yang menjalar dari jari tengahnya. Tangannya bergetar hebat, sementara wajahnya basah oleh air mata.Ia menatap perban yang membungkus jarinya dengan tatapan penuh kebencian. "Brengsek." Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Aurelie menggigit bibir, berusaha menahan isakannya. Namun rasa sakit yang masih berdenyut membuat air matanya kembali jatuh."Arsen.". Nama itu keluar dari bibirnya dengan penuh kebencian.Pria itu benar-benar gila. Hanya karena dirinya kalah taruhan, Arsen tega memberikan hukuman seperti itu. Aurelie menarik napas panjang, kemudian bersandar pada dinding kayu di belakangnya. Tatapannya menyapu ruangan yang remang-remang.Gudang tua itu begitu sunyi. Hanya suara angin yang sesekali menerobos celah dinding dan suara tetesan air dari atap yang terdengar. Tidak ada seorang pun di sana, atau setidaknya, begitulah yang Aurelie pikirkan.Ti

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 255

    Arsen melemparkan sesuatu begitu saja ke atas meja. Kini mereka bertiga berada di ruang kerja Sambara, tanpa kehadiran siapa pun dari luar. Suasana yang sebelumnya dipenuhi candaan mendadak berubah jauh lebih serius.Alis Sambara mengernyit ketika pandangannya jatuh pada benda menjijikkan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tatapannya kemudian berpindah dari benda tersebut kepada Arsen, lalu kepada Leonard. Bibirnya tetap terkatup, tetapi sorot matanya sudah cukup jelas menyampaikan satu pertanyaan.Arsen terkekeh pelan. "Jari Aurelie." Ia menunjuk benda di atas meja dengan santai. "Dia kalah taruhan."Arsen menyandarkan tubuhnya pada kursi, seolah baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak mengganggu pikirannya."Jadi, aku memotong jarinya." Senyum tipis terukir di wajahnya. "Sederhana, bukan?"Sambara menarik napas dalam, ia meraih benda itu dan menatapnya tajam. Kuku runcing berwarna merah dengan bagian bawah yang masih mengeluarkan dara

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status